
...πΉπΉπΉ...
"Zein... kau mau ke mana?"
Tanpa menjawab pertanyaan Rizal, Zein yang tadinya sedang duduk bersama sang sahabat di sebuah Cafe, kini ia beranjak dari duduknya dan hendak pulang ke rumah dengan raut wajah yang sangat masam. Rizal pun tidak ada pilihan lain, selain mengikuti sahabatnya itu hingga mereka pun sampai di rumah.
Sejak melihat berita di surat kabar itu, Zein memang tidak bisa mengontrol emosinya. Bahkan ia mengajak Rizal ke Cafe hanya untuk menjadikan sahabatnya itu sebagai pelampiasan amarahnya terhadap Aliyya. Namun Rizal tetap berusaha meyakinkan Zein dan berpihak pada Umar dan Aliyya. Sepertinya karena hal itulah Zein semakin kesal dan memilih untuk pulang.
"Zein... dengarkan aku dulu!" tandas Rizal yang mencegah langkah Zein dan berdiri di depan sahabatnya itu.
"Kalau kau ingin aku mendengarkan semua perkataanmu yang terus terang membela papaku dan gadis itu, lebih baik kau pulang saja, Zal. Aku lelah dan ingin beristirahat." jawab Zein yang berusaha lari dari Rizal.
"Tapi Zein..."
Tanpa menghiraukan sahabatnya, Zein pun melanjutkan langkahnya dan hendak menaiki tangga dan Rizal masih kekeuh untuk mengikuti Zein.
"Zein, Rizal..."
Seketika Zein dan Rizal yang sedang kejar-kejaran pun berhenti. Lalu menoleh ke arah sumber suara yang tidak asing bagi keduanya. Zein pun menghampiri sosok itu dan Rizal masih mengikutinya dari belakang.
"Ada apa lagi Zein? Coba katakan pada Mama."
Ternyata yang memanggil kedua pemuda tampan itu adalah Sonia. Wanita paruh baya nan cantik dan elegan dengan penampilannya itu tengah berbicara via telepon dengan seseorang di dalam kamarnya. Lalu tidak sengaja, ia melihat Zein dan Rizal masuk ke dalam rumah.
Zein dan Rizal pun masuk ke dalam kamar Sonia. Zein duduk di tepi tempat tidur sang mama, sementara Rizal hanya berdiri di samping sahabatnya yang sedang galau dan frustasi itu.
"Apa lagi, Ma. Selain masalah gadis itu. Aku benar-benar sudah muak dan tidak tahan lagi dengan semua ini. Selain merasa berkuasa di dalam kamar, dia selalu membuatku susah. Surat kabar hari ini menerbitkan pengumuman acara resepsi pernikahan bodoh itu dan aku merasa tidak punya muka lagi di hadapan semua orang. Aku benar-benar muak dan malu, Ma. Gadis itu seakan mempunyai kuasa di mana saja, bukan hanya di rumah ini, tapi di seluruh sudut kota. Memang siapa dia dan mempunyai hak apa dia di sini." tutur Zein yang panjang lebar karena kesal pada Aliyya.
"Papamu yang memberikan semua hak itu padanya, Zein." jawab Sonia seraya menepuk halus bahu putranya itu.
Zein pun bangkit dari duduknya dan mendengus kesal. Benar saja yang dikatakan Sonia, kalau Umar sudah memberikan kebebasan untuk Aliyya di rumah, bahkan di kamarnya. Tidak hanya itu, kini seluruh penjuru kota sudah tau kalau Zein Abdulla yang tampan sudah menikah.
"Mama tau kamu sedang kesal, Nak. Tadi Mama sempat menghubungi Tuan pengacara keluarga kita. Mama sudah menceritakan semuanya, kalau kamu bertemu dengan gadis itu beberapa hari yang lalu dan kalian menikah di luar keinginan kalian. Lalu Mama sempat menanyakan sesuatu pada Tuan pengacara, apakah kalian bisa bercerai?"tutur Sonia yang menatap sang putra.
Zein pun terdiam dan tampak berpikir keras, sementara Rizal yang mendengarkan itu tampak syok dan tercengang dengan perkataan Sonia.
"Tuan pengacara mengatakan, kalau dua insan manusia yang menikah tanpa didasari cinta dan atas keterpaksaan orang lain, maka dua insan itu berhak untuk bercerai."ujar Sonia seraya berjalan membelakangi Zein.
Zein tetap bergeming dan terus mendengarkan penuturan sang mama. Sementara Rizal semakin cemas kalau Zein akan termakan ucapan ibunya dan membatalkan acara hari ini sebelum waktunya. Namun Rizal bisa apa. Dia hanya seorang sahabat bagi Zein dan saudara ipar Farhan yang tidak mempunyai kuasa penuh untuk menyanggah Sonia.
