Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 4 ~ Salah Foto


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Malam berganti pagi yang cerah. Aliyya pun terbangun dari tidurnya. Saat Aliyya baru saja bangkit dari tidurnya, tiba-tiba Sabrina datang dan tengah berbicara dengan seseorang via ponselnya.


"Apa? Kalian sudah mengirim foto Zaki? Baiklah, terima kasih. Nanti akan aku berikan foto Zaki padanya." ujar Sabrina yang berjalan mendekati Aliyya.


Setelah selesai menelepon, Sabrina langsung mengecup kening sang putri sulung dengan penuh kebahagiaan.


"Foto Zaki akan datang sebentar lagi, Nak. Cepat mandi dan bersiap. Keluarga Zaki ingin pernikahan kalian dipercepat. Jadi mereka, Ibu dan Ayah sepakat, kalau pernikahan kalian akan dimajukan tiga hari lagi." ujar Sabrina yang berbinar.


"Kalau itu keputusan terbaik Ibu dan Ayah, maka Aliyya hanya bisa mengikuti kalian saja." jawab Aliyya.


"Kamu memang anak yang penurut, Sayang." ujar Sabrina seraya mendaratkan kecupan sayang pada sang putri.


Anita hanya tersenyum melihat kebahagiaan sang ibu.


"Ibu akan memberitahu pamanmu." ujar Sabrina seraya beranjak dari sisi putrinya.


Aliyya hanya mengangguk dan senyuman terus saja terukir di wajahnya. Pernikahan adalah impian semua orang dewasa, termasuk Aliyya. Walaupun ia harus dijodohkan, tapi gadis itu percaya dengan pria pilihan kedua orang tuanya.


***


Sabrina yang berjalan menuruni tangga, sibuk mencari nomor ponsel Umar, sang kakak.


"Assalamualaikum, Kak." ucap Sabrina seraya berjalan menuruni tangga.


"Wa'alaikumsalam, Sabrina. Ada apa?" jawab Umar yang terdengar sibuk di seberang sana.


"Aku ingin memberitahu Kakak, kalau acara pernikahan Aliyya dimajukan tiga hari lagi, Kak." jawab Sabrina yang berpapasan dengan Galuh.


"Alhamdulillah, itu berita yang sangat bagus. Aku ingin memberikan hadiah untuk Aliyya. Apakah kamu bisa mengirimkan nomor rekeningmu sekarang?" ujar Umar.


"Tidak perlu repot-repot, Kak. Aliyya tidak ingin hadiah darimu. Dia hanya ingin Kakak datang ke sini." jawab Sabrina.


"Aku tidak bisa janji, Sabrina. Aku cukup sibuk saat ini dan aku sudah mengatakan hal itu pada Aliyya." ujar Umar.


Saat Umar sedang berjalan menuruni tangga di rumahnya, seorang pelayan rumahnya pun menghampirinya.


"Permisi, Tuan. Tuan Zein ada di depan, Tuan." ujar pelayan itu seraya memberikan minuman pada Umar.


"Zein? Baiklah, terima kasih." jawab Umar.


Sabrina dan Galuh yang masih terhubung telepon dengan Umar ikut mendengar itu.


"Zein sudah pulang Kak?" tanya Sabrina yang senang mendengar berita itu.


"Iya, Sabrina. Sepertinya dia baru sampai di rumah ini." jawab Umar yang menuruni tangga.


"Kalau Kakak tidak bisa datang, Kakak bisa minta Zein untuk datang ke sini mewakilimu, Kak." ujar Sabrina yang melirik Galuh.


Umar pun terdiam. Ia tidak sempat berpikir seperti itu. Namun yang dikatakan Sabrina memang benar. Paling tidak ada satu anggota keluarga yang mewakili datang ke sana dan ia bisa memberikan hadiah untuk Aliyya melalui Zein.


"Baiklah, Sabrina. Aku akan coba membujuk Zein untuk pergi ke sana. Aku akan mengirim foto putraku agar kalian bisa mengenali anak bandel itu." balas Umar.


"Baiklah, Kak. Jaga dirimu di sana ya. Titip salam untuk Kak Sonia dan semuanya. Assalamualaikum." ujar Sabrina yang mengakhiri pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam." jawab Umar.


Setelah menutup telepon, Umar pun bergegas menuruni tangga untuk menemui sang putra kesayangan.


***


"Papa..."


Seketika Umar terperanjat saat mendengar suara bariton yang tidak asing lagi baginya. Umar pun menghentikan langkahnya dan sejenak menoleh ke arah sumber suara itu. Matanya berbinar saat melihat sosok yang sangat ia rindukan itu. Lalu...


