Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 33 ~ Tanpa Alasan


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Biar aku saja, Zein!!! Selarut ini semua orang sudah terlelap dan tidak akan bisa melakukan pekerjaan. Jangan mengganggu orang tidur!!!"


Aliyya pun berusaha untuk membujuk Zein dan tidak memanggil teknisi di saat larut malam karena percuma saja. Memang teknisi mana sih yang mau bangun dari tidurnya di malam larut seperti ini? Sungguh aneh sekali Zein Abdullah ini.


"Sudahlah, Zein! Kenapa tidak kita biarkan saja Kakak ipar mencobanya?" ujar Rizal yang mendekati Zein dan berbisik di telinganya.


"Jangan pernah memanggilnya Kakak ipar! Dia bukan kakak iparmu!" tandas Zein yang berbisik namun dengan tatapan penuh peringatan.


Rizal pun mundur selangkah ke belakang untuk menjauhi tatapan tajam Zein. Sementara Aliyya, tanpa menghiraukan Zein, gadis itu berlenggang pergi lalu disusul pula oleh Farhan dan semua teman Zein. Lalu Rizal yang takut dengan Zein pun memilih untuk menyusul teman-temannya dan Zein terpaksa mengikuti mereka semua.


Saat sampai di luar, Aliyya pun langsung melakukan aksinya. Menaiki tangga dan memperbaiki kabel televisi yang terhubung ke saluran antenna. Sementara Zein, Rizal dan teman-temannya memantau dari bawah seraya memegangi tangga yang Aliyya gunakan untuk meraih kabel antenna.


"Hati-hati, Aliyya!!!" seru Karim yang stand by memegangi tangga di bawah.


Aliyya pun hanya mengangguk seraya tersenyum pada Karim sebagai bentuk terima kasih karena mengkhawatirkan dirinya. Lalu melanjutkan aksi perbaikan kabel antenna televisi yang terganggu.


"Aliyya... ini tinggi sekali! Hati-hati, Al!" seru Farhan yang keluar dari balkon kamar Zein.


"Iya, Kak." jawab Aliyya yang asyik memperbaiki kabel antenna itu.


Dengan tangannya yang mungil itu, Aliyya terus berusaha untuk memperbaiki kabel yang rusak atau bisa saja terganggu saat mereka menonton. Sementara Zein yang mendengar perhatian sang kakak pada Aliyya tampak mendengus kesal di bawah sana.


"Sepertinya dia akan membiarkan pertandingan malam ini berakhir begitu saja." ujar Zein yang terus memperhatikan Aliyya dari bawah.


"Tapi sepertinya Kak... maksudku Aliyya bisa memperbaiki kabel televisimu." jawab Rizal yang hampir saja salah menyebut panggilan Aliyya.


"Pertandingan akan berakhir setelah teknisinya datang. Jadi tidak ada gunanya lagi." ujar Zein yang masih kesal seraya melipat tangannya di dada.


Rizal yang berdiri di samping Zein hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sementara Aliyya masih berjuang memperbaiki kabel di atas sana.


"Kak Farhan... coba periksa televisinya, Kak!" seru Aliyya yang masih mengotak-atik kabel.


"Oke..."


Farhan pun berlari masuk untuk melihat apakah televisinya sudah hidup atau belum. Tidak lama kemudian, Farhan berlari lagi keluar balkon dan menghampiri Aliyya.


"Belum, Al!" sahut Farhan.


"Oh coba lagi, Kak!" timpal Aliyya.


Farhan pun berlari lagi dan masuk ke dalam kamar Zein. Sementara sang pemilik kamar yang berada di bawah sana tampak menyeringai puas karena Aliyya gagal memperbaiki kabel televisi.


"Lihatlah!!! Dia melakukan semua ini seperti sudah pernah melakukannya dari sejak kecil." timpal Zein seraya memperhatikan Aliyya.


