
...πΉπΉπΉ...
"Terima kasih, Sonia. Karena kamu sudah ikut andil dalam mempersiapkan semua ini."
Umar yang sudah terlihat sangat rapih dan tampan pun menghampiri sang istri. Sonia juga terlihat sangat anggun dan cantik dengan gaun pestanya. Kini keduanya, bahkan semua orang yang ada di rumah itu sudah siap dan sedang menunggu Aliyya dan Zein datang. Keduanya sedang bersiap di tempat yang berbeda. Zein pergi bersiap sendirian entah ke mana, lalu Aliyya pergi ke salon untuk bersiap bersama Namira.
"Ini memang sudah tugasku sebagai ibu dan mertua anak-anak, Pa. Kalau bukan aku yang menyiapkan semuanya, lalu siapa lagi." ujar Sonia yang tersenyum dan mengedar matanya.
"Aku sangat tau hal itu. Tapi, ke mana Zein dan Aliyya? Kenapa mereka lama sekali?" ujar Umar yang mengedar pandangannya mencari kedua pengantin itu.
"Aliyya sedang bersiap-siap di salon bersama Namira, sedangkan Zein juga sedang bersiap dan aku menyuruhnya untuk ke salon juga, Pa." jawab Sonia yang tersenyum tipis.
"Tapi kenapa lama sekali? Acara ini sebentar lagi akan dimulai. Para tamu juga sudah datang semua." ujar Umar seraya melihat sekitarnya.
Sonia hanya tersenyum dan tampak seringai tipis di bibirnya saat melihat kepanikan Umar.
"Jangan terlalu panik, Pa. Sebentar lagi mereka pasti akan sampai di rumah. Lebih baik kita ke sana untuk menyambut kedatangan para tamu." ujar Sonia yang berusaha mengalihkan Umar.
Umar yang masih tampak gelisah pun hanya mengangguk dan menepis kegelisahan hatinya, lalu mengikuti Sonia menuju keramaian tamu.
***
"Saya tidak mencuri apa pun, Pak Polisi."
Aliyya semakin tersudut di supermarket ketika ia dituduh telah mencuri salah satu barang. Gadis Jogja yang sudah cantik dengan pakaian resepsi itu masih berusaha untuk meyakinkan para petugas dan Polisi, kalau dirinya tidak lah bersalah.
"Saya mohon! Percayalah! Saya tidak mencuri! Bahkan saya tidak tau kenapa jam tangan itu bisa ada di dalam tas saya. Sungguh, saya tidak melakukan hal serendah itu, Pak Polisi." tutur Aliyya yang berusaha memohon dan menangis.
"Tapi bukti sudah ada di dalam tas anda, Nona. Bagaimana kami bisa mempercayaimu?" ujar salah satu Polisi lainnya.
"Tapi bukan saya yang mengambilnya, Pak. Mana mungkin saya mengambil barang yang bukan milik saya. Lagi pula kalian tidak bisa menuduh orang sembarangan tanpa bukti yang kuat dan jelas. Kalian sudah menuduh saya dan bicaralah dengan sopan karena saya adalah menantu dari Umar Abdullah. Kalian mengerti!" tandas Aliyya yang mulai kesal karena dituduh.
"Oh menantu Tuan Umar Abdullah ya. Salah satu orang terkaya yang ada di kota ini dan pemilik Hotel Berlian itu? Anda pikir kami akan percaya begitu saja dengan ucapanmu itu?" tandas petugas keamanan yang geram.
Aliyya pun tertegun dengan perkataan petugas keamanan itu yang terdengar sangat kasar. Bulir bening di matanya pun menetes lagi, tapi situasi saat ini sangat lah tegang dan genting.
"Jika kalian tidak percaya, maka biarkan saya untuk membuktikan kalau saya ini benar-benar menantu dari Tuan Umar Abdullah." ujar Aliyya seraya meraih ponselnya.
Petugas keamanan dan dua orang Polisi hanya saling pandang. Secara tidak langsung, mereka telah mengizinkan Aliyya untuk menghubungi Umar walaupun mereka tidak percaya akan itu. Sementara Aliyya, gadis itu tampak bergegas mencari nama Umar di dalam ponselnya tanpa menundanya lagi.
"Pa... aku mohon angkatlah teleponku!"
***
"Ke mana Aliyya dan Zein?"
Umar yang semakin panik dan gelisah pun menghampiri sang istri kembali. Sementara Sonia masih terlihat santai dan menyambut kedatangan para tamu undangan.
