
...πΉπΉπΉ...
Tidak hanya semua orang yang berdiri di depan pentas. Zein yang berdiri di samping Aliyya pun tampak terhenyak dan bungkam mendengarkan penuturan panjang lebarnya tadi. Entah ia suka atau tidak dengan ungkapan isi hati istrinya itu, hanya Zein lah yang tau. Wajahnya yang tampak biasa saja tanpa ekspresi, membuat siapa saja tidak mampu membaca pikiran seorang Zein.
Aliyya yang berkaca-kaca pun menggiring matanya ke arah Zein. Sementara itu, Zein tampak melirik dan menatap manik Aliyya. Cukup lama mata keduanya saling terkunci sehingga suara riuh tepuk tangan pun yang berhasil memutuskan rantai tatapan mereka. Zein yang terlebih dahulu memutus tatapan itu pun memilih untuk memalingkan wajahnya. Sementara Aliyya pun demikian. Apakah Zein bisa dikatakan sebagai pria idaman Aliyya? Apakah mereka Zein yang akan menjadi pria idaman itu nantinya? Entahlah, hanya waktu yang mampu menjawab semua pertanyaan itu.
***
Malam yang semakin larut menuntut seorang wanita paruh baya nan selalu berpenampilan elegan untuk melangkahkan kaki menuju ke dalam kamar tidurnya. Namun di saat ia masuk, matanya yang tajam itu tiba-tiba tertuju pada setangkai bunga mawar yang terletak di sofa. Wanita paruh baya nan elegan itu pun berjalan dan mengambil bunga itu. Senyum manis yang sangat jarang terbit, tiba-tiba menghiasi wajah wanita itu. Tapi tidak hanya sampai di sana, ia juga melihat setangkai bunga mawar yang sama di atas tempat tidurnya.
Dengan senyum manisnya yang lebar, wanita itu pun mengambil kedua bunga mawar itu. Aroma harum yang sangat menenangkan membuatnya merasa nyaman dan cintai oleh sang suami. Wanita paruh baya itu terus mencium aroma bunga mawar merah itu secara intens sehingga tidak sadar, ada seseorang yang berdiri tepat di sampingnya.
"Selamat hari valentine, Sonia, istriku."
Sonia yang terbuai karena aroma bunga mawar pun tersadar lalu menoleh ke arah sumber suara.
"Selamat hari valentine juga untukmu, Pa." ujar Sonia yang tersenyum manis pada Umar.
Umar pun ikut tersenyum melihat istrinya yang terlihat bahagia hari ini. Mungkin karena hari ini adalah hari kasih sayang jadi membuat mood seorang Sonia menjadi baik dari sebelumnya. Melihat mood sang istri yang sangat baik itu membuat Umar melanjutkan aksinya. Secara perlahan kedua tangannya yang tadinya ada di belakang tubuhnya untuk bersembunyi, keluar. Umar menyodorkan sebuah perhiasan mahal yang tentu saja selalu menjadi incaran bagi setiap wanita seperti Sonia. Perhiasan itu tampak berkilauan saat terkena cahaya lampu dan sukses menghipnotis mata Sonia seketika.
"Ini hadiah hari valentine untukmu, Sonia." ujar Umar seraya memberikan sebuah perhiasan.
"MasyaAllah... perhiasan ini sangat cantik, Pa. Aku sangat menyukainya. Terima kasih banyak suamiku." jawab Sonia yang berbinar menerima perhiasan itu dari tangan Umar.
"Perhiasan itu memang sangat cantik. Tapi dia tidak secantik istriku ini." timpal Umar seraya memegang lembut kedua bahu sang istri.
Merah sudah kedua pipi ibu dari dua anak itu ketika mendengar perkataan sang suami. Umar memang selalu pandai membuat hati Sonia berbunga-bunga walaupun usia mereka tak lagi muda. Namun keduanya tetap harmonis dalam hubungan suami istri.
"Sonia... ada yang ingin aku katakan padamu." ujar Umar seraya meraih kedua bahu istrinya.
"Ada apa Pa?" tanya Sonia.
