Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 116


__ADS_3

Jika tebakannya tidak salah, tidak lama lagi, Peony dan Rose pasti akan mendatanginya untuk menyembuhkan sang ahli.


Sementara Gilbert, dia tahu bahwa pria itu pasti akan sangat marah, namun Justin sudah punya cara untuk menghadapinya.


Jihan, Tiger, dan lainnya merasa takut saat melihat apa yang terjadi pada Jace. Mereka merasa tindakan Justin ini jauh lebih ganas daripada langsung membunuh Jace.


Mungkin hukuman seperti ini memang paling cocok untuk Jace.


"Tuan Justin, apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" tanya Jihan.


"Tidak perlu melakukan apa pun. Kalian pergi saja. Apakah dia bisa hidup atau tidak, itu tergantung pada keberuntungannya," sahut Justin tenang, lalu pergi bersama Vina.


Di luar ruangan, Agustin dan yang lainnya baru saja mendengar jeritan yang berasal dari dalam dan mulai menggigil ketakutan.


"Justin akan membunuhnya!" Agustin cemas. Dia mendengar jelas bahwa teriakan itu bukan teriakan Justin. Justin mengajak Jihan masuk dan menutup pintu. Agustin bisa membayangkan betapa serius konsekuensinya jika berani menyentuh istri Justin.


"Kenapa kita tidak coba saja ketuk pintu dulu? Siapa tahu kita bisa membujuk Justin?" tanya Darren.


Salah satu pemuda memutar kedua bola matanya. "Siapa yang berani mengetuk pintu saat Tuan Bright ada di dalam?"


"Namun, jika Justin langsung membunuhnya begitu saja, hidupnya akan hancur. Bagaimana bisa kita mengikutinya?" ujar Darren cemas.


Norah berkeringat dingin saat mendengar percakapan mereka.


Hanya dia yang tahu bahwa istri Justin adalah Vina.


Wanita itu memang sangat cantik dan Norah bisa melihat sendiri betapa Justin sangat mencintainya. Itu sebabnya dia takut Justin marah dan akan membunuh Jace.


"Bagaimana kalau aku coba masuk dan membujuk Justin?" Norah mengumpulkan keberaniannya dan bertanya. Sebenarnya dia takut dengan wajah galak


Jihan, tapi mengingat hubungannya dengan Justin, sepertinya tidak apa-apa mencoba masuk.


"Kalau begitu, cepat ketuk pintunya. Jeritan di dalam sudah berhenti. Aku takut dia akan benar-benar mati," desak Agustin.


Begitu Norah mendengar hal ini, dia merasa itu masuk akal. Jantungnya tiba-tiba berdetak lebih cepat, lalu dia mengetuk pintu.


Tiba-tiba saja!


Pintu terbuka.


Justin keluar sambil menggendong Vina.


"Wow!"


Dalam sekejap, semua orang berseru.


Agustin dan yang lainnya langsung memfokuskan pandangan mereka pada Vina. Mereka memperhatikan wanita itu baik-baik.

__ADS_1


"Justin, apa ini istrimu?" tanya Agustin tak percaya.


"Ya. Apa menurutmu dia cantik?" Justin tersenyum lebar dan tatapan bengisnya mulai menghilang.


"Dia seperti peri! Lily sama sekali bukan tandingannya!" sahut Agustin, lalu kembali berkata, "Aku jadi makin kagum padamu sekarang. Setelah tidak melihatmu lebih dari dua tahun, kamu jadi ahli dalam kedokteran dan juga menikah dengan istri yang begitu baik. Luar biasa!"


"Kamu memang luar biasa. Istrimu bahkan jauh lebih cantik dari selebriti."


"Diam-diam Justin sudah naik ke puncak ternyata."


"Aku baru sadar sekarang kalau Justin adalah orang yang paling membuatku kagum!"


Teman-teman sekelasnya tidak bisa menahan diri untuk tidak memujinya. Mereka bukan dari kalangan atas, jadi mereka tidak tahu bahwa sebenarnya istri Justin adalah cucu dari Gilbert Webster, orang terkaya di Weston. Jika tidak, mereka pasti akan makin terkejut.


Justin tertawa terbahak-bahak. "Aku akan melangsungkan pesta pernikahan dengan istriku ini beberapa hari lagi. Kalian harus datang. Jangan lupa bawa hadiah."


Sementara itu, Vina tidak bisa berkata-kata.


Bagaimana mungkin Justin masih bisa bercanda? Dia jadi mengagumi cara berpikir pria ini.


Apa lagi yang bisa Vina lakukan? Dia hanya bisa memaksakan senyumnya. Dia tidak bisa membiarkan teman Justin akan diam-diam menertawakan dirinya karena bersikap dingin.


Akhirnya, dia pun tersenyum dan senyumannya itu mampu membuat Agustin dan yang lainnya makin terpesona.


"Baiklah. Aku masih ada urusan dengan istriku, jadi aku balik dulu. Kalian silakan lanjut makan. Aku akan transfer uangnya ke Norah lewat Line nanti."


