Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 45 ~ Kamar Zein


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Apa yang sedang kamu lakukan di dapur?"


Dengan wajah berbinar, Shafia mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah sumber suara. Seketika wajahnya itu semakin berbinar tatkala melihat sosok yang sejak tadi ia tunggu.


"Aku ingin membantu Mama. Aku juga sudah menyiapkan semuanya untuk Mama, termasuk masalah." jawab Shafia.


Shafia tidak bisa mengendalikan rasa senangnya sehingga tubuhnya itu terus saja menari kegirangan. Sementara itu, Sonia terlihat heran dengan sikap sang menantu yang aneh.


"Kenapa kamu menari? Berdiri dengan benar dan katakan apa yang membuatmu terlihat senang seperti ini!!!" tandas Sonia seraya meraih kedua bahu menantunya itu.


"Mama... ini tentang Aliyya dan Zein."


Dengan penuh semangat Shafia menceritakan semuanya yang sempat ia lihat di kamar Zein tadi malam. Senyum penuh makna dan tajam pun terbit di wajah ganas Sonia saat memahami dan mendengar informasi yang diberikan oleh Shafia. Setelah menceritakan semuanya, Shafia pun memperlihatkan hasil jepretan kamar Zein pada Sonia. Lagi-lagi Sonia mengulas senyum lebar penuh makna, matanya berbinar saat melihat gambar di layar ponsel Shafia.


***


Setelah lama membicarakan sebuah rencana baru untuk Aliyya, Shafia pun berlenggang pergi seraya membawa dua gelas jus jeruk ke arah kamar Zein. Sementara sang mama mertua ikut berlenggang pergi menuju kamarnya untuk menemui Umar dan memperlihatkan sesuatu yang ada di dalam ponselnya saat ini.


Tok... Tok... Tok...


Pintu kamar Zein yang berdominasi kaca di bagian atas sungguh membuat Shafia lebih mudah melihat ke dalam seraya mengetuknya.


"Masuk..."


Ketika mendengar suara ketukan pintu, Zein yang masih tidur namun sepertinya sudah sadar pun menjawab. Hal ini membuat Shafia tersenyum lebar karena jawaban Zein. Dengan penuh semangat, istri kedua Farhan pun masuk seraya mengedar pandangan ke seluruh sisi kamar.


"Hmmm, kamar ini terlihat lebih baik dari biasanya. Pasti sedang terjadi sesuatu di antara mereka saat ini."


Shafia sibuk meracau dengan suaranya yang lambat saat memperhatikan setiap sisi kamar Zein. Lalu senyumnya semakin lebar tatkala kedua matanya menggiring ke arah dua manusia yang tengah tidur dengan posisi berlawanan.


"Ekhheemm..." ujar Shafia yang mendehem.


"Bi Sumi... letakkan saja jus itu di atas meja."


Walaupun matanya masih tertutup, Zein sadar jika ada seseorang yang masuk ke dalam kamarnya dan Zein mengira kalau orang itu adalah Bi Sumi, padahal Shafia.


"Bi, Bi, aku ini kakak iparmu!!!" sahut Shafia.


Seketika Zein dan Aliyya yang masih tertidur pun terlonjak kaget saat mendengar perkataan itu. Zein dan Aliyya terduduk, saling berhadapan karena posisi tidur mereka yang berlawanan arah. Keduanya pun saling pandang, bingung harus menghadapi sang kakak ipar seperti apa. Sementara Shafia tersenyum lebar penuh arti saat melihat ekspresi keduanya.


***


"Selamat pagi Sonia..."


Setelah mendapatkan sesuatu dari ponsel Shafia, Sonia pun masuk ke dalam kamarnya dan melihat sang suami yang sedang mengenakan pakaian kantor hari ini. Umar pun tampak mengeryitkan dahi saat melihat ekspresi sang istri yang terlihat murung dan masam seraya memegangi ponselnya. Sementara Sonia, entah rencana apa lagi yang ingin ia lakukan pagi buta seperti ini.


"Ada apa Sonia? Semuanya baik-baik saja bukan?" tanya Umar yang melihat Sonia dari pantulan cermin.


