Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 33


__ADS_3

Orang-orang di dalam mobil Hummer memiliki granat. Justin yakin orang-orang di Ferrari ini pun memiliki granat.


Oleh karena itu, dia melompat ke ladang sayur untuk memeriksa keempat mayat itu.


Selain pengemudi, tiga orang lainnya memiliki granat pada ikat pinggang mereka.


Justin mengikat ketiga granat itu dan kembali masuk ke dalam mobil Bentley. Dia mengemudikan mobil tersebut, ke tempat Vina turun.


Vina mendengar suara mobil dan menyembulkan kepala dari lereng.


Dia bingung saat melihat Bentley-nya, kenapa dia menyetir balik ke sini?


Apa yang sedang dia lakukan?


Mungkinkah dia takut?


Pada saat itu, terdengar suara-suara mobil.


Empat truk kecil melaju berdampingan dari setiap arah di sepanjang jalan, menghalangi bagian depan dan belakang Bentley tersebut.


Vina menjadi pucat karena ketakutan.


Jalan itu hanya bisa menampung empat mobil yang melaju berdampingan. Ada empat truk di depan dan belakang. Mereka ingin menyerang Justin dari dua arah secara bersamaan.


"Tamat sudah."


Vina pun merasa frustasi.


Sekalipun Justin meninggalkan mobil dan melarikan diri, orang-orang di delapan truk itu akan keluar dari mobil dan mengejarnya. Mereka pasti punya senjata. Tidak peduli seberapa cepat Justin mampu berlari, dia akan terbunuh dalam sekali tembak.


Justin tidak akan bisa kabur dari pembunuhan berencana ini, baik dia mengemudi ataupun meninggalkan mobil.


"Apa kamu mencoba membuatku menjadi roti lapis?" Justin merasa hal itu konyol.


"Aku sudah menyiapkan granat untukmu. Ayo!"


Justin menjadi bersemangat. Dia menyalakan mobil dan melaju ke depan dengan cepat.


Melihat itu, para pembunuh di dalam delapan truk tersebut merasa geli.


"Target kita sudah terpojok. Dia tidak berani mengemudi dengan cepat. Dia takut akan mati menyedihkan."


"Bukankah itu yang kita inginkan? Selama kita mengepungnya, semua orang turun dari mobil dan tarik dia keluar. Kita bisa melakukan apa pun yang kita inginkan padanya."


"Katanya dia cantik. Aku rasa akan sangat disayangkan jika hanya membunuhnya. Kita bisa membiarkannya tetap hidup dan bersenang-senang dengannya sebelum membunuhnya."


Yang lainnya kehilangan kata-kata.


Seorang pria yang duduk di kursi penumpang salah satu truk, melongokkan kepalanya dan berteriak dengan pengeras suara, "Dengarkan, kamu telah terkepung. Kudengar kamu cantik. Asalkan kamu menghentikan mobil, kami akan berbaik hati padamu. Jika kamu tidak juga menyerah, kami akan menggencetmu hingga gepeng. Itu akan sangat menyedihkan. Pikirkanlah, jalan mana yang akan kamu pilih?"

__ADS_1


"Tidak tahu malu!" Mendengar itu, Vina mengatupkan gigi dan meninju tanah. Kemudian, dia menjulurkan kepala untuk melihat hal yang sedang terjadi.


Namun, Justin tertawa terbahak-bahak. Dia mengemudikan Bentley hingga berjarak cukup jauh dari tempat Vina berada dan berhenti.


"Mari kita lihat siapa yang akan berbaik hati kepada siapa."


Dengan penuh semangat Justin menunggu untuk dikepung.


Melihat Bentley itu berhenti, pria dengan pengeras suara itu berteriak dengan angkuh, "Aku tahu kamu tidak ingin mati dengan menyedihkan. Jangan khawatir. Kamu tidak akan kecewa."


"Ayolah. Aku menginginkannya," tanggap Justin keras dengan suara wanita ketika delapan truk itu mendekat.


Vina tidak bisa berkata-kata.


Suara Justin terdengar mempesona ketika menirukan suara seorang wanita.


Namun, jika para pembunuh itu mengetahui bahwa dia adalah seorang pria, mereka akan membunuhnya dengan cara yang lebih menyedihkan.