"Zein, putraku..."


Umar dan Zein berpelukan sangat erat. Rasa rindu di antara mereka berdua tidak tertahan lagi.


"Aku merindukanmu Pa." ucap pria tampan itu.


"Papa lebih merindukanmu, Nak." jawab Umar yang masih memeluk putranya.


Keduanya pun larut dalam keharuan. Setelah sekian lama tak bertemu, Umar dan Zein menumpahkan segala kerinduan yang menyeruak memenuhi hati mereka.


"Ekhheemm..."


Mendengar suara yang tidak asing itu, membuat keduanya melepaskan pelukan dan menoleh ke arah samping.


"Mama..."


Tak kalah berbinar saat bertemu sang ayah kini Zein langsung menghamburkan tubuhnya dalam pelukan sang ibu.


"Mama juga sangat merindukanmu, Zein." ucap Sonia yang memeluk erat sang putra.


"Aku juga merindukan Mama." ucap Zein yang melepaskan pelukan ibunya.


"Bagaimana dengan kuliahmu, Zein?" tanya Sonia yang melirik Zein.


"Aku mahasiswa terbaik di sana, Ma." jawab Zein dengan sangat percaya diri.


"Tentu saja, Nak. Kamu itu putra Papa. Putra Umar Abdullah, tentu saja kamu yang terbaik di sana." tambah Umar yang mengedipkan mata pada Zidan.

__ADS_1


"Mana buktinya kalau memang kamu yang terbaik?" tanya Sonia yang menyelidik.


Umar dan Zein pun sama-sama mengambil sesuatu yang ada di dalam saku. Dengan serentak, keduanya mengeluarkan gulungan kertas. Melihat itu, Sonia pun mengambil kedua gulungan kertas itu dan melihatnya.


"Di kertas Zein, nilai yang tertulis A+ dan di kertas Papa, nilai yang tertulis A+++. Jika ini rencana kalian, paling tidak bicarakan dulu apa yang akan kalian lakukan." ujar Sonia.


Umar dan Zein hanya saling melempar lirikan tanpa menjawab perkataan Sonia.


"Kamu pikir hanya dirimu saja yang dapat berbicara dengan Mr. Wilson, Pa?" tanya Sonia yang marah.


"Ya, aku sangat tau kalau putraku yang terbaik. Maka nilai A+++ memang pantas untuknya." jawab Umar dengan santai.


"Manjakan saja terus putramu ini!!! Zein... makan pagi bersama sebentar lagi akan dimulai. Kamu harus ikut. Pergilah mandi dan bersiap." ujar Sonia yang marah pada Umar dan menyuruh Zein.


"Baiklah, Ma." jawab Zein yang menurut.


Sonia pun pergi ke dapur. Sementara Zein dan Umar masih berdiri di posisinya.


"Kenapa Papa melakukan ini?" tanya Zein.


"Papa tau kamu yang terbaik, Nak." jawab Umar yang memegang bahu Zein.


"Tidak, Pa. Papa pasti tau yang sebenarnya. Tapi Papa tetap bersikap seperti ini. Terima kasih, Pa." ujar Zein yang memeluk Umar.


"Dasar bodoh. Cepat mandi dan bersiap." jawab Umar seraya menepuk pundaknya.


Zein hanya tersenyum mengangguk. Seperti itulah Zein dan Umar. Walaupun mereka sering berbeda pendapat dan keras kepala, Zein tetap saja sangat dekat dan menurut pada sang ayah. Begitu pula dengan Umar, ia sangat menyayangi putranya yang satu itu. Bukan untuk membedakan Farhan dan Zein, namun memang seperti itulah rasanya. Farhan dan Zein sangat berbeda. Keduanya memang sangat menyayangi Umar dan Sonia, namun Farhan lebih menuruti sang ibu dari pada ayahnya. Sementara Zein, ia selalu berpihak pada sang ayah walaupun terkadang, sesekali ia juga menuruti Sonia.


Zein pun berjalan menuju kamarnya dan berpisah dengan Umar yang berjalan ke arah ruang kerjanya.


"Zein..."


Pria tampan bernama Zein itu pun menoleh ke arah sumber suara. Sementara Farhan, Namira dan Shafia serentak dari sisi kanan serta kiri bergegas hendak menghampirinya.


Tanpa menghampiri Farhan terlebih dahulu, Zein pun menghampiri kedua kakak iparnya.


"Hai, Kakak. Kalian berdua tambah cantik saja." ujar Zein seraya merangkul keduanya.


"Diamlah, Zein. Kamu ini semakin pintar menggombal saja ya." jawab Namira seraya menepuk bahu Zein.


