
Parang panjang itu melesat ke arah John. Parang itu memotong John menjadi dua bagian, lalu John jatuh ke tanah dengan suara keras.
Dalam sekejap, sebuah celah muncul di tanah dan memanjang sampai keluar. Parang itu membunuh orang-orang yang belum berhasil kabur dari gerbang.
Dalam sekejap, suasana menjadi hening di aula.
Semua orang berdiri di sana seperti patung, tidak dapat pulih dari keterkejutan mereka untuk waktu yang lama.
Setelah beberapa saat, Jihan menghela napas panjang. "Seperti inilah pria sejati. Aku ingin menjadi sepertimu!" Apa yang dilakukan Justin mengejutkan semua orang.
Javier bukan petarung, tapi dia tetap menganggap Justin sebagai ahli bertarung.
Semua orang tidak tahu mengapa Justin memiliki kekuatan yang begitu menakutkan..
Celah yang dipotong golok Justin lebarnya lebih dari tiga meter dengan kedalaman tiga meter. Adapun panjangnya, tidak diketahui, karena memanjang bermeter-meter sehingga tidak ada yang bisa melihat ujungnya.
Apa yang Justin lakukan bahkan lebih mematikan dari rudal.
"Tuan Dirgantara, mulai sekarang, aku bersedia mengikutimu. Jika kamu membutuhkan sesuatu dariku, aku tidak akan menolak." Javier tersadar dari keterkejutannya dan membungkuk pada Justin.
Javier pikir dia membutuhkan bala bantuan yang begitu kuat. Dia sangat yakin jika dia mengikuti Justin, Grup Harmer tidak akan lagi mengancam wilayahnya di Kota Silvia.
"Tuan Dirgantara, mulai saat ini, aku bersedia mengikutimu juga. Jika kamu membutuhkanku untuk melakukan sesuatu, tolong beri tahu aku," kata Jihan.
"Aku juga, Tuan Dirgantara," kata Tiger.
Semua orang menunjukkan kepatuhan mereka terhadap Justin.
Selain Aldo, semua orang memperlakukan Justin dengan sikap paling hormat.
Justin tampak puas.
Dia berkata, "Baiklah."
"Terima kasih, Tuan Dirgantara!"
Kerumunan itu bersorak dan membuat suara keras. Aldo tiba-tiba memikirkan sesuatu dan bergegas menghampiri Justin. Kemudian, Aldo berlutut.
"Aku sangat bodoh dan bahkan gagal mengenalimu, Tuan Dirgantara. Aku telah menyinggungmu dalam banyak hal. Maafkan aku."
__ADS_1
Di depan ahli top seperti Justin, Aldo hanya bisa menurunkan harga dirinya, tidak peduli seberapa berpengalaman dia. Bagaimanapun, Justin adalah ahli bertarung yang jauh lebih hebat daripada Aldo, dan Aldo tidak bisa melakukan hal lain selain bersujud.
Namun, Justin mengabaikan Aldo dan keluar dengan tangan di belakang punggung. Justin bertanya-tanya apakah Vina masih di hotel. Jika iya, dia berpikir untuk bisa bermesraan dengan Vina malam ini. Mereka berdua bisa melakukannya semalam suntuk. Perasaan yang menyenangkan untuk dipikirkan bagi Justin.
Saat Justin pergi dan melewati tepi sungai Weston dengan mobil, dia mengirimi Vina pesan Line. Pesan Justin berbunyi: "Vina, kamu masih di Hotel Heryton?"
Vina membalas: "Aku pulang lebih awal. Kalau aku tidak pulang ke rumah, kakekku pasti mencariku ke seluruh kota."
Dia sudah menunggu Justin membawa kabar baiknya, jadi Vina belum tidur padahal malam sudah sangat larut. Dia membalas pesan singkat itu hanya dalam satu detik.
Justin membalas lagi: "Sayang sekali aku melewatkan kesempatan yang bagus. Aku tidak selalu bisa hadir untukmu."
Vina membalas: "Aku marah. Lalu, apa maksudmu dengan itu?"
Justin membalas lagi: "Tidak ada. Lupakan saja."
Masih marah, Vina membalas: "Kenapa kamu tidak datang dan mengunjungiku?"
Justin kemudian membalas: "Oke, aku ingin tidur denganmu malam ini. Apa kamu di rumah?"
Vina membalas lagi: "Ya. Aku yakin kamu tidak punya nyali untuk datang."
Justin membalas: "Tidak ada yang perlu ditakutkan."
