Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 1 ~ Bertengkar


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Drrrrttt!


Pagi hari yang sangat cerah berawan di langit Kota London, tiba-tiba terdengar suara getaran ponsel seorang pria yang ada di atas nakas tempat tidurnya. Dengan mata yang masih terpejam kuat, pria itu beringsut, berusaha untuk meraih dan mengangkat telepon itu.


"Hallo..." ucapnya yang masih memejamkan mata.


"Zein... ayolah! Hari ini aku akan menikah." jawab seseorang di seberang sana pada pria yang bernama Zein.


Zein Abdullah... seorang pria tampan, cool, dan juga kaya raya. Ia anak seorang pengusaha kaya raya yang terkenal di ibu kota. Saat ini ia sedang menjalani study Magister di salah satu Universitas yang ada di London.


"Apa? Menikah? Tidak, tidak, tidak. Kau tidak boleh menikah dengannya! Tunggu aku! Aku akan segera ke sana." ucapnya yang terkejut dan langsung terduduk di atas tempat tidur.


Zein langsung berlari menuju ke kamar mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke suatu tempat.


***


Yogyakarta


Saat semua orang sedang ramai dan sibuk menyiapkan sarapan, tiba-tiba seorang wanita cantik berambut hitam legam dan panjang turun dari lantai atas.


Melihat sang putri yang mengendap turun dan ingin pergi keluar, Sabrina pun memanggilnya dan membuat gadis itu berhenti.


"Mau pergi ke mana kamu, Aliyya?" tanya Sabrina yang sedang menyiapkan hidangan sarapan di meja makan.


"Aku harus pergi, Bu. Sebentar saja. Aku tidak akan lama. Please..." jawab seorang gadis cantik yang bernama Aliyya pada ibunya.


Aliyya Ginanjar... gadis cantik, taat agama, rajin dan juga cerdas. Aliyya adalah anak pertama Sabrina dengan suaminya yang bernama Galuh Ginanjar. Aliyya mempunyai seorang adik wanita yang bernama Aldha.


"Jangan pergi terlalu lama ya. Hari ini akan ada pertemuan keluarga di rumah kita." ujar wanita yang dipanggil ibu oleh Aliyya.


"Baiklah, Ibu." jawab Aliyya.


Aliyya pun pergi dengan senyum yang merekah setelah mendapatkan izin dari ibunya. Gadis itu pergi menggunakan sepeda kesayangannya.


***


Jakarta


"Tuan Umar... kondisi kesehatan anda sangat mengkhawatirkan, jika anda bekerja terus." ujar seorang dokter yang memeriksa kondisi kesehatan paruh baya itu.


"Kau ini bisa saja, Dokter. Aku ini tidak sakit, hanya kelelahan saja. Kau jangan berlebihan seperti itu." jawab Umar seraya merapihkan kembali kancing di lengan bajunya.


Umar Abdullah... seorang pria paruh baya yang berusia 50 tahun. Ia adalah seorang pengusaha kaya raya di Jakarta. Perusahaan Umar yang bergerak di bidang perhotelan sangat lah maju dan tak tertandingi oleh siapa pun. Bisnis Umar yang maju saat ini adalah perusahaan miliknya sendiri yang bernama Berlian Group Corporation dan Hotel Berlian Group. Keduanya itu adalah perusahaan terbesar yang ada di Jakarta dan merupakan perusahaan yang Umar buat sendiri atas kerja keras serta dukungan orang tercinta.


"Percuma saja kau memberikan nasihat pada pria tua itu, Dokter. Dia tidak akan mendengar semua perkataanmu..."


Dari arah ruang makan, tampak seorang wanita paruh baya nan cantik dan sangat elegan hendak mendekati sang suami di ruang tamu.


"Tentu saja aku tidak mendengarkan apa yang dia katakan. Karena aku hanya mendengarkan perkataanmu, Sonia." jawab Umar.


Sonia Abdullah... istri Umar Abdullah. Ia adalah seorang juru masak yang terkenal di Jakarta. Makanan yang ia racik menjadi salah satu menu andalan di semua hotel milik keluarga mereka.


"Kamu ini bisa saja, Pa. Kamu itu harus tetap mendengarkan apa yang dikatakan oleh Dokter. Itu semua demi kesehatanmu, bukan kesehatan siapa pun." ujar Sonia yang berdiri di hadapan sang suami.


"Sonia, istriku. Kamu itu sama saja dengan Dokter itu. Aku tidak apa-apa, cukup dengan istirahat saja kondisiku akan segera pulih kembali." jawab Umar yang keras kepala.


"Terserah!!!" ucap Sonia yang cemberut.


Saat Sonia sedang merapihkan kancing lengan baju sang suami, tiba-tiba ponsel Umar berbunyi.