Ketika mendengar jawaban itu, pria itu tertawa. "Aku tidak menyangka dia genit. Teman-teman, mari kita kepung mobilnya untuk bersenang-senang."


Para pembunuh di truk lain senang mendengarnya. Mereka memperlambat truk dan mengepung Bentley tersebut.


"Apa yang harus aku lakukan untuk menyelamatkannya?"


Vina bingung dengan tindakan yang harus dia ambil saat melihat itu.


Akhirnya Vina tidak punya pilihan selain berdiam diri dan menyatukan kedua tangan untuk berdoa, berharap polisi dan kakeknya bisa cepat datang.


Kedelapan truk itu membentuk lingkaran di sekitar Bentley tersebut.


"Cantik, turun dari mobil." Pria itu tidak sabar untuk segera turun dari truk. Dia memegang sebuah senapan AK dan berseru pada Bentley.


"Aku akan berbaik hati pada kalian semua."


seru Justin sambil menarik ketiga granat itu sekaligus. Dia membuka pintu dan melompat ke depan sebuah truk. Kemudian, dia melarikan diri.


"Apa-apaan ini?"


Pria itu tercengang. Sebelum dia bisa menembak, dia melihat sesosok tubuh berlari keluar dari Bentley dan melarikan diri secepat hantu.


"Bos, sepertinya dia laki-laki."


"Dia melompat dari sini," kata pria lain sambil melompat keluar dari kendaraan.


"Coba lihat."


"Baik."


Pada saat itu, Bentley meledak. Gelombang kejut yang menakutkan menyebar. Setengah dari para pembunuh tersebut tewas. Beberapa pembunuh berteriak kesakitan. Api menyebar pada delapan truk itu. Selanjutnya, terdengar suara ledakan. Delapan truk itu meledak pada saat bersamaan. Api membubung tinggi ke langit. Hanya lidah api raksasa berkobar di mana-mana.

__ADS_1


Dunia menjadi sunyi.


Sambil tetap mempertahankan kepalanya di bawah lereng, Vina terkejut karena ledakan itu.


Vina tidak bisa menguasai diri dan menonjolkan kepalanya sampai ledakan itu berhenti. Saat melihat kobaran api telah melahap tempat Justin tadi berada, dia tertegun.


Justin meninggal bersama dengan para pembunuh itu.


Sambil menutupi mulut dengan tangannya, Vina jatuh ke tanah dan menangis keras.


Dia tidak tahu alasan dia merasa sangat terpukul.


Vina mungkin terharu dengan keberanian Justin. Pria itu rela mengorbankan diri saat Vina dalam bahaya.


"Akulah yang mencelakaimu."


Vina memeluk lutut dan menangis dengan pilu. Setelah sekian lama, terdengar sebuah suara.


"Aku belum mati. Kamu tidak perlu meratapiku."


Vina tertegun. Dia berbalik dan menengok ke arah datangnya suara tersebut. Dia melihat Justin duduk di sampingnya dan menatapnya sambil tersenyum.


"Justin?" Diliputi keterkejutan, Vina memeluk Justin.


Detik berikutnya.


Justin merasakan aroma yang kuat dan kelembutan.


Dia pura-pura terjatuh di lereng dan bibir Vina menempel di wajah Justin.


Justin mengambil kesempatan itu untuk memeluk leher Vina. Vina membelalakkan mata dan merasakan sentuhan basah di ujung lidahnya. Lalu, sesuatu yang manis terjadi.


Sekitar lima menit kemudian, Justin berhenti mencium Vina. Dia takut bertindak kelewatan.


Vina melepaskan pelukan Justin dan duduk. Dia tersipu malu dan kecantikannya membuat seseorang sesak napas.


"Aku tidak mengira itu ciuman pertamamu," kata Justin sambil tersenyum.


Dengan tidak senang, Vina berkata, "Dari mana kamu tahu itu?"


"Kamu tidak punya kemampuan."


"Dasar Bajingan!" Vina cemberut dan memberi Justin pukulan pelan.


Dia berusia 24 tahun dan merasa malu karena belum pernah dicium.


"Kamu bilang akan menungguku menikahimu. Sekarang aku sudah kembali, maukah kamu menikah denganku?" tanya Justin.


"Apa?" Vina tertegun. Dia tersipu dan berkata, "Aku ... "

__ADS_1


__ADS_2