Begitu Justin pergi, Agustin dan yang lainnya memasuki ruangan dan tercengang.


Apa yang terlihat di sini sungguh mengerikan!


"Justin, menurutku lebih baik kita beri tahu dulu Kakek tentang hal ini dan lihat bagaimana rencananya untuk menghadapinya." Di dalam mobil, Vina mulai gugup.


"Baiklah." Justin mengangguk tenang. Dia tahu apa yang dipikirkan Vina. Kalau dia melakukan kesalahan, dia akan mengakuinya. Itu lebih baik baginya daripada ketahuan oleh orangtua Vina.


Namun, Justin tidak berpikir bahwa dia telah melakukan kesalahan. Sebagai ahli kultivasi yang kuat, jika wanita yang dicintainya diusik dan dia tidak melakukan apa-apa, maka kultivasinya menjadi sia-sia.


Ada hukum tertentu di bumi. Dalam dunia kultivasi, jika Jace berani memperlakukan wanita Justin seperti ini, Justin tidak akan segan-segan membantai Jace dan seluruh keluarganya.


"Juga, kalau sampai kakekku tahu tentang ini, dia pasti akan sangat marah. Dia akan memarahimu habis-habisan. Apa kamu sanggup menanggungnya demi aku?" Vina mengedipkan mata indahnya dan menatap Justin dengan sedih. Dia tahu itu tidak adil bagi Justin, tapi dia juga tidak ingin kehilangan Justin, jadi dia hanya bisa meminta Justin melakukannya.


Justin memeluknya dan berkata dengan lembut, "Untukmu, tidak ada yang perlu disalahkan atau dimarahi. Bahkan jika kakekmu sampai memukulku, aku tidak akan marah padanya. Kamu adalah istriku."


Vina sangat tersentuh hingga memeluk Justin erat dan berharap bisa menyatu ke dalam tubuhnya.


"Bahagia sekali bisa memilikimu." Vina mengucapkan kata-kata ini dari lubuk hatinya dan merasa bahwa dengan adanya Justin di sini, dia bisa merasa nyaman, tidak peduli seberapa besar kesulitan dan bahayanya.


"Ya, aku juga bahagia sekali memilikimu. Setidaknya aku bisa makan makanan enak dan tidur nyenyak setiap malam, 'kan?" Justin kembali menggodanya.

__ADS_1


Godaannya membuat Vina marah. Dia memiringkan kepalanya dan meninju dada Justin. Dia cemberut. "Kamu masih bisa bercanda denganku di saat seperti ini?


Seharusnya kamu khawatir."


"Kenapa tidak tersenyum saja dan terus hidup setiap hari? Tidak ada bedanya."


Justin menginjak pedal gas dan langsung melaju ke kediaman Webster.


"Omong-omong, Justin, bagaimana kamu tahu kalau aku dalam bahaya?" Dalam perjalanan pulang, Vina mengajukan pertanyaan begitu teringat Justin datang tepat waktu saat itu.


"Kebetulan aku sedang makan malam dengan beberapa teman sekelas di hotel. Saat mendengarmu berteriak keras, aku segera pergi mencarimu. Kebetulan, aku bertemu Jihan yang datang untuk makan. Kebetulan sekali, 'kan?" sahut Justin asal-asalan.


Vina tak mampu lagi berkata-kata.


Dia berpikir, ya, memang kebetulan!


Betapa beruntungnya aku!


Dia hanya merasa sangat beruntung. Jika bukan karena kebetulan ini, dia mungkin benar-benar akan sial hari ini.


Saat tiba di rumah, Vina menceritakan semua yang telah terjadi pada kakeknya.


"Apa?"


Gilbert sangat marah.


"Jace melakukan itu padamu saat kita membahas kontrak? Justin membuatnya impoten?"


"Iya, Kakek. Untungnya, Justin datang tepat waktu, kalau tidak aku..." Suara Vina tersendat.


"Jace benar-benar monster. Bagaimana bisa dia melakukan hal itu padamu?" Jenny yang selalu lembut dan berbudi luhur juga marah saat mendengarnya. Dia memeluk putrinya, Vina, dan menghiburnya.


"Sialan! Justin, seharusnya kamu bunuh saja bajingan kecil itu! Beraninya dia menyentuh adikku! Apa dia pikir Keluarga Webster bisa seenaknya dia diganggu?" Jason berkacak pinggang dan ikut marah hingga dadanya membusung.


"Kita harus bunuh bajingan itu!"


"Dia cuma berasal dari Prowich dan berani-beraninya selancang itu! Dia pantas mati!"


"Harusnya kita bunuh saja dia!"


Seluruh anggota Keluarga Webster meluapkan kemarahan mereka yang tak terbendung.


"Kalian semua diamlah!"


Gilbert memukul meja.


Detik berikutnya, dia menatap Justin dengan matanya yang setajam elang seolah ingin menebasnya.

__ADS_1


__ADS_2