
...πΉπΉπΉ...
"Lepaskan aku, Zein!!!"
Aliyya yang tersadar pun berusaha melepaskan dirinya dari kungkungan tangan kekar suaminya. Namun gerakan Aliyya terpangkas cepat oleh tangan kekar Zein yang semakin merangkul kuat pinggang rampingnya itu. Jarak di antara mereka pun tampak tak tersisa lagi berapa centimeter, hanya baju masing-masing lah yang memberikan jarak di antara sepasang suami istri itu.
"Aku ingin sekali melepaskanmu! Tapi aku juga tidak punya pilihan lain, selain melakukan ini!!! Aku minta padamu untuk tidak bergerak dan jangan melakukan apa pun!!!" jawab Zein yang menatap tajam manik cantik istrinya.
Aliyya yang mendengar itu pun bergeming. Di satu sisi, ia juga tidak punya pilihan lain untuk tidak menuruti perkataan Zein. Jika ia tetap kekeuh ingin Zein melepaskan dirinya, maka malam ini akan menjadi malam yang sangat memalukan untuk dirinya dan juga Zein. Tidak hanya itu, reputasi keluarganya pun juga akan terancam malu dengan masalah yang lagi-lagi terjadi karena kecerobohan Zein Abdullah.
Aliyya pun akhirnya pasrah dan tetap diam dengan posisi yang tidak mengenakan ini. Sementara Zein langsung melakukan aksi selanjutnya, yaitu memeluk Aliyya dari depan lalu meletakkan dagunya di atas bahu Aliyya dan memasangkan kembali resleting gaunnya yang terlepas karena ulah konyolnya. Betapa intimnya kedekatan Aliyya dan Zein saat ini, tapi itu tidak akan pernah merubah perasaan keduanya.
Lalu apa yang terjadi pada Aliyya? Bukan jantung yang berdetak kencang seperti pada umumnya, melainkan ia merasa risih dan tidak nyaman berada di posisi ini. Setelah sukses memperbaiki gaun sang istri yang terbuka lebar, Zein pun melepaskan pelukannya dan mendorong paksa tubuh Aliyya agar menjauh dari tubuhnya.
"Sudah!!! Sudah aku pasangkan!!!" tandas Zein seraya menatap tajam Aliyya.
Bibir Aliyya pun bungkam, tidak mampu untuk mengeluarkan sesuatu yang sebenarnya sangat mengganggu pikiran dan juga hatinya. Namun Aliyya bisa apa dengan sikap Zein yang tidak akan pernah bisa berubah menjadi lebih baik terhadap dirinya. Zein pun memilih pergi sesaat setelah mereka saling mengunci tatapan tajam. Sementara Aliyya masih terpaku berdiri di sana.
Bruk!
Saat Zein berjalan pergi menjauhi istrinya, tanpa melihat jalan karena sesekali menoleh ke arah Aliyya berada, tiba-tiba Zein menabrak seorang photographer yang tadi sempat mengambil foto Aliyya di saat gaun belakangnya terbuka. Dengan cepat dan sigap, Zein mencegah photographer itu lalu mengambil kamera yang tergantung di leher photographer itu. Zein membuka foto yang sempat diambil olehnya tadi dan menghapusnya.
"Bekerjalah dengan baik dan jujur, Kawan!!! Jika kau melakukan hal ini lagi, maka aku tidak akan segan-segan untuk menguburmu dengan kamera mahalmu ini!!!" ujar Zein seraya meletakkan lagi kamera di leher photographer itu lalu mengusap kerah bajunya seakan memberikan peringatan.
Sementara Aliyya yang masih berdiri dan terpaku di posisinya tampak memperhatikan gerak-gerik Zein. Mata Aliyya Aliyya sedikit menyipit seakan berusaha untuk memahami gerak-gerik Zein dari kejauhan. Namun usaha gadis itu tidak berhasil. Setelah memperingati photographer itu, Zein pun pergi dan menghilang dari posisinya. Melihat Zein pergi, Aliyya pun tak punya pilihan untuk tetap berdiri di tempatnya saat ini. Tanpa kedua insan itu sadari, di balik pohon hias pesta ada seseorang yang tengah memperhatikan mereka.
Sosok itu pun keluar dengan senyum lebarnya seraya memegangi benda pipih di tangannya, setelah Zein dan Aliyya pergi secara terpisah.
"Foto ini akan menjadi hadiah valentine dariku untuk Mama." ujar sosok wanita itu yang tidak lain adalah istri kedua Farhan, Shafia.
