Ternyata Crazy Rich

Ternyata Crazy Rich
Bab 29


__ADS_3

"Enak! Enak sekali." Vina mencicipinya, lalu tersenyum pada Hery dan Sandra. "Ini spageti terenak yang pernah saya makan."


Padahal, ini pertama kalinya dia makan spageti seharga 3 dolar. Vina lahir di keluarga kaya. Aset keluarganya mencapai delapan miliar tiga ratus juta dolar. Dia belum pernah makan di kafe pinggir jalan.


Namun, Vina sangat menyukai spageti buatan kedua orang tua Justin.


Mungkin karena dia belum pernah makan makanan seperti itu.


Hery dan Sandra sangat gembira. Ini berarti bahwa kemampuan memasak mereka diakui dan juga kalau Vina menjadi menantu mereka, wanita itu tak akan pilih-pilih makanan.


Para tetangga semakin iri.


Mengapa putra mereka tidak bisa memiliki kekasih yang begitu cantik dan baik?


Tak lama kemudian, Justin dan Vina sudah menghabiskan spageti mereka. Setelah itu, mereka bangkit.


"Tuan dan Nyonya Dirgantara, saya akan keluar untuk jalan-jalan dengan Justin. Sampai jumpa lain kali," kata Vina dengan sopan.


"Baiklah, baiklah. Sering-seringlah datang kalau luang." Hery dan Sandra mengangguk sembari mengantar mereka keluar kafe.


"Mobil Buick ini terlihat bagus. Berapa harganya? Kalau hampir tiga puluh tiga dolar, aku akan membelinya."


Ketika Justin dan Vina keluar dari kafe, mereka melihat Dustin sedang membungkukkan badannya dan menyentuh bagian depan mobil Bentley sambil bergumam seolah-olah sedang mengagumi seorang gadis seksi yang telanjang.


Justin menggeleng sambil tersenyum getir. Vina pun menganggap hal itu lucu.


Vina merasa pria paruh baya yang tinggal di daerah kumuh ini begitu bersahaja.


Dustin pun menghampiri Justin dan Vina saat melihat keduanya, lalu bertanya, "Nona, bolehkah saya menanyakan harga mobil Buick ini? Saya juga ingin membelinya."


Justin memutar bola matanya dan mengusirnya, "Kembalilah ke restoran dan bantu istri Paman. Model Buick ini tidak ekonomis dan akan memakan banyak bahan bakar."


"Begitukah?" Dustin kaget, tapi dia langsung tersenyum sembari berkata, "Tidak apa-apa. Aku jarang berkendara, jadi aku mampu membeli bahan bakarnya. Intinya, mobil ini terlihat mewah saat parkir di depan restoran cepat sajiku."

__ADS_1


Justin terdiam seribu bahasa.


Vina pun merasa geli, tetapi dia tidak menunjukkannya karena tak ingin membuat seorang pria paruh baya yang sederhana itu takut.


Namun, Dustin ditarik oleh seorang pemuda yang datang dari restoran cepat saji milik Dustin. Vina dan Justin masuk ke dalam mobil, lalu mengendarai Bentley untuk meninggalkan tempat kumuh tersebut.


"Kyler, apa kamu tahu berapa harga mobil Buick model seperti itu?" tanya Dustin seraya menatap pemuda itu, Pemuda yang bernama Kyler Gibson itu pun memutar bola matanya sembari berkata dengan getir, "Dustin, aku tidak berusaha menakutimu. Meskipun kamu menjalankan restoran cepat saji selama sepuluh tahun lagi dan menjual semua propertimu, kamu tidak akan mampu membeli mobil itu."


"Dasar bajingan, jangan berbohong padaku. Apa ada mobil Buick semahal itu?"


Kyler tak habis pikir, lalu dia memekik, "Itu bukan mobil Buick, tapi mobil Bentley! Harga bersihnya sekitar dua juta dolar. Satu set lengkap mobil dan plat mobil wanita itu harganya hampir tiga juta dolar. Mampukah kamu membelinya?"


Dustin tiba-tiba terduduk di tanah.


Dustin tercengang.