"Aku ingin minta maaf atas perkataanku yang seharusnya tidak pernah aku katakan padamu. Kata cerai malam itu seharusnya tidak keluar dari mulutku dan aku sangat menyesal setelah itu. Kamu tau bukan, kalau aku mengatakan itu hanya untuk memberikan pengertian padamu, bahwa yang dikatakan oleh Zein di saat mabuk malam itu tidak benar. Apa pun yang dikatakan oleh orang yang sedang mabuk, itu tidak benar." tutur Umar yang tertunduk merasa bersalah.
Jika Umar merasa bersalah hanya karena satu kata cerai yang seharusnya memang tidak ia katakan di saat mabuk, maka lain hal dengan Sonia. Wanita paruh baya itu tampak pias dan berubah masam seketika saat mendengarkan penjelasan Umar. Entah kenapa Sonia merasa dipermainkan oleh sang suami hanya untuk mempertahankan hubungan Aliyya dan Zein. Sungguh, kata-kata Umar membuatnya kesal. Namun karena malam ini adalah hari valentine, Umar selamat dari kemarahan Sonia.
"Aku benar-benar minta maaf, Sonia. Maukah kamu memaafkan aku?" ujar Umar lagi yang meraih tangan sang istri.
"Sudahlah, Pa..."
"Berjanjilah satu hal padaku, Sonia! Tidak akan ada yang mengatakan kata itu lagi di rumah ini. Baik di hadapanku maupun di belakangku. Aku ingin kamu membantuku untuk menjaga setiap hubungan yang ada di rumah ini." tutur Umar.
"Apa yang kamu katakan Pa? Aku tidak akan menjanjikan apa pun karena kamu lah yang memutuskan setiap keputusan di rumah ini." timpal Sonia yang berpindah duduk ke samping sang suami dan menenangkannya.
Umar yang menatap sang istri pun hanya bisa tersenyum seraya menghela nafas lega lalu ia memeluk erat sang istri.
***
Setelah mengambil paket kiriman dari tukang POS, Aldha pun berlari masuk ke dalam kamar dan duduk di tepi tempat tidurnya. Matanya itu tampak berbinar tatkala melihat amplop cantik berwarna merah muda yang dikirim seseorang. Dengan antusias, gadis itu pun mulai membuka amplop cantik yang ada di hadapannya kini.
"Aldha... kamu belum tidur Nak?"
__ADS_1
Saat Aldha baru membuka penutup amplop, tiba-tiba saja suara Sabrina terdengar lagi memanggilnya. Tapi kali ini, suara sang ibu terdengar sangat dekat dan membuatnya langsung merebahkan tubuhnya lalu menarik selimut hingga menutupi amplop besar itu. Seperti yang Aldha duga, sang ibu benar-benar datang dan masuk ke dalam kamarnya yang masih terang.
Sabrina yang masuk pun menggelengkan kepala saat melihat putri bungsunya itu sudah terlelap, tapi lampu kamarnya belum dimatikan. Sabrina pun menghela nafas panjang lalu berjalan masuk untuk mematikan lampu kamar sang putri.
"Selamat tidur putriku..."
Dengan penuh kasih sayang, Sabrina menghujani sang putri kecupan hangat sebagai pengantar tidur malamnya. Setelah itu, Sabrina pun berjalan keluar dan menutup pintu kamar sang putri.
Mendengar suara pintu yang tertutup, Aldha yang hanya berpura-pura tidur pun bangun kembali. Ia langsung menghidupkan lampu kamar dan melanjutkan aksinya untuk membaca isi amplop cantik yang besar itu. Perlahan Aldha membuka amplop merah muda dan mengeluarkan isinya. Mata gadis muda itu tampak berbinar tatkala melihat sebuah kartu ucapan hari valentine dari seseorang yang ia kenal dari media sosial.
"Kartu ini cantik sekali. Itu artinya, dia pasti juga sangat tampan. Tapi kenapa dia mengirim kartu ini ke kampus? Kalau Ibu sampai tau tentang ini aku bisa digantung hidup-hidup. Sepertinya aku harus menghentikan chatting-ku dengan pria itu. Aku tidak ingin Ibu dan Ayah tau lalu mereka memarahi aku. Tidak, tidak, tidak... aku harus berhenti chatting dan tidak menghubunginya."
