
...๐น๐น๐น...
Ibu Zaki langsung memotong pembicaraan Anita yang masih berusaha membela dirinya.
"Stop!!!" seru Ibu Zaki.
Ibu Zaki pun berjalan mendekati putranya dan suasana menjadi semakin tegang.
"Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Semua yang terlihat sudah sangat jelas. Belum menjadi istri saja kelakuanmu sudah seperti itu. Sangat memalukan Aliyya!" ujar Ibu Zaki.
"Maaf, Bu. Tolong jangan memprovokasi Zaki dalam masalah ini. Saya yakin keponakan saya tidak mungkin melakukan hal serendah itu." timpal Umar yang berusaha membela Aliyya.
Ibu Zaki pun berdecak sinis melihat ke arah Umar. Rasa kesalnya terhadap Aliyya sudah menjalar sampai ke ubun-ubun dan semua ini harus segera diselesaikan.
"Hei, Tuan. Sudah jelas ada buktinya kalau gadis ini bermain gila bersama pria lain di belakang putra saya. Apa masih kurang jelas?" tandas Ibu Zaki yang tidak mau kalah.
"Ini benar-benar salah paham, Bu. Zein itu sepupu saya. Di antara kami tidak terjadi apa pun." ujar Aliyya yang meyakinkan Ibu Zaki.
Paman Zaki merasa geram saat melihat perdebatan yang tidak kunjung berakhir ini. Ia berniat untuk membantu keponakannya itu. Tapi baru saja ingin melangkah, tiba-tiba ia mendapatkan panggilan. Paman Zaki pun beranjak dan memilih keluar untuk menerima panggilan itu.
Sementara perdebatan di dalam rumah semakin memanas dan suasana menjadi tegang.
"Kalau kalian tidak percaya, saya akan mencoba menghubungi Zein dan kalian bisa mendengarkan penjelasan putraku itu." ujar Umar yang masih berusaha memperbaiki kesalahpahaman di antara kedua keluarga itu.
Umar pun meraih ponselnya dan berusaha menghubungi Zein. Namun Zein tidak mengangkatnya. Ibu Zaki pun tersenyum sinis pada Umar, begitu juga dengan Zaki.
"Bagaimana Tuan? Apakah putramu itu mengangkat teleponmu?" ujar Ibu Zaki yang mengejek Umar di depan semua orang.
Umar pun terdiam dan menoleh ke arah Aliyya dan Sabrina. Ia tidak bisa mengatakan apa pun atas perbuatan putranya yang sudah sangat keterlaluan. Sementara itu, Zaki pun mendekati Aliyya dan mencekam tangannya.
"Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan menikahi wanita sepertimu, Al!" tandas Zaki yang melepas paksa tangan Aliyya.
Zaki yang tersulut emosi pun menatap tajam Aliyya sebelum beranjak pergi.
"Ayo, Ma, Pa. Kita pergi sekarang!" ujar Zaki pada orang tuanya.
Zaki dan kedua orang tuanya pun beranjak. Sebelumnya Ayah Zaki masih tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang putra. Namun setelah melihat bukti foto itu dan pengakuan dari sang istri, Ayah Zaki pun merasa sangat kecewa pada keluarga Galuh. Lalu mereka pun memilih pergi dari rumah itu.
Aliyya pun tidak bisa menahan tangisnya. Lalu Sabrina tampak berlari menghampiri sang putri dan memeluknya. Karena tidak tahan lagi, Aliyya pun berlari ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Aliyya menangis sesegukan di dalam kamar, meratapi nasib pernikahannya yang gagal. Melihat sang kakak yang seperti itu, Aldha pun menyusul Aliyya. Namun Aliyya sudah mengunci rapat kamarnya dan Aldha tidak bisa berbuat apa-apa.
***
"Saya sedang menghadiri acara pernikahan keponakan saya. Jadi tolong urus semua yang kalian diperlukan terlebih dahulu."
Paman Zaki terlihat sedang sibuk berbicara di telepon. Namun saat sedang asyik bicara, tiba-tiba sebuah taksi berhenti tepat di depan pagar rumah Aliyya. Paman Zaki pun menoleh ke arah taksi itu. Matanya terbelalak seketika saat melihat sosok yang turun dari taksi itu.
"Tolong tunggu di sini ya, pak. Saya harus menjemput hidup dan mati saya yang tertinggal di dalam sana." ujar sosok itu.
"Baiklah, Tuan." jawab supir taksi.
Sosok itu pun berlari masuk ke halaman rumah. Sementara Paman Zaki yang sejak tadi melihat dan mendengar perkataan sosok itu pun beranjak mengikutinya.