"Coba Papa lihat ini!!!" jawab Sonia seraya menyodorkan ponselnya pada sang suami.

__ADS_1


Umar yang heran sekaligus penasaran pun berbalik lalu mengambil ponsel dari tangan Sonia.


"Foto apa ini?" tanya Umar yang tampak heran.


"Apakah Papa tidak bisa mengenali foto ini? Ini adalah kamarnya Zein!!!" jawab Sonia yang memasang mimik wajah penuh arti.


"Kamar Zein? Kenapa terlihat aneh seperti ini?" tanya Umar yang semakin merasa heran dan menatap foto itu.


"Zein dan Aliyya sudah membagi kamar mereka dan mereka tidur seperti ini." jawab Sonia yang menggeser layar ponselnya.


Seketika Umar terdiam, terpaku melihat pemandangan yang tidak menyenangkan dari layar ponsel sang istri. Sementara Sonia yang melihat itu hanya tersenyum tipis dan pastinya memiliki maksud dan tujuan tertentu untuk Aliyya dengan memperlihatkan foto itu pada suaminya.


"Ada apa ini? Apa yang belum aku ketahui?" tanya Umar seraya mengangkat kepalanya, melihat ke arah Sonia.


"Pa... sejak lama aku selalu berusaha untuk menjelaskan hal ini padamu, tapi Papa tidak pernah mau mengerti juga. Zein dan Aliyya tidak bahagia!!! Dan tidak akan pernah bisa bahagia!!! Mereka menikah dan hidup di dalam satu kamar seperti orang yang terkena hukuman penjara. Zein dan Aliyya sama-sama tersiksa, Pa." jawab Sonia yang pastinya kalian mengetahui apa tujuan wanita itu.


Umar pun terdiam. Di satu sisi, ia tidak menyangka kalau Zein dan Aliyya melakukan seperti ini. Namun di sisi lain, ia begitu sangat yakin kalau Zein dan Aliyya adalah jodoh.


"Jelaskan apa yang terjadi sebenarnya!!!" ujar Umar.


"Setelah kejadian di malam resepsi itu, aku menghubungi Sabrina sebagai seorang ibu dan aku memintanya datang ke Jakarta untuk membicarakan hal ini agar kita bisa mendapatkan solusi yang terbaik untuk Zein dan Aliyya. Aku kira Sabrina akan menghubungimu, tapi ternyata tidak! Dia malah menghubungi Zein dan menangis lalu mengadukan semuanya pada Zein. Zein masih muda dan labil lalu Zein berjanji pada Sabrina kalau dia tidak akan meninggalkan Aliyya. Tapi mereka tidak cocok. Mereka tidak bahagia, Pa." tutur Sonia yang terlihat berusaha mempengaruhi suaminya.


Umar tetap bergeming. Tatapannya tidak teralihkan dari foto yang ada di dalam ponsel Sonia. Sementara Sonia terlihat begitu antusias membicarakan hal buruk ini dan berusaha untuk mempengaruhi Umar agar suaminya itu bisa mengambil keputusan terakhir untuk Aliyya dan Zein.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran Sabrina. Pemikiran orang yang barasal dari kota kecil memang sangat dangkal dan picik. Apa dia tidak bisa melihat dan merasakan penderitaan putrinya? Sabrina hanya melihat kalau putrinya menikah dengan seorang pemuda yang berasal dari kota besar dan harus tinggal pula di rumah yang besar. Pemikiran seperti apa itu Pa? Bahkan dia lalai dalam mengatur kebahagiaan putrinya sendiri. Sabrina benar-benar picik!!!" tutur Sonia yang berjalan membelakangi Umar.


"Kamu bilang Sabrina picik? Lalu jika Sabrina picik, apakah kamu menganggap bahwa dirimu itu sudah bertindak dengan benar dan pintar? Jika putramu dan menantumu tidak cocok, kenapa kamu tidak duduk bersama mereka dan memberikan pengertian kepada mereka? Tapi kamu malah ingin memisahkan mereka. Kepintaran macam apa itu!!!" serkas Umar seraya melihat ke arah sang istri yang masih membelakangi dirinya.