"Mereka sedang dalam perjalanan, Pa. Sabar, sebentar lagi mereka pasti akan datang." ujar Sonia seraya mengusap lengan Umar.
Umar pun hanya menghela nafas panjang dan terus melihat ke arah pintu, berharap keduanya sudah sampai dan acara bisa segera dimulai.
Drrrrttt!
Ketika mata Umar tertuju ke arah pintu, ponsel yang sejak tadi berada di tangannya bergetar dan terdapat nama Aliyya yang menghubungi nomornya. Umar pun tersenyum dan hendak mengangkat telepon Aliyya lalu menanyakan keberadaannya.
"Aliyya menghubungiku." ujar Umar seraya memperlihatkan ponselnya pada sang istri.
"Biar aku yang mengangkatnya, Pa. Papa sangat tampan memakai baju ini." timpal Sonia yang memuji seraya mengambil ponsel Umar.
Umar yang dipuji sang istri pun bagaikan terkena hipnotis cinta di matanya. Pria paruh baya itu hanya terdiam dan tersenyum seraya memberikan ponselnya pada sang istri. Sementara Sonia langsung bergerak menjauhi Umar yang menyalami salah satu tamu tanpa mencurigai gerak-gerik sang istri.
__ADS_1
Dengan seringai tajam, wanita paruh baya itu langsung mematikan ponsel Umar.
***
Aliyya semakin panik karena beberapa kali ia menghubungi Umar, tapi tiba-tiba saja ponsel sang paman mati dan tidak bisa dihubungi.
"Saya... saya tidak tau apa yang telah terjadi. Ponsel ayah mertua saya tidak bisa dihubungi." ujar Aliyya yang berurai air mata dan mengiba.
"Kami tau itu, Nona. Maka dari itu, ikutlah dengan kami ke kantor polisi dengan suka rela dan jangan membantah. Kami mohon, Nona!" tandas salah satu Polisi seraya mencekam tangan Aliyya.
"Saya mohon! Jangan bawa saya! Saya tidak mencuri! Biarkan saya menelepon seseorang lagi." jawab Aliyya yang berusaha melepas diri.
Polisi itu pun terpaksa mengikuti permintaan Aliyya yang keras. Sementara gadis itu sudah bercucuran air mata serta keringat dingin di wajahnya saat menghadapi para aparat negara itu.
"Siapa lagi yang harus aku hubungi? Tidak ada seorang pun yang mengangkat teleponku."
Aliyya yang panik, kacau dan takut pun terus meracau seraya mencari nama seseorang di dalam ponselnya. Gadis itu berharap akan ada seseorang yang bisa menolongnya dan keluar dari situasi ini.
"Zein..."
Ketika Aliyya tengah mencari nama orang yang berkemungkinan bisa menolongnya, tiba-tiba ia melewati satu nama seseorang. Zein, nama itu yang membuat Aliyya ragu. Namun ia tidak ada pilihan lain, selain menghubungi suaminya itu.
"Hallo, Zein..."
"Ada apa kamu menghubungiku?" tandas Zein.
"Zein... aku ditangkap Polisi di supermarket karena dituduh mencuri.Tolong aku, Zein." jawab Aliyya yang parau dan berusaha tenang.
"Apa???" pekik Zein yang terkejut.
"Tolong aku, Zein. Aku tidak mencuri apa pun." ujar Aliyya yang berusaha meminta bantuan.
"Berikan ponselmu pada Polisi itu!" jawab Zein.
"Bicaralah dengan Zein. Dia... dia... dia... dia adalah suamiku." ujar Aliyya yang ragu lalu menyerahkan ponselnya pada Polisi itu.
Polisi itu pun mengambil ponsel Aliyya dan berbicara dengan Zein yang entah berada di mana saat ini. Saat keduanya tengah bicara melalui ponsel Aliyya, Polisi itu terus melirik dan menatap tajam gadis itu dengan tatapan yang membuat Aliyya bingung. Namun yang ada di dalam pikirannya saat ini bukan lah itu, yang terpenting saat ini adalah, bagaimana caranya ia bisa lepas dari tuduhan bodoh itu.
"Baiklah..."
Setelah mengatakan satu kata, Polisi itu pun mengembalikan ponsel Aliyya tanpa berkata. Namun tatapannya membuat Aliyya sangat penasaran dengan apa yang dikatakan oleh suaminya pada Polisi itu.
***
"Farhan... coba kamu hubungi adikmu dan tanyakan di mana dia sekarang?"
