
...πΉπΉπΉ...
Drrrrttt...
Suara getaran ponsel di atas meja mengalihkan perhatian Sabrina yang tengah memasak di dapur. Ponsel itu terus bergetar seakan mendesak untuk segera diangkat oleh sang pemiliknya. Namun karena tangannya yang masih kotor Sabrina tidak bisa mengangkat telepon.
"Ibu... ada telepon."
Suara Aldha yang duduk tidak jauh dari meja tempat ponsel itu terletak pun bergema. Sabrina yang masih sibuk di dapur bersama seseorang tampak menggeleng kepala.
"Apakah kamu tidak bisa mengangkat telepon itu? Padahal jarakmu dengan meja itu sangat dekat. Dasar pemalas!!!" sungut Sabrina yang masih sibuk dengan peralatan memasaknya.
Aldha pun berdecak kesal mendengar jawaban sang ibu. Lalu gadis itu beranjak dan berjalan ke arah meja, di mana ponsel itu berada.
"Kakak..."
Melihat nama sang kakak di layar ponsel, membuat Aldha yang tadinya malas mengangkat telepon kini antusias dan langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang.
"Assalamualaikum Kak..." ucap Aldha yang tersenyum karena mengangkat telepon dari sang kakak.
"Wa'alaikumsalam... Aldha, tolong berikan ponselnya pada Ibu sekarang." jawab Aliyya yang terdengar sangat gelisah di seberang sana.
"Kenapa? Apakah Kakak tidak ingin berbicara denganku terlebih dahulu? Kakak jahat sekali sih!!!" sungut Aldha.
"Bukan seperti itu. Ini sangat penting. Ayo, cepat berikan ponselnya pada Ibu!!!" jawab Aliyya yang mendesak.
"Sangat penting? Baiklah, aku akan memberikan ponselnya pada Ibu." ujar Aldha yang sepertinya merasakan kegelisahan sang kakak.
Tanpa menunggu lagi, Aldha pun berlenggang pergi menuju ke arah dapur untuk memberikan ponsel itu. Setelah sampai di dapur, Aldha langsung menyodorkan ponsel yang masih tersambung dengan Aliyya pada sang ibu. Melihat ponsel yang disodorkan oleh sang putri, Sabrina pun mendongakkan kepala dan langsung meraih ponsel itu setelah mendapat isyarat dari Aldha kalau Aliyya ingin bicara dengannya.
"Assalamualaikum..." ujar Sabrina.
"Wa'alaikumsalam Ibu..." jawab Aliyya.
"Ibu baru saja membahas tentang kamu, Nak. Ada apa? Apakah semuanya baik-baik saja?" ujar Sabrina yang tersenyum senang mendapat telepon dari putri sulungnya.
"Iya, Bu. Semuanya baik-baik saja." jawab Aliyya yang masih terdengar gelisah dan sangat gugup.
"Jika semua baik-baik saja, lalu kenapa nada bicaramu sepertinya sedang gugup?" tanya Sabrina yang mulai mencurigai nada bicara sang putri.
"Ibu... hari ini aku dan Zein. Maksudku, kami..." jawab Aliyya yang semakin tidak karuan karena gugup.
Mendengar nada bicara sang putri yang gugup dan gelisah, sukses mengusik hati Sabrina yang selama ini sangat mengetahui hubungan keduanya. Wajah ibu dari dua anak itu pun berubah pias seketika seraya melihat ke Aldha dan seseorang yang berdiri di sampingnya.
"Kamu dan Zein kenapa? Apakah terjadi sesuatu Aliyya?" tanya Sabrina yang tiba-tiba merasa cemas.
"Kami baik-baik saja, Bu. Tapi kami akan pergi ke... Maksudku, hari ini kami..." jawab Aliyya yang gugup.
"Jangan ragu, Sayang. Ayo cepat katakan!!!" timpal seseorang yang berdiri di samping Sabrina saat ini.