Lagi, Rizal benar-benar dibuat menggelengkan kepalanya efek heran mendengar perkataan Zein yang sejak tadi selalu saja meremehkan istrinya sedangkan Zein sendiri hanya bisa berdiam diri di bawah dan melihat Aliyya tanpa menawarkan bantuan.


"Belum juga, Al!" sahut Farhan lagi yang keluar.


"Ya sudah, aku coba lagi ya Kak." ujar Aliyya.


Aliyya pun kembali berusaha setelah gagal dua kali dan televisi di kamar Zein belum hidup juga.


"Coba periksa lagi, Kak!" seru Aliyya.


Farhan pun berlari lagi untuk yang ketiga kalinya. Sementara Zein terlihat sudah bosan menunggu.


"Sudah aku bilang 'kan? Aliyya tidak bisa! Ayo kita menonton di restoran saja, teman-teman!" seru Zein yang balik badan dan mulai berjalan.


"Aliyya... televisinya sudah hidup lagi!" sahut Farhan yang keluar dari kamar Zein di balkon.


Langkah Zein terhenti seketika saat mendengar sahutan Farhan dari atas sana, begitu juga para teman Zein. Sementara Aliyya menghela nafas lega karena usahanya tidak sia-sia dan mampu memperbaiki kabel antenna televisi dalam waktu yang singkat.


"Wah kamu benar-benar hebat, Aliyya." ujar Vian yang takjub dengan kemampuan Aliyya.


"Iya benar! Aliyya memang hebat!" timpal Adi.


"Aliyya sangat luar biasa!" timpal Syakir.

__ADS_1


"Aliyya... kamu sangat hebat!" timpal Karim.


Pujian demi pujian pun terus menghujani Aliyya dan itu cukup membuatnya senang malam ini, sehingga pikirannya dapat teralihkan dari Zein yang selalu membuat masalah dengan dirinya.


"Terima kasih, teman-teman! Di Jogja, aku dan keluargaku sering sekali mengalami hal seperti ini. Tapi kami tidak bisa memanggil teknisi terus menerus dan mau tidak mau aku harus belajar." sahut Aliyya yang masih berada di atas sana.


"Sepertinya kau selalu saja meremehkan Aliyya tanpa alasan, Kawan!" ujar Rizal yang berbisik lagi di telinga Zein seraya memegangi bahunya.


Zein hanya mendengus kesal. Semester Rizal berusaha untuk menenangkan Zein yang masih kesal dan jengah melihat tingkah sok menjadi pahlawan yang ada di dalam diri istrinya itu.


"Hati-hati, Aliyya! Jangan tergesah-gesah saat turun tangga!!!" seru Karim seraya memegangi tangga karena Aliyya akan segera turun.


"Jangan khawatir! Aku bisa kok." jawab Aliyya yang bersiap hendak menuruni tangga.


Sebelum turun, Aliyya pun menghela nafas kasar terlebih dahulu untuk mengatur nafasnya. Lalu ia mulai menuruni satu per satu anak tangga yang terbuat dari bahan aluminum itu. Perlahan tapi pasti, Aliyya terus melangkah turun dan selalu memperhatikan anak tangga dari atas namun...


"Ahhhhhh..."


Tangan kekar Zein akhirnya sukses menangkap tubuh langsing istrinya yang terjatuh dari tangga. Saat sedang menuruni tangga, tiba-tiba kakinya tergelincir dan membuatnya kehilangan kendali hingga berakhir di dalam pangkuan tangan Zein. Tatapan mereka pun bertemu dan terkunci, sama seperti pada saat pertama kali mereka bertemu, tatapan yang sama seperti Zein masih menjahili Aliyya dan mengaku sebagai calon suaminya, tatapan yang kini telah hilang karena kebencian di antara keduanya. Dan sekarang, tatapan lekat itu kembali terjadi dan jaraknya cukup dekat.


Prok!


