
...πΉπΉπΉ...
"Hei Aliyya, tunggu!!! Aku tidak salah!!! Aku benar-benar berkata jujur!!!"
Usaha Zein untuk menghentikan Aliyya gagal total. Tanpa menghiraukan sahutannya, sang istri berlenggang pergi keluar kamar membawa surat kabar dan ingin memperlihatkan foto itu pada Umar. Zein pun cemas dan gelisah. Takut karena jika Umar melihat foto itu dan mendengar penjelasan Aliyya yang keliru terhadap dirinya, maka ia bisa terkena marah bahkan ceramah dari sang papa lagi seperti yang sebelumnya.
"Wah gawat!!! Kalau Aliyya memberitahu Papa semuanya akan salah paham lagi padaku."
Zein yang panik pun mengambil ponselnya di atas sofa lalu menghubungi seseorang.
"Hallo Ma..."
Ternyata Sonia lah orang yang Zein hubungi. Ia merasa kalau sang mama bisa membantunya untuk menghentikan Aliyya agar tidak berbicara yang aneh-aneh pada sang papa. Sonia yang mendapatkan telepon dari sang putra tampak menyeringai puas seraya melihat ke arah Shafia dan Namira. Wanita paruh baya itu tentu saja sudah tau apa yang menjadi niat Zein pagi ini.
"Hallo Zein... ada apa Sayang?" tanya Sonia.
"Apakah Mama sudah melihat surat kabar?" tanya Zein yang sangat gelisah dan takut.
"Belum, memang kenapa Nak?" tanya Sonia.
Berpura-pura, itulah yang sedang dilakukan oleh Sonia saat ini. Tidak hanya itu, Sonia berbohong pada Zein kalau pagi ini ia belum melihat surat kabar. Padahal surat kabar itu berada di tangan kanannya seraya berbicara dengan sang putra.
"Ma... di dalam surat kabar itu ada foto Aliyya." jawab Zein yang masih panik.
"Wah, bagus dong kalau begitu. Foto menantu baru Mama masuk ke dalam koran." ujar Sonia.
"Tidak, Ma. Ini tidak bagus sama sekali. Ada seseorang yang sengaja mengambil foto itu di saat gaun belakang Aliyya terbuka. Lalu orang itu memasukkan fotonya ke dalam surat kabar. Saat ini Aliyya akan menemui Papa. Dia ingin memberitahu Papa dan Mama harus berusaha menolongku dengan mencegah Aliyya." tutur Zein yang terengah-engah karena gelisah.
Mendengar hal itu semakin menarik kedua sudut bibir Sonia hingga membentuk senyum puas dan senang. Puas karena ia berhasil memasukkan foto itu ke media koran tanpa sepengatahuan Zein dan senang karena sebentar lagi akan terjadi pertarungan di antara pasutri baru itu.
"Baiklah, kamu tenang dulu ya. Biar Mama yang akan menghentikan istrimu itu kalau dia turun." ujar Sonia yang menenangkan Zein.
"Oke, baiklah Ma..."
Pembicaraan Zein dan Sonia pun berakhir. Sonia tampak menyeringai puas, terlihat menyeramkan sedangkan Zein semakin tersulut kegelisahan di dalam hatinya.
***
Aliyya yang berjalan di koridor lantai atas pun terhenti sejenak seraya meraih ponselnya dari dalam saku bajunya. Wajah gadis itu tampak memerah karena berusaha menahan amarah. Namun untuk menghadapi situasi sulit seperti pagi ini, sudah menjadi makanan sehari-hari baginya setelah beberapa hari tinggal di Villa mewah milik pamannya itu.
"Hallo pihak berita harian... saya Aliyya, istri dari Zein Abdullah. Saya akan menuntut surat kabar kalian hari ini juga karena kalian sudah berani mencetak foto itu tanpa seizin dari saya!!!" ujar Aliyya yang penuh dengan penegasan.
