Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 44 ~ Rencana Yang Gagal


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Semua ini bukan kesalahan Aliyya!!!"


Suara bariton yang lantang tiba-tiba menggelegar dari arah tangga sehingga menarik semua mata untuk menoleh. Sang empunya suara bariton itu tampak dengan gagah beraninya berjalan mendekati Aliyya dan berdiri tepat di sampingnya. Keduanya pun saling melempar pandang. Sementara Sonia tampak pias seektika saat melihat kedatangan sang putra dan membela Aliyya.


Semuanya pun terdiam, tertegun, dan terkejut melihat Zein yang membela Aliyya. Namun di saat semua orang tengah sibuk menatapi Zein dengan heran, tiba-tiba ponsel Umar bergetar. Tanpa menghiraukan yang lainnya, Umar meraih ponselnya itu dan melihat nama si penelepon. Raut wajah Umar berubah seketika menjadi gelisah saat melihat nama sang adik di layar ponselnya. Lalu Umar beranjak untuk mengangkat telepon sang adik.


"Sabrina... ada apa?" ujar Umar yang terlihat gugup.


"Apa yang terjadi Kak? Apakah Kakak sudah melihat surat kabar pagi ini? Kenapa hal ini bisa terjadi pada putriku?" tanya Sabrina yang terdengar parau di seberang sana.


"Sabrina... kenapa surat kabar itu bisa sampai di Jogja?" tanya Umar balik yang sangat terkejut dengan semua ini.


"Kenapa Kak? Apa yang terjadi sebenarnya? Apakah putriku baik-baik saja di sana?" tanya Sabrina lagi yang merasa tidak puas hati karena surat kabar itu.


Umar pun terdiam. Ia juga sangat terkejut sama seperti Sabrina, bahkan Umar tak kalah terkejut saat mengetahui kalau surat kabar itu bisa sampai ke Jogja dengan cepat.


"Jika putrimu sedang mengalami sebuah masalah, maka aku bisa pastikan kalau hal itu bukanlah kesalahannya!!! Kejadian seperti ini bisa terjadi pada siapa pun, bahkan pada putri kalian dan menantu kalian juga. Jadi berpikirlah terlebih dahulu sebelum kalian mengatakan hal seperti ini lagi!!!"


Umar yang terdiam seketika menoleh ke belakang saat sang putra angkat bicara dan membela Aliyya di depan semua tamu Sonia. Umar tersenyum simpul, bangga sekaligus tertegun mendengar pembelaan Zein untuk istrinya. Sementara Sonia, Namira dan Shafia tampak melempar pandangan pias. Mereka tidak menyangka, kalau Zein akan membela Aliyya di depan semua orang.


Lalu apa yang terjadi pada Sabrina? Sambungan telepon dengan Umar masih belum terputus hingga ia bisa turut mendengarkan pembelaan Zein untuk putrinya. Hati Sabrina menghangat seketika saat mendengarkan Zein. Senyum lega terbit seketika di wajahnya yang sudah sembap karena air mata.


"Dan tentang Aliyya! Yang terjadi di pesta itu bukanlah kesalahannya. Gaunnya terbuka itu karena ulahku. Aku tidak sengaja menarik gaunnya hingga terbuka seperti itu. Lalu seseorang berusaha mengambil keuntungan dari masalah ini. Kalian benar!!! Kesalahan itu terjadi hanya satu kali, bukan dua kali. Menurut kalian Aliyya sudah bersalah sebanyak dua kali, tapi rekaman CCTV sudah membuktikan kalau Aliyya tidak bersalah!!! Jadi Aliyya tidak bersalah!!!"


Raut wajah Sonia masam dan tertekuk seketika ketika menyaksikan langsung sang putra membela gadis yang sangat ingin sekali ia singkirkan dari rumah besarnya. Begitu halnya dengan Shafia. Rencana untuk memisahkan sepasang suami istri yang menikah tanpa rasa cinta itu gagal total dan membuatnya kesal. Sementara Namira, istri pertama Farhan itu tampak terkejut saat melihat pembelaan Zein untuk Aliyya. Namun di sisi lain, Namira juga sangat senang karena rencana Shafia gagal untuk memisahkan dua insan itu dan mengambil hati Sonia.


