Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 51


__ADS_3

Mulut Gavyn berkedut. Apa Jihan sedang menceramahinya?


Tentu saja, Gavyn tidak akan mengatakan hal itu. Sebaliknya, dia tersenyum tipis dan berkata, "Jika dia kembali membuat kesalahan serupa, aku tidak akan melepaskannya dengan mudah."


Saat berbicara, Gavyn mengubah topik pembicaraan dengan berkata, "Namun, kamu tidak perlu melanggar perjanjian di antara kita dan bekerja sama dengan Keluarga Webster karena hal ini."


Jihan berhenti sebentar dan berkata, "Sepertinya kamu tahu bahwa aku akan bekerja sama dengan Keluarga Webster."


Gavyn tertawa kecil dan berkata, "Jika kamu tidak senang, aku bisa membawa bajingan itu ke sana dan membuatnya berlutut juga meminta maaf kepadamu. Tidak perlu melakukan hal-hal yang merugikan hubungan kita."


"Tidak, bahkan jika anakmu tidak memprovokasiku sekalipun, aku akan tetap bekerja sama dengan Keluarga Webster. Aku menyarankan kamu untuk tidak melawan Keluarga Webster di masa depan dan jangan mencoba menyingkirkan Vina. Jika tidak, tidak ada yang bisa menyelamatkanmu."


Kemudian, Jihan menutup teleponnya.


"Halo! Halo! Sial! Kamu menutup teleponku!" Gavyn sangat marah hingga hampir menghancurkan ponselnya.


"Jihan akan melawanku!"


"Lalu, apa rencanamu?" tanya pria tua itu.


Gavyn mendengus. "Berhubung dia tidak menghormatiku, maka jangan salahkan aku karena bekerja sama dengan yang lain untuk menjungkirbalikkan dunia bawah tanah Weston."


Sementara itu, di rumah Keluarga Aretha ...


"Sialan! Orang tidak berguna itu mendapat dukungan Jihan. Kelak, aku pasti akan sengsara!" ujar Arya dengan ekspresi putus asa.


"Dia baru menceraikanku beberapa hari. Aku tidak menyangka dia bisa mencapai sesuatu di Weston. Dia bahkan berhasil menaklukkan Vina dan Jihan. Aku sudah salah tentangnya." Lily menghela napas dengan kesal. Kemudian, dia menatap Soren, yang berdiri di sebelahnya. "Apa yang harus kita lakukan, Soren? Aku tidak ingin dia meremehkan kita."


Sambil berkata seperti itu, Lily membenamkan kepalanya di pelukan Soren dan berpura-pura terisak.


Cara ini berhasil. Soren menghiburnya lalu menghubungi Corbin.


Namun, Corbin memarahinya.


Pada akhirnya, Corbin mengucapkan beberapa patah kata sebelum menutup teleponnya.


"Apa kata Tuan Meech?" tanya Lily dengan tidak sabar.


Soren langsung menunjukkan senyum cerah dan berkata, "Dia mengatakan bahwa ayahnya juga akan menyingkirkan Jihan!"


"Benarkah?" Lily sangat gembira. "Jika Jihan mati, Justin akan kehilangan dukungan Jihan dan kembali menjadi orang yang tidak berdaya. Dengan sedikit uang aku bisa menghancurkannya dengan mudah!"

__ADS_1


"Ya, ketika saatnya tiba, aku sendiri yang akan menghancurkan kepalanya!" kata Soren dengan kejam. Tendangan yang diberikan Justin telah menjadi sesuatu yang memalukan dalam hidupnya.


"Tuhan sedang membantu Klinik Tradisional Pusaka. Aku akan kembali memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan. Aku hanya perlu menekan amarahku selama beberapa hari lagi!" Arya tertawa bahagia.


Siang hari, setelah Vina menandatangani kontrak dengan Grup Bright, suasana hatinya menjadi baik dan nafsu makannya juga baik. Dia pun memesan beberapa hidangan.


Tiba-tiba, dia memikirkan Justin dan membuka Line.


Vina mengirim pesan. "Apa kamu sudah makan, Justin?"


"Belum, Vina. Aku makan dua pai besar di pagi hari. Aku masih kenyang."


"Pie apa yang begitu besar? Ini sudah siang, tetapi kamu masih kenyang."


"Kamu yang memberikannya kepadaku? Apa kamu lupa?"


Vina kehilangan kata-kata.


"Kamu memberiku pai saat aku di kantor."


Apa?


"Kamu brengsek dan mesum! Aku tidak mau bicara lagi denganmu! Aku ingin memutuskan semua hubungan denganmu! Aku sangat marah! Beraninya kamu menggodaku!"