"Tapi foto itu diberikan sendiri oleh suami anda untuk dicetak, Nyonya." jawab pihak berita masa.
Mata Aliyya semakin memanas, wajahnya pun semakin memerah ketika mendengar jawaban dari pihak media cetak di seberang sana. Yang paling parah, ternyata Zein benar-benar sudah memberikan sendiri foto itu pada mereka dan meminta pihak media untuk mencetak foto itu. Kata-kata Zein pun terngiang kembali di telinga Aliyya. Ia mengira kalau semua yang dikatakan oleh Zein adalah kebohongan. Walaupun pada dasarnya Zein memang tidak bersalah. Sonia dan Shafia yang sudah merencanakan semua ini. Mereka menghubungi pihak media cetak untuk segera mencetak foto Aliyya dan menggunakan nama Zein sebagai umpan amarah Aliyya.
Aliyya yang semakin marah pun dan langsung menutup telepon. Lalu berjalan lagi menyusuri koridor dan menuruni tangga untuk menemui Umar yang sudah berada di meja makan.
***
Ting!
Notifikasi dari laptop Aldha di pagi hari seperti ini membuatnya tersenyum lebar. Notifikasi siapa lagi kalau bukan dari teman media sosial yang ia kenal beberapa hari ini. Dari sejak tadi malam, adik bungsu Aliyya itu semakin terlihat berbinar. Komunikasi di antara dirinya dengan seorang pria di media sosial semakin hari tampak semakin dekat dan sering.
"Kamu sangat cantik hari ini." ujar Aldha yang membaca chatting pria di dalam laptopnya itu.
Blush!
Wajah gadis muda itu memerah seketika saat membaca pesan dari pria yang baru ia kenal dari media sosial tanpa bertemu terlebih dahulu. Entah bagaimana dan sejak kapan Aldha bisa mengenal pria itu hingga berkomunikasi rutin dengannya seperti ini tanpa sepengatahuan Sabrina dan Galuh. Kata-kata yang diberikan dalam chatting itu berhasil membuat senyum manisnya hilang. Namun wajah Aldha seketika berubah saat melihat Sabrina yang berjalan ke arah kamarnya seraya membawa pakaian kering.
Sabrina pun masuk dan melihat sang putri tengah buru-buru menutup aplikasi chatting dengan seseorang di sana, lalu mengunci laptopnya agar Sabrina atau siapa pun tidak mengetahui hal ini. Melihat tingkah putrinya yang aneh membuat Sabrina curiga. Sementara Aldha sangat terlihat panik saat melihat Sabrina.
"Aldha... apa yang sedang kamu lakukan? Kamu main chatting lagi ya?" ujar Sabrina dengan nada kesal setelah melihat sendiri tingkah putrinya itu.
"Ibu... dia temanku dari kampus kok. Bukan siapa-siapa yang penting juga." jawab Aldha.
__ADS_1
"Lalu kenapa kamu mengunci laptopnya?" tanya Sabrina yang mengintrogasi sang putri.
"Laptopnya sudah berhenti sejak tadi, Bu. Aku akan segera mematikan laptop setelah ini." jawab Aldha yang mengelak dan berbohong.
Sabrina yang menatap lekat mata sang putri pun menghela nafas panjang. Lalu berjalan ke tempat tidur Aldha dan merapihkan pakaiannya. Melihat sang ibu berjalan ke arah tempat tidur, membuat Aldha tersentak karena ia baru saja teringat akan kartu ucapan dari teman media sosialnya itu ada di bawah bantal tidurnya. Aldha yang panik pun bergegas mengikuti sang ibu untuk memastikan kalau Sabrina tidak melihat kartu ucapan itu.
"Aldha... Ibu merasa kalau kamu yang sekarang sangat berbeda, Nak. Ibu merasa kamu sudah berubah dan semakin tertutup." tutur Sabrina.
"M-maksud Ibu apa? Memang aku berubah seperti apa Bu?" tanya Aldha yang gugup.