Setelah membela sang istri, Zein pun menoleh ke arah Aliyya dan menatapnya. Begitu juga dengan Aliyya. Keduanya pun saling pandang. Aliyya merasa heran dengan sikap suaminya itu yang tiba-tiba berubah dan membelanya seperti ini. Sementara Zein yang masih lekat menatap sang istri, perlahan tangannya pun terangkat lalu meraih tangan Aliyya untuk pertama kali. Digenggamnya tangan sang istri dan membuat mata Sonia terbelalak tidak menyangka. Guratan kebencian sangat terpancar di wajah wanita paruh baya itu. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa. Lalu Zein menarik tangan Aliyya dan membawanya pergi dari hadapan para tamu.


Umar benar-benar tersenyum lega saat melihat putranya itu membela Aliyya untuk pertama kalinya di depan para tamu. Sangat berbeda dengan malam acara resepsi. Kali ini Zein sukses membuat hati Sonia porak-poranda, dan membuat hati Umar merasa sangat bahagia melihat sikapnya pagi ini.


"Kamu dengar 'kan Sabrina? Akhirnya seorang suami datang dan membela sang istri. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan Aliyya lagi di sini." ujar Umar yang berbicara lagi dengan sang adik via telepon.


"Iya Kak..."


Umar pun tersenyum seraya menghela nafas lega. Rasanya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan untuknya. Tidak ada kebahagiaan yang lebih besar, selain mendengar semua pembelaan Zein untuk keponakannya itu. Sementara Sonia, wanita paruh baya itu tampak mendengus kesal dan melirik tajam ke arah sang suami. Rencananya untuk Aliyya kali ini benar-benar hancur karena Zein, putranya sendiri.


***


Zein terus menarik tangan Aliyya berjalan menyusuri koridor lantai atas. Zein membawa Aliyya menuju ke kamarnya. Namun saat mereka sampai di dalam kamar, Aliyya yang heran dan tidak percaya dengan tingkah Zein pun menepis kasar tangan sang suami.


"Wah penampilanmu tadi sangat bagus, Zein!!! Sudah aku bilang, kalau kamu itu aktor yang sangat buruk!!! Betapa baiknya dirimu saat membelaku di hadapan semua orang. Seakan dirimu itu adalah pahlawan super yang sedang menolong manusia lemah. Tapi aku bukan manusia yang lemah, Zein Abdullah!!!" tutur Aliyya yang menyeringai.


Sorotan tatapan tajam penuh kebencian semakin terpancar dari manik cantik Aliyya yang menatap Zein.

__ADS_1


"Suami yang sangat baik!!! Mulai hari ini, tidak akan ada orang yang meragukan dirimu!!! Awalnya kamu mencetak foto itu di surat kabar karena ingin membuatku takut dan malu, tapi kenyataannya aku sama sekali tidak takut bahkan merasa malu sekali pun!!! Lalu sekarang, kamu membelaku di hadapan semua orang, seakan masalah yang terjadi ini bukanlah karena kesalahanmu!!!" tutur Aliyya yang penuh dengan penekanan dan tatapan tajam.


"Kamu memang selalu salah menilaiku, Al!!!" jawab Zein seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Aliyya.


"Aku mendapatkan itu darimu, Zein!!! Dan hal itu tidak akan bisa hilang dengan mudah. Aku juga tidak akan pernah pergi dari rumah ini dengan mudah. Baik dari rumah ini, dari kamar ini, dan juga dari kehidupanmu!!!" tandas Aliyya yang ikut mendekatkan wajahnya ke Zein.


"Ck!!! Dasar wanita yang tidak tau berterima kasih, seperti sikap biasanya!!! Tapi lain kali, aku ingin sekali melihat katakutan itu di matamu!!!" ujar Zein yang berdecak kesal.


"Kalau begitu uji saja aku!!! Aku tidak takut karena mulai hari ini, aku menantang dirimu!!!" ujar Aliyya menyeringai.


Zein pun mendengus kesal seraya menatap tajam istrinya yang memulai peperangan lagi dengannya. Sementara itu, Aliyya beranjak dari hadapan Zein, menuju ke sisi tempat tidurnya. Entah apa yang gadis itu lakukan. Namun Aliyya terlihat meraih kartu joker yang tertempel di headboard, di sisi tempat tidurnya.


