Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 20 ~ Surat Kabar


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Drrrrtttt!


Sabrina yang sedang asyik memasak di dapur tiba-tiba mendengar suara ponselnya bergetar. Dengan langkah cepat, ia berjalan menuju meja yang tak jauh dari dapur lalu mengambil ponsel dan melihat siapa yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, selamat pagi Kak."


"Wa'alaikumsalam, selamat pagi Sabrina. Apa kabar? Bagaimana keadaanmu di sana?" tanya Umar yang ternyata menghubungi sang adik.


"Alhamdulillah aku baik, Kak. Kak Umar sendiri bagaimana? Lalu Kak Sonia, Farhan, dan yang lainnya baik-baik saja 'kan?" jawab Sabrina yang bertanya balik keadaan Umar sekeluarga.


"Syukurlah kalau begitu. Alhamdulillah, aku dan semuanya pun baik di sini." jawab Umar seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke jendela.


"Syukurlah, Kak..."


"Sabrina... kapan kamu, Galuh dan Aldha datang ke Jakarta? Nanti sore ada acara resepsi pernikahan Aliyya dan Zein di sini. Datanglah, biar aku pesankan tiket pesawat siang ini untuk kalian ya." tutur Umar yang berdiri membelakangi pintu.


Sonia yang baru datang dari dapur pun tampak memasang raut wajah masam saat mendengar perkataan Umar. Perlahan wanita paruh baya yang tak lain istri Umar Abdullah itu berjalan hendak mendekati sang suami. Sementara di sisi lain, Sabrina tampak terdiam dan terkejut mendengar perkataan sang kakak yang akan mengadakan acara resepsi di rumahnya.


"Tapi Kak, kenapa harus diadakan resepsi? Bukan kah itu terlalu berlebihan?" tanya Sabrina yang sungkan.


Tentu saja Sabrina menanyakan hal itu karena ingatannya pada kata-kata Sonia pada malam sebelum mereka kembali ke Jakarta, kembali terngiang di telinga Sabrina. Sementara Aldha yang ikut mendengar pembicaraan sang ibu dengan pamannya tampak senang dan kegirangan. Namun Sabrina berusaha menenangkan Aldha dan kembali berbicara pada Umar.


"Tentu saja tidak berlebihan, adikku. Aliyya dan Zein adalah anak-anak kita, jadi sebagai orang tua, paman dan keluarga kita harus mengadakan acara ini untuk mereka." jawab Umar yang berbalik dan bersiborok dengan Sonia.


"Tapi sepertinya aku tidak bisa pergi ke sana, Kak. Karena kesehatan Mas Galuh pun belum sepenuhnya pulih." ujar Sabrina yang berusaha mengelak dari permintaan Umar.


"Oh jadi Galuh belum sehat betul ya? Kalau begitu, aku juga tidak bisa memaksa kalian jika hal ini berhubungan dengan kesehatan Galuh. Tapi tanyakan satu hal padanya, jika aku yang mewakili Aliyya di acara resepsi, apakah dia memberikanku izin?" jawab Umar yang membelakangi Sonia lagi.


Sonia yang mendengarkan permintaan Umar hanya bisa mendengus kesal. Lagi-lagi, sang suami hanya mengambil keputusan sepihak untuk acara resepsi tanpa bertanya apa pun padanya. Raut wajah Sonia tampak geram, tapi dia tidak bisa melakukan apa-apa dan hanya bisa menahan emosi.


"Tentu saja Mas Galuh akan memberikanmu izin, Kak. Bagaimana pun juga Kakak adalah paman Aliyya dan sebelum menjadi ayah mertuanya, Kakak adalah paman untuknya. Aku dan Mas Galuh akan memberikan izin itu." jawab Sabrina yang tersenyum kikuk.


"Baiklah kalau begitu. Hmmm, bicaralah pada Sonia. Kebetulan dia ada di sampingku. Aku harus melakukan sesuatu terlebih dahulu." ujar Umar.


Tanpa menunggu jawaban sang adik, Umar pun langsung memberikan ponselnya pada Sonia dan telepon masih tetap terhubung dengan Sabrina di Jogja.


"Para perancang untuk acara nanti sore sudah datang, Pa. Lebih baik, Papa lihatlah mereka sebentar." ujar Sonia seraya mengambil ponsel di tangan sang suami.


"Baiklah..."


