Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 49 ~ Daftar Kegiatan Harian


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Aliyya..."


Langkah Aliyya terhenti seketika saat suara bariton sang papa memanggil dirinya. Wajah Aliyya mendadak pias karena pasalnya sejak tadi ia terus meracau seraya melihat gambar yang terpampang di layar ponselnya, tanpa menyadari keberadaan sang papa mertua di ruang tamu.


"Kenapa kamu marah-marah seperti itu Nak? Kamu marah pada siapa?" tanya Umar yang menatap heran keponakannya itu.


"Aaa... Hmmm... Tidak ada, Pa. Aku hanya..."


"Coba Papa lihat ponselmu." potong Umar seraya mengulurkan tangan meminta ponsel gadis cantik itu.


Aliyya pun terpaksa memberikan ponselnya pada Umar karena ia sendiri memang tidak pandai berbohong sebenarnya kalau sudah ketahuan seperti ini. Sementara Umar yang menerima ponsel itu sebenarnya sudah tau apa yang membuat Aliyya marah dan terus meracau kesal tanpa henti.


"Hmmm, ada foto Zein di layar ponselmu. Tapi kenapa wajahnya seperti ini? Fotonya terlihat sangat buruk dan tidak cocok jika dipasang di layar ponselmu." ujar Umar yang tersenyum simpul seraya melirik Aliyya penuh makna.


Aliyya hanya tersenyum miring seraya merotasi matanya karena teringat dengan kejahilan suaminya saat di hotel tadi malam.


"Wajahnya memang seperti itu dari dulu, Pa." ucap Aliyya namun sangat pelan dan nyaris tidak terdengar.


"Apa? Baru saja kamu mengatakan apa Nak?" tanya Umar yang ternyata mampu mendengar bisikan suara Aliyya.


"Ah tidak ada apa-apa kok, Pa." jawab Aliyya yang berusaha mengelak.


"Oh iya, bagaimana dengan bulan madu kalian di hotel tadi malam? Apakah kamu dan Zein merasa senang dengan kamar itu?" tanya Umar.


"Tentu saja, Pa. Kami sangat menyukai kamar bulan madu yang Papa berikan." jawab Aliyya yang terlihat kikuk dan canggung jika harus mengingat bulan madu tadi malam.


"Syukurlah kalau seperti itu. Itu artinya kalian juga tidak akan keberatan kalau Papa mengirim kalian untuk berbulan madu yang lebih panjang dari pada yang kemarin." ujar Umar yang tersenyum penuh arti pada sang menantu.


Aliyya pun terkesiap saat mendengar perkataan sang papa mertua. Wajah gadis itu juga mendadak pias karena terkejut.


Bruk!


Sehingga ponselnya saja bisa terlepas dan terjatuh ke lantai karena terlalu terkejut.


Melihat gelagat Aliyya yang terkejut, membuat Umar menggelengkan kepala karena ia paham dengan hubungan keduanya. Apalagi sebelum bertemu dengan Aliyya, Umar juga sempat berpapasan dengan Zein dan putranya itu juga marah-marah seraya melihat foto Aliyya yang terpampang di layar ponselnya.


"Aliyya... Ayo duduklah, Nak. Papa ingin bicara denganmu sebentar." ujar Umar seraya merangkul bahu sang menantu.


Aliyya pun menurut dan berjalan menuju sofa yang ada di ruang tamu lalu duduk bersama Umar.


"Aliyya... Walaupun kamu berusaha untuk menutupinya dari Papa, tapi Papa masih bisa melihat betapa menderitanya dirimu hidup bersama dengan Zein." ujar Umar seraya melihat sendu wajah Aliyya yang ikut sendu.