"Tentu saja semua kasus pernikahan tidak sama, Zein. Seperti kasusmu ini. Kamu menikah dengan Aliyya atas permintaan papamu dan papamu sudah mengatur semua untuk putra kesayangannya. Kamu memang anak yang baik, Sayang. Rela mengorbankan apa pun demi papamu."
Zein hanya mendengus kesal mendengar perkataan Sonia. Sementara Sonia masih berusaha untuk meyakinkan Zein, bukan meyakinkan, lebih tepatnya sedang memprovokasi putranya secara halus agar tidak terlalu tampak, bahwa dirinya lah yang sangat menginginkan perceraian putranya dengan Aliyya.
"Anyway, segera lah bersiap untuk acara resepsi sore ini. Papamu juga sudah mempersiapkan pakaian khusus untuk dirimu. Bersiaplah agar kita tidak terlambat, Zein." ujar Sonia seraya meraih bahu sang putra yang masih terdiam.
"Aku tidak akan menghadiri acara bodoh itu, Ma. Dan bersiap untuk apa? Untuk resepsi sebuah hubungan yang diawali dengan kepalsuan!!!" tandas Zein yang jengah.
"Ini baru permulaan, Sayang. Papamu bahkan sudah menyiapkan paket honeymoon untukmu dan gadis itu." ujar Sonia yang berpura-pura lesu dan tidak bersemangat.
"Apa? Tidak akan pernah ada honeymoon!!! Tidak akan!" tandas Zein yang terkejut dan semakin marah lalu pergi.
Rizal yang masih setia menemani Zein pun ikut pergi dan mengikuti sahabatnya itu. Sementara Sonia tampak sangat puas setelah mengatakan semuanya pada Zein.
***
"Aliyya... kamu sudah mencoba semua baju itu?"
Aliyya terkejut saat sedang asyik mencoba beberapa gaun untuk acara resepsi nanti sore, Namira menemuinya lagi.
"Sudah, Kak. Dan semua baju ini sangat pas di tubuhku." jawab Aliyya yang sudah selesai mencoba semuanya.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita pergi ke salon sekarang. Karena di hari spesialmu ini, kamu harus terlihat cantik dan berbeda di depan semua undangan nantinya." ujar Namira yang langsung menarik tangan Aliyya.
"Tapi Kak, kita tidak perlu pergi ke salon. Aku bisa menghiasi diriku sendiri tanpa harus ke salon." jawab Aliyya yang berusaha menolak ajakan Namira.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan Aliyya? Ke salon itu tidak hanya mempercantik diri tapi juga perawatan. Pokoknya kamu harus ikut denganku dan kita pergi ke salon sekarang juga." ujar Namira yang menarik tangan Aliyya lagi.
Aliyya pun pasrah dengan ajakan Namira. Lalu mereka pun berjalan menuruni tangga dan berpapasan dengan Sonia yang baru saja keluar dari kamar. Namun terlihat ada yang salah dengan wanita paruh baya itu. Sonia tampak terbatuk sehingga jalannya pun oleng. Melihat itu, Namira dan Aliyya pun menghampiri ibu mertuanya.
"Mama..." panggil Namira yang mendekat.
"Mama kenapa? Mama baik-baik saja 'kan?" timpal Aliyya yang ikut mencemaskan Sonia.
"Tidak apa-apa, hanya elergi saja. Kalian jangan khawatir. Oh iya Namira, kamu akan pergi ke salon dengan Aliyya 'kan?" jawab Sonia yang terbatuk lalu melihat ke Namira.
"Iya Ma..."
"Mama titip Aliyya ya. Tolong antarkan dia ke salon dan kembalilah tepat waktu karena Aliyya tanggung jawabmu hari ini." ujar Sonia yang sesekali menoleh ke arah Aliyya.
"Tentu saja, Ma. Aku akan tiba di rumah tepat waktu." jawab Namira yang tersenyum pada keduanya.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya satu hal lagi, jangan lupa belikan obat elergi Mama di supermarket itu. Letaknya toko obat itu ada di lantai satu. Tolong kalian belikan ya. Kalau tidak Mama akan kesulitan menghadiri acara nanti, jika terus batuk seperti ini." tutur Sonia yang terbatuk lagi.
"Pasti Ma..."
Sonia hanya mengangguk dan tersenyum. Sementara Namira dan Aliyya bergegas pergi karena harus mengingat waktu yang sudah semakin siang. Lalu kedua menantu Sonia itu langsung menaiki mobil pribadi dan melaju dengan kecepatan kilat.