Umar benar-benar dibuat panik oleh Zein dan Aliyya. Tapi karena Sonia memberitahu kalau saat ini Aliyya sedang di jalan, Umar pun bisa menerimanya dan berusaha tenang. Lalu apa yang dikatakan Sonia pada Umar itu benar? Tentu saja tidak, karena wanita paruh baya itu tidak mengangkat telepon Aliyya dan sudah membohongi suaminya.
Lalu Umar pun menghampiri Farhan yang juga tampak panik karena sang adik tak kunjung datang ke acara resepsi. Acara yang sejak tadi seharusnya sudah dimulai, tapi harus tertunda beberapa menit karena Aliyya dan Zein belum datang.
Mendengar titah sang papa, Farhan pun mencari nomor ponsel sang adik di ponselnya.
"Aku ada di sini, Pa..."
Seketika semua mata pun tertuju pada Zein yang masuk ke dalam rumah dalam keadaan mabuk. Pria tampan itu tampak memegang sebuah botol minuman beralkohol. Lalu ia berjalan masuk, menyusuri keramaian yang hening sejak kedatangan dirinya. Keadaan Zein yang mabuk berat membuat jalannya oleng dan kadang terjatuh karena hilang keseimbangan.
Bruk!
Zein pun terjatuh karena oleng dan mabuk. Lalu Sonia yang melihat hal itu langsung mendekati putranya dan membantunya berdiri. Sementara Umar masih terdiam melihat kondisi sang putra kesayangannya seperti itu. Pastinya ia sangat tercengang dan kecewa dengan sikap Zein.
"Zein... kamu mabuk Nak?" ujar Sonia yang berusaha menopang tubuh kekar sang putra.
__ADS_1
"Maaf, Ma. Aku memang sedang mabuk." jawab Zein yang merangkul bahu sang mama.
Melihat itu, Farhan pun tidak tinggal diam. Pria itu pun bergegas menghampiri sang adik yang tengah mabuk dan meracau frustasi.
"Ayo Zein, kita masuk! Aku akan mengantarmu ke kamar." ujar Farhan seraya memapa adiknya.
"Tidak, Kak. Aku tidak ingin masuk. Aku ingin bicara dengan Papa. Lepaskan aku, Kak." ujar Zein yang dipapa seraya berjalan.
"Nanti saja bicara dengan Papa. Kamu sedang mabuk berat, Zein!" jawab Farhan yang kekeuh memapa sang adik dan membawanya masuk.
"Tidak, Kak! Aku ingin bicara dengan Papa saat ini juga, di depan semua orang." ujar Zein yang semakin meracau dan hilang kendali.
Zein pun melepaskan diri dari Farhan. Lalu ia berjalan sempoyongan mendekati Umar yang masih terpaku melihat keadaannya. Sementara para tamu yang sudah datang, hanya bisa diam dan terus menyaksikan pertunjukkan seru itu.
Sama dengan halnya Umar, Bi Sumi yang ada di sana juga tampak terpaku melihat Zein seperti itu. Sementara Sonia dan Shafia ikut bergeming melihat keadaan yang berubah menjadi tegang.
"Maaf, Pa. Maaf kalau aku mabuk dan aku tau kalau Papa sangat membenci hal itu. Tapi Papa tau, kenapa aku mabuk? Semua ini karena ulah keponakan kesayangan Papa itu!!! Dia bersikap seenaknya di rumahku, seakan semua ini milik dirinya." tutur Zein yang meracau tanpa kendali.
Umar hanya diam, begitu juga dengan Sonia, Farhan, Shafia, Rizal dan Bi Sumi, serta para tamu undangan yang hadir. Mereka semua hanya melihat tingkah Zein dan racauan yang keluar dari mulutnya.
"Maaf, Pa. Aku baru ingat kalau Papa tidak bisa menerima atau pun mendengar pendapat buruk tentang keponakan Papa itu. Tapi untuk kali ini, dengarkan aku!!! Hari ini, Zein akan berbicara di depan semua orang dan tidak akan diam lagi!!! Rumah ini, keluarga ini dan semuanya adalah milikku!!! Tidak ada seorang pun yang bisa seenaknya di rumahku ini! Dan Papa tau, kalau aku sangat posesif dengan hal itu!!!"
Zein terus meracau di hadapan Umar dan semua orang. Sesekali tubuhnya yang oleng, bertupang pada Sonia dan Farhan. Namun terkadang, pria tampan yang tengah mabuk berat itu hanya berdiri sendiri walaupun kondisi tubuh dan pikirannya tidak seimbang.