Umar pun beranjak pergi menemui para perancang itu. Sementara Sonia tampak jengah saat memandang nama sang adik ipar di ponsel suaminya yang masih tersambung.


"Assalamualaikum, hallo Sabrina..." ujar Sonia yang dingin dan ketusnya pada Sabrina.


"Wa'alaikumsalam, iya Kak. Sepertinya semua orang di sana sangat sibuk mempersiapkan acara resepsi anak kita nanti sore. Dan sepertinya, Kak Umar sudah menyiapkan segalanya untuk itu." tutur Sabrina yang bahagia.


"Ya, tentu saja. Jakarta adalah kota besar dan semuanya bisa dipersiapkan dalam hitungan menit. Mau tidak mau, suka atau tidak, jika kamu berada di sini, maka kamu harus melakukannya sesuai standar. Walaupun Zein sudah berusaha menolak untuk tidak diadakan resepsi, tapi kamu pasti tau bagaimana sifat Umar yang keras kepala. Dia tetap saja memaksa Zein untuk melakukan apa pun yang ia inginkan." tutur Sonia panjang kali lebar dengan kesalnya.


"Tapi sepertinya Kak Sonia sudah salah paham. Aku berpikir kalau Zein dan Aliyya tidak terpaksa melakukan ini semua. Aku selalu menghubungi mereka dan sepertinya mereka baik-baik saja. Walaupun kita tau kalau mereka memang sering bertengkar, tapi aku yakin kalau mereka akan saling mencintai." jawab Sabrina yang terlihat tenang.


Sonia hanya mendengus kesal dan marah ketika mendengar perkataan Sabrina. Tanpa disadari, kalau Sabrina telah memberitahu Sonia kalau dirinya sering menghubungi Aliyya atau Zein. Hal itulah yang membuat Sonia tampak sangat marah.


"Sabrina... aku tutup dulu ya. Di sini sangat sibuk."


Tanpa mengucap salam dan menunggu jawaban Sabrina, Sonia yang masih tidak percaya hanya terdiam. Kata-kata Sabrina kembali terngiang di telinganya dan itu membuat amarahnya semakin memuncak hingga ke ubun-ubun.


***


"Ayolah, Bu. Kita pergi ke Jakarta untuk menghadiri acara resepsi pernikahan Kakak."

__ADS_1


Saat Sabrina tengah asyik memasak, Aldha pun datang dan merengek seperti anak kecil yang merindukan sang kakak yang jauh di sana. Dengan raut wajah yang tidak bersemangat, Sabrina pun menghelas nafas panjang dan menoleh ke arah sang putri bungsu.


"Kamu tau "kan bagaimana kondisi ayahmu saat ini? Selain itu kita harus mempersiapkan segala sesuatunya terlebih dahulu untuk datang ke rumah mertua kakakmu." ujar Sabrina yang melihat ke arah Aldha.


"Tapi Paman tidak akan mempermasalahkan hal itu, Bu. Kita ini 'kan keluarganya juga. Ibu adiknya Paman lalu apa yang Ibu cemaskan lagi?" jawab Aldha yang berusaha membujuk Sabrina.


"Walaupun dia itu pamanmu dan kakak Ibu, kita harus tetap tau diri, Nak. Hubungan kita saat ini bukan hanya adik dan kakak, tapi antara menantu, dan besan. Kamu harus mengerti dengan hal itu." ujar Sabrina yang kembali masak.


Aldha pun menyerah untuk membujuk sang ibu. Bukan hanya itu alasan kuat Sabrina untuk hadir dan datang ke rumah Umar, melainkan ada sesuatu yang masih mengganjal hati serta pikirannya. Sikap dan kebencian sang kakak ipar lah yang menjadi alasan Sabrina hingga sampai saat ini, ia tidak mempunyai keberanian yang kuat untuk datang ke rumah Umar walaupun itu adalah rumah kakaknya sendiri.


***


"Nona Aliyya..."


Aliyya yang sedang merapihkan kamar pun menoleh saat mendengar suara Bi Sumi.


"Bi Sumi... sudah berapa kali aku katakan, jangan panggil aku seperti itu. Panggil saja aku dengan namaku dan anggap aku ini sebagai anakmu, Bi." ujar Aliyya yang menghentikan aktifitasnya lalu menghampiri Bi Sumi.


"Tapi Non..."


