
Dalam sekejap, Vina langsung meraih pergelangan tangan Justin dan menarik paksa tangan pria itu dari pahanya. Kemudian, dia memegang pergelangan tangan Justin erat-erat agar pria itu tidak macam-macam lagi.
"Mengemudi dengan satu tangan itu berbahaya." Justin tersenyum dan melirik kaca spion sambil mengernyit.
"Kamu yang membuatku melakukannya," kata Vina dingin. Dia tak berniat melepaskan tangan Justin.
Justin tersenyum kecut, "Berkonsentrasilah mengemudi. Kalau tidak, kamu akan segera meninggal."
"Apa maksudmu?" Vina otomatis menatap Justin dan
menganggap bahwa Justin ingin menyetir.
Justin mengangkat bahunya sembari berkata, "Lihatlah kaca spion."
Vina melihat kaca spion dengan terkejut. Alhasil, dia ketakutan.
Sebuah mobil Hummer melaju dengan begitu cepat, jaraknya kurang dari satu meter dari mobil Bentley Vina. Pada jarak sedekat itu, tampak jelas bahwa mobil Hummer itu akan menabrak mobil Bentley.
Vina langsung melepaskan tangan Justin dan menginjak pedal gas kuat-kuat untuk menjauhkan diri mobil Hummer itu, terlepas dari kenyataan apakah mobil Hummer itu melebihi batas kecepatan atau tidak.
"Pembunuhan! Ini pembunuhan!"
Melihat mobil Hummer itu ikut melaju kencang, Vina mengertakkan gigi sembari berkata, "Sepertinya kekhawatiran kakekku benar. Ada orang yang tidak sabar untuk membunuhku."
"Jangan khawatir. Dengan keberadaanku di sini, kamu tidak akan mati kesepian," hibur Justin pada Vina.
Vina tak habis pikir.
Vina membatin, kamu memang berengsek!
Kalau aku mati, yayasan Keluarga Webster yang sudah berdiri selama seratus tahun akan lenyap saat kakekku jatuh sakit suatu saat nanti.
Di dalam mobil Hummer.
"Bridger, sepertinya kita sudah ketahuan. Target juga melaju kencang. Mobil Hummer kita tidak bisa melaju lebih cepat dari Bentley. Apa yang harus kita lakukan?" tanya Ryder Dillan, seorang pria berambut pirang, sambil mengemudikan mobil.
"Kalau begitu, kita harus meluncurkan rencana kedua," kata seorang pria botak yang tampak galak di kursi penumpang dengan sudut mata berkedut. Dia langsung mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Luncurkan rencana kedua. Bunuh target.
__ADS_1
Mobil lain pun berderu melewati mobil Hummer.
Begitu si pria botak bernama Bridger Xavier itu menutup telepon, terdengar suara deru mobil lainnya di jalanan yang luas itu.
Tak lama kemudian, Ferrari merah melaju seperti rudal.
"Bridger, lihatlah. Mereka siap untuk beraksi. Kalau kita membunuh target, kita bisa mendapatkan dua puluh juta dolar. Itu cukup untuk kita gunakan bersenang-senang di Hawii untuk sementara waktu," kata Ryder dengan gembira ketika dia melihat sebuah Ferrari melaju kencang dari kaca spion.
"Masih terlalu awal untuk mengatakan itu. Kita harus menyingkirkan polisi dan tinggalkan negara ini dengan aman terlebih dahulu," kata Bridger.
"Benar juga. Kedua mobil mewah ini akan hancur begitu target terbunuh. Kedua mobil ini bernilai ribuan dolar. Sayang sekali! Aku ingin tahu siapa yang memerintahkan kita untuk membunuh target. Dia membiarkan kita menggunakan mobil mewah seperti ini untuk membunuh target," kata Ryder yang merasa tidak tega pada kedua mobil itu.
"Jangan mengatakan hal yang tidak perlu. Intinya, kita harus melakukan pekerjaan ini dengan baik. Kalau tidak, kita semu akan mati," ujar Bridger dingin.
Ryder langsung mengatupkan bibirnya.
Di dalam mobil Bentley, Vina berkata, "Untungnya, Bentley melaju lebih cepat. Kalau tidak, aku bisa dalam bahaya kali ini. Kalau begini, aku harus membawa lebih banyak pengawal nantinya."
"Kakekmu sudah mengingatkanmu. Mengapa kamu tidak membawa pengawal?" tanya Justin.
Vina berkata, "Apakah kamu pikir aku tidak ingin membawa mereka? Aku datang menemuimu sendirian agar aku tak menimbulkan masalah bagi keluargamu. Kalau nanti aku datang dengan membawa banyak mobil, semua orang akan heboh."
