Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 38 ~ Pesta Dansa


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Ck!!! Sebenarnya kalian itu teman siapa sih? Kenapa kalian lebih akrab dengan gadis itu lalu melupakan aku seperti ini? Dasar pengkhianat!"


Zein yang kesal pun meracau. Lalu Zein pun memilih untuk mengikuti teman-temannya itu. Namun di saat ia hendak mengikuti Aliyya dan teman-temannya yang sedang asyik berbicara, tiba-tiba mata Zein tertuju pada empat orang gadis cantik yang tak lain adalah para kekasih teman-temannya. Seringai jahil dan licik pun terbit di wajah tampannya. Entah ide apa lagi yang akan ia lakukan untuk Aliyya malam ini.


Merasa ide itu sangat bagus untuk mengerjai Aliyya, Zein pun melangkah cepat mendekati empat orang gadis cantik yang tengah asyik berbincang dan tertawa bersama.


"Hei Nona-Nona cantik... selamat hari valentine." ujar Zein yang bersemangat sekali tentunya.


"Hei Zein... selamat hari valentine juga ya." ujar salah satu gadis itu yang berpakaian gaun pink seraya tersenyum pada Zein.


"Apakah kalian sudah bertemu dengan Aliyya?" tanya Zein yang masih berdiri.


"Iya sudah kok. Kami juga sudah mendengar banyak sekali cerita tentang Aliyya sejak kemarin sehingga kami merasa sudah bertemu dengannya ribuan kali. Iya 'kan?" ujar gadis itu lagi seraya melihat ke arah teman-temannya.


"Iya Zein..." jawab gadis berpakaian gaun oren.


"Dia memang cantik, Zein." ujar gadis berpakaian gaun ungu.


"Tapi kami tidak mengerti. Kenapa mereka selalu saja menyebutkan namanya sepanjang hari." ujar gadis terakhir yang berpakaian gaun gold.


"Itu memang keahlian Aliyya, Nona-Nona. Dia selalu pandai membuat orang terkesan dengan perkataannya. Contohnya saja, kalian tau bukan kalau papaku sangat menyayangiku tapi karena Aliyya, dia bisa saja memarahiku." jawab Zein seraya melihat ke arah Aliyya di seberang sana.


"Memang dia bisa mencuci otak ya?" tanya gadis berpakaian gaun ungu berambut pendek itu.


"Tidak! Dia tidak mempunyai sihir pencuci otak manusia. Tapi orang lain hanya memahami apa yang ingin dia pahami." jawab Zein yang sedang memprovokasi para kekasih temannya itu.


"Zein... jadi dia itu pandai manipulasi?" tanya gadis berpakaian gaun pink berambut panjang.


"Tidak! Bukan manipulasi! Dia baik, bahkan sangat baik. Lihat bagaimana caranya untuk membuat semua kekasih kalian itu terkesan dengan sebuah martabak telur dan sepak bola. Saat ini para kekasih kalian itu berpikir bahwa tidak ada seorang gadis yang seperti Aliyya." tutur Zein lagi seraya memperhatikan Aliyya di sana bersama teman-temannya.


Zein pun melirik para gadis itu dan melihat mereka yang tengah berbisik membicarakan Aliyya setelah mendengar perkataan Zein. Seringai puas pun terbit lagi di wajah pria tampan itu. Ia merasa puas karena sukses memprovokasi para kekasih temannya itu.


"Sangat sulit untuk mengambil perhatiannya." ujar Zein lagi yang semakin memprovokasi lagi.


"Jadi maksudmu dia itu pencari perhatian?" tanya gadis berpakaian gaun pink yang masih penasaran dengan Aliyya.


"Kamu salah lagi, Nona. Dia tidak membutuhkan perhatian. Dia tidak membutuhkan apa pun. Kekasih kalian itu hanya ingin kalian belajar banyak hal dari Aliyya dan aku tidak tau apa itu. Tapi aku cukup bangga." jawab Zein lagi seraya memelaskan wajahnya yang tampan itu.


Keempat gadis itu pun saling melempar pandang dengan raut wajah jengah setelah mendengar hal tentang Aliyya dari Zein. Sementara Zein hanya tersenyum puas melihat keempat gadis itu yang tengah berbisik membicarakan Aliyya. Itu artinya Zein sukses memprovokasi kekasih temannya.