Prok!


Prok!


Prok!


Prok!


Prok!


Sahutan tepuk tangan dari para teman pun sukses membuyarkan lamunan dan tatapan lekat yang terkunci di antara kedua pasangan itu. Mereka pun menoleh ke arah teman-temannya lalu Zein langsung menurunkan tubuh Aliyya dari tangan kekarnya.


"Kalian ini memang pasangan yang sangat romantis." ujar Vian seraya bertepuk tangan.


"Sudahlah!!! Biarkan saja mereka di sini. Ayo kita masuk dan menyaksikan pertandingan lagi." ujar Rizal yang mengajak semua temannya itu.


"Jangan menghiraukan tepuk tangan tadi! Aku menolongmu karena aku tidak mau kalau Papa sampai tau dan memarahiku lagi karena dirimu! Dan satu hal lagi, aku tidak ingin ada orang cacat di dalam kamar dan rumahku!" tandas Zein yang menatap tajam seraya mencekam tangan Aliyya.


"Ck!!! Bukannya sudah ada orang cacat di rumah dan di kamarmu? Cacat hati!!!" jawab Aliyya yang tak kalah tajam menatap seraya menepis tangan Zein dengan penuh penekanan.


Tatapan penuh kebencian di antara keduanya pun terus terjadi hingga wajah Zein memerah seketika saat mendengar perkataan Aliyya. Ia merasa tersinggung dengan kata-kata istrinya, seakan kata cacat hati itu ditujukan untuknya. Dengan cepat tangan kekar Zein pun mendarat pada rambut panjang Aliyya dan mencekamnya.


"Diam!!! Hatiku cacat karena ulahmu! Sekarang, singkirkan semua foto pernikahan yang telah kamu gantung di seluruh sudut kamar! Setelah itu, kita bicara!!!" tandas Zein yang melepaskan cengkraman tangannya dan mendorong Aliyya.


"Aku tau setiap jam dan menit kamu itu selalu mempunyai masalah yang baru dalam hidupmu! Tonton saja pertandingan itu bersama mereka!!! Belajar menendang, mengoper, menghindar dan bermain curang! Seperti dirimu yang belajar saat mencetak gol dengan curang!" tandas Aliyya lagi seraya menatap tajam suaminya itu.


Aliyya yang menatap tajam Zein pun berusaha untuk tetap melawan Zein. Tampak bongkahan bulir bening di kedua bola mata gadis Jogja itu tatkala mendengar dan mendapat perlakuan kasar dari suaminya sendiri. Namun Aliyya berusaha untuk tetap tenang dan santai agar bongkahan bulir bening di matanya tidak jatuh saat dirinya masih di hadapan Zein. Lalu Aliyya berlenggang pergi meninggalkan Zein di teras depan rumah yang masih tersulut api amarah.


Zein menghela nafas kasar seraya memicingkan matanya sejenak untuk mengumpulkan tenaga. Setelah itu, Zein ikut masuk dan masuk ke dalam kamarnya lagi untuk menonton pertandingan itu.


Saat semuanya tengah asyik menonton, pria itu hanya berdiam diri dan termenung. Matanya pun tertuju pada sebuah foto yang memakai bingkai ukuran besar di sisi dinding kamarnya. Foto itu adalah foto pernikahan dirinya dan Aliyya. Rasa sesak tatkala memperhatikan foto itu membuat pikirannya melayang pada kejadian yang terjadi beberapa menit sebelum dirinya termenung. Zein kembali teringat saat ia menangkap Aliyya yang hampir jatuh dari tangga dan perubahan warna serta penampilan kamarnya. Sungguh, Zein tidak fokus lagi dengan pertandingan sepak bola itu.


"Gol!!!" pekik semuanya yang melihat Barcelona berhasil mencetak gol untuk kedua kalinya.


"Hei Zein, kau kenapa melamun terus? Lihat itu, pertandingannya imbang." ujar Vian yang meraih bahu Zein.