"Tidak ada tapi, Bi. Di rumah ini, selain Papa hanya Bibi yang dekat denganku. Jadi aku mohon jangan seperti ini." potong Aliyya yang menggenggam tangan Bi Sumi.


"Baiklah Sayang. Kamu ini memang gadis yang sangat baik. Zein akan sangat beruntung mempunyai seorang istri yang baik dan tulus seperti dirimu, Nak." ujar Bi Sumi yang mengelus wajah Aliyya.


"Nah, kalau seperti ini aku bisa merasakan keberadaan ibuku di sini. Oh iya, Bibi membawa apa ini?" jawab Aliyya yang melihat tumpukan pakaian mahal di tangan Bi Sumi.


"Ah Bibi jadi lupa 'kan karena mengobrol terus denganmu. Ini ada beberapa pilihan gaun yang akan kamu pakai untuk acara resepsi nanti. Jadi cobalah satu per satu dan pilih mana gaun yang menurutmu sangat cocok untuk acara sore ini." tutur Bi Sumi seraya memberikan gaun itu pada Aliyya.


"Tapi ini sangat banyak, Bi." jawab Aliyya yang takjub dengan semua gaun di depan matanya.


"Semua gaun ini dipersiapkan oleh Tuan Umar untukmu, Sayang. Jadi pakailah dan kalau ada yang tidak terpakai, kamu simpan saja. Itulah yang dikatakan Tuan Umar pada Bibi." ujar Bi Sumi yang meyakinkan Aliyya.


"Baiklah Bi..."


Ceklek!


"Apa-apaan ini, Zal. Kenapa fotoku bersama gadis itu ada di dalam surat kabar hari ini?" pekik Zein yang baru masuk ke kamar dengan raut wajah yang sangat kesal.


"Ayolah, Kawan. Itu hanya surat kabar. Mungkin Paman Umar yang sudah memberitahu mereka untuk membuat berita itu." jawab Rizal di seberang sana.


"Kalau seperti ini, orang yang tidak diundang pun akan datang di acara resepsi pernikahan konyol ini. Pernikahan ini benar-benar membuatku frustasi dan gila. Semua orang akan datang dan mengetahui semuanya, kalau aku sudah menikah dengan gadis kampung. Aku malu dan aku tidak bisa menjadi bagian dari acara resepsi bodoh ini." tandas Zein yang semakin kesal dengan kenyataan hidupnya.


"Tapi Zein..."


"Cukup Rizal!!! Semua ini harus dihentikan segera!!!" potong Zein yang menutup telepon dan pergi dari kamar.


Bulir bening pun jatuh begitu saja dari sudut mata Aliyya. Tanpa sadar, Zein benar-benar sudah menghancurkan hati seorang gadis yang baik dan tulus seperti istrinya itu. Sementara Zein berlenggang pergi meninggalkan kamar dan berpapasan dengan Shafia.


"Zein... kenapa wajahmu seperti sedang marah sekali? Kamu belum bersiap untuk acara nanti sore?" ujar Shafia yang memperhatikan gerak-gerik Zein.


"Harus kah aku bersiap untuk dihina di acara itu?" tandas Zein yang semakin emosi dengan pertanyaan Shafia.


"Zein... apa yang kamu katakan? Kalau Aliyya mendengar perkataanmu itu, dia akan sedih dan sakit hati." ujar Shafia lagi yang pastinya berpura-pura perhatian pada Zein.


"Biarkan saja dia sedih. Aku tidak peduli!!!" tandas Zein lalu pergi dari hadapan Shafia.


Shafia tampak tersenyum puas saat mendengar kata-kata yang keluar langsung dari mulut Zein.


"Mama pasti akan sangat senang kalau aku memberitahu berita yang sangat panas ini."


***

__ADS_1


Aliyya pun keluar dari kamar mandi dengan langkah yang sangat berat. Matanya yang sembab dan merah membuat kaki gadis cantik itu terus berjalan mendekati sesuatu yang terletak di atas sofa kamarnya, maaf bukan kamarnya, tapi kamar Zein.


"Aku minta maaf, Zein. Aku tidak menyangka kalau kehadiranku di dalam hidupmu akan membawamu ke dalam masalah besar. Tapi aku sungguh tidak berniat untuk hal itu."