Seperti yang Shafia rencanakan sebelumnya, ia akan datang ke pesta untuk mengikuti Aliyya dan mengacaukan malam valentine Namira. Senyum penuh kemenangan kini terbit indah di wajahnya ketika memandangi foto Aliyya saat di bagian belakang gaunnya terbuka. Entah rencana apa lagi yang akan ia lakukan pada Aliyya malam ini, hanya Shafia lah yang tau. Setelah puas melihat foto itu, Shafia pun hendak mencari Farhan dan...
"Kamu? Ada di sini juga?" pekik Namira saat berpapasan dengan Shafia.
"Memang kenapa? Memang hanya kamu saja yang boleh datang ke pesta bersama suamimu?" jawab Shafia yang menyeringai licik penuh arti.
"Shafia... banyak orang yang menjadi egois dan bodoh karena hal cinta sampai-sampai mereka tidak memikirkan adik perempuannya sendiri. Kamu tau itu, bukan?" ujar Namira yang melipat tangannya di atas dada seraya menatap Shafia.
"Justru aku sangat memikirkan adikku, Namira. Aku malah kasihan padamu. Kamu hanya bisa memikirkan dirimu sendiri. Kamu tau sesuatu? Jika Sarah terkena masalah, maka kamu juga akan terkena masalah. Kamu harus mengingat itu, Namira. Aku di sini karena Mama. Dia yang memintaku untuk datang ke sini. Apakah kamu mau bicara dengan Mama? Kamu mau?" jawab Shafia yang sukses membuat Namira bungkam.
Namira yang bungkam pun menatap tajam ke Shafia. Begitu juga dengan Shafia. Kedua istri Farhan itu saling melempar tatapan tajam penuh kilat nan menyambar. Siapa pun yang melihatnya akan merasakan suasana tegang bahkan takut. Keduanya seakan sedang berlomba untuk dapat mengambil posisi sebagai menantu di rumah itu. Bukan hanya menantu, tapi istri satu-satunya di hati Farhan.
***
"Selamat hari valentine juga untukmu."
Di langit Jogja yang tak kalah indah, Aldha yang sedang berada di dalam kamar tampak asyik dengan keyboard laptopnya yang sedang menyala terang. Senyum manis juga tak kalah terbit di wajahnya ketika suara notifikasi demi notifikasi berdatangan ke layar laptopnya. Sepertinya ia sedang berkomunikasi dengan seseorang yang ada di media sosial.
Ting!
"Kita harus sering bicara seperti ini." ujar Aldha yang membaca pesan dari seseorang itu.
Aldha tampak sangat bersemangat dan antusias saat membaca pesan dari seseorang. Lalu dengan lincah, jari jemari tangan Aldha mulai mengetik pesan balasan untuk seseorang itu.
"Aku tidak bisa karena ibuku bisa marah kalau dia melihatku main internet sepanjang hari." ujar Aldha yang membalas pesan di media sosial.
__ADS_1
Pesan Aldha pun terkirim dan tanpa menunggu lama pesan balasan pun datang lagi.
"Aku ingin meminta nomor ponselmu." ujar Aldha yang membaca balasan pesan itu.
Raut wajah Aldha pun seketika pias. Baru kali ini ada seseorang yang tidak ia kenal secara tatap muka meminta nomor ponselnya. Dengan cepat Aldha pun menggelengkan kepalanya lalu...
"Tidak!!! Aku tidak akan memberikannya!" jawab Aldha yang mengetik balasan untuk seseorang.
Tanpa menunggu lama, satu detik setelah pesan terkirim, pesan balasan pun sampai lagi di layar laptopnya. Seketika wajahnya yang mendadak pias berubah menjadi gelak tawa saat membaca balasan dari seseorang itu.
"Aldha... cepat tolong Ibu di bawah!"
Saat Aldha hendak mengetik lagi, tiba-tiba saja suara Sabrina yang menggelegar pun terdengar memanggil Aldha dari lantai bawah. Aldha pun merasa cemas karena takut sang ibu melihat dirinya bermain internet. Bukan maksud Sabrina untuk melarang sang putri bermain internet, tapi untuk menjaga pergaulan Aldha agar jauh dari pergaulan yang tidak baik seperti yang umumnya terjadi di zaman sekarang ini.
"Iya sebentar, Bu..."