"Aku minta maaf, Pa. Aku tidak bisa jujur, mengatakan semuanya pada Papa walaupun sebenarnya aku ingin sekali mengatakannya. Aku memang menikah dengan Zein, tapi Zein tidak pernah menganggapku sebagai istrinya di rumah ini. Tapi walaupun demikian, aku tidak memikirkan hal itu karena bagaimana pun juga, dianggap sebagai istri atau tidak oleh Zein, aku tetap menjadi bagian dari keluarga ini. Aku telah menjadi menantu di rumah ini dan aku akan mempertahankan itu." jawab Aliyya yang mengeluarkan keluh kesahnya selama ini.


"Lalu apakah kamu hanya ingin menjadi menantu di rumah ini? Lalu kapan kamu akan menjadi seorang istri? Kamu sudah menikah dengan Zein, walaupun dia menerimamu atau tidak tapi kamu akan tetap menjadi istrinya." ujar Umar yang menatap lekat manik keponakannya itu.


"Tapi masalahnya di sini adalah, aku dan Zein tidak saling mencintai, Pa." jawab Aliyya yang tak kalah sendu menatap sang papa.


"Cinta... Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya tanpa kamu sadari, Aliyya. Kita lihat saja nanti, suatu saat kalian pasti akan saling jatuh cinta. Kamu telah menjadi istri Zein dan kamu mempunyai hak sebagai istri. Hak istri itu harus dilakukan, Aliyya." tutur Umar lagi yang berusaha meyakinkan Aliyya.


Aliyya terhenyak seketika, berbicara tentang hak seorang istri membuatnya teringat akan semua perlakukan buruk Zein padanya. Tidak sedikit pun pria itu memberikan hak istri pada Aliyya, bahkan menyangkut urusan kamar saja mereka sampai berperang lebih dulu agar bisa mendapatkan hak walaupun tidak sepenuhnya.

__ADS_1


"Tapi Zein tidak pernah memberikan hak itu padaku, Pa." jawab Aliyya yang tercekat.


"Aliyya... Bukan Zein yang memberikan hak seorang istri, tapi Allah. Allah yang telah menetapkan segalanya. Pernikahan ini telah memberikan hak untukmu. Banyak hal yang bisa dilakukan oleh pasangan suami istri untuk menyempurnakan pernikahan mereka. Kamu harus bisa membuat Zein sadar, kalau kamu itu adalah istrinya. Katakan padanya kalau kamu ingin dia bekerja, selayaknya seperti seorang suami. Kamu harus bisa menjalankan hak itu, Aliyya." tutur Umar lagi.


"Menurut Papa, apakah Zein akan mendengarkan perkataanku? Aku tidak yakin, Pa. Karena selama ini, dia menyukai sesuatu yang bertolak belakang dengan apa yang aku katakan hanya untuk membuktikan sesuatu. Kalau aku menginginkan Zein bekerja, maka aku harus melarangnya untuk pergi bekerja." jawab Aliyya yang tiba-tiba menerawang.


Gelak tawa Umar bergema seketika tatkala mendengar perkataan Aliyya tentang Zein. Secara tidak langsung, gadis itu berhasil memahami karakter suaminya selama ini dan hal itulah yang membuat Umar terkekeh geli.


"Papa senang, Aliyya. Papa senang karena kamu sudah memahami karakter Zein yang sebenarnya. Itu artinya kamu juga sudah tau bagaimana caranya untuk membujuk Zein agar dia mau bekerja. Intinya saat ini adalah kamu yang harus berusaha, Aliyya." tutur Umar seraya melirik dan menggoda Aliyya.


Aliyya pun terdiam. Entah apa yang terlintas di dalam pikirannya saat ini tentang semua perkataan Umar. Sementara Umar hanya tersenyum simpul seraya memperhatikan Aliyya dan berharap agar Aliyya mengerti dengan maksud dari semua perkataannya.


***


"Sukses itu akan datang untuk orang yang mau berusaha. Sayang, cinta, kasih... Kalian selalu bisa membantuku. Tapi hari ini kalian mempunyai tugas yang lebih besar, yaitu mengusir orang Jogja dari kamarku ini. Jika seorang pria ingin mengusir seorang wanita dari kamarnya, maka dia harus memasang foto para mantan pacarnya. Dengan begitu, wanita itu akan pergi sendiri dari kamar ini."