Mata Aliyya seketika membulat sempurna saat mendengar suara yang tidak asing itu. Suara serak-serak basah sosok wanita paruh baya yang jika dilihat dari wajahnya, terlihat lebih tua dari Sabrina.
"Bibi Zubaidah..." ucap Aliyya yang tercengang.
"Iya, Sayang. Bibimu ada di sini. Beliau sampai di rumah tadi pagi dan saat ini kami sedang memasak. Ibu juga sengaja mengeraskan suara ponsel. Bicaralah dengannya." ujar Sabrina yang tau kalau Aliyya pasti terkejut.
Bukan terkejut lagi, niat Aliyya yang tadinya ingin bertanya pada Sabrina tentang bulan madu harus kandas begitu saja saat mengetahui keberadaan sang bibi. Belum lagi dengan suara ponsel yang sengaja dikeraskan Sabrina agar Zubaidah bisa ikut mendengar suara putrinya itu, membuat gadis yang berstatus sebagai istri Zein Abdullah itu mengurungkan niatnya untuk bertanya seraya menepuk jidadnya sendiri karena ceroboh.
Sabrina pun mendekatkan ponselnya pada Zubaidah, sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah saudara sepupunya. Sabrina dan Umar mempunyai hubungan yang sangat dekat dengan Zubaidah. Ibu Sabrina dan ibu Zubaidah merupakan adik kakak kandung. Saat ini wanita paruh baya itu sedang berada di rumah Sabrina untuk bersilahturahmi. Karena jarak rumahnya dengan rumah Sabrina yang sangat jauh, membuat Zubaidah hanya bisa sesekali saja untuk bisa bermain ke rumah sang adik.
"Assalamualaikum Bibi..." ucap Aliyya yang kikuk.
"Wa'alaikumsalam Aliyya... semoga Allah selalu menjaga dan melindungi kamu di sana. Oh iya, apa yang ingin kamu katakan pada ibumu tentang kamu dan Zein? Kalian ingin pergi ke mana?" ujar Zubaidah yang penasaran.
__ADS_1
"Sebenarnya kami hanya ingin pergi shopping, Bi." jawab Aliyya yang semakin salah tingkah dan gugup.
"Itu artinya kamu selalu memberitahu ibumu tentang semua yang ingin kamu lakukan? Benar 'kan?" ujar Zubaidah yang terkekeh geli mendengar kegugupan Aliyya.
Aliyya hanya menjawab pertanyaan sang bibi dengan tawanya yang kecil seraya memperlihatkan sederetan gigi putih nan rapih itu walaupun tidak dapat dilihat langsung oleh Zubaidah maupun Sabrina.
"Ibu... aku akan menghubungi Ibu nanti setelah Ibu tidak sibuk ya. Assalamualaikum." ujar Aliyya yang buru-buru.
"Iya, Sayang. Wa'alaikumsalam..." jawab Sabrina.
Sabrina terkikik geli karena mendengar kegugupan sang putri dari seberang sana dan langsung menutup telepon agar sang ibu tidak mencurigai rasa gugupnya. Setelah mendapat telepon dari sang putri, Sabrina dan Zubaidah pun melanjutkan kembali aktifitas memasak mereka.
***
"Mama harus melakukan sesuatu!!!"
Di ruang tamu, tampak tiga wanita cantik yang berbeda generasi tengah sibuk berbincang serius. Guratan wajah cemas dan gelisah sangat terlihat jelas di antara salah satu dari mereka. Siapa lagi kalau bukan Sonia dan kedua menantunya yang cantik namun busuk hatinya itu.
"Hentikan Zein untuk pergi, Ma." ujar Namira yang sejak tadi berusaha memberikan saran pada sang mama mertua.
"Mama... sepertinya Zein sudah berubah dan hal itu terlihat sangat jelas saat kita sarapan tadi pagi. Apakah Zein sudah mulai mencintai Aliyya?" timpal Shafia.
"Mama tidak akan mencegah mereka untuk pergi ke hotel itu. Tidak ada gunanya menghentikan mereka. Tidak ada sama sekali!!! Mama sedang berpikir bagaimana caranya untuk memisahkan Zein dari gadis itu." jawab Sonia yang berjalan dan membelakangi Namira dan Shafia.