"Tapi apa yang telah keponakan Papa lakukan? Dia melakukan semuanya, seakan dia itu istriku tercinta. Tidak, Pa!!! Lalu resepsi ini!!! Resepsi yang harus dilakukan agar semua orang tau kalau aku adalah suaminya! Tidak bisa, Pa!!!" tandas Zein yang masih mabuk berat.
"Cukup Zein!!!" ujar Umar yang membuka suara.
"Tidak, Pa! Untuk kali ini aku tidak bisa diam. Di Jogja, Papa menyuruhku diam. Di pernikahan, Papa juga menyuruhku untuk diam dan semua itu telah aku lakukan demi Papa. Hanya dalam hitungan menit, kehidupanku langsung hancur karena Papa terus memaksaku untuk menikah! Kenapa Pa? Kenapa Papa melakukan semua ini padaku? Apakah Papa tau, betapa sakitnya hati putra Papa ini? Bahkan Papa tidak menanyakan pendapatku terlebih dahulu untuk hal sebesar ini. Papa hanya memikirkan perasaan gadis itu tanpa memperdulikan perasaanku." tutur Zein.
"Zein... Papa melakukan semua ini karena Papa tau, mana yang terbaik untuk hidupmu." ujar Umar seraya memegangi kedua bahu putranya.
"Tidak, Pa!!! Semua ini tidak akan pernah baik untuk hidupku! Semua ini hanya baik untuk keponakan Papa yang baik dan penurut itu, tapi tidak untukku!!! Papa tau kenapa ini tidak benar bagiku? Karena aku sangat membenci Aliyya!!! Aku sangat membencinya dari apa pun yang ada di dalam hidupku!!! Setiap detik nafasku ini, aku akan terus membencinya dan itu tidak akan pernah berubah!!! Katakan padaku Pa, kenapa Papa melakukan semua ini?" tutur Zein seraya berusaha untuk berdiri sendiri.
"Zein... saat ini kamu belum menyadarinya, Nak. Suatu hari nanti, kamu pasti akan sadar kalau keputusan ini adalah keputusan yang sangat tepat untukmu. Aliyya, dia adalah gadis yang sangat tepat untuk hidupmu." ujar Umar seraya meraih bahu sang putra.
"Benarkah Pa? Aku sungguh kasihan dengan keyakinan Papa yang sangat besar itu. Papa tau kenapa aku mengatakan hal ini? Karena tadi..." jawab Zein yang tertawa lalu berhenti bicara.
Umar pun menatap heran sang putra yang masih meracau karena mabuk. Sementara Sonia dan Shafia, tampak menyeringai licik karena mengerti dengan situasi yang telah sengaja mereka buat ini. Lalu Farhan, Bi Sumi dan Rizal juga tampak heran mendengar Zein.
"Mari kita tunggu keponakan kesayangan Papa itu datang. Dengan begitu, Papa bisa melihat sendiri apa yang telah dia lakukan." ujar Zein.
Umar yang bingung pun kembali mencari sesuatu di balik mata Zein. Sementara Zein hanya tersenyum lalu menoleh ke arah pintu. Seringai tajam pun kini terukir di wajah tampan Zein. Perlahan tangannya terangkat lalu menunjuk ke arah pintu. Umar dan semuanya pun menoleh ke arah tunjuk tangan Zein.
"Aliyya..."
Mata Umar membulat sempurna saat melihat sang keponakan kesayangan datang bersama beberapa orang Polisi di sampingnya. Sonia dan Shafia tersenyum puas melihat itu. Namun tidak dengan, Umar, Farhan, Rizal dan Bi Sumi yang tampak tercengang dan terkejut.
Aliyya hanya pasrah ketika tangannya terus ditarik oleh Polisi di hadapan semua orang. Malu, marah dan kecewa. Itulah yang Aliyya rasakan tatkala matanya menoleh dan menatap tajam ke arah sang suami. Mata keduanya pun bersiborok dan saling melempar tatapan penuh kebencian. Tumpukan bulir bening juga terlihat di mata keduanya yang masih terkunci kuat.
Kini Aliyya mengerti, kalau Zein menyuruh para Polisi itu untuk membawanya pulang agar bisa dipermalukan di depan semua orang seperti ini. Melihat Aliyya yang tersudut, Umar yang sejak tadi terdiam pun mendekati keponakannya itu.
"Aliyya..."
.
.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading All πππ