Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 32 ~ Real Madrid vs Barcelona


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Zein... kamu mau martabak?"


Dengan perasaan cemas, Aliyya berusaha untuk menawarkan Zein hasil masakannya itu seraya menyodorkan piring yang masih terisi banyak oleh martabak telur. Bagi setiap orang yang melihat masakan Aliyya, pastinya mereka akan mengambil dan langsung menikmatinya dengan penuh semangat. Namun tidak dengan Zein. Pria tampan itu tetap bersikap acuh seraya menatap tajam istrinya yang berusaha meluluhkan dirinya.


"Pertandingan sudah dimulai!!!" tandas Zein yang terdengar lambat namun penuh penekanan.


Tanpa menghiraukan tawaran Aliyya, Zein pun berjalan mendekati televisi dan menghidupkan benda pipih yang tertempel lekat di dinding kamarnya itu. Sementara Aliyya yang jengah dengan sikap Zein juga ikut duduk di samping Farhan.


Pertandingan sepak bola yang mereka nantikan sejak tadi pun akhirnya dimulai. Pertandingan di antara Real Madrid vs Barcelona. Semua mata pun kini tertuju serius ke arah televisi seraya menikmati martabak telur buatan Aliyya. Saat pertandingan sepak bola dimulai, tampak Zein yang duduk di atas kasur menoleh sesekali ke arah istrinya. Begitu pula dengan Aliyya, seakan ada magnet yang menarik lehernya untuk segera memutar dan menoleh ke arah Zein, hingga tatapan demi tatapan curian pun terjadi.


Di sela-sela kesibukan menonton, Zein yang sejak tadi belum mencicipi masakan Aliyya sepertinya mulai tergoda dengan aroma khas dari masakan itu. Sesekali pria tampan itu tampak mengiring matanya ke arah troli dan melihat beberapa martabak telur yang sangat menggugah selera. Dari sorot matanya, sudah sangat jelas kalau Zein tengah berusaha kuat untuk menahan nafsu lidahnya seraya menelan salivanya dengan kuat. Sungguh, memalukan!


Di saat yang bersamaan, Aliyya yang penasaran pun ikut mengiring matanya dan menoleh. Raut muka jengah dengan tatapan tajam pun ditoleh Aliyya pada Zein yang juga menatapnya tajam. Setelah tatapan itu saling bertemu, Aliyya pun kembali fokus ke televisi dan begitu pula Zein. Tragedi saling mencuri-curi pandang di antara pasutri yang saling membenci itu tidak terjadi satu kali, melainkan berkali-kali hingga Karim yang sejak tadi memilih untuk tidak duduk dan berdiri di dekat troli melihat adegan itu.


"Wah, sepertinya pertandingan malam ini tidak hanya terjadi di televisi. Tapi juga di kamar ini." ujar Karim yang membuyarkan keduanya.


Semua mata yang tadinya tertuju pada televisi pun teralih saat Karim membuka suara.


"Apa maksudmu, Rim?" tanya Rizal yang ikut menoleh dan penasaran.


"Sejak tadi Zein selalu melempar pandangan pada Aliyya. Wah, kalian ini memang pasangan suami istri yang sangat romantis ya." jawab Karim yang terkekeh melihat keduanya.


Semua orang yang ada di dalam kamar itu pun ikut menertawakan Zein dan Aliyya. Sementara keduanya yang tercyduk malah saling melempar tatapan jengah.


"Kami hanya sedang memberikan isyarat tentang pertandingan ini. Kalian tau bukan, kalau Zein mendukung Real Madrid sedangkan aku mendukung Barcelona. Sejak pagi, kami selalu bertengkar tentang siapa yang akan menjadi pemenangnya malam ini." timpal Aliyya seraya melirik jengah ke arah Zein.


"Kamu mendukung Barcelona Al?" tanya Farhan yang antusias dan terkejut dengan pilihan Aliyya.


"Tentu Kak, sejak dulu aku selalu mendukung Barcelona dibandingkan Real Madrid." jawab Aliyya yang masih melirik jengah ke arah Zein seraya melakukan aksi tos dengan iparnya itu.


Zein yang melihat adegan itu pun semakin dibuat kesal dan jengah oleh istrinya. Sementara Aliyya tampak tersenyum puas melihat ekspresi suami tampannya yang menjengkelkan itu.