Sosok itu pun terus berlari ke arah tangga darurat yang ada di bawah balkon kamar Aliyya. Ia memilih jalan itu karena tidak mungkin jika harus lewat depan di saat acara sedang berlangsung. Paman Zaki yang sejak tadi mengikuti sosok itu pun tersenyum puas.
__ADS_1
"Tuhan selalu tau mana yang benar dan mana yang salah."
Sosok itu pun bergegas naik melalui tangga darurat dan masuk ke dalam kamar Aliyya. Sementara Paman Zaki berlari menuju pintu depan dan berpapasan dengan keluarganya yang hendak pergi dari rumah itu.
"Kalian mau ke mana?" tanya Paman Zaki.
"Tidak ada gunanya lagi kita di sini, Paman. Semuanya sudah cukup jelas. Aku tidak ingin menikah dengan Aliyya." jawab Zaki yang emosi.
"Tenanglah sejenak, Nak. Ada satu hal lagi yang harus kalian saksikan dan Paman sangat yakin, kalau niatmu untuk membatalkan pernikahan ini adalah keputusan yang sangat tepat." ujar Paman Zaki seraya menepuk bahu keponakannya.
"Maksud Mas apa?" tanya Ibu Zaki pada sang kakak.
Paman Zaki pun hanya tersenyum pias seraya menatap ke arah lantai dua rumah Aliyya. Sementara Zaki dan kedua orang tuanya tampak bingung melihat tingkah pria paruh baya yang bekerja sebagai Polisi itu.
"Ayo, ikuti aku..."
***
"Akhirnya aku menemukanmu, Sayang!"
Sosok yang masuk melalui tangga darurat kamar Aliyya tampak mencium ponselnya yang tertinggal di kamar itu. Entah karena ceroboh atau apa. Ia sampai lupa meletakkan ponselnya yang satu itu. Karena memiliki dua ponsel, sosok itu pun ceroboh hingga tidak sengaja melupakan ponselnya itu.
"Mungkin aku tidak sengaja menaruh ponselku di sini saat aku ke kamar ini tadi malam."
Sosok pria itu pun memasukkan ponselnya ke dalam saku dan hendak beranjak pergi. Namun saat kakinya mulai melangkah, tiba-tiba ia mendengar suara isak tangis dari dalam kamar mandi Aliyya.
Perlahan sosok itu pun berjalan mendekati kamar mandi dan membukanya. Betapa terkejutnya sosok pria itu saat melihat Aliyya yang duduk menyudut di kamar mandi dan menangis. Sosok itu pun menghampiri Aliyya yang sedang menangis seraya menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya.
Mendengar suara bariton itu, Aliyya pun perlahan mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah sumber suara. Rasa kesal, marah dan benci pun menjadi satu. Aliyya menatap tajam ke arah sosok itu. Sedangkan sosok pria itu hanya bersikap biasa saja tanpa sadar akan kesalahannya.
"Ada apa Al? Apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis di sini?"
Aliyya pun geram pada sosok itu. Lalu ia beranjak dan keluar dari kamar mandi. Sosok pria itu pun merasa heran dengan sikap Aliyya. Lalu ikut beranjak dan mengikutinya.
"Aliyya, tunggu..."
"Lepaskan aku, Zein. Kamu tidak pantas melakukan semua ini padaku." tandas Aliyya yang sudah tidak tahan lagi.
Ternyata sosok pria yang turun dari taksi, lalu masuk ke kamar Aliyya melalui tangga darurat, dan ingin mengambil hidup dan matinya yang tertinggal di dalam kamar itu adalah Zein. Sungguh nekat sekali anak itu dan tanpa sadar, Paman Zaki telah melihat semua aksinya.
"Kamu kenapa Aliyya? Apa yang terjadi?" tanya Zein seraya memegang kedua bahu Aliyya.
"Kenapa kamu ada di sini? Kenapa kamu datang ke Jogja? Karena kamu, pernikahan impianku hancur berantakan. Karena ulah konyolmu, aku batal menikah dengan Zaki!" tandas Aliyya seraya menatap tajam Zein.
"Kamu batal menikah? Kenapa Al?" tanya Zein yang semakin penasaran.
"Kamu bertanya kenapa Zein? Semua ini karena ulahmu!!! Semua ini karena ulah konyolmu itu. Zaki membatalkan pernikahan karena dia melihatku selalu bersamamu. Zaki dan keluarganya menganggap kalau kita ada hubungan spesial, Zein." tandas Aliyya yang semakin emosi pada Zein.
Zein pun terdiam mendengar penjelasan Aliyya yang mengatakan kalau pernikahan sepupunya itu batal karena ulah dirinya.
"Zaki terlalu sensitif, Aliyya. Aku harus bicara dengannya dan menjelaskan semuanya kalau tidak terjadi apa-apa di antara kita." ujar Zein yang berjalan ke arah pintu.
