
Sebenarnya, kamar hotel itu dilengkapi perangkat kedap suara yang bagus. Kecuali Justin yang bisa mendengar teriakan minta tolong Vina, orang biasa tidak akan bisa mendengarnya.
"Mari pergi dan selamatkan Nona Webster bersamaku." Jihan melambaikan tangannya dan membawa Justin ke kamar pribadi tempat Vina berada.
Jihan sudah mencari tahu di kamar pribadi manakah Vina berada saat Jihan tiba di hotel.
Di dalam kamar pribadi tempat Vina berada.
"Kamu sangat cantik. Dijuluki tercantik di Weston adalah sebuah penghinaan bagimu. Jika kamu berada di Prowich, kamu pasti akan dinobatkan sebagai wanita tercantik dalam lima ribu tahun terakhir. Tapi tidak masalah. Selama kamu menjadi milikku dan menikahiku, aku akan membawamu kembali ke Prowich. Kamu akan menjadi wanita tercantik dalam lima ribu tahun terakhir di Prowich." kata Jace sambil menyentuh dagu Vina. Jace merasa tergila-gila padanya.
Vina meludahi wajah Jace.
Namun, Jace tidak marah. Dia justru tertawa seram.
"Cabul! Dasar cabul! Lepaskan aku!" Vina mulai meronta dengan hebatnya.
Namun, tidak mungkin baginya untuk melepaskan diri dari kedua pengawal itu.
"Lemparkan dia ke sofa," perintah Jace.
Kedua pengawal itu menyeret Vina yang meronta-ronta dan berteriak itu ke arah sofa lalu melemparkannya ke atasnya.
Kemudian Jace mengambil sebotol anggur merah dan sebuah gelas sebelum berjalan ke arah Vina, "Ayo minum. Begitu kita mulai, aku dan kamu akan sama-sama menyukainya."
"Tidak! Tidak!" Vina mati-matian menggeleng. Dia bisa menebak bahwa sebotol anggur merah ini seharusnya sudah diberi obat perangsang. Jadi, dia meraung seperti orang kesetanan, "Jika kamu berani melakukan ini padaku, suamiku dan kakekku tidak akan pernah melepaskanmu!"
Jace berkata sambil tersenyum menyeramkan, "Keluarga Webster bukan apa-apa untukku. Kekayaan keluargamu kurang dari sepersepuluh harta Keluarga Gaillard. Jika kamu tidur denganku, kakekmu pasti akan menikahkanmu denganku. Dengan adanya dukungan Keluarga Gaillard di belakangmu, Keluarga Webster akan semakin maju."
Setelah itu, Jace menuangkan segelas wine. Dengan bantuan kedua pengawalnya, dia membuka mulut Vina dan menuangkan wine itu ke dalam mulutnya.
Vina terbatuk hebat. Sorot mata indahnya berubah menjadi dingin seiring hatinya yang dipenuhi keputusasaan.
Namun, Jace malah tertawa terbahak-bahak. Kemudian, dia meminum segelas wine itu dan mulai melepas pakaiannya.
"Bajingan! Dasar bajingan! Suamiku tidak akan pernah melepaskanmu! Dia akan membunuhmu!"
Melihat Jace membuka pakaiannya sendiri, Vina meraung histeris dan akhirnya menangis tak berdaya.
"Sayang, aku datang."
Hanya mengenakan pakaian dalam, Jace tersenyum mesum dan menerkam Vina.
__ADS_1
"Tidak! Jangan mendekat! Pergi! Pergi!"
Melihat Jace mendatanginya, Vina menendang-nendangkan kakinya bak orang gila. Dia berjuang mati-matian. Dia tahu, begitu kakinya berhasil ditahan, yang menunggunya tinggal sesuatu yang amat sangat menjijikan.
Kedua pengawal itu tetap berjaga. Jika mereka bergabung untuk membantu Jace, Vina benar-benar akan kehilangan kemampuannya untuk melawan.
Namun, semakin keras dia melawan, tawa Jace semakin menggila. Tak berapa lama kemudian, Jace berhasil menangkap kaki Vina.
Hati Vina langsung seakan jatuh ke jurang tak berdasar. Dia nyaris kehilangan seluruh harapannya untuk hidup. Air mata membanjiri pipinya.
Tiba-tiba...
Terdengar suara keras.
Kedua pintu kamar pribadi itu tiba-tiba terbuka.
Sedetik kemudian!
Dua bayangan hitam terbang masuk, terhempas ke meja makan, menyebabkan ruangan itu menjadi berantakan.
Suara keras itu membuat Jace gemetar. Kedua pengawal itu pun melepaskan kedua tangan Vina dan menoleh bersamaan.
Kemudian, terdengar suara seseorang yang sedang marah.
"Jihan, serahkan bajingan itu padaku dan bunuh yang lainnya!"
