Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 48 ~ Takut


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Cekrek!


Suara jepretan kamera dari ponsel Zein berhasil mengusik Aliyya yang masih terlentang di atas tempat tidur. Aliyya pun membuka mata dan melihat Zein yang tengah berdiri seraya mendekatkan kamera ponsel ke arah wajahnya.


Zein pun tersenyum miring melihat ekspresi Aliyya yang sangat ia sukai. Sementara Aliyya yang tidak mengerti dengan jalan pikiran Zein pun tampak bingung dan heran.


"Jangan pernah bilang padaku kalau kamu tidak akan merasa takut. Lihat ini!!! Foto ini akan aku jadikan sebagai wallpaper ponselku, dan setiap aku melihatnya maka aku bisa melihat ketakutan di wajahmu." ujar Zein seraya memperlihatkan foto ketakutan Aliyya.


Kini Aliyya mengerti apa maksud suaminya yang sangat menyebalkan itu. Ternyata Zein menerima hadiah bulan madu dari Umar hanya untuk mendapatkan raut wajahnya yang sedang ketakutan, kerena selama ini Aliyya selalu mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah takut dengan apa pun. Melihat gambar wajahnya di dalam ponsel Zein, membuat darah Aliyya mendidih. Dengan cepat ia meraih ponsel itu dan ingin merebutnya dari Zein, namun dengan cepat pula Zein menyembunyikan ponselnya ke belakang agar Aliyya tidak bisa menjangkaunya.


"Mamaku pernah mengatakan kalau aku tidak boleh mendekati hal-hal yang buruk!!!" ujar Zein seraya mencekam lengan Aliyya lalu mendorongnya dengan kasar.


Aliyya yang kesal pun mendengus kesal seraya menatap tajam suaminya itu. Namun tanpa menghiraukan tatapan Aliyya, Zein pun beranjak lalu meraih baju handuknya. Pria itu pun masuk lagi ke kamar mandi untuk memakai pakaiannya lagi. Setelah itu, Zein keluar dari kamar dan meninggalkan Aliyya dalam keadaan yang masih kesal.


"Dasar bodoh!!!" ujar Aliyya yang kesal.


***


"Ternyata Kak Farhan sedang menghadapi masalah yang sangat besar dan Kakak hanya diam saja. Lalu 50 juta..."


Namira dan Rizal baru saja pulang dari suatu tempat yang membuat keduanya mengetahui rahasia seseorang.


"Sstttt... itu baru 50 juta dan masih ada 50 juta yang tersisa. Semakin banyak utang Mas Farhan, maka akan semakin menyenangkan." jawab Namira yang tersenyum miring penuh arti.


"Menyenangkan? Maksud Kakak apa?" tanya Rizal.


"Maksudku adalah jika Papa dan Mama mengetahui hal ini, maka mereka akan sadar kalau Mas Farhan telah menikahi seorang gadis, anak dari seorang pria yang sedang berusaha menipu dan mempengaruhi putra mereka. Saat ini Jamal sedang menipu Mas Farhan dengan semua utang-utang itu." jawab Namira yang tersenyum miring.


"Tapi kita harus menghentikan Kak Farhan, Kak. Utang sebanyak itu, jika semakin bertambah maka keluarga ini akan semakin rugi." ujar Rizal yang berusaha meluruskan pikiran jahat sang kakak.


"Biar saja dan itu akan semakin bagus. Semakin lama masalah ini terbongkar, maka akan semakin banyak kerugiannya. Tapi pada saat masalah ini terbongkar, di saat itu pula Shafia dan Jamal tidak akan menjadi bagian dari keluarga bahkan dari rumah ini lagi. Masalah ini akan mengembalikan harga diri dan posisiku sebagai istri satu-satunya Mas Farhan di rumah ini, Rizal." tutur Namira.


Ternyata dua pasang mata yang memperhatikan Farhan saat berada di restoran bersama Jamal tadi adalah Rizal dan Namira. Mereka mengikuti Farhan dan mendengar semuanya yang Farhan bicarakan dengan Jamal.