Tidak lama kemudian, Namira dan Aliyya pun sampai di sebuah supermarket terbesar di Jakarta. Di dalam sana sangat lengkap, mulai dari peralatan rumah tangga sampai salon kecantikan pun ada di sana. Aliyya yang berjalan bersama Namira pun tampak takjub dengan supermarket itu, tanpa sadar kalau mereka akhirnya sampai di sebuah salon kecantikan.
Namira dan Aliyya pun langsung memasuki salon itu. Lalu berpencar karena Aliyya ingin langsung berhias, sementara Namira memilih untuk memanjakan dirinya terlebih dahulu.
"Nona Namira... bagaimana menurut anda? Apakah adik anda ini sudah terlihat sangat cantik?" tanya salah satu pelayan salon yang telah selesai merias Aliyya.
"Sempurna!!!" jawab Namira seraya mengacungkan jempol.
Aliyya pun tersenyum lega mendengar respon Namira. Ia lega karena Namira bersikap baik padanya dan rela pergi ke salon untuk menemaninya berhias. Namira pun ikut tersenyum melihat Aliyya. Lalu gadis Jogja itu memilih untuk duduk seraya menunggu Namira yang belum selesai memanjakan diri.
"Aku minta maaf ya, Aliyya. Sepertinya rambutku belum selesai dan kita akan sangat terlambat. Kalau begitu seperti ini saja, bisa kah kamu pergi ke lantai bawah untuk membelikan obat Mama? Dengan begitu kita akan lebih hemat waktu dan tidak akan terlambat." ujar Namira yang menoleh ke belakang melihat ke arah Aliyya.
"Baiklah Kak, aku akan turun ke bawah." jawab Aliyya yang langsung beranjak dan pergi.
***
"Ma... aku benar-benar tidak habis pikir. Kenapa Papa membuat pesta sebesar dan semeriah ini ya?"
Di sela-sela kesibukan semua orang, Shafia sang menantu kesayangan Sonia hanya berlenggang ke sana ke mari tanpa melakukan apa pun. Lalu ia menghampiri Sonia yang sepertinya sedang menunggu kabar seseorang dari ponsel miliknya.
"Biarkan saja Shafia. Lebih besar pestanya, maka akan semakin ramai tamu undangan yang berdatangan. Dengan begitu, akan semakin besar pula keributannya nanti." ujar Sonia yang berjalan memperhatikan sekitar.
Drrrrttt!
Saat Sonia dan Shafia sedang berjalan seraya mengedar pandangan, tiba-tiba saja Sonia merasakan getaran di tangannya. Dengan semyuman yang teramat lebar, Sonia langsung mengangkat telepon itu.
"Ya Namira..."
"Saat ini putri menantu Mama yang baik dan cantik itu sedang menuju ke lantai bawah." jawab Namira di sana.
"Kerja yang bagus, Sayang. Kita hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja untuk melanjutkan misi." ujar Sonia yang tersenyum bangga dan senang.
"Terima kasih Ma..." ucap Namira yang senang karena mendapatkan pujian dari sang mama mertua.
Panggilan kedua wanita berbeda generasi itu pun berakhir. Sonia tampak tersenyum puas mendapat kabar dari sang menantu pertama. Sementara Shafia yang terus mengekor di belakang Sonia pun tampak cemburu karena Namira berhasil mendapatkan pujian dari Sonia.
"Namira sudah menyelesaikan tugasnya dengan sangat baik. Kini giliran kamu, Shafia. Dan ingat!!! Mama tidak ingin terjadi kesalahan dalam misi kita ini." ujar Sonia yang melirik Shafia.
"Dengan senang hati, Ma. Mama jangan khawatir." jawab Shafia yang menyeringai licik dan belalu pergi.
***
Aliyya yang turun ke lantai bawah pun terus berjalan mencari apotek, tempat membeli obat Sonia. Aliyya pun terus berjalan menyusuri supermarket sesuai dengan alamat yang diberikan oleh Namira. Di saat Aliyya sedang menyusuri setiap tempat, tiba-tiba saja ia merasakan ada seseorang yang sedang mengikutinya secara diam-diam. Namun saat Aliyya menoleh ke belakang, tidak ada siapa pun di belakang.
__ADS_1
Aliyya hanya menghela nafas kasar berusaha untuk berpikiran positif lalu berjalan lagi. Namun hal yang sama kembali terjadi. Aliyya merasakan ada orang asing yang berjalan dan mengikutinya. Ketika Aliyya menoleh, hasilnya tetap sama, tidak ada siapa pun. Perasaan itu muncul sampai Aliyya berhasil menemukan toko obat yang dimaksud oleh Namira. Dengan langkah cepat dan tidak bertele-tele, gadis itu pun membayar obat yang ia belikan untuk sang mama mertua.