Ternyata yang mengirimkan kartu ucapan dan melakukan chatting dengan Aldha adalah seorang pria. Aldha mengenalnya dari media sosial dan sering melakukan komunikasi via chatting. Mereka belum pernah bertemu dan bertatap muka sebelumnya. Namun setiap hari ada kesempatan, adik bungsu Aliyya ini pasti selalu berkomunikasi dengan pria itu. Untuk sesaat, Aldha meracau karena takut Sabrina dan Galuh akan mengetahui aktifitasnya selama ini. Namun sejurus kemudian, Aldha meraih kartu ucapan itu lagi dan terus tersenyum. Sepertinya gadis muda ini sedang mengalami proses yang berbeda di dalam hidupnya.
***
"Sayang... tunggu aku! Dengarkan aku dulu!"
Lain di Jogja, lain pula di Jakarta. Jika suasana tenang dan sangat damai di rumah Aldha, tapi berbeda dengan di rumah Umar. Setelah pesta selesai, Namira dan Farhan yang sudah pulang terlihat sedang kejar-kejaran di dalam rumah. Wajah masam dan kesal Namira terlihat jelas saat Farhan berusaha menghentikan istrinya itu.
"Sayang... tunggu dulu!!!"
Farhan yang mempunyai langkah besar pun akhirnya berhasil menghentikan sang istri. Sementara Namira tampak berusaha keras melepaskan dirinya dari tangan sang suami.
"Apa yang ingin kamu jelaskan lagi sih Mas? Semuanya sudah jelas! Kamu berjanji hanya dengan aku pergi ke pesta itu lalu kenapa istri keduamu itu juga ada di sana?" tandas Namira yang kecewa dan marah pastinya.
"Sayang... aku juga tidak tau kenapa Shafia juga ada di sana. Mungkin memang benar yang dia katakan kalau Mama yang menyuruhnya pergi." jawab Farhan dengan nada melas dan mengiba.
"Shafia pasti sudah berbohong, Mas. Mama tidak mungkin menyuruhnya pergi ke pesta itu." tandas Namira yang masih kuat dengan pendiriannya.
Namira yang kesal pun hanya mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya dari Farhan.
"Yang dikatakan Shafia benar, Namira. Mama yang menyuruhnya pergi ke pesta itu."
Namira dan Farhan terperanjat seketika saat mendengar suara yang tak asing itu. Mereka serentak menoleh ke arah sumber suara itu.
"Selamat malam, Ma..." ujar sepasang suami istri yang tengah bertengkar karena pesta itu.
"Selamat malam... Mama yang meminta Shafia untuk menghadiri acara itu. Jadi kalian jangan bertengkar lagi karena hari sudah larut malam. Sekarang pergilah ke kamar kalian!" ujar Sonia.
"Baiklah Ma..." jawab keduanya.
Farhan dan Namira pun berjalan meninggalkan Sonia. Sementara Shafia datang dari belakang sang mama mertua karena ia sejak tadi berdiri dan bersembunyi di belakang Sonia.
"Mama... lihatlah apa yang aku dapatkan sebagai hadiah hari valentine-ku untuk Mama." ujar istri kedua Farhan yang tentunya sedang menguasai hati Sonia sepenuhnya.
Shafia pun memperlihatkan foto yang ia ambil di pesta tadi. Foto apa lagi kalau bukan foto Aliyya saat gaun belakangnya terbuka karena Zein. Melihat foto itu, seringai tajam muncul dari bibir Sonia. Puas, tentu saja Sonia sangat puas saat melihat foto itu. Sementara Namira yang tengah menaiki tangga tampak mengeryitkan dahi saat melihat kesibukan kedua wanita di bawah sana. Ada perasaan cemburu di dalam hatinya. Namun apa yang bisa Namira lakukan saat ini, pastinya tidak ada.
Namira pun melanjutkan langkahnya. Tidak lama kemudian, suara langkah kaki dari arah luar pun mencuri perhatian Sonia dan Shafia. Ternyata itu Aliyya dan Zein yang baru sampai di rumah. Seringai puas semakin terbit di bibir keduanya. Apalagi setelah melihat sebuah piala yang ada di pangkuan Aliyya. Niat jahat pun terpancar dalam kepalanya seketika.
