Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 3 ~ Si Tua Bangka


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Apa yang ingin kau lakukan Tuan?"


Zein tetap bergeming dan hanya tersenyum seraya mengerlingkan matanya pada petugas wanita itu dan terus melanjutkan aktifitas konyolnya yang berhasil menarik perhatian semua orang di bandara.


"Bagaimana Nona? Apakah koperku sekarang masih harus membutuhkan biaya untuk bisa masuk ke dalam bagasi?" tanya Zein dengan senyumnya yang menggoda.


"Tidak, Tuan." jawab petugas cantik itu.


"Aku tau itu. Terima kasih." ucap Zein dan berlalu pergi.


Rizal yang melihat tingkah Zein hanya bisa menggelengkan kepala. Lalu Rizal pun mengikuti sahabatnya itu. Dengan sangat santai, putra kesayangan Umar itu berjalan melenggangkan kaki menuju ruang tunggu. Tanpa memperdulikan semua mata yang tertuju ke arahnya dan melihat aneh penampilannya, Zein tetap tetap tersenyum.


***


Saat mereka duduk, Zein yang duduk di tepi melihat ada dua orang tua renta yang tidak mendapatkan kursi. Lalu...


"Hei, Kawan. Ayo kalian berdiri sebentar." ucap Zein yang sok kenal dengan orang lain yang sedang duduk menunggu di depannya.


Tanpa menjawab Zein, kedua orang itu pun langsung berdiri. Lalu...


"Silakan duduk, Pak, Bu. Ayo silakan." ucap Zein pada dua orang tua renta yang berdiri.


"Terima kasih Nak." jawab kedua orang tua itu.


Setelah itu, Zein pun kembali duduk dan sekali kali bercanda dengan Rizal. Mereka sedang menertawakan Mr. Wilson, dosen mereka di kampus.


"Si tua bangka itu selalu saja memarahiku tanpa alasan. Kau selalu melihatnya 'kan?" ujar Zein yang jengah dengan dosennya itu.


"Bukan tanpa alasan, Zein. Semua itu juga karena ulahmu sendiri. Kau itu jarang masuk ke dalam kelasnya." jawab Rizal yang menertawakan Zein.


"Lalu bagaimana dengan kau? Kau juga sama sepertiku." sungut Zein yang jengah.


Rizal yang melihat ekspresi sahabatnya itu hanya tertawa lepas. Sementara Zein, pria itu hanya duduk cemberut, mengutuk Rizal.


***

__ADS_1


Jakarta


Sonia sedang menyiapkan menu makan malam untuk keluarga. Saat Sonia sedang menyiapkan bahan, tiba-tiba Namira dan Shafia datang menghampiri ibu mertuanya.


"Ada apa kalian ke sini?" tanya Sonia dengan nada ketus dan tidak bersahabat.


Namira dan Shafia masih tetap diam namun mata keduanya saling menatap tajam. Lalu...


"Jika tujuan kalian ke sini hanya untuk bertengkar, lebih baik kalian pergi dari sini." tandas Sonia tanpa melirik kedua menantunya itu.


"Bukan aku yang membuat masalah, Ma. Tapi wanita itu yang sudah berani mendengar pembicaraanku dengan Mas Farhan." ujar Shafia yang manja seraya melirik ke Namira.


"Shafia... berhenti menyalahkan orang lain atas perbuatanmu sendiri!!!" tandas Sonia.


Melihat Shafia yang mendapat bentakan Sonia, Namira pun tersenyum puas.


"Ma... aku tidak kuat jika harus tinggal di sini bersama dengan wanita ini. Aku ingin pindah rumah bersama Mas Farhan, Ma." ucap Namira.


"Namira... tidak akan ada yang boleh keluar dari rumah ini, karena Farhan tidak akan pergi dari rumah ini selamanya." tandas Sonia yang kini menoleh tajam ke menantu pertamanya itu.


"Lebih baik kalian pergi dari sini." ujar Sonia tanpa melirik keduanya.


Namira dan Shafia pun langsung pergi dan meninggalkan Sonia di dapur sendirian.


***


Yogyakarta


Saat Aliyya sedang santai bersama dengan orang tua dan adiknya, tiba-tiba terdengar suara notifikasi dari laptop Aliyya yang sedang hidup.


"Ayah, Ibu... Paman melakukan video call." ujar Aliyya seraya membuka video call itu.


"Assalamualaikum, Sayang." ucap Umar yang ada di Jakarta.


"Wa'alaikumsalam, Paman. Paman apa kabar? Aliyya kangen sekali sama Paman." jawab Aliyya yang manja pada sang paman.


"Paman baik, Aliyya. Paman juga sangat kangen sama kamu, ibumu, dan semuanya yang ada di sana." ujar Umar yang nampak tersenyum.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Sabrina, Galuh dan Aldha pun ikut bergabung dalam video call itu.


"Assalamualaikum, Kakak." sapa Sabrina yang senang melihat kakaknya.


"Wa'alaikumsalam, Sabrina. Senang sekali bisa video call dengan kalian." jawab Umar.


"Iya, Kak. Apakah Kakak tau, kalau keponakan kesayanganmu ini akan segera menikah. Dalam minggu ini mereka akan melaksanakan acara pernikahan, Kak." ujar Sabrina yang berbinar.


"Benarkah? Paman ikut senang atas berita ini, Aliyya. Semoga kamu hidup bahagia dengan dia, suamimu kelak." jawab Umar.


"Apakah Paman akan datang ke acara pernikahan Aliyya nanti?" tanya Aliyya yang penuh dengan harapan.


"Paman tidak bisa janji, Sayang. Tapi Paman akan tetap memberikan kamu hadiah sebagai gantinya." jawab Umar yang membuat Aliyya menjadi lesu.


"Aliyya tidak ingin hadiah apa pun, Paman. Aliyya hanya ingin Paman dan Bibi datang ke sini, ke acara pernikahan Aliyya nanti." ujar Aliyya yang mendadak sendu.


Hati Umar pun tercubit karena kata-kata yang keluar dari bibir keponakan kesayangannya itu. Sejak Aliyya kecil, Umar sangat menyayangi gadis itu hingga kini. Setiap apa yang dikatakan oleh keponakannya itu, Umar pasti selalu mendengarkan dan apa pun yang diinginkan oleh gadis itu, dengan hati gembira Umar selalu menurutinya. Namun seperti itulah Aliyya, ia hanya seorang gadis polos dan baik hati. Tidak menuntut apa pun dari sang paman, walaupun kehidupan sang paman di sana sangat maju.


"Paman akan usahakan. Sekarang istirahat lah, hari sudah malam. Paman tutup dulu ya. Assalamualaikum semuanya." ujar Umar seraya melambaikan tangan.


"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya.


Setelah melakukan video call dengan Umar, Aliyya pun memilih untuk istirahat dan tidur.


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Rating cerita baru author ya πŸ™πŸ™πŸ™

__ADS_1


__ADS_2