"Pa... zaman sekarang sudah berubah! Jika seseorang memutuskan untuk menikah, maka mereka tidak harus tetap menikah. Sebelumnya mereka bertengkar hebat dan menciptakan sebuah keributan yang sangat memalukan. Lalu apakah menurutmu, kita sebagai orang tua mereka tidak mempunyai hak untuk mengambil keputusan untuk kebahagiaan hidup mereka?" serkas Sonia balik seraya berbalik badan dan mendekati Umar.


"Tidak, Sonia!!! Membiarkan hubungan semakin lemah, bukan lah cara dari keluarga ini dan juga rumah ini untuk menyelesaikan sebuah masalah!!! Kita ini orang tua! Kita harus bisa membantu mereka untuk dekat, dan semua itu dapat terjadi jika kita membantu mereka untuk bisa saling mencintai kembali!!! Apakah kamu bersedia membantuku untuk melakukan semua ini? Jika tidak, maka biarkan aku yang akan melakukannya sendiri!!! Aku sangat berterima kasih padamu karena kamu telah memperingati aku tentang hubungan Aliyya dan Zein!!!" tutur Umar yang penuh penekanan dengan sorot mata tajam.


Umar yang geram dengan sikap Sonia pun berlenggang pergi keluar dari kamar dan meninggalkan Sonia di sana. Sementara Sonia, yang sudah pasti wajahnya semakin masam dan tidak enak dipandang saat pagi nan cerah seperti pagi ini. Tindakan Sonia untuk mempengaruhi Umar melalui foto-foto kamar Zein gagal total. Tidak hanya gagal, melainkan Umar akan semakin berusaha untuk membuat hubungan keduanya membaik, bahkan akan saling mencintai. Apakah impian Umar akan terwujud? Entahlah.


***


"Kak Shafia jangan salah paham dulu tentang kamar kami ini."


Setelah sepersekian menit Aliyya dan Zein saling melempar pandangan terkejut karena kedatangan Shafia ke dalam kamarnya, Zein pun beranjak dan mendekati sang kakak ipar. Begitu pula dengan Aliyya yang terlihat sangat kikuk dengan kehadiran Shafia yang tiba-tiba ini.


"Kak Shafia dengar ya! Aku ingin setengah dari kamarku ini mempunyai gaya Aliyya." ujar Zein seraya merangkul manja bahu sang kakak ipar.


"Begitu juga dengan aku, Kak. Aku juga ingin setengah dari kamar ini tetap memiliki gaya Zein. Iya 'kan Zein?" timpal Aliyya yang ikut merangkul manja bahu Shafia.


"Iya, itu sangat benar! Kami berdua sudah menikah dan kami akan berbagi kehidupan termasuk dengan kamar ini. Jadi kalau Kakak mau, kita bisa pergi ke Jogja." ujar Zein.


"Dan kita pergi ke Jakarta. Dua kota dalam satu kamar yang sama. Pasti akan sangat menyenangkan. Benar seperti itu 'kan Zein?" timpal Aliyya yang berusaha santai seraya melirik suaminya.


"Ya, kamu benar sekali Sayang." jawab Zein.


Mata Aliyya seketika berotasi penuh saat mendengar kata sayang yang keluar dari mulut menyebalkan suaminya itu. Sementara Shafia yang sejak tadi tersenyum lebar penuh arti, hanya menganggukan kepala seakan menikmati apa yang sedang keduanya ceritakan.

__ADS_1


"Ya, ya, ya.... Hanya seorang istri yang mengetahui dan mengerti dengan permainan seperti ini. Awalnya aku merasa ada sesuatu yang salah di sini, tapi setelah melihat kekuatan cinta kalian, aku rasa semuanya baik-baik saja. Ya sudah, kalau begitu jusnya diminum dulu ya. Aku permisi dan silakan lanjutkan kebahagiaan kalian. Daahh."