Zein yang tengah berada di dalam kamar terus meracau seraya memandangi bingkai foto di sisi dinding kamarnya. Pria itu terus memandangi beberapa foto dirinya bersama beberapa wanita yang berbeda, yang tak lain adalah para mantan kekasihnya terdahulu. Entah jurus apa lagi yang hendak dilakukan oleh putra bungsu Umar Abdullah itu untuk istrinya. Sepertinya, sampai kapan pun perang dingin di antara Zein dan Aliyya tidak akan pernah berakhir baik.


Tanpa Zein sadari, Aliyya pun masuk ke dalam kamar. Namun langkah Aliyya yang lebar mampu menarik perhatian Zein. Pria tampan itu tampak tersenyum miring dan memperhatikan istrinya itu.


Ayolah, berbalik. Berbalik, Aliyya. Berbalik. Lihat foto-foto ini. Dengan begitu kamu akan marah dan langsung pergi dari kamar ini. Gumam Zein dalam hati.


Zein berharap kalau Aliyya yang sedang berdiri dan mengambil sesuatu di meja riasnya akan berbalik, melihat bingkai foto-foto itu. Namun sayangnya, Aliyya tak kunjung berbalik badan dan membuat Zein mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya.


Srrriiinngggg...


Tanpa Zein duga, akhirnya Aliyya pun berbalik dan hendak berjalan keluar. Namun seketika langkah kaki gadis itu terhenti saat matanya tertuju pada bingkai foto yang ada di sisi tempat tidur Zein. Melihat sang istri yang akhirnya melihat hasil karya tangannya itu, membuat senyum puas Zein terukir.


"Apa yang kamu lihat? Gadis-gadis yang ada di dalam foto bersama denganku itu adalah kekasihku. Aku berhubungan dengan mereka semua." ujar Zein yang ingin membanggakan dirinya di depan Aliyya.


Dahi Zein mengeryit heran saat melihat respon Aliyya yang biasa saja. Tidak seperti gadis pada umumnya yang akan marah karena suaminya menempel foto gadis lain di kamar.


"Foto gadis yang di atas itu, wajahnya memang cantik dan imut tapi hidungnya sangat besar. Apakah dia sayang atau kasih?" ujar Aliyya yang sangat santai seraya menunjuk salah satu foto itu.


"Apa maksudmu? Kenapa kamu bisa mengenal nama yang kuberikan pada mereka?" tanya Zein yang semakin heran karena Aliyya.


"Oh iya, aku sampai lupa untuk mengatakan hal ini padamu. Sebenarnya, ketika ponselmu ketinggalan di dalam kamarku di saat hari pernikahan waktu itu, aku sudah melihat semua nama-nama gadis kekasihmu itu. Sepanjang menit, mereka terus saja menghubungimu. Mereka mengatakan kalau mereka sudah menunggumu di Singapore. Lebih baik kamu pergi bersama mereka dan lebih baik kamu tidak kembali waktu itu." tutur Aliyya yang menceritakan semuanya.


Zein terperangah mendengar semua cerita Aliyya yang baru saja ia dengar hari ini setelah sekian purnama. Zein tidak pernah menyangka kalau ternyata Aliyya sudah mengetahui siapa saja nama kekasihnya itu. Sementara Aliyya tersenyum miring melihat ekspresi Zein yang terperangah.


"Dan gadis yang itu, dia juga sangat cantik dan rambutnya panjang terurai. Tapi hidung gadis itu terlalu pesek dan terlihat manja. Suatu saat dia pasti akan mencampakkan kamu, Zein." ujar Aliyya seraya menunjuk ke foto gadis lainnya.


"Hei, tidak ada yang berani mencampakkan seorang Zein Abdullah. Tapi Zein Abdullah lah yang akan mencampakkan mereka." sungut Zein yang menatap jengah istrinya.


