
"Berhentilah membual. Kamu ini masih anak baru, bagaimana bisa kamu berhak memiliki seorang asisten?" Justin mengambil gelas winenya, mendentingkannya dengan gelas Agustin, lalu meneguk winenya.
Agustin tidak senang ketika dia mendengar hal itu. Dia pun berkata, "Dalam waktu kurang dari sebulan setelah aku bekerja di rumah sakit itu, aku sudah dipuji tiga kali oleh presiden RS itu. Dia mengatakan akan mempromosikanku ke dokter yang merawat dalam waktu dekat. Otomatis, gaji bulananku akan meningkat juga. Pada saat kamu mendapatkan lisensi medismu, aku sudah menjadi dokter yang merawat. Apakah menurutmu aku masih tidak memenuhi syarat untuk memiliki seorang asisten?"
"Luar biasa!" Semua orang memandang Agustin dengan iri.
Agustin menyesap winenya dan melanjutkan perkataannya, "Aku tidak berniat kembali ke Weston untuk liburanku, tapi orang tuaku memaksaku melakukannya. Kalian tahu apa alasannya?"
Semua orang menggeleng dengan bingung.
Agustin berkata dengan bangga, "Itu karena pamanku telah belajar banyak dari Dokter Justin di Klinik Medis Terpercaya. Orang tuaku meneleponku dan menyuruhku pulang supaya pamanku bisa mengajariku cara mengobati penyakit otak. Aku baru saja belajar dari pamanku tadi malam dan aku merasa bahwa aku telah mendapatkan banyak manfaat dari sana. Aku merasa percuma, belajar di Casterland. Pamanku belajar banyak hal berguna dari Dokter Justin. Dia mengatakan bahwa aku tidak memenuhi syarat, jika tidak, aku akan pergi ke klinik itu untuk bekerja di bawah Dokter Justin secara gratis!"
"Wow! Agustin, pamanmu bekerja di Klinik Medis Terpercaya? Kudengar, keterampilan medis Dokter Justin luar biasa."
"Kudengar, semenjak Klinik Medis Terpercaya dibuka, Klinik Tradisional Pusaka ayah Lily semakin tidak laku."
"Bisnis Klinik Tradisional Pusaka dulunya bagus. Begitu Klinik Medis Terpercaya dibuka, klinik itu menjadi kurang diminati. Ini menunjukkan bahwa keterampilan medis Dokter Justin luar biasa!"
Semua teman seangkatannya berkata satu per satu. Mereka semua sudah mendengar reputasi Klinik Medis Terpercaya dan juga Dokter Justin.
"Pamanku bilang, Arya bahkan tidak pantas menjilat sepatu Dokter Justin karena keterampilan medisnya sangat tidak signifikan," kata Agustin.
"Siapa nama pamanmu?" tanya Justin sambil tersenyum.
"Peyton Lloyd, mantan dokter nomor satu di Rumah Sakit No. 1 di Weston. Sejak Dokter Justin mulai praktik, pamanku selalu mengatakan bahwa dia telah hidup dengan sia-sia. Belajar bertahun-tahun, tetapi tidak sebanyak apa yang dipelajarinya dari klinik itu dalam hitungan hari." Membicarakan pamannya, Agustin merasa terhormat.
"Berarti, Peyton adalah pamanmu." Justin baru saja mengetahui bahwa Agustin adalah keponakan Peyton.
"Peyton? Kamu terdengar seperti kamu ini adalah Dokter Justin. Meskipun kalian berdua memiliki nama belakang yang sama, terus terang, tak satu pun dari kita yang pantas untuk menjilat sepatu Dokter Justin." Agustin memelototi Justin dan menyadari sesuatu, "Darren, cepat nyalakan TV. Pamanku mengatakan bahwa Dokter Justin diwawancarai pagi ini dan mungkin, kita bisa melihatnya di berita. Dia memintaku untuk menonton berita itu jika aku ingin melihat wajah Dokter Justin."
"Oke." Darren menyalakan TV yang ada di kamar pribadi itu, memasang Kabar Weston.
Setelah itu, semua orang makan dan mengobrol sambil menonton Kabar Weston.
Di waktu yang sama, di kamar pribadi tempat Vina berada.
__ADS_1
"Nona Webster, aku sudah menyiapkan kontraknya. Aku akan meninggalkannya di sini. Asalkan kamu menandatangani kontrak ini, hubungan kerja sama perusahaanku dengan Grup Meech akan diakhiri setelah dua bulan. Suku cadang Intan Jaya Industri akan dipasok oleh Grup Webster selama dua tahun." Jace menunjuk kedua kontrak tersebut.