Sonia pun menoleh ke layar ponsel dan ternyata yang menghubungi Umar adalah Sabrina, adik kandung Umar suaminya.


"Assalamualaikum, Sabrina." ucap Sonia yang mengangkat telepon.


"Wa'alaikumsalam, Kakak. Bagaimana kabar Kakak dan Kak Umar di sana?" jawab Sabrina.


"Kabar kami semua baik. Ada apa kamu menghubungi Umar?" jawab Sonia yang bertanya balik pada Sabrina dengan raut wajah tidak bersahabat.


"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya ingin memberitahu Kakak dan Kak Umar, kalau hari ini akan ada pertemuan di antara keluargaku dengan keluarga calon suaminya Aliyya." jawab Sabrina.


Sonia hanya memutar kedua bola matanya tanda jengah saat mendengar perkataan Sabrina.


"Aku hanya berharap kalau Kak Umar..."


Tut...


"Signalnya jelek lagi." ucap Sabrina seraya menatap ponselnya.


Sabrina mengira kalau jaringan signal yang sedang bermasalah. Padahal Sonia sengaja memutuskan sambungan telepon Sabrina. Sonia tidak ingin kalau Umar sampai tau, jika yang menghubunginya itu adalah Sabrina, adiknya.


"Siapa yang menghubungiku?" tanya Umar yang melihat ke arah istrinya.


"Sabrina, tapi sudah terputus. Mungkin signal di sana sedang terganggu." jawab Sonia yang meletakkan ponsel suaminya.


"Berikan ponselku!!!" seru Umar yang ingin mengambil ponsel namun dicegah oleh sang istri.


"Sudahlah, Pa. Lagi pula Sabrina hanya ingin menanyakan kabarmu. Sekarang kancing lengan bajumu sudah terpasang." jawab Sonia yang berusaha menghalangi Umar.


Umar hanya tersenyum melihat sikap sang istri yang tidak aneh lagi untuknya. Mereka pun beranjak dan pergi ke meja makan untuk sarapan.

__ADS_1


"Di mana Farhan, Namira dan Shafia?" tanya Umar pada istrinya.


"Mungkin Farhan masih bersama mereka di dalam kamar, Pa." jawab Sonia yang melihat sekitar.


Umar pun hanya mengangguk. Lalu ia melanjutkan sarapan bersama Sonia.


***


"Selamat pagi istriku. I Love You."


Seorang pria tampan, dengan balutan jas silver di tubuhnya pagi ini tampak duduk di tepi tempat tidur dan mengecup kening wanita yang tengah berbaring manja di atas tempat tidur ukuran king size itu. Sementara yang dikecup, tampak mengerjap dan menggeliat manja saat mendapati keberadaan sang suami di sisinya.


"Mas Farhan... selamat pagi juga, suamiku. I Love You Too." jawab wanita cantik itu pada pria yang bernama Farhan.


Farhan Abdullah, itulah dia, anak sulung Umar dan Sonia. Dia adalah salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan Berlian Group, perusahaan hotel milik Umar.


"Namira... ayo bangun, Sayang. Kita harus ikut sarapan bersama Mama dan Papa di lantai bawah." ujar Farhan pada wanita yang bernama Namira itu.


Namira Abdullah... istri Farhan, menantu Umar dan Sonia. Farhan dan Namira sudah menikah selama enam tahun. Mereka sudah dikaruniai dua orang anak perempuan yang cantik dan manis.


"Kamu duluan saja, Mas. Aku masih mengantuk." jawab Namira dengan manjanya pada Farhan.


"Baiklah, kalau begitu. Aku ke bawah dulu ya." ucap Farhan sambil mengecup kening sang istri.


Farhan pun mengecup kening sang istri kembali sebelum beranjak. Lalu...


"Papa, Mama..."


Suara nyaring dua bocah perempuan pun memenuhi isi kamar Namira. Kedua bocah itu adalah putri Namira dan Farhan.


"Ada apa Sayang? Bukannya kalian harus mandi dan bersiap ke sekolah. Kenapa kalian ke sini?" tanya Farhan pada kedua putrinya itu.


"Kami mau mandi, jika Mama yang menemani kami. Iya 'kan Fara?" jawab Nala yang menoleh ke arah adiknya, Fara.


"Iya, Pa. Kak Nala benar. Kami ingin Mama yang memandikan kami pagi ini." ucap Fara yang mengikuti sang kakak.


"Oh, ayolah sayang. Mama masih mengantuk. Kalian mandi dengan Bibi saja ya. Bi Sumi ini ke mana sih?" ujar Namira yang membujuk kedua putrinya sambil meraih ponselnya.