"Kamu lihat 'kan Zein? Barcelona pasti akan menang malam ini dan mengalahkan Real Madrid." timpal Farhan yang masih bersemangat.


"Tapi Real Madrid juga belum kalah!" jawab Zein yang menoleh ke arah Farhan.


"Tapi sayangnya kamu juga tidak bisa menang." timpal Aliyya yang datang lagi ke kamar Zein.


"Aliyya... kamu tau? Yang menjadi pemenang sesungguhnya itu adalah kalian berdua. Ayo masuk dan duduklah!" ujar Karim yang menoleh lalu beranjak dan mempersilakan Aliyya duduk.


Aliyya pun berjalan masuk dan duduk kembali di tempatnya semula. Lirikan tajam untuk Zein pun tak luput dari mata Aliyya. Namun senyum manis juga tak luput untuk semuanya yang selalu saja memuji dan membanggakan kemampuannya itu.


"Oh iya Aliyya, besok adalah hari valentine dan mungkin saja suamimu ini sudah menyiapkan sesuatu untukmu. Aku pun juga akan membuat pesta kecil untuk kekasihku dan mungkin kalian bisa datang ke pestaku besok malam." ujar Vian yang masih berdiri seraya melihat keduanya.

__ADS_1


"Hei, kalian ini bagaimana sih? Zein dan Aliyya itu 'kan pengantin baru lalu besok adalah hari valentine. Kenapa kau mengajak mereka untuk berpesta? Sudah Zein!!! Jangan dengar mereka. Lakukan saja rencanamu sendiri." timpal Rizal seraya beranjak lalu merangkul bahu Vian.


"Aku belum mempunyai rencana apa pun untuk besok." jawab Zein seraya menggeleng kepala.


"Apa? Kau ini bercanda ya Zein?" sungut Syakir seraya menepuk lutut Zein.


"Kau ini payah sekali. Kalau Zein mempunyai rencana untuk Aliyya, tidak mungkin dia akan memberitahu kalian." timpal Rizal yang masih menyela lalu menoleh ke arah Zein.


Rizal pun menganggukan kepalanya pada Zein yang ikut menoleh ke arahnya, seakan memberi isyarat kalau dirinya akan berusaha untuk mengalihkan perhatian semua temannya itu. Sementara Aliyya yang ikut melihat anggukan Rizal pun tampak mengerti. Lalu...


"Ah sampai sekarang kami belum mempunyai rencana apa pun dan kami juga belum sempat untuk memikirkannya." timpal Aliyya yang ikut berusaha mengalihkan pembicaraan semuanya.


"Wah, itu bagus sekali! Kalau begitu, kalian bisa datang ke acara pestaku. Para kekasih kami juga akan datang pastinya." jawab Vian yang senang.


"Kekasih kami juga membutuhkan penyuluhan darimu, Aliyya." timpal Karim yang melihat Vian.


Semuanya pun tertawa mendengar perkataan Karim, kecuali Zein yang sejak tadi menatap Aliyya dengan tajam karena semakin jengah. Usaha Aliyya untuk mengalihkan pembicaraan ternyata gagal dan membuat Zein semakin kesal. Karim, Vian, Syakir dan Adi yang terlanjur mengagumi Aliyya semakin dibuat antusias dan terus membicarakan perihal hubungan mereka hingga pertandingan sepak bola pun terlupakan.


"Bagaimana caranya untuk menjaga sebuah hubungan itu agar tetap awet Aliyya?" tanya Karim yang antusias sekali dan ingin tau.