Rasa penasaran Aldha pada seseorang ternyata sukses mengalahkan rasa cemasnya pada sang ibu yang tengah menunggunya di lantai bawah.
"Memang untuk apa kamu meminta nomorku?" tanya Aldha yang memberikan balasan lagi.
"Untuk mengetahui kabar kartu ucapan yang sedang dalam perjalanan menuju rumahmu." jawab seseorang di sana yang Aldha bacakan.
"Kartu? Kartu ucapan apa? Lalu bagaimana bisa kamu mengetahui alamat rumahku?" tanya Aldha yang memberi balasan lagi karena heran.
"Aku menggunakan alamat kampusmu. Setelah sampai di kampus, maka pihak kampus akan mengirim kartu itu ke rumahmu." ujar Aldha yang bergidik ngeri saat membaca pesan itu.
Kini penasaran Aldha telah bercampur menjadi satu dengan rasa takut saat membayangkan kemarahan Sabrina, jika mengetahui ada orang asing yang tengah berkomunikasi dengannya dan sudah berani mengirimkan kartu ucapan. Membayangkan itu saja berhasil membuat perut gadis itu merasa mules dan ingin pergi ke kamar mandi.
"Ibu bisa membunuhku kalau seperti ini."
"Aldha... kamu sedang apa sih di atas? Apakah Ibu juga yang harus membukakan pintu?" pekik Sabrina yang menggelegar lagi dari bawah.
"I-iya, Bu. Biar Aldha saja yang buka pintu."
Tanpa berpikir panjang, Aldha pun beranjak dan langsung berlari menuruni tangga menuju pintu. Saat Aldha membuka pintu, terlihat seorang pria berseragam orange yang tak lain adalah seorang tukang POS. Dengan cepat, Aldha mendekatinya.
"Aldha Ginanjar?" tanya tukang POS itu.
"Iya saya sendiri."
"Ada paket untuk anda, Nona." ujar tukang POS seraya memberikan sebuah amplop besar yang berwarna merah muda.
"Terima kasih, Pak."
Tukang POS yang ramah pun hanya mengangguk lalu berlenggang pergi. Sementara Aldha memilih masuk ke dalam rumahnya sebelum suara keras Sabrina menggelegar lagi.
"Siapa yang datang Al?" tanya Sabrina tanpa melihat Aldha yang hendak menaiki tangga.
"Ah ada orang yang menanyakan alamat, Bu. Katanya dia tersesat dan kebetulan melihat lampu rumah kita yang masih menyala terang." jawab Aldha yang cukup gugup seraya menutupi amplop besar berwarna merah muda di belakang tubuhnya.
"Tapi di luar rumah kita 'kan ada nama alamat. Apakah dia tidak membacanya?" tanya Sabrina yang kini mendekati sang putri.
"Orang itu sudah tua, Bu. Jadi aku menunjukan alamat yang sedang dia cari." jawab Aldha yang masih gugup seraya menyembunyikan amplop.
Sabrina pun menatap tajam sang putri. Namun sepertinya ia tidak curiga pada gerak-gerik sang putri yang sedang berbohong padanya. Sabrina yang tidak curiga pun menghela nafas panjang lalu kembali melakukan aktifitasnya. Sementara Aldha tampak berlari menaiki tangga sebelum pertanyaan-pertanyaan aneh terlontar lagi dari mulut sang ibu.
__ADS_1
***
"Baiklah para pasangan romantis malam ini... Setelah mengadakan acara inti dengan berdansa bersama pasangan, kami sebagai pembawa acara akan mengumumkan siapa pasangan yang memenangkan kompetisi dansa tahun ini."
Suasana pesta yang semakin larut tampak semakin seru tatkala semua pasangan kekasih maupun suami istri tengah berkumpul di depan pentas. Tanpa terkecuali, Aliyya dan Zein pun juga turut hadir di depan pentas itu. Setelah lama mereka berpisah duduk saat di acara pesta sejak kejadian yang tidak mengenakan itu, kini mereka berdiri beriringan dan sesekali melempar tatapan tajam satu sama lain tanpa mengeluarkan kata.
"Teman-teman... penghargaan untuk pasangan dansa terbaik malam ini jatuh kepada Zein dan Aliyya." sahut pembawa acara seraya menunjuk ke arah pasangan yang berhasil menang itu.
Riuh pikuk sahutan tepuk tangan para peserta dan tamu undangan pesta malam ini terdengar sangat meriah ketika mendengar nama kedua insan manusia yang baru saja menjadi suami istri itu. Seketika semua mata tertuju kepada mereka yang sejak tadi saling pandang dan melirik tanpa berkata-kata.