"Ibu merasa tidak mengenali sifatmu lagi." jawab Sabrina seraya merapihkan pakaian sang putri.
"Ibu bicara apa sih! Aku tidak berubah kok dan masih tetap sama dengan Aldha yang dulu. Ibu saja yang terlalu posesif terhadapku sekarang." ujar Aldha yang berusaha meyakinkan sang ibu.
Sabrina yang mendengar itu pun membulatkan matanya menatap sang putri. Memang benar, kalau beberapa hari ini Sabrina terus dirundung rasa cemas terhadap putrinya yang satu ini. Mulai dari pergaulan Aldha dan tingkahnya setiap hari yang sukses memancing rasa curiga Sabrina terhadap Aldha. Apalagi sifatnya yang tertutup dan enggan membicarakan masalahnya sendiri terhadap Sabrina atau Galuh.
"Ibu... memang Ibu tidak percaya padaku ya?" tanya Aldha yang melas dan bergelayut manja pada lengan sang ibu.
"Ibu percaya padamu. Tapi Ibu merasa ragu dengan usiamu." jawab Sabrina yang sangat jujur.
"Memang usiaku kenapa Bu? Rasanya, di saat Kakak seusiaku dulu Ibu tidak pernah posesif seperti ini." ujar Aldha yang cemberut karena sang ibu tidak mempercayai dirinya.
"Kakakmu tidak memberikan Ibu kesempatan untuk posesif terhadap dirinya, karena kakakmu itu sangat lugu dan pendiam." jawab Sabrina.
"Jadi menurut Ibu, aku ini nakal dan suka banyak bicara?" sungut Aldha yang mengerucutkan bibir.
"Dulu tidak tapi sekarang sepertinya iya. Kamu harus belajar! Jangan main internet terus! Ujian kuliahmu sebentar lagi, bukan?" jawab Sabrina yang asal dan ingin menggoda sang putri.
"Aku tidak main internet kok, Bu. Aku juga sudah belajar. Ibu tenang saja ya." jawab Aldha seraya melirik ke arah kartu ucapan yang ada di bantal.
Sabrina hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkat Aldha yang memang berubah sejak beberapa hari belakangan. Aldha sering menutup laptopnya secara mendadak jika sang ibu masuk lalu melihatnya bermain internet. Namun sebagai seorang ibu, Sabrina juga tidak boleh mengekang aktifitas sang putri dan tetap mengawasinya dengan cermat.
"Ibu... sepertinya ada tamu yang datang." ujar Aldha seraya meraih kain yang ada di tangan Sabrina.
Sabrina pun mengangguk dan pergi keluar dari kamar sang putri. Sementara Aldha bergegas mengambil kartu ucapan di bawah bantalnya.
***
"Aliyya yang membuat masakan ini, Tuan."
Di ruang makan, Umar yang sudah rapih dengan pakaian kantornya sedang menikmati masakan buatan Aliyya. Bi Sumi yang ada di sana tampak membantu untuk menyajikan makanan untuk Umar.
"MasyaAllah... ternyata Aliyya sudah mulai memasak ya Bi?" tanya Umar yang melihat hidangan di dalam piringnya.
"Iya, Tuan. Padahal saya sudah memintanya untuk tidak memasak. Tapi Aliyya tetap ingin memasak di dapur. Dia tidak mau mendengar perkataan saya, Tuan." jawab Bi Sumi seraya menggelengkan kepala mengingat sikap baik Aliyya.
"Wah, masyaAllah... aroma masakan ini sangat mirip dengan aroma masakan ibu saya, Bi. Ternyata Ibu memberikan resep masakannya pada Sabrina dan Sabrina memberikannya kepada Aliyya. Saya jadi merindukan Ibu dan Sabrina kalau seperti ini." tutur Umar seraya menghirup dalam aroma masakan Aliyya.