"Oh ya? Benarkah seperti itu?" ujar Aliyya seakan tidak memperdulikan sikap Zein.


Zein mendengus kesal melihat ekspresi sang istri yang sangat menyebalkan dan tengah mengejek dirinya. Sementara itu, Aliyya pun beranjak, berjalan ke arah lemari dan terlihat sedang mengambil sesuatu.


"Ck, pasti dia juga ingin memamerkan foto mantan kekasihnya padaku. Dasar peniru!!!" sungut Zein yang sangat pelan dan hampir tak terdengar.


Sejurus kemudian, Aliyya pun berbalik dan membawa sebuah papan berlatar hitam. Tidak hanya itu, papan berlatar hitam itu terdapat tulisan hasil karya tangan Aliyya. Entah sejak kapan papan berlatar hitam itu berada di dalam lemari pakaian Zein. Lalu Aliyya meletakkan papan itu di tempat yang sudah ia sediakan dan menggantungnya.


Melihat gerak-gerik sang istri yang sangat aneh menurutnya, membuat dahi Zein mengeryit lagi. Zein merasa heran tatkala melihat papan berlatar hitam yang berisi tulisan dengan tinta putih. Sesekali Aliyya yang masih berdiri di samping papan itu pun melirik ke arah Zein. Setelah itu Aliyya pun berjalan dan hendak keluar.

__ADS_1


"Apa itu?" ujar Zein yang masih terlihat bingung memperhatikan papan hitam itu.


Aliyya tersenyum miring saat sasaran panah yang ia lepaskan menancap tepat pada sasarannya. Akhirnya Zein terpancing dan bertanya tentang papan berlatar hitam itu. Apakah ini salah satu cara Aliyya untuk meminta Zein bekerja, seperti yang sempat ia bicarakan dengan Umar tadi? Jawaban Aliyya adalah, mari kita saksikan bersama.


"Ini daftar kegiatan. Sama seperti daftar pelajaran yang ada di sekolah dulu. Kamu pernah sekolah, bukan? Kalau kamu pernah sekolah, pasti kami tau dengan daftar ini. Aku hidup berdasarkan daftar kegiatan yang akan menjadi jadwal tetapku sehari-hari. Tapi sejak pindah ke sini, semua kegiatanku jadi kacau. Dan mulai hari ini, aku akan kembali hidup berdasarkan daftar kegiatan." tutur Aliyya yang berusaha meyakinkan Zein lalu menunjuk ke arah papan kegiatan itu.


Zein yang melihat papan itu pun masih tampak heran dan tidak mengerti dengan pola pikir gadis Jogja seperti Aliyya. Sementara Aliyya yang melihat ekspresi bingung Zein pun tersenyum penuh arti.


"Lihat ini!!! Mulai dari jam 5 pagi, aku akan bangun, mandi lalu salat subuh. Lalu jam 8 pagi, aku akan mengikuti sarapan bersama. Jam 10 pagi, aku akan membantu Bi Sumi memasak di dapur. Lalu jam 11, aku akan bersantai, seperti membaca buku dan duduk santai di dalam kamar atau di halaman depan sampai jam 1. Lalu jam 1.30, kita akan makan siang. Mulai dari jam 2 sampai jam 4, aku akan mengajari Nala, Fara dan Alief belajar. Setelah jam 5 sampai jam 7, aku akan melakukan aktifitas lainnya yang bermanfaat sampai makan malam." tutur Aliyya yang menjelaskan semua daftar kegiatannya.


"Lalu jam 7 sampai jam 7.30 pagi dan malam?" tanya Zein yang merasa heran karena Aliyya tidak menjelaskan bagian kegiatan itu padanya.


"Oh, itu jam khusus untuk mendengar semua keluh kesahmu." jawab Aliyya yang tersenyum miring melihat ekspresi sang suami.


Kedua sudut bibir Zein pun terangkat seketika saat mendengar salah satu jadwal spesial itu. Sementara Aliyya yang melihat senyuman itu juga ikut tersenyum miring penuh makna.