"Hebat sekali, Zein..."
"Kalian memang pasangan yang romantis..."
"Selamat ya..."
"Kalian memang berjodoh..."
Sahutan pujian demi pujian pun bergema kuat di langit malam menyelimuti pasangan pasutri itu. Aliyya dan Zein pun saling pandang lalu perlahan berjalan menuju pentas di depan sana. Sahutan tepuk tangan dari para sahabat dan teman pun mengiringi langkah AliZein (Aliyya dan Zein).
Saat tiba di depan pentas, Zein pun naik ke atas pentas tanpa menghiraukan Aliyya. Sementara Aliyya yang ingin naik tampak kesulitan untuk menaiki tangga pentas karena gaunnya yang panjang. Melihat sang istri yang kesulitan naik ke pentas, Zein pun menghela nafas jengah lalu terpaksa mengulurkan tangannya pada Aliyya. Keraguan pun tampak jelas di wajah cantiknya saat melihat tangan yang siap membantunya itu. Aliyya sangat tau kalau Zein melakukan hal ini bukan atas keinginan hatinya, melainkan untuk menjaga image di depan para sahabatnya saja.
Mau tidak mau, Aliyya pun meraih tangan Zein yang terulur itu dan berhasil naik ke atas pentas. Lalu Aliyya berdiri di samping sang suami dan menerima piala penghargaan kemenangan itu. Sementara Zein hanya diam dan bungkam seribu bahasa di samping sang istri.
Prok!
Prok!
Prok!
Prok!
Prok!
Prok!
Sahutan tepuk tangan pun kembali bergema saat keduanya memegang piala itu bersama. Mata keduanya pun juga tak luput saling pandang dan menatap walaupun tidak ada kebencian di dalam tatapan itu. Namun isi dari mata keduanya tidak mengandung makna apa pun.
"Teman-teman sekalian... mari kita tanyakan pada Aliyya seperti apa pria idamannya saat ini. Apakah Zein termasuk ke dalam salah satunya?" ujar pembawa acara yang mengundang keriuhan para tamu.
Aliyya dan Zein pun saling melempar pandangan lagi, seakan bingung harus mengatakan apa di depan semua orang seperti ini. Sementara para tamu undangan pesta hari valentine sudah tidak sabar ingin mendengarkan jawaban Aliyya. Tidak ada pilihan lain, Aliyya hanya manusia biasa dan ia juga mempunyai impian tentang pria idaman dalam hidupnya kelak. Setelah lama berdiam, ia pun menghela nafas panjang. Lalu...
"Pria idaman bagi seorang wanita itu biasanya ada di dalam sebuah kisah yang diceritakan oleh seorang Ibu pada putrinya. Begitu juga dengan aku. Sebuah kisah yang sangat romantis. Ibuku selalu mengatakan padaku, bahwa suatu hari nanti akan ada seorang pria yang hadir di dalam hidupku. Seorang pria yang baik, tulus dan punya hati yang sangat besar walaupun dia tidak punya apa-apa. Di saat dia berdiri di depanku, maka aku akan mengenalinya. Ya, dia lah orangnya. Orang yang selalu memikirkan kebahagiaan untukku terlebih dahulu di atas kebahagiannya. Dia yang akan menjadikan impianku, menjadi impiannya juga. Dia yang akan membuatku merasa nyaman di dalam pelukannya. Aku akan merasa aman di saat dirinya ada di sampingku. Dengannya aku bisa merasakan hidup yang sangat bahagia. Dia yang akan selalu mengatakan cinta ribuan kali padaku. Dia yang bisa menerima kekuranganku. Seperti itulah pria idamanku. Seorang pria yang selalu aku impikan kehadirannya." tutur Aliyya.
Semua orang pun terdiam dan tampak terenyuh dengan penuturan Aliyya. Tanpa ia sadar manik cantiknya pun sudah tertutupi oleh tumpukan air bening yang berkumpul. Mata Aliyya tampak berkaca-kaca saat membayangkan pria idaman dalam hidupnya itu akan hadir. Walaupun terasa mustahil karena dirinya saat ini telah menikah dengan seorang pria yang bahkan sangat berbanding terbalik dengan pria idamannya itu. Namun Aliyya tidak menyesal karena niat awal menerima perjodohan ini hanya untuk ayahnya.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All πππ