"Dasar anak nakal. Jangan bicara seperti itu pada kakak iparmu ini." jawab Shafia yang tidak mau kalah mengambil perhatian Zein.


"Sudahlah, Kak. Aku belajar gombal itu dari suami kalian ini." ujar Zidan yang mendekati Farhan.


"Kamu bicara apa, Zein." ujar Farhan yang berbisik pada adik kesayangannya.


"Tidak ada apa-apa, Kak. Aku ke kamar dulu ya. Sampai jumpa lagi." jawab Zein seraya berlalu pergi.


Zein pun pergi ke kamarnya untuk mandi dan bersiap makan pagi bersama.


***


"Apa itu Al?" tanya Aliyya yang berjalan ke arah Aldha.


"Di dalam sini ada foto Kak Zaki, Kak. Pak POS yang memberikan amplop ini tadi." jawab Aldha seraya menggoda kakaknya.


"Coba sini! Aku ingin melihatnya." ujar Aliyya seraya ingin mengambil amplop itu.


"Kenapa buru-buru sekali sih Kak?" tanya Aldha yang menyembunyikan amplop itu di belakang tubuhnya.


"Berikan padaku, Al. Sini amplopnya." seru Aliyya yang memaksa Adita.


Aldha yang tidak bisa melawan kekuatan sang kakak pun memilih lari ke halaman samping dan bersembunyi. Sementara Aliyya berusaha mencari keberadaan Aldha.


***


Aldha yang lari ke halaman samping, kini ia berada di halaman depan. Saat Aldha berada di halaman depan, tiba-tiba ada tukang POS lagi yang mengirimkan paket dan amplop ke alamat rumah mereka.


"Paket..." sahut tukang pos dari luar pagar.


"Dari siapa ya Pak?" tanya Aldha seraya berjalan ke arah pagar.


"Paket dari Jakarta, Neng. Tolong diterima dan tanda tangan di sini." jawab tukang POS yang memberikan kotak dan juga amplop putih.


Aldha pun menerima kotak dan amplop itu. Setelah tukang POS pergi, kini ditangan Aldha ada dua amplop putih dan kotak besar.


"Ibu... ada paket dari Jakarta." sahut Aldha di halaman depan rumah.


Tidak mendapat jawaban dari Sabrina, Aldha pun memilih masuk dan membawa kotak besar ke dalam rumah. Namun saat Aldha berjalan ke dalam, tanpa ia sadari salah satu amplop itu terjatuh di dekat pintu.


Aldha terus saja berjalan masuk. Sementara Aliyya yang sejak tadi mencari sang adik, kini sudah berada di teras depan.


"Ke mana anak itu?"


Aliyya pun memilih masuk ke dalam. Namun langkahnya terhenti saat ia menginjak sebuah amplop putih yang ia cari sejak tadi.


"Ini pasti foto Zaki."


Perlahan Aliyya pun membuka amplop putih itu. Senyum Aliyya semakin terukir saat ia melihat sosok pria yang sangat tampan ada di dalam foto itu.


Aliyya melihat foto Zein yang di kirim Umar bersama dengan kotak besar tadi. Namun Aliyya mengira kalau yang ada di dalam foto itu adalah Zaki, calon suaminya.


"Tampan juga pria yang bernama Zaki ini."

__ADS_1


Aliyya salah orang dan mengira kalau Zein adalah Zaki. Setelah puas melihatnya, Aliyya pun langsung menyimpan foto itu karena ia takut jika Aldha akan menggodanya lagi.


***


Hari semakin siang. Umar dan Farhan pun juga sudah pulang dari kantor. Setelah selesai mandi dan istirahat, Umar pun pergi ke kamar Zein.


Tok... Tok... Tok...


"Papa... masuklah Pa." ucap Zein yang melihat Umar berdiri di depan kamarnya.


"Apakah Papa bisa bicara sebentar?" tanya Umar yang duduk di tepi tempat tidur Zein.


"Papa ingin bicara apa?" tanya Zein balik pada Umar.


"Papa ingin kamu pergi ke Jogja, ke rumah bibimu. Tiga hari lagi Aliyya akan menikah dan Papa tidak bisa datang ke sana karena sibuk. Jadi kamu gantikan Papa di sana ya." jawab Umar yang melihat Zein.


"Aliyya? Siapa dia, Pa?" tanya Zein yang lupa dengan sepupunya sendiri.


"Apakah kamu lupa pada Aliyya? Dia teman sekaligus sepupumu. Kalian selalu bertengkar saat main bersama. Kalau tidak Aliyya yang menangis, maka kamu yang akan menangis. Begitu terus sampai kalian berdua puas." jelas Umar yang menceritakan masa kecil keduanya.