"Terima kasih..."
Setelah selesai membayar, Aliyya pun hendak menyusul Namira yang masih berada di salon.
Bruk!
Saat hendak berjalan keluar, tanpa sengaja Aliyya menabrak seseorang dan membuat semua barang di dalam tasnya berserakan. Sosok yang menabrak Aliyya pun tampak ikut membereskan barang-barang Aliyya. Setelah itu, sosok gadis yang menabrak Aliyya pun langsung pergi tanpa menerima permintaan terima kasih dari Aliyya. Sementara Aliyya hanya menggelengkan kepala lalu beranjak dan berjalan lagi.
Namun saat gadis itu melewati alat detektor logam yang ada di depan pintu masuk, tiba-tiba saja alat itu berbunyi sangat keras. Aliyya pun sangat terkejut saat mendengar suara bising yang keluar dari mesin detektor itu. Tidak hanya Aliyya, semua orang yang ikut mendengar pun tampak berkumpul di dekat alat canggih itu.
"Nona... boleh kah saya memeriksa tas anda?" tanya salah satu petugas keamanan di sana.
"Tapi untuk apa Pak? Saya..."
"Tidak ada tapi, Nona. Saya harus memeriksa barang-barang yang ada di dalam tas anda!" potong petugas itu seraya meraih tas Aliyya.
"Tapi Pak..."
Tanpa menghiraukan Aliyya, petugas itu pun merebut paksa tas Aliyya dan membongkar semua isinya. Aliyya yang melihat pun hanya bisa terdiam karena ia merasa tidak mengambil apa pun dari dalam toko obat itu. Namun yang ada di dalam bayangan Aliyya pupus seketika, tatkala petugas keamanan memegang sesuatu yang berasal dari dalam tasnya. Sebuah kotak jam tangan wanita dan itu berhasil membuat Aliyya sangat terkejut.
"Anda telah mencuri jam tangan ini, Nona!" tandas petugas keamanan yang geram.
"Saya tidak mencuri apa pun, Pak. Bagaimana bisa jam tangan itu ada di dalam tas saya?" jawab Aliyya yang sangat syok dan berusaha untuk membela diri.
"Barang bukti sudah di tangan saya, Nona. Anda tidak bisa mengelak lagi! Ayo ikut dengan saya ke bagian keamanan agar masalah ini bisa diproses lebih lanjut!" tandas petugas itu.
"Tapi saya tidak mencuri, Pak. Saya mohon!" jawab Aliyya yang berusaha membela diri.
Tanpa menghiraukan Aliyya, lagi-lagi petugas itu menarik paksa tangan gadis malang itu. Petugas itu terus menyeret Aliyya, seakan ia benar-benar bersalah. Bulir bening di matanya pun mengalir tanpa izin karena cemas karena dituduh mencuri.
"Kak Namira..."
Saat petugas keamanan menyeret kasar Aliyya, tiba-tiba matanya tertuju pada Namira yang sedang menuruni eskalator seraya menelepon.
"Kak Namira... Kak... Kakak... Kak Namira."
Namira yang sedang menuruni eskalator pun tampak menyeringai puas saat mendengar suara itu. Namira pun terus menuruni eskalator tanpa menoleh ke arah Aliyya. Sementara Aliyya semakin dibuat cemas karena Namira tidak mendengarnya, bukan tidak mendengar, lebih tepatnya disengaja oleh istri pertama Farhan itu.
"Ayo, ikut dengan saya! Anda harus diproses!" tandas petugas keamanan yang menarik Aliyya.
"Tapi saya tidak mencuri apa pun, Pak!" jawab Aliyya yang berusaha melepaskan diri.
Petugas keamanan pun terus menarik Aliyya hingga mereka masuk ke dalam sebuah ruang khusus keamanan. Di sana juga ada beberapa orang kepolisian yang sedang bertugas untuk mengawasi supermarket besar itu.
"Ada apa ini?" tanya salah satu Polisi.
"Nona ini sudah mencuri barang di lantai satu, Pak. Mohon segera diproses." jawab petugas.
"Apakah benar Nona?" tanya Polisi itu.
Aliyya yang menangis pun gemetar ketakutan. Pasalnya, ia baru beberapa hari tinggal di kota besar seperti Jakarta. Lalu hari ini, tanpa ia sangka, ia harus mengalami hal buruk dan dituduh sebagai pencuri. Air matanya pun ikut semakin deras dan keringat dingin pun turut bercucuran di wajah cantiknya.
"Saya tidak mencuri apa pun, Pak Polisi."
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All πππ