Jatuh lagi bulir bening dari sudut matanya saat menatapi foto pernikahan yang tertampang nyata di dalam surat kabar dan sempat membuat Zein sangat marah. Aliyya pun terus meneteskan air mata, meratapi nasib pernikahannya yang sangat buruk. Tanpa sadar, kalau saat ini Namira sedang memperhatikan dirinya dari belakang.


"Foto yang sangat bagus."


Aliyya tersentak dan langsung meyeka air matanya dengan cepat ketika mendengar suara lembut itu. Lalu ia langsung berdiri dan menoleh ke arah sumber suara.


"Kak Namira..."


"Aliyya... kenapa kamu termenung di sini? Tadi aku sempat melihat Bi Sumi mengantarkan gaun untukmu. Apakah kamu sudah mencobanya?" tanya Namira yang meraih bahu Aliyya seraya memperhatikannya.


"Aku belum mencobanya, Kak." jawab Aliyya yang parau.


"Kenapa? Cobalah Aliyya! Karena kita harus tau, apakah baju-baju itu cocok dan pas di tubuhmu atau tidak." ujar Namira seraya memegang kedua bahu Aliyya.


"Baiklah, Kak. Aku akan mencobanya sekarang." jawab Aliyya yang berusaha menutupi kesedihan di matanya.


"Baiklah, kalau begitu nanti aku akan menemuimu lagi." ujar Namira seraya mengusap bahu Aliyya.


Aliyya yang sembap hanya berusaha mengulas senyum agar Namira tidak curiga. Sementara Namira yang sudah menyadari kalau iparnya itu habis menangis hanya terdiam dan terus berjalan menuruni tangga.


"Belum juga siang, tapi sepertinya Aliyya habis menangis. Lebih baik aku memberitahu Mama tentang hal ini."


***


"Ma... aku punya berita bagus yang membuat Mama tersenyum lebar hari ini."


Shafia yang sempat berpapasan dengan Zein di koridor tadi, kini menghampiri Sonia yang tengah duduk santai di halaman samping seraya menyeruput teh hangat. Namun tak berselang lama, Namira pun juga datang menghampiri Sonia.


"Aku juga ingin memberitahu Mama sesuatu." timpal Namira yang sepertinya tidak ingin kalah dari madunya.


Sonia yang tengah menikmati waktu santai pun tampak mengeryitkan dahi karena heran dengan tingkah kedua menantunya itu.


"Ada apa Shafia? Ada apa Namira?"


Sebelum akhirnya menceritakan apa yang baru saja mereka lihat, keduanya tampak kekeuh berebut urutan pertama untuk bercerita dan pada akhirnya, Sonia yang memilih di antara keduanya yang akan lebih dulu bercerita. Shafia yang mendapat urutan pertama tampak menyeringai puas melirik ke arah Namira. Sementara Namira yang jengah hanya bisa mendengus kesal. Pada akhirnya, kedua menantu Sonia itu pun menceritakan semuanya yang mereka lihat.


Sonia tersenyum puas saat mendengar semua cerita itu. Lalu ia beranjak dan berjalan hingga membelakangi kedua menantunya.


"Kalian harus membantu Mama untuk menjalankan misi selanjutnya." ujar Sonia yang menyeringai licik seraya melipat tangan.


"Aku siap membantu apa pun rencana Mama." jawab Shafia yang memang jahat dan tidak suka pada Aliyya.


"Tapi Ma..."


"Namira... Mama tau isi pikiranmu saat ini. Sejak awal kamu memang terlihat bimbang dan memilih untuk bersikap netral pada Aliyya. Tapi Mama ingatkan satu hal padamu!!! Kalau posisimu di rumah ini hanya menantu dan kamu harus menuruti apa yang Mama katakan! Kamu harus berpihak pada Mama. Dengan begitu, hidupmu di rumah ini akan tenang dan aman." potong Sonia yang menoleh tajam ke arah Namira.


Namira pun terdiam. Dari gerak-geriknya, wanita cantik yang berstatus sebagai istri pertama Farhan itu memang tampak ragu. Namun di sisi lain, ia harus mempertahankan posisinya sebagai istri serta menantu di rumah Sonia, dan berusaha untuk mengalahkan Shafia. Apalagi mengingat Shafia adalah menantu pilihan yang sekaligus akan menjadi menantu kesayangan Sonia karena Shafia adalah, ah sudahlah. Masalah itu tidak perlu dibahas untuk kali ini.


"Baiklah, aku akan ikut membantu Mama."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2