"Apakah Mama mau aku memikirkan sebuah ide yang bagus lagi untuk memisahkan Zein dan Aliyya?" timpal Shafia yang beranjak mengikuti sang mama mertua.
"Untuk apa lagi ide darimu, Shafia? Semua yang terjadi saat ini karena dirimu!!! Kami tidak membutuhkan ide bagus apa pun lagi darimu!!! Sekarang, aku yang akan membantu Mama untuk memisahkan Zein dan Aliyya." serkas Namira yang menimpali seraya membidik Shafia.
Seketika darah Shafia mendidih mendengar perkataan Namira yang seakan sedang mempengaruhi Sonia. Ia memang sadar, kalau semua yang dilakukannya sejak kemarin selalu saja gagal dan hal itu akan berbahaya jika Sonia benar-benar tidak mau mengandalkan dirinya lagi.
"Shafia memberitahu Mama kalau kamu menyimpan video rekaman CCTV di supermarket waktu itu di dalam ponselmu. Apakah itu benar Namira?" ujar Sonia.
Senyum sinis Namira pada Shafia seketika hilang memudar tanpa bekas begitu saja saat mendengar pertanyaan Sonia. Sementara Shafia yang melihat itu tampak tersenyum miring penuh kemenangan lagi. Walaupun Shafia sering kali gagal dalam menjalankan rencana, tapi posisinya sebagai menantu kesayangan Sonia membuat posisinya di rumah itu sangat aman.
"Jika video itu dapat membahayakan semua rencana kita untuk menyingkirkan gadis Jogja itu, maka kalian akan tau sendiri akibatnya!!! Kita mempunyai tujuan yang sama, yaitu menyingkirkan Aliyya dari rumah ini dan hidup Zein. Untuk itu, kalian harus saling membantu! Mama tidak ingin ada pemerasan lagi di antara kalian. Hapus video itu!" tutur Sonia seraya melihat keduanya, bergantian.
"Sekarang!!!" ujar Sonia yang penuh penekanan.
Kalah telak dengan sang mama mertua membuat Namira tidak bisa bekutik sama sekali. Istir pertama Farhan itu pun beranjak dari posisinya dan berjalan menaiki tangga.
"Dasar wanita murahan!!! Aku lebih ingin memisahkan wanita itu dari Mama dari pada memisahkan Zein dan Aliyya. Shafia, wanita itu sepertinya sudah mencuci isi pikiran Mama. Kalau tidak, Mama tidak akan mungkin membelanya seperti itu. Tentang video itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah menghapus video itu. Kalau perlu aku akan menyimpannya di tempat lain."
Seraya berjalan menyusuri koridor menuju kamarnya, Namira yang kesal dan sangat membenci Shafia terus meracau. Namun dengan cepat ia melangkah menuju kamarnya untuk menyimpan video yang dimaksud sang mama ke tempat lain dan pastinya akan aman dari Shafia.
"Tolong dengarkan aku dulu! Sejak kemarin Abah selalu berbicara tanpa mendengarkan aku. Saat ini aku memiliki uang sebesar 50 juta dan tolong jangan beritahu siapa pun termasuk istriku, Shafia sekalipun. Karena ini rahasia kita. Baiklah, Abah. Aku akan pergi sekarang. Iya...."
Namira yang mengambil langkah lebar agar cepat sampai di kamarnya seketika terhenti saat mendengar suara tidak asing dari dalam kamarnya. Karena penasaran, Namira pun mendekat dan melihat ke arah dalam yang ternyata ada Farhan yang sedang berbicara dengan seseorang di telepon.
Dari gerak-gerik Farhan, pria itu tampak gelisah saat tengah berbicara dengan seseorang di seberang sana. Tidak berselang lama setelah menerima telepon. Farhan pun berlenggang pergi tanpa mengetahui keberadaan Namira di sisi pintu dan bersembunyi.