"Aku bukan joker!!! Tapi aku adalah seorang Ratu!!!" tutur Aliyya seraya merobek kartu remi joker lalu menggantinya dengan kartu remi Queen di headboard tempat tidurnya.


Zein yang melihat Aliyya mengganti kartu remi itu pun tampak jengah seraya merotasi matanya, dan Aliyya hanya menyeringai puas seraya menatapnya tajam.


***


"Ternyata dengan cara seperti ini pun rencana kita gagal!"


Sonia terlihat masih sangat emosi dengan sikap Zein yang membela Aliyya di depan semua teman-temannya. Karena kesal, wanita paruh baya itu menghempas tubuhnya di atas sofa setelah melempar surat kabar ke atas meja. Sementara Namira dan Shafia saling pandang saat melihat sikap sang mama mertua. Shafia memandang Namira jengah dan hal itu sangat berbanding terbalik dengan Namira yang melihat ke arah Shafia dengan senyum yang mengembang.


"Bukan hanya gagal, Ma. Tapi kejadian pagi ini sangat memalukan, bahkan lebih memalukan dibandingkan dengan acara resepsi di malam itu. Saat resepsi hanya Aliyya yang dipermalukan di depan semua orang, namun hari ini kita semua bahkan teman-teman Mama yang dipermalukan oleh gadis itu." tutur Namira seraya berjalan mendekati Sonia.


Sonia tetap bergeming seraya memijit pelipisnya yang terasa berat. Sementara Namira tampak menyeringai tajam seraya melirik ke arah Shafia. Istri pertama Farhan itu sangat puas saat melihat rencana Shafia yang gagal untuk memisahkan Aliyya dan Zein. Lalu kini sepertinya Namira sedang berusaha memprovokasi Sonia untuk tidak lagi menggunakan Shafia dalam masalah ini.


Mata Namira sesekali melirik ke arah madunya itu dengan tatapan puas. Puas karena usahanya gagal, gagal untuk memisahkan Zein dan Aliyya, lalu gagal untuk mendapat hati Sonia sepenuhnya. Sementara yang dilirik tampak mendengus kesal saat mendapat lirikan dari Namira. Lalu istri kedua Farhan itu pun melangkah dan mendekati sang mama mertua. Namun bukan pembelaan yang Shafia dapatkan dari Sonia, melainkan tatapan tajam penuh kekecewaan. Shafia hanya menunduk seraya melirik tajam ke arah Namira. Rasa kesal dan bencinya pada madunya itu, kini semakin besar.


"Gadis itu memang dari kota kecil tapi dia tidak memiliki rasa takut. Dengan tenang, dia bisa mengendalikan semua masalah ini. Wow, ini sangat hebat!!!" ujar Namira lagi.


"Memang kenapa kalau dia berani? Cepat atau lambat kita pasti akan mematahkan gadis itu dan mengeluarkannya dari rumah ini!!! Mama... aku berjanji, aku akan menyingkirkan Aliyya dari rumah ini. Kita lihat saja, bagaimana Aliyya bisa menghadapinya!!!" tandas Shafia yang menimpali Namira dengan tatapan amarah lalu menoleh ke arah Sonia.


Namira hanya berdecek sinis seraya memalingkan wajah karena muak melihat ekspresi Shafia. Sementara Sonia, wanita paruh baya itu berlenggang pergi setelah menatap sinis menantu keduanya itu karena kesal. Melihat sikap sang mama mertua, sukses membuat mood Shafia hancur. Lalu Namira pun mengambil surat kabar itu dan berjalan mendekati Shafia.


"Ternyata kamu masih sama seperti dulu, Shafia. Seorang wanita pecundang yang hanya bisa melakukan berbagai cara murahan untuk mencapai tujuan hidupmu!!! Sebentar lagi, Mama akan sadar kalau kamu itu hanya lah seorang wanita murahan yang tidak berguna!!!"


Namira yang membenci Shafia pun melempar surat kabar itu dan mengenai wajahnya. Setelah itu Namira berlenggang pergi meninggalkan Shafia yang memendam emosinya.


