
Lily berandai-andai jika saja dia tidak menceraikan Justin. Bagai mendapat durian runtuh, dia akan mendapatkan tujuh puluh delapan juta dolar!
Memikirkan hal ini, Lily hanya ingin memukul meja bar dan bunuh diri.
Dia bertanya-tanya mengapa dia menceraikan Justin, yang bisa memberinya kekayaan.
Untuk sesaat, emosi Lily bercampur, antara penyesalan, kegilaan, ketidakberdayaan, kehilangan, dan seluruh perasaan negatif lainnya.
Lily menyalahkan dirinya sendiri karena telah menjadi seorang wanita yang bodoh.
"Tentu." Lantaran berbaik hati, Justin pun menyetujui permintaan Peony. "Namun, aku punya satu permintaan. Selama kamu bisa melakukannya, aku akan segera mengajarimu."
"Katakan saja, Tuan Justin."
Justin menunjuk Lily dan berkata, "Buat dia berlutut di depan Vina dan menerima hukuman karena sudah bersikap kasar barusan."
"Baiklah." Tanpa ragu, Peony langsung menyetujuinya.
Kemudian, dengan lambaian tangan Peony yang seperti giok yang menunjukkan kekuasaan, dua pria berbaju hitam segera menangkap Lily.
"Dasar sampah! Aku ini mantan istrimu! Kamu tidak bisa memperlakukanku seperti ini! Tidak bisa!" Lily meraung dengan ngeri.
"Diam!" Justin berteriak dan berkata, "Demi pernikahan kita sebelumnya, aku terus-menerus memaklumi kelakuanmu. Jika tidak, kamu pasti sudah mati sekarang!"
Tatapan dingin Justin membuat Lily ketakutan.
"Bawa dia!" teriak Peony.
Tak lama kemudian, Lily diletakkan di depan Vina.
Soren tidak berani meneriaki Peony. Dia berkata kepada Justin, "Sialan kamu! Beraninya kamu memperlakukan Lily seperti ini! Aku akan membuatmu membayarnya dengan mengerikan! Camkan itu!"
Namun, Justin menendang Soren sebelum dia bahkan sempat menyelesaikan kata-katanya.
Soren terlempar terbang sejauh lima meter dan berakhir menghantam lantai dengan keras.
Dia jatuh ke lantai sembari memuntahkan darah.
"Persetan denganmu..."
Corbin ingin membela Soren. Namun, sebelum dia bisa mengatakan apa pun, kerah bajunya sudah langsung ditarik oleh seorang pria berbaju hitam.
"Apa yang kamu lakukan? Aku tidak melakukan apa-apa!"
kata Corbin, susah payah, dengan wajah merah.
__ADS_1
Kemudian pria berbaju hitam itu mendorong Corbin setidaknya sejauh tiga meter.
Lily mendapati harapan satu-satunya yang dimilikinya sudah patah. Kakinya langsung lemas dan dia berlutut di depan Vina, tak berdaya.
Vina memang sudah lama sangat membenci Lily, hingga dia menggertakkan giginya. Vina mengangkat tangannya dan menghempaskannya keluar.
Lily ditampar!
"Yang ini untuk Justin!"
Tamparan lainnya.
"Ini untukku!"
Vina kembali menampar Lily.
"Dan ini untuk kami berdua."
Setelah ditampar tiga kali, Lily merasakan kepalanya berdengung. Wajahnya diselimuti oleh rasa sakit yang membara. Dadanya dipenuhi amarah yang tidak berkesudahan. Lily menatap Justin dengan penuh kebencian, seolah-olah ingin mengulitinya hidup-hidup.
"Aku pasti akan membalas dendam padamu!" Setelah menatap Justin cukup lama, Lily bangkit lalu pergi bersama Soren dan Corbin.
Justin menggelengkan kepalanya dan mencibir.
Dia menertawai ucapan Lily dan kepolosannya. Justin percaya kalau Lily belum cukup mengenalnya.
Corbin mengumpulkan sekelompok orang untuk menghajar Justin. Namun, Peony mengirim orang-orangnya untuk menjaga Justin, sehingga Corbin hanya bisa menyerah dan menghela napas.
"Justin, kamu benar-benar luar biasa. Kamu tidak hanya tidak mengeluarkan sepeser pun, tetapi kamu juga membuat saudara perempuanku mendapatkan tujuh puluh delapan juta dolar. Kamu tentu tahu caranya menghasilkan uang." ." Di perjalanan pulang, Jason terlihat bahagia saat mengemudi.
"Asalkan Vina bahagia, aku akan melakukan apa pun." Justin menarik Vina ke dalam pelukannya.