__ADS_1


"Hei semuanya... ternyata kalian ada di sini ya. Perkenalkan ini Aliyya. Aliyya... itu Yasmin kekasihnya Karim, itu Wina kekasihku, itu Qorry kekasihnya Syakir, dan itu Mina kekasihnya Adi." ujar Vian yang memperkenalkan kekasihnya dan kekasih teman-temannya pada Aliyya.


"Aku Aliyya. Akhirnya kita bisa bertemu juga ya. Senang bisa bertemu dengan kalian." ujar Aliyya yang bersemangat sekali.


"Iya, akhirnya ya..." jawab para gadis itu yang serentak seraya saling pandang aneh.


"Dia baru di Jakarta dan dia belum mengetahui bagaimana pesta hari valentine. Dia belum tau apa pun di sini. Ayo, kalian bantu dia!!!" ujar Zein yang masih saja memprovokasi semua gadis itu.


"Ayo silakan duduk, Aliyya!" seru Vian.


Aliyya pun hanya mengangguk dan tersenyum pada Vian lalu duduk di samping suaminya itu. Mendengar perkataan Zein cukup membuat mood Aliyya hancur berkeping-keping. Dengan enaknya Zein mengatakan kalau dirinya tidak mengetahui tentang pesta hari valentine. Zein pun melirik ke arah sang istri dan begitu pula dengan sebaliknya. Keduanya saling melempar pandangan. Setelah itu Zein tampak menoleh lagi ke arah Yasmin, gadis bergaun pink yang duduk di kursi sebelahnya seraya mengangkat salah satu alis matanya, seakan memberikan sebuah isyarat yang entah apa itu.


"Ayo teman-teman... kita biarkan saja para gadis duduk di sini sambil berbincang dan mengobrol lebih jauh. Kita pergi ke sana saja. Ayo!!!" timpal Zein yang beranjak, mengajak semua temannya.


"Ayo..." jawab semua teman Zein.


Para kaum Adam pun berlenggang pergi untuk berkumpul dan meninggalkan para kaum Hawa. Namun di saat Zein tengah berjalan di belakang, ia memilih untuk tinggal dan duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari Aliyya. Zein pun duduk seraya mengangkat kakinya lalu memperhatikan Aliyya dari kejauhan.


"Sekarang baru seru. Musuh terbesar seorang wanita adalah wanita lain. Hanya diberi sedikit minyak tanah, maka akan timbul percikan api. Malam ini aku akan melihat bagaimana Aliyya mendapatkan penderitaan. Jika para gadis itu berada di pihakku, maka dia akan menderita. Tinggal 28 hari lagi dan semua ini akan berakhir."


Zein tampak tersenyum puas saat melihat Aliyya yang sepertinya sedang ditertawakan oleh para kekasih temannya itu. Sementara di ujung sana, Aliyya dan para gadis tampak sedang tertawa walaupun sesekali Aliyya tampak hanya sedang berbicara.


"Tertawa saja terus, keponakan kesayangan!!! Setelah ini kamu akan merasakan penderitaan yang sesungguhnya."


"Aneh sekali dia. Kenapa dia ikut menertawakan dirinya sendiri. Dasar gadis aneh!!!" sungut Zein.


Zein pun terus menyaksikan pertunjukkan yang tersaji jauh di depannya itu. Namun wajah Zein mendadak masam tatkala melihat Aliyya dan Yasmin saling melakukan aksi tos, lalu mereka juga terlihat berjabat tangan, lalu berpelukan. Sementara Aliyya dan yang lainnya tampak semakin akrab saat mengobrol. Kini tidak hanya keempat gadis itu yang tertawa, tapi Aliyya juga.


Tubuh Zein pun mendadak lemas tak berdaya saat menyaksikan pertunjukkan yang sangat tidak sesuai dengan harapannya. Zein berharap dengan memprovokasi para kekasih temannya itu bisa membuat Aliyya malu dan tersudut. Namun sepertinya usaha seorang Zein gagal lagi. Kasihan sekali anak kesayangan Umar itu.