Zein tampak mengeryitkan dahinya, berusaha untuk mengingat Aliyya, sepupunya itu. Namun daya ingat Zein sangat lemah. Ia tidak bisa ingat dengan wajah sepupunya.


"Aku tidak ingat, Pa." ucap Zein yang menyerah.


"Wajar saja kamu tidak ingat, Nak. Terakhir kita ke sana itu sudah 10 tahun yang lalu dan saat itu kalian masih kecil. Papa juga ragu kalau Aliyya akan mengingatmu atau tidak." jawab Umar.


"Jadi aku harus ke sana Pa?" tanya Zein yang tidak yakin.


"Iya, Nak. Kamu juga harus berikan hadiah ini untuk Aliyya. Dia itu keras kepala, kamu harus bisa membujuk gadis itu agar mau menerima hadiah ini." jawab Umar seraya memberikan amplop coklat pada Zein.


"Oke, Pa. Aku akan pergi ke sana. Lalu kapan aku harus pergi?" ujar Zein yang bertanya pada Umar.


"Besok pagi. Ini tiket untukmu dengan Rizal. Kalau kamu bingung harus apa di sana, ajak saja Rizal agar kamu tidak merasa bosan." ucap Umar seraya memberikan dua tiket.


"Oke, Pa." jawab Zein yang terpaksa menuruti Umar.


Umar pun keluar dari kamar Zein. Tanpa mereka sadari, sejak tadi Sonia mendengar pembicaraan mereka. Matanya yang tajam menatap ke dalam kamar sang putra. Sementara tangannya juga mengepal kuat karena menahan amarah.


"Aku tidak akan membiarkan Zein pergi ke rumah keluarga pembawa sial itu!"


Sejak dulu Sonia memang tidak menyukai keluarga Sabrina. Entah apa alasan yang menyebabkan kebencian itu hadir. Namun kini Sonia harus berusaha membujuk Zein untuk tidak pergi ke Yogyakarta.


***


Aliyya terus saja memandangi foto yang ia temukan tadi, hingga tidak menyadari kalau hari sudah semakin malam. Aliyya masih tetap memandangi foto tampan Zein yang ia kira akan menjadi suaminya kelak. Aliyya tidak tau kalau yang ada di dalam foto itu adalah Zein Umar Abdullah, sepupunya, anak pamannya.


Saat Aliyya sedang asyik menatap foto itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi dan ada orang yang tidak dikenal menghubunginya. Lalu...


"Assalamualaikum, Aliyya." ucap seseorang di seberang sana.


"Wa'alaikumsalam, ini siapa ya?" tanya Aliyya yang penasaran.


"Apakah kamu tidak bisa mengenali suara calon suamimu ini?" tanya orang itu yang ternyata itu adalah Zaki.


Mata Aliyya seketika membulat sempurna mendengar perkataan itu. Ia tidak menyangka kalau Zaki akan menghubunginya secepat itu. Lalu...


"Dari mana kamu mendapatkan nomorku?" tanya Aliyya yang salah tingkah lalu melihat foto itu.


"Tidak terlalu sulit bagi seorang Zaki untuk mendapat nomor Aliyya." jawab Zaki yang percaya diri.


Aliyya pun tersenyum dan tersipu malu mendengar perkataan Zaki. Aliyya pun tidak mampu menjawab perkataan Zaki.


"Kenapa diam? Wajahmu pasti merah." ujar Zaki yang semakin menggoda Aliyya.


"Tidak, wajahku biasa saja." jawab Aliyya yang semakin gugup dan salah tingkah.


"Apakah besok kita bisa bertemu?"


Pertanyaan Zaki berhasil membuat jantung Aliyya berdetak tidak karuan. Gadis itu pun tampak salah tingkah dan tidak tau harus menjawab apa. Sungguh, membahagiakan namun sangat gugup.


"Besok?" tanya Aliyya yang gugup.


"Iya, besok. Kamu tidak bisa ya?" jawab Zaki yang bertanya balik pada Aliyya.


"Bisa kok, aku besok bisa." ujar Aliyya yang gugup.


"Kalau begitu besok kita bertemu di taman kota jam sepuluh. Aku akan menunggumu di sana." ujar Zaki yang memberitahu Aliyya.


"Oke..."


"Selamat malam calon istriku." ucap Zaki yang membuat Aliyya terkejut lagi.


"Selamat malam juga calon suamiku." jawab Aliyya yang ragu, malu, namun senang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Rating cerita baru author ya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2