"Aku sengaja membuat jam khusus itu untuk mendengarkan semua keluh kesahmu setiap hari. Karena akan banyak waktu terbuang jika aku hanya mendengarkan keluh kasahmu yang tidak berguna itu setiap waktu. Jadi kamu bisa mengeluarkan keluh kesahmu di antara jam 7 sampai jam 7.30 pagi dan malam. Aku sudah sangat baik, bukan?" ujar Aliyya lagi yang tersenyum miring seraya melirik suaminya itu.


Zein mendengus kesal saat melihat ekspresi Aliyya yang sangat menyebalkan dan sedang berusaha mengerjai dirinya. Sementara Aliyya berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa saat melihat ekspresi Zein yang kebingungan.


"Sudah jam 7.30, aku harus pergi dan keluh kesahmu untuk pagi ini sudah berakhir. Jika ingin melanjutkannya, maka akan kita lanjut nanti malam setelah makan malam bersama." ujar Aliyya yang berusaha tidak tertawa lalu berjalan keluar dari kamar meninggalkan Zein.


Aliyya pun berjalan keluar seraya tersenyum miring dan melirik ke arah Zein sesekali dari ekor matanya. Sementara Zein yang masih kebingungan hanya menatap lekat papan itu, berusaha memahami apa yang katakan Aliyya.


"Daftar kegiatan? Sejak dulu aku tidak pernah mempunyai daftar kegiatan. Apa gunanya punya daftar kegiatan? Ini benar-benar omong kosong."


Zein yang masih bingung pun terus meracau. Namun karena ia ingin mendapatkan sesuatu, pria itu pun meraih ponselnya dari celananya.


"Hallo, Zal. Aku ingin bertanya sesuatu padamu. Apakah setiap hari kita memiliki jadwal kegiatan?" tanya Zein yang ternyata menghubungi sahabatnya, Rizal.


"Apa maksudmu Zein? Tentu saja kita memiliki daftar kegiatan seperti jadwal. Aku juga punya jadwal sendiri, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dan diselingi dengan kegiatan yang lainnya. Kenapa kau bertanya seperti itu Zein?" jawab Rizal yang terheran-heran di seberang sana.


"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Zein lagi yang masih belum mengerti juga.


"Kau ini kenapa sih Zein? Tentu saja kita pergi bersenang-senang, pergi berkumpul, setelah puas di luar baru kita kembali lagi ke rumah. Tidak melakukan sesuatu sama saja dengan melakukan sesuatu, Zein." jawab Rizal asal.


"Ck!!! Apa yang kau katakan ini, hah?! Dasar payah!!! Ya sudah, aku malas sekali jika harus berlama-lama berbicara denganmu." sungut Zein yang semakin jengah.


Raut wajah Zein semakin terlihat kusut masam setelah mendengar penjelasan Rizal. Sesekali ia menoleh ke arah papan berlatar hitam milik istrinya itu. Entah apa yang ada di dalam otak pria tampan itu saat ini, tatkala matanya masih tertuju pada papan hitam daftar kegiatan sang istri.


"Aku tidak boleh kalah dari keponakan kesayangan itu!!!"


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


Sepertinya trik Aliyya untuk menyadarkan Zein untuk bekerja akan berhasil ya πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ memang istri idaman tapi Zein aja yang bodoh dan masih belum sadar 🀭🀭🀭🀭 dasar Zein, malu nih author sama para readers 😏😏😏😏


Terima kasih untuk para sahabat author dan sahabat readers yang masih setia menemani Aliyya dan Zein, walaupun author sering labil dalam jadwal UP cerita ini πŸ€­πŸ€­πŸ˜‚πŸ˜‚ author lagi sibuk juga sama kegiatan di dunia nyata sambil mempersiapkan novel sequel AS AM yang bakal menguras air mata nantinya 🀭 spoiler dikit gpp kali ya wkwkwk, pokoknya terima kasih banyak 😘😘😘


__ADS_2