"Peraturan pertama, kalian tidak boleh sekali pun membandingkan istri atau kekasih kalian dengan orang lain karena setiap orang pasti mempunyai kelebihan maupun kekurangan masing-masing. Peraturan kedua, kalian tidak boleh mengatakan hal buruk tentang kekasih kalian di depan orang banyak karena dia mempunyai hati nurani yang sangat lembut dan rapuh. Percayalah, bahwa dia memilihmu sebagai pasangannya karena dia merasa bahagia dan nyaman. Maka dari itu, jaga kekasih kalian dan jaga hatinya karena satu kali saja kalian menyakiti hati mereka, maka mereka akan terus mengingat rasa sakit itu dan tidak pernah bisa untuk melupakannya sampai kapan pun." tutur Aliyya panjang lebar seraya melirik ke arah Zein sesekali.


"Kamu sangat benar, Aliyya. Aku janji tidak akan mengatakan hal buruk tentang dirinya di depan orang." jawab Vian seraya mengangkat tangan.


"Iya, itu sangat benar!!!" timpal Syakir seraya menunjuk Vian.


Zein yang masih menatap tajam sang istri pun hanya mendengus kesal karena Aliyya sedang menyinggung dirinya. Sementara yang lainnya, termasuk Farhan dan Rizal tampak terhenyak mendengar tutur kata Aliyya. Apalagi Farhan yang banyak mengetahui tentang hubungan kedua adiknya itu. Di satu sisi ada Zein, adik kandungnya sendiri dan di sisi lain ada Aliyya yang merupakan adik sepupunya hingga pria beristri dua itu tak bisa melakukan banyak hal.


"Kalau begitu kita semua akan bertemu di pesta besok malam ya. Bagaimana Farhan?" ujar Vian yang masih berdiri dan menunjuk Farhan.


"Tentu saja! Kita semua akan hadir di pesta valentine besok malam." jawab Farhan yang antusias sekali.


"Kita? Apa maksudmu, hah?" sungut Rizal seraya beranjak dan menatap jengah kakak iparnya itu.


"Ya, tentu saja kita semua yang ada di sini. Memang aku tidak diundang?" jawab Farhan yang bertanya balik untuk memastikan.


"Kau..."


"Apa yang kau katakan? Datang saja! Datanglah bersama Namira." potong Karim seraya beranjak.


Rizal hanya bisa menghela nafas kasar seraya memalingkan wajahnya dari Farhan. Sementara pria beristri dua itu tampak bingung seketika di saat mendengar usulan Karim.


Kalau aku datang bersama Namira. Lalu Shafia bagaimana. Wah, ini gawat sekali. Mereka akan berperang hebat karena acara hari valentine ini. Gumam Farhan dalam hati.


"Ya sudah kalau begitu kami mau pamit dulu ya." ujar Vian seraya menghampiri Zein.


"Iya, kami pamit pulang dulu ya." timpal Karim, Syakir dan Adi seraya menghampiri Zein.


Satu per satu dari mereka pun berlenggang pergi meninggalkan Aliyya dan Zein di kamar. Mereka memilih untuk bubar dan membiarkan acara pertandingan sepak bola berlalu begitu saja karena malam yang makin larut. Mereka juga tidak ingin mengganggu pasangan baru itu. Aliyya pun hanya bisa tersenyum membiarkan semuanya pergi dan hanya menyisakan dirinya dan Zein, berdua di kamar itu.


Setelah semuanya pergi, dengan langkah cepat, Zein langsung menutup dan mengunci pintu serta jendela kamarnya seraya menanggalkan kain tirai jendela kamar yang berwarna pink itu.


"Kamu pernah mengatakan kalau berbohong itu adalah hal yang buruk, bukan?"


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Duh, Zein mau berbuat apa lagi nih 😌 ngak ada habisnya penderitaan buat istrimu Zein 😭😭😭


Ikutin terus ya kisah pernikahan Aliyya dan Zein yang penuh lika-liku kehidupan dan cobaan πŸ˜‚

__ADS_1


Sukses selalu buat semuanya 🧑 semoga kita semua selalu dilindungi oleh Allah SWT πŸ™πŸ™


__ADS_2