Aliyya yang tertawa di ujung sana pun menoleh ke arah Zein. Sementara Zein bergegas meraih segelas minuman dan pura-pura tidak melihat Aliyya. Zein yang berpikir kalau Aliyya sangat bodoh ternyata salah besar. Aliyya pun berdiri lalu berjalan menghampiri suaminya yang masih santai dan pura-pura tidak melihat tatapan istrinya. Dengan seringai puas, Aliyya berdiri di depan Zein dan bertegak pinggang. Sementara Zein yang terlihat salah tingkah pun sesekali hanya tertunduk. Merasa kalah dan bodoh di depan istrinya sendiri.


"Aku mengetahui banyak hal tentang pesta hari valentine, Zein!" ujar Aliyya yang menyeringai puas saat melihat langsung ekspresi Zein.


Zein benar-benar tampak terkejut mendengar perkataan Aliyya. Pasalnya Zein tidak pernah mengetahui kalau Aliyya tau banyak tentang sebuah pesta karena yang Zein tau, Aliyya itu tidak suka dengan pesta. Namun apa yang terjadi hari ini sungguh di luar dugaannya.


"Peraturan pertama dalam berperang! Kamu tidak boleh meremehkan musuhmu sendiri karena kelemahan dan kelebihan musuhmu itu merupakan nilai terpenting yang seharusnya kamu simpan baik-baik untuk kemenanganmu nantinya. Jadi kamu pikir aku tidak pernah datang ke acara pesta saat di Jogja dan kamu berpikir kalau aku ini bodoh dalam menghadiri sebuah acara pesta besar seperti ini? Kamu salah besar, Zein Abdullah!!! Selama di Jogja, tanpa kamu ketahui kalau aku ini sebenarnya suka sekali pergi ke pesta bersama temanku. Kebiasaan burukmu yang ingin mempermalukan istrimu sendiri, tidak akan pernah menghasilkan apa pun, Zein! Justru gadis-gadis itu sekarang sedang menertawakan dirimu." tutur Aliyya yang memperingati Zein.


Zein pun tetap bergeming seakan kehabisan kata untuk melawan istrinya itu. Kali ini pria berparas tampan itu tampak kalah skak hingga membuat bibirnya bungkam tak mampu menjawab Aliyya.


"Kamu masih ingat dengan apa yang pernah aku katakan padamu? Setiap aku memotong rambutku, maka kamu akan kehilangan celanamu. Jangan pernah lupakan itu, Zein!!!" ujar Aliyya lagi yang menyeringai puas melihat ekspresi Zein.

__ADS_1


"Kamu salah, Aliyya!!! Aku belum membuat keributan sama sekali. Saat aku membuatnya, maka senyum manis di wajahmu itu akan hilang. Seharusnya kamu senang karena aku belum melakukannya. Jika aku melakukannya, maka kamu akan sangat menyesal." jawab Zein yang beranjak dan mendekati Aliyya.


"Itu bagus kalau aku mempercayai perkataanmu, tapi sayangnya aku tidak percaya. Saat ini kamu tidak mempunyai rencana apa pun, tapi sesuatu pasti akan terjadi dengan sendirinya dan tiba-tiba saja kamu mempunyai rencana, karena otakmu sekarang sudah menjadi mesin pembuat keluhan setiap saatnya. Seharusnya aku tidak datang ke acara ini dan entah kenapa aku setuju untuk ikut denganmu ke pesta ini!!! Andaikan saja aku tau, kalau akhirnya akan seperti ini, maka aku tidak akan pernah menuruti permintaanmu!!!" tandas Aliyya yang menatap jengkel suaminya itu.


"Kamu pikir aku ingin pergi ke pesta bersama denganmu? Setelah melihat rekaman CCTV itu, Papa memintaku untuk meminta maaf padamu. Kamu tau bukan, kalau aku tidak akan pernah mau meminta maaf padamu!!! Apalagi datang bersamamu ke pesta ini!" ujar Zein yang santai.


"Zein Abdullah... aku tidak pernah bertemu dengan orang yang menjijikkan seperti dirimu!" tandas Aliyya yang geram mendengarkan Zein.


Wajah Zein yang tadinya mengejek dan tampak santai seketika berubah merah saat mendengar perkataan Aliyya. Sementara Aliyya yang sudah terlanjur emosi karena pengakuan Zein memilih untuk pergi dan menjauh dari suaminya itu. Merasa tidak senang dengan perkataan Aliyya, Zein pun mengikutinya dari belakang dan ingin menghentikan langkah istrinya yang cepat itu.