Shafia yang kepo tingkat akut pun akhirnya berlenggang pergi meninggalkan dua sejoli yang tak kunjung mengibarkan bendera putih sebagai tanda untuk mengakhiri perang dingin di antara mereka. Setelah Shafia hilang dari pandangan, Aliyya dan Zein pun menoleh dan saling pandang. Raut wajah kedua manusia itu seketika berubah 180 derajat penuh sehingga menampakkan raut wajah yang masam dan tidak bersahabat.


"Semua ini salah kamu!!!" sungut Zein.


"Salahku?" tanya Aliyya.


"Apa yang telah kamu lakukan pada kamar ini adalah salahmu!!! Semua lampu-lampu ini, hiasan dinding ini, dan masih banyak hiasan konyol lainnya yang kamu pajang di dalam kamarku!!!" serkas Zein yang beranjak lalu menghampiri setiap benda-benda itu dan menepisnya.


"Hei, Tuan Zein Abdullah yang super duper menyebalkan!!! Aku sudah menghiasi dan menata kamar ini dengan sangat baik, tapi kamu malah merusak kamar ini dengan mengubah setengahnya. Lihat saja!!! Kali ini baru Kak Shafia yang melihat kamar ini. Bayangkan saja kalau Papa dan Mama sampai melihatnya juga. Apa yang akan kita jelaskan pada mereka nanti?" serkas Aliyya.


"Ya anggap saja semua ini sebagai bukti." jawab Zein seraya berlenggang santai menuju nakas di sisi tempat tidurnya.


"Bukti apa maksudmu?" serkas Aliyya yang kesal.


"Bukti kalau kamu itu sangat keras kepala dan selalu ingin mendapatkan apa yang kamu inginkan!!!" jawab Zein seraya mengambil gelas jus di atas nakas.


"Apa? Keras kepala? Kamar ini adalah milikku! Jadi aku juga punya hak untuk menghias kamarku sesuai dengan keinginanku!!!" sungut Aliyya seraya membidik Zein.


"Tidak!!! Saat seseorang menginap di hotel, maka dia hanya menginap saja. Tidak mengubah hiasan kamarnya. Lalu mereka pergi dari hotel, seperti kamu yang juga akan pergi dari kamar ini. Jadi tolong jangan terlalu emosional." jawab Zein seraya merotasi matanya efek jengah.


"Aku memang emosional karena itu adalah sifat asliku!!! Apakah kamu keberatan?" sungut Aliyya yang semakin kesal dengan sikap Zein.


"Keponakan kesayangan... sikapmu yang seperti ini sungguh tidak dewasa sama sekali." jawab Zein yang mengejek istrinya dengan ekpresi menyebalkannya.


Aliyya pun mendengus kesal melihat tingkah Zein yang sangat menyebalkan dan bahkan semakin menyebalkan. Tanpa menghiraukan perkataan Zein, Aliyya pun melirik sejenak suaminya itu lalu memulai aktivitas merapihkan tempat tidur dan kamarnya. Sementara Zein yang sudah mengambil handuk dan ingin mandi, malah berhenti di depan cermin seraya membenarkan rambutnya.


"Aku tau kalau kita tidak bisa hidup bersama. Jadi aku tidak terlalu emosional. Tapi kenapa kamu menyia-yiakan emosiku?" ujar Zein yang asyik di depan cermin Aliyya.


"Kamu tidak perlu menyia-yiakannya!!!" serkas Aliyya yang beranjak dari tempat tidur dan lewat di depan Zein.


"Aku ini bukan temanmu!!! Jadi berhentilah untuk tetap bersikap baik dan jangan berpura-pura!!! Karena aku tidak akan pernah masuk ke dalam perangkapmu!!! Kamar ini menjadi Jakarta-Jogja setiap hari karenamu!!!" serkas Zein yang menatap jengah sang istri.


"N O! No!!!" jawab Aliyya yang mengeja dua kata itu seraya mendekati Zein.


Zein mendengus kesal melihat tingkah Aliyya yang tak kalah menyebalkan dibandingkan dengan dirinya. Mata keduanya pun saling bertatapan tajam lagi, seakan siap untuk menerkam mangsanya satu sama lain.


"Zein..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2