***


Hari pun berlalu begitu cepat. Setelah kejadian memalukan tadi pagi, semua orang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing hingga cahaya matahari pun berganti dengan redup cahaya rembulan.


Malam pun semakin larut. Semua penghuni Berlian Villa sudah hanyut di dalam buaian mimpi masing-masing. Namun hal itu tidak berlaku pada istri kedua Farhan yang tiba-tiba merasa haus dan terbangun di tengah malam nan dingin. Shafia pun beranjak dan hendak menuruni tangga. Tapi seketika langkah Shafia terhenti saat kedua matanya yang masih sedikit tertutup itu tertarik ke arah kamar Zein. Karena kamar Shafia juga berada di lantai atas, dan cukup berdekatan dengan kamar Zein. Shafia pun berputar arah menuju ke kamar Zein.


Saat Shafia tiba di depan jendela kamar Zein, matanya yang masih sedikit tertutup itu terbelalak seketika. Istri kedua Farhan yang mempunyai rasa ingin tau itu pun bergerak maju untuk melihat lebih jelas ke dalam kamar Zein. Seketika kedua sudut bibirnya tertarik ke atas dan Shafia langsung merogoh benda pipih dari saku piyama yang dikenakannya.

__ADS_1


Cekrek!


Cekrek!


Cekrek!


Dapat sudah tiga buah jempretan foto kamar Zein yang memperlihatkan secara jelas, apa yang terjadi di antara Aliyya dan Zein.


"Ternyata seluruh kamar ini menjadi terbagi. Setengah Jakarta dan setengah Jogja. Ini sangat bagus! Hahaha..."


Shafia yang sangat senang dan belum sadar dari tidur sepenuhnya pun menari kegirangan. Tanpa sadar, ada sepasang mata yang kebetulan melihatnya di ujung sana.


"Aku pernah mendengar kalau ada orang yang pernah berjalan saat dia sedang tidur. Tapi kenapa Shafia terlihat lebih parah dari cerita yang pernah aku dengar? Shafia berjalan di saat tidur dan menari di tengah malam seperti ini. Dia pasti sangat stress. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus membangunkan Shafia."


Sosok itu pun berjalan menghampiri Shafia yang tengah menari kegirangan setelah melihat kamar Zein. Lalu....


"Shafia, Shafia... apakah kamu baik-baik saja?"


"Mas Farhan... tentu saja aku baik, bahkan aku sangat baik malam ini." jawab Shafia yang terlihat gembira dan menari.


Ternyata sosok yang melihat Shafia di ujung koridor adalah Farhan. Entah kenapa pria itu juga terbangun. Namun melihat sang istri yang menari di tengah malam, membuatnya merasa risau.


"Lalu kenapa kamu menari di tengah malam?" tanya Farhan yang heran seraya mengedar pandangannya.


"Karena besok pagi aku akan membuat seseorang menari kegirangan sepertiku. Dia akan menari dan menari, hahah.." jawab Shafia seraya menari lagi dan berlenggang pergi.


Farhan pun menghela nafas kasar seraya memijat pelipisnya yang tidak sakit karena melihat tingkah Shafia. Lalu ia pun ikut pergi dan mengikuti Shafia.


Malam pun berganti pagi dengan cepatnya. Setelah melihat apa yang ada di dalam kamar Zein, membuat mood Shafia sangat baik di pagi yang cerah ini. Hal itu bisa dilihat dari kegiatannya di dapur saat ini. Shafia tampak bersemangat memotong bawang seraya menari kegirangan. Entah apa lagi yang ada di dalam kepala wanita itu saat ini tentang kamar Zein dan Aliyya yang terbagi.


"Apa yang sedang kamu lakukan di dapur?"


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Kalian tau 'kan siapa yang menghampiri Shafia di dapur? Lalu apa lagi yang akan direncanakannya untuk memisahkan Aliyya dan Zein? 😌😌😌😌

__ADS_1


Ikutin terus kisah pernikahan Aliyya dan Zein yang semakin, semakin dan semakin bikin gemes wkwk πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ entah gemes karena kesal atau gemes karena mereka... ups wkwkw ikutin terus ya😘😘


Terima kasih author ucapkan untuk semuanya❀️


__ADS_2