
"Ya, mereka biasanya memanggilku Tuan Justin. Di saat-saat kritis, mereka memanggilku Master Justin. Bagaimanapun juga, itu hanyalah sebuah nama. Mereka bisa memanggilku apa pun yang mereka mau," kata Justin santai.
Peony kehilangan kata-katanya. Mungkinkah selain keterampilan medisnya yang luar biasa, kemampuan bela dirinya juga sangat baik?
"Mustahil! Ini sama sekali tidak mungkin!" Rose menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jihan memandang Master Justin sebagai penyelamat nyawanya, jadi kemampuan bela diri Master Justin pastilah luar biasa. Namun tadi, dia langsung terjatuh setelah menangkap dua wanita. Dia jelas-jelas orang biasa yang tak memiliki kemampuan. Bagaimana bisa dia disebut Master?"
"Betul sekali! Ketika aku menarik kerahnya dua hari yang lalu, aku tidak merasakan aura bela diri dalam dirinya. Jelas, dia hanyalah manusia biasa."
Mendengar Theo berkata seperti itu, Tiger langsung merasa sangat marah. Dengan tatapan dingin, dia meraih kerah Theo dan berkata, "Beraninya kamu menarik kerah Master Justin! Dari mana kamu mendapatkan keberanian seperti itu? Apa kamu percaya bahwa aku bisa melemparmu kembali ke danau?"
"Beraninya kamu!" Peony menepis tangan Tiger dan berkata kepada Justin, "Tuan Justin, kuakui bahwa keterampilan medismu memanglah menakjubkan, tetapi kamu benar-benar bukanlah seorang ahli bela diri. Kamu tidak tahu betapa menakutkannya orang-orang yang menculik Jihan. Cepat suruh perahu motor ini berbalik!
Kalau tidak, semua orang akan mati."
Justin terkekeh, "Sebenarnya, kamu tidak tahu betapa menakutkannya aku."
Peony tidak bisa berkata-kata. Mengapa orang ini tidak mau mendengarkan sarannya? Dia bahkan bukanlah seorang ahli bela diri. Lantas, kenapa dia berpura-pura menjadi seorang ahli? Apa dia tidak takut mati?
Peony berpikir, mereka berdua adalah orang biasa. Keduanya bahkan tidak tahu betapa mengerikannya lawan yang akan mereka hadapi karena mereka tidak bisa merasakan aura kultivator yang kuat dan menakutkan.
Peony ingin mengatakan sesuatu, tetapi dia terkejut saat mengetahui bahwa perahu hitam itu berhenti sepuluh meter dari perahu motor mereka. Damien berdiri di haluan dengan tangan di belakang punggung, menunjukkan aura seorang penguasa era zaman kuno saat melihat ke kejauhan. Pembawaan Damien membuat orang lain merasa ketakutan.
Ekspresi Damien dingin dan matanya dipenuhi hasrat untuk membunuh, "Apa kamu Master Justin yang telah membunuh anakku, John, di Kota Silvia?"
"John?" Justin mengerutkan keningnya, seolah-olah dia tidak ingat dengan nama itu. Kemudian dia berkata dengan santainya, "Aku tidak mengenal John, tapi aku memang membunuh puluhan orang dari Econa dengan satu serangan beberapa hari yang lalu di Kota Silvia. Aku tidak tahu apakah anakmu termasuk salah satunya. Jika iya, berarti aku memang sudah membunuhnya."
"Kamu ... " kata Damien sambil menunjuk Justin. Kelopak matanya berkedut dan dia bahkan tidak bisa mengatakan apa pun karena dia sangat marah.
Peony menutup mulutnya kaget. Sepasang matanya yang indah dipenuhi ketidakpercayaan.
__ADS_1
Peony berpikir, dia membunuh puluhan orang dari Econa dengan satu tebasan? Benarkah? Apa itu tidak terlalu berlebihan?
Rose mencibir, "Aku bisa menjamin bahwa pria ini adalah pria yang paling jago membual yang pernah kulihat."
Meski luar biasa kesakitan akibat cedera barusan, Theo tetap tak kuasa menahan tawanya saat mendengar perkataan Justin, "Aku ingin tahu seberapa besar pedang dao yang digunakannya dan apakah dia bahkan bisa menggerakkannya."