Mendengar perkataan sang kakak membuat Rizal geleng kepala. Ternyata masalah rumah tangganya yang sangat sulit dan kacau karena kehadiran Shafia, telah membuat hati sang kakak berubah menjadi pendendam dan jahat seperti ini. Bahkan pada suaminya sendiri. Walaupun Rizal tidak menyukai Farhan karena telah mengkhianati sang kakak, tapi ia peduli dengan keluarga sahabatnya. Tapi sekarang apa yang bisa Rizal lakukan? Tidak ada!!!


Drrrrttt...


Lamunan Rizal membuyar saat ia merasakan getaran dari dalam saku celananya. Lalu dengat cepat ia meraih benda pipih nan cerdas itu untuk mengangkat telepon.


"Zein..."


Namira yang membelakangi Rizal langsung berbalik dan merebut ponsel sang adik.


"Jangan katakan apa pu tentang masalah ini pada Zein. Kalau kamu tetap mengatakannya, maka hidup kakakmu ini yang menjadi taruhannya." ujar Namira yang menatap tajam sang adik.


"Baiklah Kak..." jawab Rizal yang mengalah.


Rizal pun menghela nafas kasar seraya mengambil ponselnya dari tangan Namira. Lalu ia pergi untuk mengangkat telepon Zein dan meninggalkan Namira.


***


Ceklek!


Setelah semalaman tidak kembali ke kamar, Zein yang entah habis bermalam di mana, pun akhirnya kembali. Pria tampan itu langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu dan menemukan kondisi kamar yang kosong tanpa berpenghuni.


"Di mana Aliyya? Kenapa kamarnya kosong?"


Tidak menemukan keberadaan sang istri di dalam kamar, membuat Zein merasa senang karena ia bisa memakainya tanpa harus melihat wajah Aliyya di sana. Zein pun duduk di atas sofa seraya bersandar dan menghela nafas kasar.


Drrrrttt...


Namun, di saat Zein baru memejamkan matanya tiba-tiba ponselnya bergetar dan Zein langsung mengambilnya dari dalam saku celana. Tubuh Zein yang tadinya tersandari di sofa seketika tegak saat melihat nama seseorang di layar ponselnya. Matanya pun tampak membulat sempurna yang beriringan dengan rasa panik.


"Assalamualaikum, selamat pagi Pa..." ujar Zein yang mengangkat telepon dari Umar.


"Wa'alaikumsalam, Nak. Bagaimana dengan kamar bulan madunya? Apakah kamu dan Aliyya menyukainya?" ujar Umar yang terdengar sumringah di seberang sana.


"Tentu saja aku dan Aliyya sangat menyukainya, Pa." jawab Zein yang sedikit gugup.


"Syukurlah kalau begitu, Papa pun senang mendengarnya. Oh iya, bersiaplah!!! Papa akan ke sana menyusul kalian untuk sarapan bersama." ujar Umar yang sangat antusias.


"A-apa Pa? P-papa mau ke sini?" tanya Zein yang gugup.

__ADS_1


"Iya, Nak. Memang kenapa? Apakah Papa mengganggu kebersamaan kamu dan Aliyya?" tanya Umar.


"Tentu saja tidak, Pa. Papa bicara apa sih. Kalau begitu aku dan Aliyya akan bersiap. Sampai ketemu di sarapan nanti ya, Pa. Assalamualaikum." jawab Zein yang semakin gugup tapi berusaha untuk tenang.


"Wa'alaikumsalam..."


Setelah salam terjawab, Zein langsung memutuskan panggilan dan melihat sekitar kamar untuk mencari keberadaan istrinya. Guratan kecemasan pun terlihat sangat jelas di wajahnya saat ini. Cemas dan takut jika sang papa datang tapi tidak menemukan Aliyya bersama dengannya.


"Keponakan kesayangan... di mana kamu? Jangan bermain-main denganku ya. Pamanmu akan datang dan mengajak kita untuk sarapan bersama. Maka dari itu, cepatlah bersiap!!! Aliyya... oh Aliyya... di mana kamu?"