Saat Namira sedang mencari nama orang yang ingin ia telepon, tiba-tiba dari luar terdengar suara ketukan pintu.


Ceklek!


"Maafkan saya, Tuan, Nyonya. Non Nala, Non Fara, ayo ikut Bibi. Kalian harus segera pergi ke sekolah." ujar Bi Sumi yang datang ke sana.


Bi Sumi... beliau adalah seorang ART yang sudah cukup lama bekerja dengan Umar. Ia berasal dari Yogyakarta. Umar membawanya kemari karena Bi Sumi sangat membutuhkan uang untuk menghidupi keluarganya di sana.


"Ayo Sayang. Lebih baik kalian pergi sebelum Mama kalian berubah menjadi monster." ujar Farhan yang berbisik pada kedua putrinya.


"Baiklah, Papa." jawab keduanya serentak lalu pergi bersama Bi Sumi.


"Tunggu Mas..." sahut Namira yang memanggil Farhan.


"Ada apa Sayang?" tanya Farhan yang berjalan mendekati sang istri.


"Jam satu nanti, kamu temani aku ya. Aku ingin pergi ke butik untuk membeli baju baru." jawab Namira yang terlihat senang.


"Jam satu? Oke, tidak ada masalah. Aku akan datang menjemputmu jam satu." jawab Farhan yang berjalan mendekati pintu.


Namira pun merasa senang. Sementara Farhan sudah keluar dari kamar Namira. Ia berjalan namun bukan ke arah tangga, melainkan ke kamar lain.


***


Farhan pun masuk ke dalam kamar seorang wanita yang sedang tidur bersama dengan seorang bocah laki-laki.


"Selamat pagi istriku. I Love You." ucapnya pada wanita yang ia sebut sebagai istrinya.


"Mas Farhan... selamat pagi. I Love You Too." jawab wanita itu dengan sangat manjanya.


"Bangunlah, Shafia. Aku harus berangkat ke kantor dan kita harus sarapan bersama." ujar Farhan pada wanita yang bernama Shafia.


Shafia Abdullah... istri kedua Farhan dan juga menantu di rumah Umar dan Sonia. Farhan dan Shafia sudah menikah selama empat tahun. Setelah dua tahun menikah dengan Namira, Farhan pun menikah lagi dengan Shafia atas permintaan sang ibu. Mereka juga sudah dikaruniai seorang anak laki-laki yang tampan.


"Aku akan bangun, tapi dengan satu syarat." ujar Shafia yang masih berbaring.


"Apa Sayang?" tanya Farhan sambil mengelus kepala sang istri.


"Kamu harus menemani aku ke supermarket nanti jam satu." jawab Shafia yang terduduk dan menunjuk sang suami.


Farhan terdiam dan terperangah. Di satu sisi ia juga sudah berjanji pada Namira, untuk menemaninya pergi ke butik. Namun di sisi lain, Shafia juga ingin mengajaknya pergi ke supermarket.


"Kenapa diam Mas?" tanya Shafia yang tidak sabar menunggu jawaban Farhan.


Farhan masih diam dan berusaha mencari jalan keluar. Sementara Shafia yang sedang menunggu jawaban dari suaminya, tiba-tiba melihat seseorang yang sedang berusaha mendengar pembicaraan mereka dari luar.


Shafia pun beranjak dari tempat tidur tanpa membuat Farhan curiga.


"Kalau kamu diam, itu tandanya setuju."


Shafia yang semakin dekat dengan pintu pun menyeringai licik, sepertinya ia tau siapa yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya itu. Saat tangannya memegang gagang pintu, wanita yang berstatus istri kedua Farhan itu langsung membukanya dengan keras.


"Iya 'kan Mas?"

__ADS_1


Sosok yang menguping itu ternyata Namira. Shafia yang geram pun menatap tajam Namira. Begitu juga sebaliknya. Ekspresi tidak bersahabat sangat jelas di wajah keduanya. Sedangkan Farhan yang melihat Namira, hanya bisa berdiam diri. Ia tidak tau harus melakukan apa jika kedua istrinya sudah seperti ini.


"Apakah kamu tidak punya sopan santun?" tandas Shafia seraya menunjuk wajah Namira.


"Hei, kamu pikir siapa di antara kita yang tidak punya sopan santun? Aku atau kamu?" tandas balik Namira yang menunjuk Shafia.


"Kamu yang tidak punya sopan santun!!! Mendengar pembicaraan orang tanpa izin. Katanya wanita berpendidikan, tapi sikapmu seperti ini." tandas Shafia dengan suaranya yang sangat nyaring.


"Berani sekali kamu bicara seperti itu padaku." tandas balik Namira yang terbawa emosi.