Perkataan Kyler selanjutnya bagaikan petir yang menyambar Dustin, Hery, dan Sandra, serta para warga yang ada di sana secara tiba-tiba. Pikiran mereka semua menjadi kosong.


Ketika Kyler usai berbicara, suasana di sana langsung sunyi senyap.


Semua orang tercengang.


Mereka tidak mengerti kenapa Justin bisa mendapatkan wanita muda yang kaya seperti Vina.


Berita itu langsung menyebar ke seluruh daerah kumuh.


Seluruh daerah kumuh pun gempar.


"Kamu pandai berakting. Kamu aktris yang luar biasa."


Mobil Bentley itu keluar dari jalur sempit yang ada daerah kumuh, lalu memasuki jalanan yang luas.


"Tentu saja, sebab aku ingin meminta bantuanmu. Jadi, aku harus membantumu. Setidaknya, tadi itu bisa menyelamatkan keluargamu dari cemoohan orang-orang itu," ujar Vina sambil berkonsentrasi menyetir mobil dengan ekspresi wajah datar. Dia tampak sangat berbeda dari dirinya yang tadi dan inilah dia yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kamu pintar. Kamu bisa menilai dengan menyelidikiku bahwa sekelompok orang itu sedang menghalangi kafe-ku dan mengejekku," kata Justin.


"Kamu juga pintar. Kamu bisa langsung tahu bahwa aku adalah Vina. Kamu bahkan tidak bertanya mengapa aku datang untuk menemuimu dan apa yang aku inginkan darimu. Sepertinya dr. Dirgantara tahu apa yang dilakukan," kata Vina. harus


"Benar. Kamu lebih pintar dari dugaanku. Aku suka berurusan dengan orang pintar." Justin menatap Vina sambil tersenyum tipis.


"Begitu juga sebaliknya. Jadi, kamu harus berusaha keras untuk mengobati kakekku. Kalau kamu menipuku, aku akan mematahkan tanganmu yang kamu gunakan untuk memegang tanganku." Vina melirik Justin sembari memberi peringatan dengan matanya.


Justin merasa bahwa hal itu lucu, jadi dia berkata, "Kalau penyakit kakekmu terlalu sulit untuk disembuhkan dan tanganku harus dipatahkan karena memegang tanganmu, itu sangat merugikanku. Jadi, aku harus lebih menikmatinya."


Setelah mengatakannya, Justin meraih paha Vina dengan tangan kirinya.


Paha Vina sangat lembut, sangat halus, dan sangat hangat!


"Berengsek!" Wajah Vina menjadi pucat pasi dan tanpa sadar menarik kakinya. Dia kaget mendapati pergelangan tangan Justin melingari pahanya melingkari dan tubuh Justin tertarik ke arah Vina karena pergerakan wanita itu. Wajah Justin langsung menempel di dada Vina.


Justin mencium aroma yang begitu harum dan dia hampir mati lemas.


Vina nyaris frustasi. Dia menarik tangannya dari setir mobil, lalu mendorong kepala Justin menjauh dari dadanya. Namun, tangan Justin masih tetap melingkari pahanya dengan erat.


"Lepaskan dari tanganmu sekarang juga! Kalau tidak, kamu akan mati!" pekik Vina.


Kalau bukan karena agar kakeknya bisa hidup selama satu atau dua tahun lagi, Vina akan membunuh Justin.


"Kamu tidak akan membunuhku dan aku juga tidak akan menjauhkan tanganku. Kalau kamu akan mematahkan tanganku, aku akan merasa kasihan pada tanganku. Jadi, aku akan membiarkannya menikmati setiap detiknya," kata Justin dengan tatapan menyebalkan yang bisa membuat orang kesal.


Sesuai dugaan, Vina menggertakkan giginya sarat akan kebencian dan dadanya bergetar seolah-olah akan mengamuk.


Kalau Vina tidak melihat nya sendiri, dia tidak akan percaya bahwa ada dokter yang tidak tahu malu di dunia ini. Vina mengalihkan pandangannya dari Justin.


"Kamu menyakitiku," ujar Vina tak berdaya sembari menggertakkan giginya.


"Baiklah, aku akan lebih lembut." Justin mengendurkan cengkeraman nya.

__ADS_1


__ADS_2