Zein yang berusaha mencari Aliyya pun terus meracau dan memanggil namanya seraya memeriksa semua ruang. Mulai dari kamar mandi hingga semua sudut, bahkan ke bawah kolong tempat tidur pu tak luput dari pemeriksaan. Namun hasilnya nihil, Aliyya tidak ada di dalam kamar itu.


"Aliyya tidak ada di mana pun. Lalu ke mana dia? Apa mungkin dia sedang berjalan-jalan di taman hotel? Ahh, lebih baik aku menghubunginya saja."


Tanpa berpikir panjang, Zein langsung mencari nomor ponsel sang istri di ponselnya lalu menghubunginya.


Drrrrtttt...


Saat Zein tengah berusaha menghubungi Aliyya, tiba-tiba ia mendengar suara getaran ponsel di atas nakas. Lalu ia beranjak dan melihat benda yang bergetar itu. Saat mata tajamnya melihat benda yang bergetar itu di atas nakas, Zein pun menghela nafas kasar dan memutus sambungan teleponnya pada Aliyya.


"Keponakan kesayangan... percuma saja kamu memiliki ponsel, jika kamu tidak membawanya ketika berpergian."


Ternyata Aliyya meninggalkan ponselnya di atas nakas dan membuat kepanikan Zein bertambah.


"Jika Papa datang ke sini dan tidak melihat Aliyya, maka aku akan terkena marah dan ceramah lagi. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus mencarinya."


Tanpa menunggu lagi, Zein langsung mengambil langkah seribu bayang dan berlari menuju lift untuk ke lantai satu. Setelah sampai di lantai satu, Zein yang panik pun berlari ke arah bagian resepsionis hotel untuk mencari informasi keberadaan sang istri yang menghilang secara mendadak.


"Permisi, apakah kalian melihat istriku?" tanya Zein.


"Tidak, Tuan." jawab salah satu resepsionis.


Zein pun berlari lagi, kini ia menggunakan tangga untuk naik ke lantai dua, tiga hingga lantai lima di mana kamar bulan madunya bersama Aliyya berada.


"Permisi, apakah kalian melihat istriku lewat sini?" tanya Zein pada resepsionis di lantai lima.


"Tidak, Tuan Zein." jawab resepsionis itu.


Jawaban yang sama seperti di lantai satu kembali didapatkan oleh pria tampan itu, dan membuat Zein terlihat frustasi karena belum menemukan istrinya. Semua lantai telah Zein telusuri tapi sang istri tidak ditemukan. Dengan langkah gontai, Zein yang gusar pun memilih untuk masuk ke dalam kamarnya.


Zein pun termenung di ambang pintu dan terus meracau. Entah panik dan takut karena tidak adanya Aliyya akan membuatnya terkena masalah yang akan berurusan dengan sang papa, atau panik dan takut karena Aliyya hilang. Wajah tampan Zein seakan terenggut begitu saja karena panik dan ketakutan. Lalu Zein pun masuk ke dalam kamarnya dan termenung.


"Ssrrruuuuutttt..."


Suara seruput seseorang yang tengah menikmati minuman pun menyadari lamunan Zein. Seketika Zein langsung menggiring matanya ke sumber suara dan melihat Aliyya yang tengah duduk di sofa seraya menikmati teh hangat.


Cekrek!


Satu jepretan dari kamera ponsel Aliyya berhasil mengambil jelas wajah Zein yang sedang ketakutan. Aliyya pun tersenyum miring seraya beranjak dan mendekati Zein.


"Bukan hanya aku yang ketakutan, Zein. Apa yang kamu pikirkan? Kamu pikir dengan membuatku ketakutan, aku akan takut begitu saja?" ujar Aliyya yang mengusap kening Zein dengan telunjuknya mengikuti kerutan rasa takut di keningnya.


Zein tetap bergeming, mungkin karena terkejut dan tidak menyangka kalau Aliyya akan membalas perbuatannya yang sempat ia lakukan pada Aliyya tadi malam. Melihat itu senyum miring Aliyya pun semakin mengembang luas karena puas bisa membalas perbuatan suaminya.


"Ini wallpaper ponselku yang baru! Apakah kamu menyukainya?" ujar Aliyya seraya memperlihatkan ponselnya pada Zein.