Vina mengernyit dan langsung melihat kaca spion. Dia melihat sebuah Ferrari melaju dengan membabi buta dan hendak menyusul mobil Bentley miliknya.
"Kamu mau menabrak Bentley-ku dengan Ferrari?" Vina mencibir, "Akankah aku takut kalau obil Hummer itu menabrakku? Ferrari? Lupakan saja. Aku tidak akan mati meski dia mati."
"Kamu terlalu banyak berpikir. Bagaimana efek antipeluru mobilmu?" Justin tidak mengira bahwa pihak musuh akan menggunakan Ferrari untuk menabrak mobil Bentley dengan bodohnya, kecuali kemampuan mengemudi mereka luar biasa. Kalau tidak, mereka sama saja melakukan bunuh diri.
"Tak masalah. Pistolnya terlalu jelek untuk menembak," kata Vina. Kemudian, ekspresinya berubah drastis. "Maksudmu, mereka akan menembak?"
"Lihatlah ke jendela. Sebentar lagi peluru akan membombardir," kata Justin ketika aliran energi tak kasatmata menyebar dari tubuhnya dan berkumpul di jendela.
Vina melihat ke jendela, lalu pupilnya langsung mengecil. Dia memekik kaget.
"Tiarap!"
Begitu Vina menyelesaikan ucapannya, terdengar suara peluru yang mengenai kaca jendela.
Di atas Ferrari, ada tiga pria berkulit gelap yang berdiri dan menembaki kaca jendela Bentley dengan pistol. Peluru mereka membuat kaca mobil Bentley memutih, tetapi tidak sampai menembusnya.
__ADS_1
"Sialan! Benar-benar efek antipeluru yang kuat!" umpat salah satu pria berkulit gelap itu.
"Teruslah menembak! Kita harus melenyapkan target secepat mungkin!" ujar seorang pria Prycoastian sambil mengemudikan mobil.
"Baik!"
Lalu, mereka menembak lagi.
"Targetnya hampir tertembak!" pekik Ryder di Hummer bersemangat.
Bridger juga tampak bangga.
"Bagaimana ini? Katakan padaku, cepat! Jendelanya akan dihancurkan!" teriak Vina panik saat menyadari bahwa dia tidak bisa menyingkirkan Ferrari itu.
Namun, Vina tertawa getir tak lama kemudian.
Justin adalah seorang dokter. Dalam keadaan seperti ini, sudah cukup bagus bahwa pria itu tidak ketakutan sampai mengompol. Memang apa yang bisa Justin lakukan untuk menolong Vina?
Namun, tepat setelah Vina bersuara, Justin berkata, "Ada dua pilihan untukmu sekarang. Nomor satu, dengarkan aku. Kamu dan aku bisa aman. Nomor dua, jangan dengarkan aku. Kamu mati dan aku kabur."
"Cepat. Katakan apa yang harus kulakukan," pekik Vina tanpa ragu-ragu. Dia tidak punya pilihan selain mendengarkan saran Justin. Bagaimanapun juga, mereka mempertaruhkan nyawa. Justin punya hak untuk meminta agar tetap hidup pada wanita itu. Mengenai ucapan Justin "Kamu mati dan aku lari", Vina tidak menganggapnya serius.
Vina membatin, kalau aku mati, mobilku akan terbalik. Bagaimana kamu bisa selamat?
Setelah mengetahi bahwa Vina memilih pilihan kedua, Justin langsung memerintahkan, "Turunkan kecepatan dari seratus delapan puluh menjadi seratus enam puluh. Cepat!"
"Menurunkan kecepatan? Bukankah kita harus mempercepat?"
"Bisakah kamu melaju lebih cepat dari Ferrari?"
Vina terdiam seribu bahasa.
"Lakukan seperti yang kukatakan."
"Baiklah."
Vina langsung memperlambat laju mobilnya. Ferrari itu masih mempertahankan kecepatannya karena tak sempat bereaksi. Tak lama kemudian, Ferrari itu melaju melewati Bentley. Semua peluru yang ditembakkan tak mengenai apa pun.
"Putar balik mobilnya dan injak pedal gas sampai maksimal. Gores tepi samping Ferrari, lalu tabrak," perintah Justin saat melihat kesempatan datang.
__ADS_1
"Apa? Menabrak Ferrari?" tanya Vina dengan panik. Dengan kecepatan secepat itu, Vina dan Justin akan mati kalau dia tidak menabraknya.