"Abah? Mas Farhan menghubungi ayahnya Shafia? Pria bangkotan yang bernama Jamal itu, kenapa dia menelpon suamiku? Dan kenapa Mas Farhan memberikannya uang sebesar itu? Untuk apa uang 50 juta?"
Sayup-sayup pembicaraan Farhan dan Jamar di balik ponsel pun terdengar oleh Namira. Tingkah dan sikap Farhan yang tidak tenang berhasil mengusik ketenangan Namira sebagai istri pertamanya. Kecurigaan Namira pun muncul dan tanpa berpikir panjang, wanita itu langsung mengambil langkah lebar untuk mengikuti suaminya itu.
***
"Ayo, masuklah!!! Ini kamar bulan madu kita malam ini."
Dengan gugup dan canggung Aliyya melangkah masuk bersama Zein yang ikut masuk. Seketika pandangan Aliyya mengedar ke seluruh isi kamar yang didesign sangat indah, romantis, dan penuh dengan bunga-bunga. Sementara Aliyya masih terperangah dengan isi kamar itu, Zein memilih untuk duduk di tepi tempat tidur. Senyum simpul di bibirnya tidak bisa hilang sejak mereka mulai melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar itu. Apakah Zein benar-benar sudah berubah dan ingin melakukan ritual bulan madu dengan sang istri? Mari kita saksikan.
"Kamarnya sangat indah, romantis dan... oh iya, ini ada sesuatu untukmu." ujar Zein seraya memberikan sebuah kotak panjang berpita merah pada Aliyya.
Aliyya yang sejak tadi masih mengedar pandangannya seketika tersadar dan menoleh ke arah Zein. Aliyya pun menerima dengan canggung sebuah kotak hadiah itu lalu membukanya. Betapa terkajutnya Aliyya saat melihat sebuah lingerie berwarna merah muda nan tipis dan juga sangat transparan. Mata Aliyya terbelalak sempurna saat melihat baju itu seraya menelan salivanya dengan kuat.
__ADS_1
Melihat raut wajah Aliyya yang sangat terkejut membuat Zein tersenyum miring. Lalu pria itu mengambil lingerie berwarna merah muda itu dan memampangnya di depan Aliyya. Guratan kecemasan semakin terlihat jelas di wajah gadis Jogja yang masih polos itu.
"Pakai ini!!!" ujar Zein yang masih memegang lingerie itu.
"Tidak, aku tidak bisa memakai pakaian seperti itu." jawab Aliyya yang semakin gugup dan tampak takut.
"Baiklah, aku tau. Jika kamu memakai pakaian ini, maka kamu akan terlihat semakin gugup dan tidak percaya diri. Tidak masalah. Kesenangan kita malam ini akan semakin bertambah, jika kamu tegang seperti ini. Aku sangat suka itu. Di dalam kamar mandi, ada bathub yang besar di sini dan aku mau mandi. Apakah kamu ingin ikut bersamaku?" tutur Zein yang menatap Aliyya dengan tatapan mesum.
Aliyya yang gugup dan takut melihat tatapan Zein kali ini pun beringsut mundur secara perlahan. Namun Zein terus mengikutinya, maju selangkah, dan terus mendekati sang istri yang sudah berkeringat dingin melihat tatapannya itu.
"Haa?" tanya Aliyya yang gugup dan bergerak mundur.
"Apakah kamu ingin ikut mandi bersama denganku?" tanya Zein yang semakin mendekati Aliyya.
"T-tidak." jawab Aliyya dengan cepat setelah mengerti maksud suaminya itu.
"Kalau begitu aku mau mandi dulu. Kamu tunggu di sini dan jangan pergi ke mana-mana. Aku akan segera kembali untukmu dan untuk malam kita yang sangat panjang." ujar Zein seraya menyelipkan rambut Aliyya ke telinga dengan sangat lembut.
Zein pun tersenyum simpul seraya menatap istrinya yang semakin terlihat gugup itu. Setelah itu, Zein berlenggang masuk ke dalam kamar mandi dan meninggalkan Aliyya yang semakin dirundung rasa cemas dengan semua ini.