Shawn pun memegangi dadanya dan menggeleng. "Aku tidak pernah mendengar ada pedang yang bisa membunuh puluhan orang dalam sekali tebas."
Hanya Tiger seorang yang terkagum-kagum mendengar ucapan itu. Setiap memikirkan serangan Justin yang mengejutkan, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendesah. "Pria sejati memang harus seperti ini!"
"Damien, aku akan pergi memeriksa kekuatan orang yang dipanggil Master Justin ini," kata Jaylen sambil berjalan ke haluan kapal.
"Baik." Damien mengangguk. Tak lupa, dia mengingatkan Jaylen, "Jangan membunuhnya. Aku ingin membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri untuk membalaskan dendam anakku, John."
"Baik, Damien. Aku mengerti." Jaylen melompat dari tanah, melenting di udara, lalu melaju secepat kilat ke arah Justin.
Melihat ini, Peony buru-buru berteriak, "Tuan Justin, menyingkirlah!"
Justin tidak mengindahkan peringatan Peony. Dihadapkan dengan serangan Jaylen, dia mengangkat tangan kanannya perlahan.
Rose menggeleng dan menghela napas melihat Justin yang seakan-akan sedang menggali kuburannya sendiri.
Peony tidak ingin melihat lebih jauh sehingga dia lebih memilih untuk menutupi kedua mata indahnya dengan tangannya. Namun, jari-jarinya masih terbuka sedikit, memberinya celah kecil untuk diam-diam menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kupikir aku sudah selamat, tapi sekarang sepertinya sulit
untuk lolos dari kematian," pekik Theo putus asa.
Hanya Tiger yang menantikan kemampuan menakjubkan apa yang akan ditunjukkan Justin selanjutnya. Tiger menatapnya penasaran.
__ADS_1
"Nak, terimalah serangan telapak tanganku!" Jaylen mendekati Justin, menyeringai jahat, dan melayangkan telapak tangannya ke arah Justin.
"Percaya diri sekali dia." Justin mendengus dan mengangkat telapak tangannya untuk menghadapi serangan itu.
Detik berikutnya, dua telapak tangan beradu di udara. Itu aduan yang mengerikan.
Kekuatan yang mengerikan keluar dari sela-sela telapak tangan kedua orang itu. Jaylen merasakan seolah jutaan tangan hantu sedang mengoyak pakaiannya dan ombak besar muncul dari danau di bawah sana.
"Aduh!"
Jaylen terlempar terbang seakan tertabrak oleh kereta berkecepatan tinggi.
"Jaylen!" teriak Damien kaget. Dia melompat setinggi beberapa meter untuk menangkap Jaylen yang terlempar ke belakang. Lantaran benturannya terlalu kuat, setelah Damien berhasil menangkap Jaylen, dia seakan terdorong dari haluan ke ekor perahu hingga nyaris tercebur ke danau.
Jaylen memuntahkan darah. Bak air mancur, Jaylen memuntahkan begitu banyak darah dari mulutnya. Muncul retakan di sekujur tubuhnya dan darah merembes keluar dari retakan-retakan itu.
Seluruh tubuhnya berlumuran darah seakan-akan dia baru saja keluar dari kolam darah. Terlalu mengerikan untuk dilihat!
Semua orang di sana langsung tahu bahwa Jaylen jelas tidak akan bisa bertahan hidup lagi!
Orang-orang yang melihat kejadian ini pun tercengang! Terutama Peony, Rose, Shawn, dan Theo. Mata mereka hampir melompat keluar karena terlalu kaget.
Apa Justin baru saja membunuh Master Alam Kesempurnaan dengan satu pukulan? Itu sangat menakutkan!
Hati mereka dipenuhi perasaan ngeri. Sementara itu, mata mereka dipenuhi dengan keterkejutan, keheranan, ketakutan, dan banyak perasaan rumit lainnya.
Mereka tidak pernah menyangka Justin yang terlihat biasa saja akan memiliki kekuatan semenakutkan itu.
Namun, ini baru permulaan.
__ADS_1
Tiba-tiba Justin menggerakkan kakinya dan dengan mudahnya melompat setinggi dua meter. Dia berjalan di udara dengan tangan di belakang punggung, seolah-olah dia sedang berjalan-jalan santai sehabis makan.