"Aku tidak senang. Jangan berpikir kalau aku tidak tahu! Saat Peony membungkuk padamu barusan, kamu malah melihat ***********!" Vina memukul-mukul dada Justin sembari cemberut.
Justin kehilangan kata-katanya.
"Aku tidak sengaja melakukannya, oke?"
Jason tersenyum dan berkata, "Vina, ayo kita kembali sekarang dan biarkan Justin mendapatkan hukumannya. Sebaiknya jepit dia dari dalam, maka dia tidak akan berani melihat orang lain lagi."
"Benar, cepatlah berhubungan ****. Aku ingin memiliki keponakan tahun depan. Ketika dia berusia delapan belas tahun, aku akan membawanya untuk mengencani semua gadis cantik di kota. Kemudian dia akan menjadi hedonis nomor satu di Weston."
Justin dan Vina tidak bisa menanggapi perkataan Jason. Malam ini malam yang sunyi.
Begitu Justin dan Vina kembali ke kamar mereka, wanita itu sudah tidak sabar menutup pintunya, merangkul pinggang Justin, dan mendekati pria itu.
__ADS_1
Mereka sangat dekat sampai-sampai mereka bisa merasakan embusan napas dan detak jantung satu sama lain.
Wajah cantik Vina pelan-pelan memerah. Akhirnya, dia bertanya dengan malu-malu,
"Justin, apa maksudmu tadi? Banyak sekali bunga di taman, tetapi kamu hanya mau mengantarku pulang."
Vina sudah menebak arti keseluruhannya, tetapi dia mau mendengarnya dari Justin.
Pria itu menempelkan dahinya ke dahi Vina dan memegang kedua tangan wanita itu. Sensasi yang menggetarkan jiwa menyelimuti Vina dari kepala sampai kaki. Wanita itu bergidik dan tidak kuasa menahan kegembiraannya.
"Kamu sangat pintar. Apa kamu tidak memahami artinya?"
Begitu selesai bicara, kemeja putih Vina perlahan turun karena angin.
"Aku ... aku tidak paham." Mata indah Vina mengabur dan jantungnya berdetak sangat cepat. Dia tidak bisa menahan perasaannya.
"Kalau begitu, kamu bisa pelan-pelan merasakannya." Justin memiringkan kepalanya dan semakin mendekati Vina.
Napas Justin yang terengah-engah seperti ribuan tangan tidak terlihat yang memainkan senar terdalam di hati Vina.
Di detik berikutnya, wanita itu langsung menempal pada Justin. Itu tadi luar biasa. Setelah beberapa saat.
"Justin, aku ... aku belum siap. Bagaimana kalau kita menunggu sampai pernikahan selesai?" Vina bersandar dalam pelukan Justin, merasa sulit membuka mulut.
Mengingat mereka sudah mendapatkan akta nikah, mereka sebenarnya sudah bisa berhubungan badan. Namun, Vina sedikit ketakutan. Bagaimanapun, dia belum pernah melakukannya.
"Kamu istriku dan aku menghormati pilihanmu. Lagi pula, kamu sudah menjadi milikku dan tidak ada yang bisa membawamu pergi. Kalau kamu sudah siap, belum terlambat bagiku untuk mengambil keperawananmu," kata Justin m lembut sembari mengelus pipi Vina.
"Justin, kamu sangat baik. Aku tidak akan membiarkanmu menunggu terlalu lama." Mata Vina menyipit menjadi segaris sambil mengangguk.
"Kalau begitu cepatlah." Justin tersenyum jahat.
Vina memiringkan kepalanya dan mendengus, "Baiklah, kamu bisa memelukku sambil tertidur. Kalau kamu memang mau, kita bisa... berciuman."
"Baiklah, aku mau menciummu sekarang."
"Kamu ... "
Saat ini, di ruang pribadi kelab kelas atas.
Prang! Prang!
Corbin menghancurkan botol-botol bir gila-gilaan yang membuat para gadis di ruangan itu sampai gemetar ketakutan.
"Bajingan miskin sialan itu, malam ini, aku, Corbin, telah kehilangan reputasiku! Aku mau dia mati! Aku mau keluarga Vina hancur!" Corbin memukuli dadanya seperti gorila, mengamuk.
__ADS_1
"Gilbert memilihkan suami kaya untuk Vina. Ketika mereka menikah, Keluarga Webster akan mendapatkan pendukung. Akan sangat sulit menghancurkan keluarga Vina. Sementara itu, kurasa uang si bajingan miskin itu seharusnya diberikan oleh Jihan. Bajingan itu menyembuhkan ibu Jihan. Saat ini, bajingan itu memiliki Jihan yang mendukungnya. Akan sulit bagi kita untuk mengambil nyawanya," kata Ruben.