Bi Sumi yang melihat pemandangan menenangkan dari Umar tatkala menghirup aroma masakan Aliyya pun tersenyum senang. Sementara di balik ruang makan, terlihat ketiga wanita yang berbeda generasi sedang melihat dan memperhatikan Umar. Wajah Sonia tampak masam saat Umar terus saja menyebut nama Sabrina dan Aliyya. Rasanya kebencian terhadap kedua wanita ibu dan anak itu tidak akan pernah bisa hilang dari hati Sonia. Entah apa masalah di antara Sonia dan Sabrina lalu entah kapan rasa benci itu akan hilang dalam diri Sonia.
"Assalamualaikum Papa, Bi Sumi..."
Lamunan Umar yang tengah menikmati aroma masakan Aliyya pun tersadar saat mendengar suara itu. Lalu Umar meletakkan piringnya dan menoleh ke sumber suara yang berada tepat di sampingnya itu.
"Wa'alaikumsalam Aliyya..." jawab Umar.
"Wa'alaikumsalam Sayang..." jawab Bi Sumi.
"Kami baru saja membicarakan dirimu, Nak. Aroma masakanmu sangat enak. Kalau aromanya saja seperti ini, apalagi rasanya. Masakanmu pasti sangat lezat." ujar Umar seraya melirik masakan sang menantu.
Aliyya pun tersenyum getir mendengar perkataan sang paman sekaligus ayah mertuanya. Setelah mendengar pujian Umar, entah kenapa wajah Aliyya mendadak ragu untuk memberitahunya tentang foto memalukan di surat kabar itu. Sementara Umar dan Bi Sumi yang bisa melihat kegelisahan di wajah Aliyya pun saling pandang.
"Kamu kenapa Nak? Kenapa wajahmu tegang seperti itu?" tanya Umar yang penasaran dan heran melihat sikap Aliyya.
"Pa... ada sesuatu yang ingin aku bicarakan dengan Papa. Ini sangat penting dan urgent!" jawab Aliyya yang gugup seraya menggenggam erat surat kabar di tangannya.
__ADS_1
"Ada apa Nak? Ayo bicara saja! Apa yang ingin kamu bicarakan pada Papa?" tanya Umar yang semakin penasaran dan ikut tidak tenang.
Aliyya pun terdiam dan semakin gugup. Entah kenapa keraguan untuk memberitahu papanya itu tentang semua tingkah Zein yang membuat dirinya malu. Sementara itu, pembicaraan Umar dan Aliyya tak luput dari perhatian mata Sonia, Namira dan Shafia.
"Sebaiknya Mama hentikan gadis itu. Dia akan memberitahu Papa tentang surat kabar itu, Ma." ujar Namira yang matanya masih tertuju ke sana.
"Tidak perlu, Ma! Kita lihat saja bagaimana reaksi Papa saat melihat foto memalukan itu." timpal Shafia yang masih memperhatikan Aliyya.
"Ayo hentikan dia, Ma." timpal Namira lagi.
"Tidak perlu, Ma!" timpal Shafia lagi.
Posisi Sonia yang berada di antara kedua wanita itu seakan tengah berada di antara dua malaikat. Satu malaikat meminta Sonia untuk mencegah Aliyya bicara pada Umar, sedangkan malaikat yang lain melarang Sonia untuk mencegah Aliyya dan membiarkan Aliyya mengatakan semuanya.
"Shafia benar! Kita biarkan saja dan mari kita lihat bagaimana reaksi Umar pada gadis itu." jawab Sonia yang akhirnya memutuskan.
Senyum kemenangan pun terbit di kedua sudut bibir Shafia. Sementara Namira yang merasa kalah dan gagal membujuk Sonia pun jengah. Akhirnya ketiga wanita berbeda generasi itu tetap berdiri dan memperhatikan Aliyya dari jauh.
"Ayo Nak! Bicaralah! Apa yang ingin kamu bicarakan?" ujar Umar yang sangat sangat penasaran dengan tingkah Aliyya.
Aliyya yang gugup dan ragu pun berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia berusaha menenangkan diri terlebih dahulu untuk berbicara pada Umar.