Melihat gambar itu, membuat rahang Zein mengeras, darahnya ikut mendidih. Wajahnya yang ketakutan terlihat sangat jelas di layar ponsel sang istri. Ingin rasanya Zein merebut ponsel itu. Namun Aliyya langsung beranjak pergi dan meninggalkan Zein dengan amarah yang membuncah.


***


"Uhuk... uhuk... uhuk... uhuk..."


Dengan langkah lebar Sabrina berjalan dari arah dapur seraya membawakan satu gelas minuman hangat untuk seseorang yang tengah batuk dan duduk bersandar di sofa ruang tamu.


"Minumlah teh jahe ini, Mas. Kamu itu bandel sekali sih. Sudah aku bilang jangan keluar rumah dulu di saat kondisi kesehatanmu tidak baik seperti ini." ujar Sabrina seraya memberikan segelas teh jahe hangat pada sang suami.


"Terima kasih, Sayang. Tapi percayalah, aku baik-baik saja." jawab Galuh yang berusaha menenangkan istrinya.


Sabrina menghela nafas kasar mendengar jawaban Galuh yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan kondisi kesehatannya saat ini. Akhir-akhir ini Galuh terlihat sangat sibuk bekerja, terkadang ia juga pulang larut malam untuk menyelesaikan semua pekerjaannya di perusahaan orang lain sebagai karyawan biasa.


"Kamu jangan khawatir, Sayang. Aku baik-baik saja. Aku hanya kurang istirahat karena terlalu sibuk bekerja. Tidur sebentar kondisiku akan kembali pulih kok." ujar Galuh seraya mengelus lembut wajah sang istri yang khawatir.


"Jangan terlalu memporsi tenaga dan pikiran kamu, Mas. Kamu juga harus mengingat kesehatan. Kalau kamu sakit lalu siapa lagi yang akan menghidupi keluarga kita." jawab Sabrina yang berusaha membujuk suaminya.


"Iya, aku tau. Jangan katakan pada anak-anak kalau aku sedang tidak enak badan ya. Kalau begitu aku ingin ke kamar dulu untuk berbaring." ujar Galuh lalu beranjak.

__ADS_1


Sabrina pun menghela nafas panjang, melihat sang suami berjalan menaiki tangga dengan keadaan yang tidak sehat. Tanpa Sabrina dan Galuh sadari, Aldha mendengar semua pembicaraan kedua orang tuanya. Sejak dulu sang ayah selalu berusaha keras untuk menghidupi keluarga mereka walaupun tak semewah dan sekaya orang lain. Memiliki rumah yang cukup besar seperti sekarang ini saja sudah menjadi berkah terbesar dalam hidup mereka.


Ayah sudah terlalu banyak berusaha sampai detik ini dan aku tidak bisa membiarkan Ayah terus bekerja keras. Aku harus mencari cara agar aku bisa membantu Ayah dan Ibu seperti Kakak. Aku juga harus bisa menjadi anak yang membanggakan untuk mereka. Gumam Aldha dalam hati.


***


"Dasar peniru!!!"


Setelah sarapan bersama di hotel, Zein, Aliyya dan Umar memilih untuk langsung pulang ke rumah karena mereka merasa kalau bulan madu tadi malam sudah cukup lalu Aliyya mendesak Zein untuk bisa pulang.


Zein terus meracau seraya memandangi layar ponselnya yang terpampang foto jelek istrinya dan berjalan menuruni tangga. Pria tampan itu terlihat masih jengah dengan sikap Aliyya yang meniru caranya sehingga gadis itu pun juga mempunyai foto wajahnya yang sangat jelek.


"Aku menggunakan foto jeleknya sebagai wallpaper ponselku, tapi dia juga melakukan hal yang sama!!! Apa-apaan dia? Beraninya melawanku dengan cara seperti itu. Awas saja nanti aku akan membalasmu lagi, keponakan kesayangan!!!"


Zein seperti orang gila yang tengah kesal, ia terus meracau dan memarahi gambar sang istri di layar ponselnya.


"Zein..."