***
"Ke mana anak itu? Dia yang menyuruhku datang ke sini tapi malah dia yang terlambat."
Sosok pria paruh baya yang tengah duduk di dalam sebuah restoran tampak meracau karena sejak tadi ia menunggu seseorang. Namun orang yang ditunggu tidak kunjung datang menghampirinya. Pria paruh baya itu terus meracau kesal seraya mengedar pandangan ke seluruh isi restoran dan berharap orang yang ia tunggu akan datang.
"Abah..."
"Akhirnya kamu datang juga, Farhan. Abah sudah lama menunggumu sejak tadi. Apa semuanya baik-baik saja?"
Ternyata pria paruh baya itu adalah Jamal dan ia sedang menunggu Farhan. Tanpa berpikir panjang dan basa-basi lagi, Farhan pun menyerahkan sebuah tas besar kepada Jamal secara tersembunyi. Setelah itu, Farhan duduk dan memesan minuman.
"Tidak cukup baik, Bah. Jumlah uang yang aku berikan kini sudah mencapai 50 juta dan masih tersisa 50 juta lagi. Bagaimana caranya aku membayar semua ini Bah?" ujar Farhan seraya meminum minuman pesanan miliknya.
"Kenapa kamu jadi panik seperti ini? Tenang saja, Abah rasa semua itu tidak seberapa dengan uang yang kamu miliki. Lagi pula kamu akan mengirimkan uang itu secara berangsur-angsur, bukan?" jawab Jamal yang terlihat lebih tenang dibandingkan Farhan.
"Bagaimana jika ada orang yang menyadari hal ini? Apa yang harus aku katakan pada mereka?" ujar Farhan yang terlihat semakin gusar dan frustasi dengan masalahnya.
"Itu salahmu sendiri!!! Kamu sendiri yang suka ikut taruhan dengan teman-teman Abah. Mulai dari 1 juta, 2 juta bahkan sampai 10 juta kamu ikut taruhan." jawab Jamal dengan santainya tanpa beban sama sekali.
Farhan pun mengusap kasar wajahnya karena frustasi dan cemas jika semua anggota keluarganya mengetahui semua yang ia lakukan selama di luar rumah. Entah taruhan apa yang Farhan lakukan hingga menimbulkan utang sebanyak itu. Tanpa Farhan sadari, ada dua pasang mata yang sedang memperhatikan dirinya sejak ia tiba di restoran itu.
***
Seraya menunggu Zein yang tengah mandi, Aliyya pun memilih untuk duduk sejenak mengistirahatkan dirinya sendiri. Namun, di saat Aliyya baru saja duduk dan mencari posisi nyaman, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka dan keluar lah Zein.
Dengan balutan baju handuk di tubuhnya dan rambut yang terlihat masih basah, Zein melangkah lebar untuk menghampiri sang istri yang tengah duduk menunggu dirinya. Entah Aliyya menunggunya atau tidak, pria itu tampak tak peduli dan langsung duduk di sisi Aliyya.
Perlahan Zein membuka baju handuknya di depan Aliyya. Sementara Aliyya yang melihat itu hanya bisa terdiam dan terpaku, memperhatikan apa yang tengah dilakukan oleh Zein. Setelah baju handuknya terbuka, Zein pun meraih bahu Aliyya dan mendorongnya ke tempat tidur. Entah hipnotis apa yang Zein gunakan sehingga Aliyya tidak melakukan perlawanan apa pun. Zein terus bergerak, mendekatkan wajahnya ke wajah Aliyya yang berada di bawahnya. Wajah Zein pun mendekat, mendekat dan semakin dekat dengan wajah Aliyya sehingga hidung mereka saling bersentuhan. Karena merasa takut, Aliyya pun memilih untuk memejamkan matanya dan menyadari sesuatu yang akan terjadi selanjutnya. Namun...
Cekrek!
Cekrek!
Cekrek!
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All πππ