
Vina berpikir bahwa Justin pasti sedang menggodanya.
Saat itu juga, jantung Vina berdetak semakin cepat. Wajahnya memerah seperti buah apel.
Sedangkan orang-orang yang hadir, semuanya merasa cemburu dan melihat Vina dengan iri. "Vina, tunggu apa lagi? Jangan kecewakan Justin. Cepat cicipi," kata Jason sembari mengguncang Vina.
"Oh, oke." Vina segera tersadar dari imajinasinya yang luar biasa, tersenyum kepada Justin, dan mengambil wine dari tangannya dengan gembira.
Senyum Vina menjadi yang terindah di antara para wanita yang hadir di sini. Bahkan tak peduli sebanyak apa pun riasan yang mereka pakai, kecantikan mereka tidak akan pernah sebanding dengan kecantikan Vina.
Akhirnya tiba saatnya bagi Vina untuk bersinar dan menunjukkan kecantikannya.
Vina tersenyum manis dan dalam hati bertanya-tanya siapa lagi yang lebih cantik dari dirinya. Bahkan Peony pun tertunduk malu.
"Bagaimana, Vina? Apa rasanya enak?" tanya Jason yang buru-buru menelan ludahnya, seperti anak kecil yang rakus, setelah melihat Vina menyesap wine itu.
"Iya, enak. Rasanya luar biasa enak! Aku bahkan tidak tahu harus berkata apa," jawab Vina, heran.
"Benarkah? Biar kucoba." Jason merebut gelas itu dari Vina lalu meneguk isinya. Hampir menghabiskan wine itu dengan satu tegukan besar.
"Wow! Benar-benar enak! Perasaan setelah meminumnya sungguh luar biasa! Bahkan lebih nikmat daripada berhubungan **** dengan seorang gadis. Sangat hebat!" Jason bertingkah seolah dia adalah seorang penyair yang sedang membacakan puisinya saat ini.
Mendengar ucapannya, Vina ingin langsung menampar Jason. Dia heran bagaimana pria itu membuat apa pun yang diucapkannya terdengar kotor.
Di sisi lain, Peony merasa luar biasa penasaran setelah melihat ekspresi Jason. Peony dengan cepat mengulurkan tangan rampingnya dan berseru, "Berikan padaku! Berikan padaku! Biarkan aku mencicipi wine buatan Tuan Justin!"
Peony takut Jason akan meminum seluruh wine yang tersisa. Saat Peony berseru, Jason berpikir sejenak dan tiba-tiba tersenyum.
Dia bisa melihat payudara Peony, yang mengenakan gaun berpotongan rendah.
Alhasil, Jason mendekati Peony untuk melirik ke sana. Bola matanya nyaris meledak melihat pemandangan yang begitu mematikan.
__ADS_1
Jason sangat ingin melompat ke sana dan tercekik di antara mereka.
Dalam keadaan normal, Jason pasti akan berakhir ditampar jika berani menatap Peony dengan cara kotor seperti itu.
Namun saat ini, Peony tidak mau repot-repot memedulikan Jason. Dia hanya ingin segera mencicipi wine buatan Justin.
Peony menyesap wine itu dengan hati-hati, menikmatinya, dan bahkan langsung menghabiskan sisanya. Kemudian dia berteriak kencang. "Ini wine paling ajaib dan lezat yang pernah kuminum!"
"Jika Wine Peony milikku adalah yang terbaik kedua, maka wine yang dibuat oleh Tuan Justin berada di peringkat pertama, tidak diragukan lagi. Aku bisa menjamin bahwa ini jelas merupakan wine terbaik di dunia!"
Setelah selesai berbicara, Peony menatap Justin secara berbeda, dipenuhi gairah. Bagi Peony, Justin seperti matahari yang menyinari seluruh harapan dan kasih sayangnya.
Orang-orang yang berada di sana langsung sibuk berdiskusi. "Ya ampun! Wine terbaik? Bukankah itu komentar yang luar biasa?"
"Apa memang seenak itu?"
"Bahkan Peony pun terkagum-kagum! Jelas, wine itu merupakan yang terbaik di dunia!" Tiba-tiba seseorang berteriak.
Tiba-tiba tempat itu menjadi kacau. Banyak orang segera berlutut untuk mencicipi tetesan terakhir dari wine terenak di dunia itu.