Tanpa Zein sadari, saat ia berjalan melewati ruang tamu, ia tidak melihat keberadaan seseorang yang memperhatikan dirinya sejak tadi.


"Papa..."


"Kenapa kamu marah-marah seperti ini? Kamu marah pada siapa Nak?" tanya Umar yang memperhatikan Zein.


"Tidak pada siapa pun, Pa. Aku hanya..."


"Coba Papa lihat ponselmu!!!" potong Umar seraya mengambil ponsel putranya itu.


Melihat ponselnya yang sudah berada di tangan sang papa membuat Zein tidak bisa lagi berkutik. Zein pun akhirnya pasrah dan membiarkan Umar melihat layar ponselnya.


"Hmmm, foto Aliyya. Tapi kenapa fotonya seperti ini?" ujar Umar yang menoleh tajam ke arah Zein.


"Wajahnya memang seperti itu, Pa." jawab Zein asal.


"Hentikan, Zein!!! Keponakan Papa itu wanita yang sangat cantik, bukan seperti yang ada di dalam sini." serkas Umar seraya menepuk tangan sang putra.


Zein hanya pasrah mendapat pukulan kecil di bahunya dari sang papa, karena mau bagaimana lagi. Zein sangat menyukai foto jelek istrinya yang terlihat ketakutan itu.


"Ini ponselmu dan cepat kamu ganti foto Aliyya dengan foto yang lebih baik!!!" titah Umar seraya memberikan ponsel Zein kembali.


"Baiklah Pa..."


"Sebenarnya ada yang ingin Papa bicarakan denganmu, Zein." ujar Umar yang sudah akrab lagi dengan putranya.


"Apa itu Pa?"


"Saat ini dan selamanya kamu sudah menjadi seorang suami, tanggung jawabmu semakin besar, tidak hanya untuk dirimu tapi juga untuk Aliyya. Jadi, mulai saat ini bergabung lah dengan perusahaan Papa seperti Farhan." tutur Umar yang berusaha membujuk Zein.


"Tidak, Pa. Maksudku, baiklah. Aku akan bekerja. Tapi Pa, aku merasa kalau dalam bekerja kita haru sungguh- sungguh dan mencurahkan seluruh isi hati serta pikiran kita ke dalam pekerjaan itu. Karena untuk melancarkan pekerjaan itu, kita harus menyukainya sepenuh hati. Iya 'kan Pa?" jawab Zein seraya berjalan dan membelakangi Umar.


"Kamu benar, Nak. Jika seseorang tidak menyukai pekerjaannya, maka dia tidak akan bisa mengerjakan pekerjaan itu dengan baik dan benar." ujar Umar yang mendekati Zein lalu meraih bahunya.


"Kalau begitu Papa tidak perlu menyuruhku untuk bekerja karena aku akan bekerja sendiri." jawab Zein yang sedang membujuk Umar agar tidak menyuruhnya pergi bekerja.


"Benarkah?" tanya Umar.


"Tentu saja, Pa. Kalau begitu aku pergi dulu ya, Pa. Aku sangat menyayangi Papa." jawab Zein yang terburu-buru untuk pergi dari pada mendengar ceramah sang papa.


Umar pun menghela nafas panjang melihat tingkah Zein yang tetap kekeuh tidak mau bekerja untuk keluarganya. Padahal statusnya saat ini bukan seorang perjaka muda lagi, melainkan suami muda yang masih perjaka. Namun sepertinya Zein belum mengerti dan tidak mau mengerti sehingga membuat Umar tidak tau harus berbuat apa lagi.


"Dasar idiot!!! Saat ini kamu pasti sedang kesal dan kamu sedang merencanakan sesuatu, aku sangat yakin itu. Aku sudah bisa membaca isi pikiranmu. Kamu tenang saja, aku harus mengatakan kalau Allah telah mengirimku ke dalam hidupmu. Jadi bersiaplah untuk melawanku!!!"


Aliyya yang berjalan dari arah taman samping dan tampak meracau seraya memandangi layar ponselnya pun tidak menyadari keberadaan Umar di ruang tamu. Gadis Jogja itu sibuk berkutat dengan ponselnya dan marah-marah.


"Aliyya..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2