Mendengar kata-kata itu, Vina yang baru saja terpikirkan untuk membunuh dirinya sendiri, tiba-tiba kembali bersemangat. Rasanya seperti dia telah menemukan secercah harapan ketika dia terjatuh ke jurang yang dalam. Vina langsung berteriak kegirangan, "Justin, akhirnya kamu datang..."
"Ikut aku! Bunuh semua bajingan sialan ini!" teriak Jihan, marah. Dia bergegas menuju dua pengawal di depan sofa.
Tiger bergegas menuju dua pengawal lainnya sambil diikuti oleh beberapa anak buahnya.
Justin berdiri di depan pintu, mengeluarkan aura yang luar biasa.
"Bunuh mereka!" Jace terbakar amarah. Dia tidak bisa diam saja saat menyadari bahwa momen indahnya sudah diganggu oleh orang lain.
"Bunuh mereka semua!"
"Baik!"
Keempat pengawal itu mengiyakan perintah Jace, menghunus parang mereka, lalu menyerang Jihan dan Tiger.
__ADS_1
Jihan berada di tingkat puncak Alam Tenaga Dalam, sedangkan Tiger berada di tingkat pencapaian besar Alam Tenaga Dalam. Dalam hitungan menit, Jihan dan Tiger berhasil membunuh keempat pengawal itu.
Jace begitu ketakutan hingga tanpa sadar, dia mundur menjauh. Wajahnya dipenuhi kengerian.
"Tutup pintunya." Justin menghambur ke arah Vina lalu memeluknya erat-erat.
"Justin..." Vina membenamkan kepalanya di dada Justin dan meratap, mencurahkan segala keluh kesah yang baru saja dideritanya kepada Justin.
"Sayang, tidak apa-apa. Aku ada di sini. Tidak ada yang bisa mencelakaimu." Justin memeluk Vina erat-erat sambil menghiburnya. Melihat tatapan sedih dan terkejut istrinya tersebut, Justin seakan terdorong untuk membenamkan Vina ke dalam tubuhnya.
Justin telah hidup selama ratusan ribu tahun, tetapi dia tidak pernah begitu peduli akan seorang wanita seperti ini.
Justin awalnya memutuskan untuk menikahi Vina karena ingin mempermalukan Lily. Baru pada saat inilah dia tiba-tiba menyadari bahwa dia sebenarnya sangat mencintai Vina yang wajahnya terlihat dingin, tetapi sebenarnya berhati lembut seperti anak domba.
Justin telah jatuh cinta pada Vina bahkan sebelum dia sempat menyadarinya.
Di saat yang sama, Vina juga baru menyadari bahwa Justin yang biasanya terlihat ceroboh dan malas, rupanya begitu ganas saat dirinya sedang membutuhkan bantuan. Hal ini membuatnya merasa nyaman.
Oleh karena itu, Vina semakin menyayangi Justin.
Namun, Vina tiba-tiba merasa tubuhnya menjadi panas seperti ada api yang menjalar di sekujur tubuhnya atau ribuan semut yang sedang menggerayangi tubuhnya.
Tak berapa lama kemudian, penglihatan Vina mulai menjadi sedikit kabur, tetapi dia merasakan gejolak gairah yang kuat. Dia hanya ingin membuat nyaman tubuhnya.
Justin, aku menginginkanmu...
Vina menggumam, mengembuskan napas, lalu menempelkan bibir lebamnya pada Justin.
"Tuan Justin, Nona Webster sepertinya sudah diberi obat perangsang!" Melihat kulit kemerahan Vina serta perilakunya yang berani dan tidak normal, Jihan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengatakan apa yang sedang terjadi kepada Justin.
Justin tahu kalau Vina sudah dibius, jadi dia memilih untuk tidak melawan. Sebaliknya, dia malah menggigit bibir bawah Vina untuk menyedot keluar darahnya.
"Sialan! Dasar bajingan! Beraninya kamu membius Nona Webster! Kamu pantas mati!" Jihan geram. Dia bergegas menampar Jace, yang sudah berhasil ditangkap, beberapa kali hingga wajahnya berlumuran darah.
"Jihan, aku adalah putra presiden Kamar Dagang Prowich di Weston. Jika kamu berani memukuliku, ayahku pasti tidak akan melepaskanmu!" seru Jace.
"Oh, aku sempat bertanya-tanya siapakah orang yang memiliki nyali sebesar ini hingga berani mencelakai Nona Webster. Rupanya kamu adalah putra Joshua Gaillard, dia tidak akan bisa berbisnis di luar negeri lagi.
Keluarga Gaillard adalah keluarga kaya. Terlebih, kepala Keluarga Gaillard juga termasuk salah satu tetua Geng Ular Hijau di Prowich.
Kekuatan Geng Ular Hijau tidak kalah besar dari Grup Harmer dan kekuatan mereka tersebar di seluruh penjuru Econa.
__ADS_1