***


Umar dan Sonia yang sedang menikmati sarapan, mendengar pertengkaran di antara kedua menantunya itu.


"Kamu dengar, istriku. Kedua menantumu itu setiap pagi selalu saja ribut. Kamu bilang Farhan bisa menangani semua itu, tapi sepertinya tidak." ujar Umar yang melirik jengah Sonia.


"Nanti biar aku yang bicara pada mereka, Pa." jawab Sonia yang terlihat kesal.


"Kalau begitu, aku berangkat ke kantor dulu. Cepat kamu hentikan pertengkaran mereka." ujar Umar yang beranjak lalu pergi.


Setelah Umar pergi, Sonia pun beranjak dan naik ke lantai atas untuk menghentikan kedua menantunya yang bertengkar.


"Dasar tidak tau malu. Kamu itu wanita yang sudah merebut suamiku. Jadi tolong lah sadar diri sedikit." tandas Namira yang tersulut emosi.


"Aku bukan merebutnya darimu. Kami saling mencintai. Kamu saja yang tidak berguna jadi istri." tandas Shafia yang tidak mau kalah.


Farhan yang masih berada di sana tampak panik dan tidak tau harus berbuat apa saat kedua istrinya seperti ini. Bukan hanya satu sampai dua kali, kedua menantu Umar itu selalu saja bertengkar, tidak kenal waktu dan tidak kenal lelah.


"Sayang... sudahlah."


Farhan yang gusar melihat pertengkaran pun berusaha menghentikan kedua istrinya.


"Diam kamu, Mas!!!"


Namira dan Shafia serentak menoleh tajam ke arah Farhan. Sementara yang ditatap hanya bisa tertunduk takut. Ya, pria yang berstatus putra sulung Umar dan Sonia itu memang takut pada kedua istrinya itu. Entah sejak kapan dan entah kenapa Farhan hanya bisa diam sebagai seorang suami, hanya Farhan lah yang tau.


"Dasar wanita murahan." tandas Namira yang semakin emosi.


Sonia yang sejak tadi sudah berdiri di dekat kamar Shafia pun menatap tajam keduanya. Dengan langkah tergesah, wanita paruh baya yang cantik dan elegant itu langsung mendekat.


"Cukup!!!"


Namira dan Shafia pun tersentak lalu bergegas menoleh ke arah ibu mertuanya. Sementara Farhan hanya diam dan menghela nafas lega saat melihat kedatangan sang ibu.


"Kalian ini memang tidak tau malu!!! Setiap pagi, setiap hari selalu saja bertengkar!!! Semua orang yang ada di sini bisa gila kalau kalian seperti ini terus." tandas Sonia yang tegas dan melihat keduanya.


Namira dan Shafia hanya diam. Mereka tidak berani melawan ibu mertuanya yang galak itu.


"Farhan... lebih baik kamu menyusul papamu ke kantor. Dia sudah menunggumu sejak tadi." timpal Sonia yang menatap tajam putranya itu.


"Oke, Ma." jawab Farhan yang menurut dengan perintah sang ibu.


Setelah Farhan pergi, Sonia pun kembali melirik tajam kedua menantunya itu.


"Sekali lagi kalian ribut seperti ini, kalian akan menanggung akibatnya." tandas Sonia pada kedua menantunya lalu pergi.


Sonia yang geram pun berlenggang pergi dan meninggalkan kedua wanita cantik itu. Sementara Namira dan Shafia hanya saling melempar lirikan tidak suka.


"Awas saja kamu." tandas Namira seraya menunjuk wajah istri kedua suaminya itu.


"Aku tidak takut." jawab Shafia yang tidak mau kalah.


Akhirnya mereka pun bubar dan masuk ke dalam kamar masing-masing.


***


"Aku datang Sayang..."


Pekikan suara seorang pria tampan sontak mengundang perhatian para tamu undangan yang telah hadir di acara pernikahan itu. Pria tampan itu pun langsung berlari mendekati wanita yang ia panggil dengan sebutan sayang itu.


"Apakah kau calon suami wanita ini?" tanya seorang pendeta pada pria itu.


"Iya, Tuan. Saya sudah siap menikah dengan wanita yang sangat saya cintai ini." jawab pria itu sambil melihat wanita di sampingnya.


"Apakah kalian siap untuk menikah?" tanya pendeta pada keduanya.


"Siap, Tuan."


Dengan sangat yakin, pria dan wanita itu tampak antusias menjawab semua pertanyaan pendeta itu. Namun saat pernikahan itu akan berlangsung, tiba-tiba terdengar suara motor yang sangat keras dan memekakkan telinga.


"Tunggu!!! Hentikan pernikahan ini."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Rating cerita baru author ya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2