"Saat ini semuanya tampak tenang. Tapi besok pagi, semua orang akan kalang kabut. Shafia... cepat hubungi pihak surat kabar harian. Mama ingin bicara dengan mereka." ujar Sonia seraya memperhatikan Aliyya dan Zein yang berjalan.
__ADS_1
Dengan seringai pula, Shafia langsung membuka ponselnya dan menghubungi pihak surat kabar atau lebih tepatnya, pihak yang mencetak koran untuk melakukan sesuatu untuk menantunya itu. Setelah sambungan terhubung, Shafia pun memberikan ponselnya pada sang mertua.
"Hallo, surat kabar harian... ada sebuah foto yang harus kalian cetak untuk besok hari!!!"
***
Malam pun berganti pagi. Cuaca hari sangat terang dan cerah, sama seperti hati seorang wanita paruh baya yang tak lain adalah Nyonya besar di dalam Berlian Villa (rumah Umar). Senyum lebar juga terlihat di wajahnya yang tidak muda lagi saat melihat pelayan rumah membawa kumpulan surat kabar harian pagi ini.
Tanpa membacanya, Sonia sudah tau apa yang ada di dalam surat kabar itu. Karena di halaman pertama saja tampak sebuah foto yang tidak asing untuk matanya. Setelah puas melihat kumpulan surat kabar itu di atas meja tamu, Sonia pun meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Hallo Jeng... ini aku, Sonia. Aku ingin mengajak teman-teman sosialita kita untuk berkumpul di rumahku hari ini." ujar Sonia pada salah satu temannya.
"..."
"Ya, tidak ada apa sih sebenarnya. Tapi aku hanya ingin berkumpul saja dan sekaligus aku ingin memperkenalkan menantuku yang baru pada kalian semua." ujar Sonia lagi.
"..."
"Ini hanya acara kita saja kok, Jeng. Acara kecil seraya minum teh dan mengobrol bersama. Lagi pula acara kecil ini hanya sebentar saja." ujarnya.
"..."
"Baiklah, aku akan menunggu kalian di rumah." jawab Sonia yang mengakhiri pembicaraannya.
Sonia pun terlihat senang karena para teman sosialitanya itu bisa meluangkan waktu dan pastinya akan datang ke rumahnya. Entah apa lagi rencana wanita paruh baya itu pagi ini dan sampai kapan ia akan terus seperti ini. Selalu berusaha menyudutkan menantu barunya yang tak lain adalah Aliyya. Semoga saja Aliyya tidak dipermalukan lagi seperti yang sudah-sudah.
"Hmmm itu ide yang sangat bagus, Sonia. Kita memang harus memperkenalkan Aliyya karena dia tidak jadi mengadakan resepsi." ujar Umar yang baru datang dari arah kamarnya.
"Tentu saja, Pa. Aliyya memang harus kita perkenalkan pada semua rekan penting kita. Papa tenang saja karena aku sudah mengatur semuanya. Aku ingin sekali memperkenalkan Aliyya pada teman-temanku dan karena itulah aku mengundang mereka ke sini." jawab Sonia.
"Baguslah kalau seperti itu. Dengan seperti ini, kejadian yang memalukan malam itu bisa kita kurangi dan Aliyya tidak akan merasa malu lagi." ujar Umar yang tersenyum senang.
Seringai tipis pun muncul lagi menghiasi bibir Sonia saat mendengar perkataan Umar. Mata tajamnya sesekali melirik ke arah surat kabar yang terletak rapih di atas meja tamu.
Kamu benar sekali, Pa. Kejadian memalukan malam itu memang akan berkurang dan akan semakin bertambah. Gumam Sonia dalam hati.
"Ayo sarapan dulu, Pa. Sarapan pagi sudah siap semua dan surat kabar juga sudah ada." tutur Sonia yang menoleh dan mengusap bahu Umar.
"Baiklah..."
Umar pun berlenggang pergi hendak menuju meja makan, sedangkan Sonia tersenyum licik sesaat matanya kembali melirik sesuatu yang terletak di atas meja tamu.
"Kita lihat saja, Umar. Apa yang akan terjadi hari ini pada keponakanmu itu!!!"
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All πππ