Dia mengirim pesan suara di atas kepada Justin, melemparkan ponsel ke atas meja, dan menutupi wajahnya yang panas dengan tangannya yang cantik.


"Justin, sialan kamu! Bagaimana kamu bisa begitu buruk?"


Vina bergumam sambil mencibirkan mulutnya yang seksi.


Pada akhirnya, Vina memikirkan adegan di kantor pagi tadi dan menyunggingkan senyuman yang begitu indah. Dia tampak seperti wanita yang bahagia, cantik dan menawan. Tidak ada pria yang bisa menolak pesonanya itu.


Pada malam harinya, Justin dan Jihan berangkat ke tepi sungai Weston, yang berjarak lebih dari delapan puluh kilometer, untuk ikut serta dalam sebuah pertempuran yang menentukan.


Ketika Justin dan Jihan berangkat, waktu menunjukan sudah lewat jam 8 malam. Ketika Justin mengemudi di jalan raya, Vina memasuki sebuah kamar mewah di Hotel Heryton.


Perlombaan akan dilaksanakan lusa, jadi Vina tidak punya banyak waktu lagi. Dia ingin menyerahkan dirinya pada Justin secepat mungkin. Jika tidak, orang asing akan mendahuluinya.


Tanpa adanya Justin, Vina tidak akan percaya bahwa cinta pada pandangan pertama itu nyata adanya.


Vina akan menyesali sisa hidupnya jika gagal memberikan Justin hal paling berharga miliknya. Justin adalah satu-satunya pria yang selalu Vina rindukan dalam hidupnya.

__ADS_1


Selesai mandi, Vina mengenakan mantel mandi. Sosok sempurna Vina layaknya sebuah giok yang indah.


Berbaring di ranjang, Vina menyadarkan kepalanya di tempat tidur, mengeluarkan ponselnya, dan mengirim pesan pada Justin lewat Line.


Pesan Vina berbunyi: "Hotel Heryton, Kamar 1808. Aku menunggumu di sini. Datang sekarang." Justin membalasnya dengan beberapa emoji ketakutan.


Vina membalas: "Cepat datang." Kemudian, Vina melampirkan emoji pada pesan tersebut untuk menunjukkan rasa malunya.


Justin langsung membalas: "Aku ... baru saja berangkat ke Kota Silvia."


Vina membalas dengan kesal: "Kenapa tidak bilang dari tadi?"


Justin kemudian membalas: "Aku tidak tahu kalau kamu sangat cemas."


Vina membalas: "Ya sudah. Ini salahku. Aku tidak akan memberikan malam pertamaku untukmu. Tidak akan pernah."


Setelah mengirim pesan ini, Vina melempar ponselnya ke tempat tidur. Dadanya kembang kempis karena marah, dan sepertinya mantel mandinya juga hampir merosot.


Vina berpikir, aku memprioritaskan dirimu, tapi menurutmu aku malah sedang terangsang. Persetan denganmu!


Jika aku memang sedang terangsang, apakah aku akan menyimpan ciuman pertama dan malam pertamaku selama dua puluh empat tahun?


Dasar tidak tahu terima kasih! Berhubung kamu tidak menghargai kebaikanku, aku tidak akan berbicara denganmu lagi.


Vina lama-lama menjadi kesal, dan matanya memerah.


Dia berpikir, aku membeli ******, memesan kamar, kemudian mandi, tapi kamu malah meninggalkanku. Apa kamu tahu betapa kecewanya aku sekarang?


Terdengar suara pesan baru dari ponselnya.


Ponsel di atas tempat tidur terus berbunyi, mengingatkan Vina akan pesan baru yang dia terima.


"Dia pasti mengaku salah dan berkata kalau akan datang ke sini. Aku tidak akan menerima permintaan maafnya atau bahkan menerimanya kembali," dengus Vina setelah melirik ponselnya sekali.


Namun, Vina tak kuasa mengangkat ponselnya untuk memeriksa pesan yang baru masuk itu.


Ada puluhan pesan yang berisi permintaan maaf dan kata-kata menghibur, tetapi Justin sama sekali tidak menyinggung kedatangannya ke tempat Vina.


Vina berniat mengabaikan Justin tapi berubah pikiran karena Justin mungkin pergi ke Kota Silvia untuk bersenang-senang bersama Jihan.


Kota Weston dekat dengan Kota Silvia, jadi banyak orang kaya pergi ke Kota Silvia untuk bersenang-senang di malam hari dan kemudian kembali di pagi hari.

__ADS_1


__ADS_2