"Tunggu Aliyya!!!"


Zein terus berusaha meraih bahu Aliyya agar istrinya itu berhenti. Namun nahas yang terjadi. Bukannya dapatkan bahu istrinya, malah tanpa sengaja Zein meraih resleting gaun Aliyya.


Sret!!!


Langkah Aliyya terhenti seketika saat merasakan resleting gaunnya terlepas karena Zein berusaha untuk menghentikan dirinya. Begitu pula dengan Zein. Keduanya tampak terkesiap. Aliyya sangat terkejut saat merasakan hawa dingin menembus kulit punggungnya yang terbuka, sedangkan Zein terkesiap ketika melihat punggung putih mulus sang istri terpampang nyata karena ulah tangan nakalnya. Aliyya pun menoleh cepat ke arah Zein dan menatapnya nanar penuh kekecewaan yang sangat dalam.


Cekrek!


Mendengar suara petikan sebuah kamera dari arah lain, dengan cepat Zein pun meraih tangan Aliyya lalu memutar tubuhnya sehingga posisi keduanya saat ini sangat intim. Zein memeluk Aliyya dari belakang agar tidak ada orang lain yang melihat gaunnya terbuka lebar seperti itu. Sementara Aliyya, gadis itu tampak terkesiap saat mendapatkan perlakuan yang langka dari Zein. Rasa marah dan kesal terhadap pria itu menguap begitu saja. Entah karena apa, tapi Aliyya yakin kalau Zein berusaha melindungi dirinya dari orang banyak.


"Selamat malam para pasangan kekasih dan juga suami istri yang hadir di pesta malam ini! Mari kita mulai acara pesta hari valentine yang sesungguhnya dengan mengadakan kompetisi dansa!!! Mari kita lihat pasangan mana yang akan menjadi pasangan terbaik pada tahun ini!"


Bak penyelamat dalam situasi Aliyya dan Zein saat ini, tiba-tiba saja seorang MC yang menjadi pembawa acara malam ini membuka acara dan memberikan instruksi untuk memulai kompetisi berdansa dengan pasangan masing-masing. Kompetisi dansa pun dimulai. Dengan alunan musik yang indah dan syahdu, terlihat semua pasangan, baik itu pasangan kekasih maupun pasangan suami dan istri, tampak menikmati alunan musik yang ada. Semuanya terlihat berbinar saat berdansa, namun tidak dengan Zein dan Aliyya.


Sepasang suami istri itu tampak terpaksa dalam melakukan aktifitas ini. Bagaimana tidak, hanya situasi inilah yang bisa menutupi masalah Zein yang tanpa disengaja telah membuka resleting gaun istrinya. Dalam suasana romantis itu, Zein dan Aliyya hanya mengikuti alunan musik yang terhidang. Berdansa dan berdansa selayaknya seperti sepasang kekasih yang saling mencintai. Jika mereka saling mencintai, maka suasana ini tidak akan pernah terlupakan untuk keduanya. Tapi sangat disayangkan, karena keduanya tidak mempunyai rasa apa pun selain kebencian yang sangat mendalam. Entah sampai kapan benci di dalam hati keduanya itu akan hilang.


Alunan musik terus berputar, mengiringi langkah kaki setiap insan pasangan yang sedang mabuk dengan kasih sayang dan cinta di malam spesial ini. Aliyya dan Zein pun juga ikut berada di dalam suasana itu. Namun bukan cinta, tapi kebencian. Perlahan tapi pasti, Zein memutar tubuh Aliyya lalu menggenggam gaunnya yang terbuka lebar. Tatapan dalam penuh rasa benci pun tak dapat terelakkan. Kedua mata mereka saling menatap nanar, yang satu penuh dengan kekecewaan dan yang lainnya penuh dengan emosional. Lalu Zein membawa Aliyya melangkah mundur, beriringan dengan irama musik yang sangat merdu, hingga keduanya pun tiba di salah satu tenda yang ada di sudut acara.


Keduanya masih tetap bungkam seraya saling melempar tatapan dalam penuh makna. Mata Aliyya tampak berkaca-kaca menatap nanar seorang pria yang ditakdirkan menjadi suami dalam hidupnya. Entah apa yang ada di dalam pikiran Aliyya dalam tatapan kosong itu.


"Lepaskan aku, Zein!!!" tandas Aliyya.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2