"Aku akan menandatangani kontraknya sekarang." Vina merasa sangat gembira. Setelah kontrak ini ditandatangani, keuntungan yang diterima Grup Webster dalam dua tahun bisa bernilai jutaan dolar. Itu kontrak besar!
Di lain sisi, mengamankan kontrak ini berarti memberikan pukulan besar kepada Grup Meech.
"Tidak usah buru-buru." Jace melambaikan tangannya dan berkata, "Karena aku sudah menawarkan kontrak sebesar itu kepada perusahaanmu, bukankah seharusnya kamu memberiku sesuatu sebagai bayarannya?"
"Ya, harus." Vina mengangguk. "Setelah kontrak ditandatangani, aku akan memberimu delapan juta lima ratus ribu dolar sebagai ucapan terima kasih."
"Delapan juta lima ratus ribu dolar?" Jace mencibir, "Apa menurutmu aku ini butuh uang?"
"Lalu apa yang kamu inginkan?"
"Aku ingin kamu tidur denganku ... "
"Pergi sana!" Wajah Vina langsung menjadi muram. Dia menggelengkan kepalanya lalu pergi. Tidak ada yang bisa memaksanya untuk menukar **** dengan sebuah kesepakatan.
"Beraninya kamu!" Jace menggebrak meja dan berdiri sambil berteriak, "Tahan dia!"
"Masuk!" Vina melambaikan tangannya.
Sesaat kemudian, puluhan pengawal bergegas menghampiri dua ahli bela diri tersebut.
Namun ...
Tidak sampai setengah menit, semua pengawal itu ambruk.
Vina sampai tercengang dibuatnya!
Segera, Vina berbalik dan memelototi Jace. "Jika kamu berani menyentuhku, suamiku tidak akan melepaskanmu!"
Jace tertawa dengan tidak bermoralnya, melepas jasnya, lalu berjalan ke arah Vina.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Wajah Vina memucat. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Justin. Namun, begitu dia mengeluarkan ponselnya, ponsel itu dilempar ke lantai oleh salah satu dari pengawal Jace. Kedua lengan Vina ditahan.
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku! Justin! Kamu di mana? Selamatkan aku!"
teriak Vina, putus asa.
Begitu selesai berbicara, dia merasa semakin putus asa.
Justin tidak tahu di mana dia berada saat ini. Bagaimana bisa dia mendengar teriakan minta tolong darinya?
Namun, Justin ternyata mendengar tangisannya. Lima menit sebelum Vina berada dalam bahaya, Justin sedang berada di dalam sebuah kamar pribadi.
Justin berkata dengan malas, "Kenapa kalian menonton TV sambil makan? Apa istimewanya Dokter Justin ini? Duduk dengan tenang dan nikmati saja makanan kalian. Kalau tidak, aku akan memakan semuanya dan tidak akan menyisakan kaki kepiting untuk kalian."
Begitu berita siang dimulai, Justin melihat semua orang meletakkan garpu mereka untuk menonton berita itu.
Agustin memutar bola matanya ke arah Justin setelah mendengar perkataannya.
"Kamu cuma tahu makan. Tidak bisakah kamu berambisi sedikit? Belajarlah dari pencapaian orang-orang hebat ini untuk menginspirasi dirimu sendiri dan menjadi kuat," kata Agustin gemas.
"Sebetulnya, aku cukup kuat." Justin menyeringai lalu menggigit kaki kepitingnya.
Agustin terdiam.
Dia berpikir, betapa tidak tahu malunya orang ini!
Ketika yang lain mendengar ucapan Justin barusan, mereka semua berkata dengan jijik,
"Kalau kamu cukup kuat, kenapa Lily mengusirmu dari rumahnya?"
"Mungkin ini memunculkan trauma permanen pada Justin dan membuatnya kehilangan ambisinya."
"Kita semua punya tujuan masing-masing. Jika Justin ingin tinggal di tempat kumuh, biarkan saja."
Hanya Norah yang sama sekali tidak berkomentar. Norah mengakui bahwa saat ini, Justin memang belum cukup kuat. Namun, dia tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Justin tidak perlu mengkhawatirkan kehidupannya di masa depan meski dia telah diusir oleh Vina. Mas kawin yang diterima Justin sudah cukup untuk menghidupinya.
"Lihat! Tuan Bright sudah keluar!" teriak Darren, tiba-tiba.
__ADS_1