Justin kemudian membalas: "Bagus sekali. Dia setuju membantuku dalam urusan pernikahan."
Vina membalas: "Benarkah? Kamu tidak bohong, bukan?"
Justin langsung membalas: "Kenapa aku harus berbohong padamu? Kamu akan tahu jika saatnya tiba."
Vina membalas: "Terima kasih, Justin. Aku akan tidur sekarang. Selamat malam."
Justin membalas: "Selamat malam..." Dia tidak pernah tahu kenapa Vina mengundangnya, tapi kemudian bilang ingin tidur.
Justin tidak begitu mengerti Vina. Menurutnya, wanita sangat tidak mudah ditebak.
Ketika Justin kembali ke Weston dengan mobil Jihan, waktu sudah menunjukkan hampir pukul dua pagi. Javier ingin mengajak Justin bersenang-senang dan memperkenalkan aktris populer untuk Justin. Namun, dia menolak.
Itu karena Justin tidak mau main-main di belakang Vina. Ini adalah rasa hormat yang setidaknya dia miliki untuk Vina. Apalagi Vina tidak pernah selingkuh. Dia harus melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Selain itu, kaki Vina yang panjang dan lucu adalah favorit Justin. Sulit mencari gadis lain dengan kaki halus seperti itu.
"Tuan Dirgantara, kalau begitu tunggu aku membawa Javier untuk bertemu denganmu besok malam. Kami akan mendukungmu," kata Jihan ketika mobil berhenti di dekat rumah Webster.
"Baiklah, sampai jumpa besok." Justin keluar dari mobil.
Dia akan langsung menuju ke kamar Vina. Berhubung Vina menantang Justin untuk datang, Justin pikir dia harus mengambil tindakan untuk menunjukkan ketulusannya.
Meskipun rumah Webster dijaga ketat, bagi Justin, tidak ada bedanya dengan memasuki rumah terlantar. Dia masuk dalam sedetik.
Terakhir kali Justin datang ke rumah Webster, Vina mengajaknya berkeliling, jadi dia sangat mengenal struktur rumah Webster. Mengetahui Vina ada di suatu tempat menunggunya, Justin segera memasuki kamar tidur Vina.
Berhubung masih musim panas, sama seperti kebanyakan orang, Vina tidak menutupi dirinya dengan selimut saat tidur. Sekilas, Justin hampir berteriak.
Vina terlihat sangat cantik. "Dia memeluk beruang mainan dan sedang tidur." Justin tersenyum dan duduk di tepi ranjang.
Tiba-tiba, Justin menemukan ada selembar kertas yang terpasang di beruang mainan itu. Ketika dia membungkuk untuk melihatnya, Justin langsung tergoda.
Tertera nama orang di kertas itu, yaitu Justin.
Justin seketika berpikir, sepertinya Vina memang menyukaiku. Itulah kenapa saat dia memeluk beruang ini seolah dia juga sedang memelukku.
Justin terharu, dan dia membelai wajah Vina mesra. Saat Justin hendak pergi, pandangannya menyapu meja di sampingnya. Dia langsung mengernyit. Justin mengenal toples di atas meja.
Pemilik asli tubuhnya telah kehilangan nyawanya setelah meminum barang-barang di toples itu.
"Pantas saja Vina tidur sangat nyenyak. Dia pasti meminum benda itu dari toples. Dia pasti terlalu tertekan."
Justin merasa kasihan pada Vina dan tak berencana kembali. Dia pergi ke kamar mandi untuk mandi lalu tertidur dengan Vina di pelukannya.
Keesokan paginya, Vina membuka mata dan melakukan beberapa peregangan.
Tiba-tiba, Vina seperti merasakan sesuatu yang keras di antara kedua pahanya. Dia mengerutkan kening dan mengulurkan tangan untuk memeriksanya.
Vina berpikir, apa ini?
Dia mengerutkan kening, dan dia mau tidak mau berbalik untuk melihat ke belakang.
Detik berikutnya, "Apa?" teriak Vina. Teriakannya memecah keheningan pagi. Tak lama kemudian, sebuah tangan besar membekap mulut Vina.
__ADS_1
"Ini aku. Apa kamu tidak takut menarik perhatian kakekmu?" tanya Justin.
Melihat Justin, Vina awalnya kaget tapi segera menjadi tenang. Dia menyingkirkan tangan Justin, lalu meraih seprai untuk menutupi tubuh indahnya. Vina terlihat sangat cantik dan menggoda.