"Tuan Meech, tunggu dulu. Aku akan mencicipinya untukmu." Tommy takut tumpahan wine itu akan dijilat oleh orang lain jika dia terlambat barang sedetik saja. Oleh karena itu, Tommy dengan cepat membungkukkan badannya dan menjilat tetesan wine itu bak seekor anjing.
"Bagaimana?" tanya Corbin, tidak sabar.
Tommy berteriak, "Tuan Meech, ini enak sekali! Kelezatan paling langka di dunia!"
"Benarkah?" Mata Corbin berbinar. Dia juga ingin berbaring di lantai untuk mencicipi wine yang tumpah itu. Namun, mengingat identitasnya, Corbin memutuskan untuk tidak melakukannya.
"Betul juga!" Corbin tiba-tiba mendapatkan sebuah ide. Dia menarik beberap lembar tisu dari meja bar lalu menyerahkannya kepada Tommy. "Basahi tisu itu."
"Baik, Tuan Meech." Tommy mengambil beberapa lembar tisu itu untuk menyerap tumpahan wine di lantai. Perlahan-lahan, tisu itu menjadi basah. Kemudian Tommy mengembalikan tisu yang sudah basah itu kepada Corbin. "Silakan dicoba."
__ADS_1
Corbin buru-buru mengambil tisu itu lalu memerasnya kuat-kuat di atas mulutnya. Kemudian wine yang terserap tisu itu menetes ke mulut Corbin.
Sedetik berikutnya, Corbin seperti seseorang yang belum pernah meminum wine seenak ini sebelumnya. "Wine ini hanya bisa ditemukan di sini. Sangat enak dan langka!"
Setelah selesai berbicara, Corbin memasukkan semua tisu tadi ke dalam mulutnya lalu mengunyah mereka dengan hati-hati. Dia tampak seperti sedang mengunyah permen karet, tidak bisa berhenti.
Lily dan yang lainnya tidak bisa menahan diri mereka lagi. Semua orang ingin mencicipi wine tersebut.
Namun, sebelum mereka sempat menyadarinya, mereka semua tercengang setelah mengetahui bahwa tumpahan wine itu sudah dijilat bersih oleh orang lain.
Tiba-tiba, mereka merasa luar biasa menyesal Mereka semua berpikir bahwa seharusnya mereka bertindak lebih cepat sehingga mereka bisa mencicipi wine itu.
"Corbin, apa kamu tahu kalau kamu terlihat seperti anjing saat melakukan itu?" ejek Jason.
"Aku sangat bahagia dan itu bukan urusanmu. Persetan denganmu!" Corbin hanya merasa perilakunya tadi sepadan, tak peduli apa pun yang terjadi. Bagaimanapun juga, dia baru saja mencicipi wine terlezat di seluruh dunia.
"Dasar tidak tahu malu. Apa lagi yang bisa kukatakan?" Jason tercengang.
Tiba-tiba, Peony mendatangi Justin, membungkuk, dan berkata dengan hormat, "Tuan Justin, tolong ajari aku cara membuat wine ini. Aku sangat bersedia untuk menawarkan tiga puluh empat juta dolar sebagai bayarannya. Terima kasih, Tuan Justin."
Semua orang terkejut! Lagi-lagi, tiga puluh empat juta dolar!
Semua orang di bar itu tidak lagi bisa tenang. Bahkan seseorang yang luar biasa kaya seperti Corbin pun terkejut mendengar tiga puluh empat juta dolar yang ditawarkan Peony.
Sedangkan Lily, dia dipenuhi dengan penyesalan. Soren memang memiliki aset senilai lebih dari delapan ratus lima puluh juta dolar, tetapi dia hanya memiliki sekitar sepuluh juta dolar uang tunai.
Adapun Justin, dia mengeluarkan tiga puluh empat juta dolar lalu memenangkan sepuluh juta dolar dari Corbin. Kemudian Justin menerima tiga puluh empat juta dolar dan sekarang dia bisa menghasilkan tiga puluh empat juta dolar lagi.
Jika tebakan Lily benar, Justin akan memberikan tiga puluh empat juta dollar kepada Vina. Berarti jumlah uang yang dimiliki Vina bertambah hingga sebesar tujuh puluh delapan juta dollar.
Tujuh puluh delapan juta dolar! Jumlah itu lebih banyak jauh dibandingkan dengan total uang tunai yang bisa dipakai Keluarga Preston.
__ADS_1