"Pa... Papa pasti tau 'kan kalau aku tidak ingin membuat keluarga kita malu. Dan aku selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik sejak tinggal di rumah ini. Tapi setiap aku melakukan sesuatu, entah kenapa ada saja yang terjadi di luar rencanaku. Lalu hari ini..."
**Ting!
Nong**!
Wajah Aliyya tertunduk lemas seketika saat mendengar suara bel rumah berbunyi. Putus sudah harapannya untuk memberitahu Umar karena sepertinya teman-teman Sonia sudah berdatangan. Perkataan Aliyya terpaksa harus terhenti karena ia melihat fokus Umar hilang terhadapnya.
"Sepertinya para tamu sudah datang, Tuan. Kalau begitu biar saya membuka pintu dan menyambut kedatangan mereka." ujar Bi Sumi yang antusias.
Bi Sumi pun berlenggang pergi meninggalkan Aliyya yang masih terpaku lemas. Sementara Shafia yang melihat Bi Sumi pergi ke arah pintu tampak menyeringai tajam.
"Ma... ayo hentikan Aliyya!!! Ini saatnya kita memulai pertunjukkan yang tak kalah seru dibandingkan resepsi. Aliyya akan dipermalukan ketika dia sedang diperkenalkan. Pertunjukkan akan terlihat semakin seru, jika Papa melihat surat kabar itu ketika acara kita sudah mulai!" tutur Shafia yang sangat licik dan pandainya.
Mendengar rencana Shafia membuat Sonia menyeringai puas dan langsung mengangguk lalu bergegas menghampiri Umar dan Aliyya. Sementara Namira yang mendengar itu terlihat seperti orang bingung dan bodoh karena tidak membantu sang mama mertua dalam hal ini. Tapi walaupun begitu, Namira tetap mengekori Sonia dan Shafia yang menghampiri Aliyya dan Umar di ruang makan.
"Aliyya... apa yang kamu lakukan? Ayo cepat bersiap! Para tamu Mama sudah datang dan Mama ingin memperkenalkan kamu pada mereka semua. Ayo cepat bersiaplah!!! ujar Sonia yang datang menghampiri Aliyya.
"Tapi Ma, aku harus bicarakan hal penting pada Papa." jawab Aliyya yang berusaha mengelak.
"Bicaranya nanti saja. Sekarang pergilah ke kamar dan cepat bersiap!" timpal Sonia.
"Tapi Ma..."
"Mamamu benar, Sayang. Ayo masuklah ke dalam kamarmu lalu bersiap!" potong Umar.
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Ada kabar buruk sekaligus gembira untuk para sahabat semua nih π€
Kabar buruknya adalah, mulai hari ini, up kisah Aliyya dan Zein bakal author tentukan hanya setiap hari RABU saja ya π₯² dan InsyaAllah dalam up sekali seminggu itu, bakal author up dua episode. Jadi jangan pada kecewa ya πππ
Sedangkan kabar gembiranya adalah khusus untuk para penggemar atau pecinta novel pertama author (hihihi, author terlalu PD banget ya kalau ada penggemar novel pertama π€π) yaitu novel Adikku Sayang Adikku Malang, author sedang menyiapkan cerita sequel untuk melanjutkan kisah anak-anak Ammar, Sadha dan Dhana π InsyaAllah akan author terbitkan di akhir bulan Agustus atau di awal bulan September nanti.
__ADS_1
Kok lama banget sih thor? Hihihi, iya karena author lagi fokus dulu sama CPNS tahun ini. Author minta do'anya ya, biar author bisa lulus jadi PNS tahun ini βΊοΈ dan sambil fokus itu, author bakal menyiapkan sequel keponakan Dhina di novel ketiga π nantikan terus dan jangan di unfavorite dulu novel pertama author ya karena author bakal membuat pengumuman juga di sana π₯°π₯°π₯°
Semangat terus buat para sahabat di sana, semoga kita selalu sehat dan dilindungi oleh Allah SWT πππ