"Kenapa kamu baru ingin menjelaskan semuanya sekarang Zein? Setelah apa yang telah Zaki lakukan di depan semua orang, dan telah mempermalukan Ayah dan ibuku?" tandas Aliyya yang berjalan mendekati Zein.
__ADS_1
Langkah Zein pun terhenti. Lalu ia memutar tubuhnya dan melihat ke arah Aliyya.
"Semuanya sudah terlambat, Zein. Semuanya sudah terlambat dan semua ini karena ulah konyolmu! Aku benci kamu, Zein. Aku benci kamu!!!" pekik Aliyya yang tidak terkendali seraya memukul dada bidang Zein.
Zein yang merasa bersalah pun memeluk Aliyya dan berusaha menenangkan hati sepupunya itu. Tangis Aliyya pun kembali pecah dalam pelukan Zein. Ia tidak pernah menyangka, kalau hari bahagia untuk dirinya dan keluarga akan berakhir menjadi hari yang paling menyakitkan seperti ini.
***
Di lantai bawah, terlihat Umar yang sedang menenangkan Sabrina. Sementara Aldha sedang berusaha menenangkan sang ayah.
"Bagaimana ini Ma? Acara pernikahan gadis itu hancur dan kacau karena ulah putra bungsumu yang sudah pergi ke Singapore." ujar Shafia yang berdiri di samping Sonia.
"Kamu diam saja, Shafia. Jangan banyak bicara. Mama sudah cukup pusing dengan semua masalah ini. Sejak awal, Mama tidak pernah mengizinkan Zein untuk datang ke sini. Tapi anak itu tetap kekeuh dan lebih mendengarkan perkataan papanya." ujar Sonia yang menatap tajam menantunya itu.
Melihat Shafia yang kena marah pun membuat Namira terkekeh puas. Sonia pun menoleh ke arah Namira yang terkekeh dan menatapnya tajam. Kini kedua menantunya itu bungkam dan tidak berani berbicara atau pun tertawa. Sementara Farhan hanya bisa diam, tak berkutik di samping Shafia.
Saat mereka tengah pusing dengan masalah ini, tiba-tiba rombongan keluarga Zaki masuk lagi ke dalam rumah mereka. Melihat itu, Umar dan Galuh pun saling melempar pandangan heran. Sementara Sonia masih tampak kesal dengan semua yang telah terjadi ini.
"Ada apa lagi ini? Apa belum cukup puas kalian menghina keluarga adik saya." ujar Umar yang menghentikan rombongan itu.
"Tenang lah, Tuan Umar. Saya tau kalau anda adalah orang terhormat dan kaya raya di Kota Jakarta. Tapi apakah kehormatan keluarga anda akan bertahan lama setelah melihat dan mengetahui perbuatan putramu bersama keponakan anda saat ini?" jawab Paman Zaki dengan lantang.
"Apa maksudmu?" tanya Umar yang heran.
"Anda sangat kekeuh membela putra dan keponakan kesayangan anda. Tapi kali ini, apakah anda akan tetap membela mereka?" ujar Paman Zaki yang membuat Umar tidak mengerti.
"Apa yang kau katakan?" timpal Galuh yang mendekati keduanya.
"Jika kalian tidak mengerti, ayo ikuti saya. Saya akan menunjukan apa yang seharusnya kalian lihat hari ini. Bahwa yang dikatakan oleh Zaki dan ibunya adalah benar." ujar Paman Zaki yang lantang.
Paman Zaki dan rombongan pun berjalan ke lantai atas. Lalu Umar, Sabrina, Galuh, Sonia, dan yang lainnya pun mengikuti mereka karena merasa heran sekaligus penasaran dengan perkataan Paman Zaki.
Perasaan Sonia yang sejak tadi tidak enak pun kini semakin tidak tenang dan gelisah. Selama berjalan ke lantai atas, pikirannya hanya tertuju pada Zein. Namun Sonia berusaha menepis rasa khawatir itu karena yang ia tau kalau sang putra sudah pergi ke Singapore bersama Rizal.
Mereka pun sampai di lantai atas. Lalu mereka semua menuju ke kamar Aliyya dan Paman Zaki masih berada di posisi terdepan.
"Bersiap lah, Tuan Umar! Aku tidak yakin, jika kau akan kuat saat melihat perbuatan putramu dan keponakan kesayanganmu itu." ujar Paman Zaki seraya melirik ke arah Zaki dan Ibu Zaki.
Dengan percaya diri yang kuat, Paman Zaki pun membuka pintu kamar Aliyya dengan keras dan mereka pun masuk bersamaan.
"Aliyya, Zein..."
.
.
.
.
.
Happy Reading All๐๐๐
__ADS_1