"Kamu juga menyukai sepak bola Aliyya? tanya Karim yang semakin penasaran dengan Aliyya.


"Ya tentu saja!!! Memang tidak boleh ya kalau seorang wanita menyukai sepak bola?" tanya Aliyya balik yang berhasil mengalihkan mata serta perhatian semua teman Zein dari televisi.


"Ya tentu saja boleh, Al." jawab semuanya yang serentak dan mengacuhkan Zein.


"Saat di Jogja, sepupuku sering sekali menonton pertandingan sepak bola seperti ini dan aku yang mendapat bagian untuk menyiapkan makanan. Jadi mau tidak mau, aku juga mulai menonton." ujar Aliyya yang menceritakan kisah hidupnya.


"Wah kamu memang hebat, Al!" jawab semuanya yang serentak lagi.


Zein yang melihat dan mendengar pun semakin jengah dibuatnya. Bahkan Adi dan Rizal sampai turun dari tempat tidur demi mendengar cerita Aliyya. Sementara dirinya, hanya diacuhkan dan tidak dianggap seperti orang asing. Malangnya nasib Zein yang mempunyai teman yang tidak bisa menjaga matanya dari wanita cantik.


Aliyya yang tertawa saat mengobrol pun sesekali melirik ke arah Zein. Senyum puas terbit seketika di saat matanya memperhatikan suaminya yang sedang kesal itu. Namun ia tidak peduli dengan rasa kesal Zein dan memilih untuk menyaksikan pertandingan sepak bola yang sedang seru.


"Kartu kuning!!! Sekarang Barcelona akan melakukan tendangan bebas dan aku yakin mereka akan memenangkan pertandingan." ujar Aliyya yang asyik memperhatikan televisi.

__ADS_1


"Wah Aliyya, kamu benar-benar hebat." jawab Vian yang menyaksikan pertandingan itu dan benar saja, Barcelona melakukan tendangan bebas karena Real Madrid mendapat peringatan.


Zein semakin terpaku melihat keakraban Aliyya dengan semua teman-temannya. Pria itu hanya memandangi Aliyya dengan heran dan tidak suka pastinya, karena ia merasa tidak mempunyai teman di saat Aliyya berada di sini. Dan yang membuat Zein semakin tertegun adalah teka-teki Aliyya tentang pertandingan itu. Sungguh, Aliyya benar-benar menakjubkan di mata semua pria kecuali Zein Abdullah, suaminya sendiri.


"Gol!!!"


Suara pekikan semua orang yang ada di kamar Zein pun bergema kuat tatkala melihat prediksi yang Aliyya katakan benar. Barcelona berhasil mencetak angka karena penjaga gawang dari pemain lawan tidak mampu menjangkau bola itu. Akibatnya, bola masuk ke dalam gawang dan gol hingga menciptakan angka untuk Barcelona.


Aliyya dan Farhan yang menjadi pendukung setia Barcelona pun dibuat kegirangan. Sementara itu, Karim, Vian, Syakir dan Adi yang tadinya mendukung Real Madrid kini berputar haluan dan mengikuti Aliyya untuk mendukung Barcelona. Mereka semua tampak bersorak-sorai sehingga kamar itu sudah seperti lapangan bola yang asli. Namun tidak dengan Zein dan Rizal yang masih setia dengan tim favoritnya dari sejak lama. Zein pun melirik tajam istrinya yang sedang tertawa lepas itu dan Aliyya tampak tidak menghiraukan dirinya. Kasihan sekali kamu, Zein!!!


Aliyya semakin asyik menyaksikan pertandingan sepak bola yang semakin seru itu. Sementara Zein yang tadinya sibuk memperhatikan Aliyya, perlahan mendorong bola matanya melirik troli makanan yang masih banyak tersedia martabak di atasnya. Namun martabak telur itu semakin berkurang secara perlahan karena teman-teman Zein dan juga Farhan yang memakannya seraya menonton bola. Zein yang sejak tadi melihat ke martabak itu pun menelan salivanya dengan kuat dan berusaha untuk menahan selera.


"Gol!!!"


Kini pekikan Zein dan Rizal yang bergema kuat di saat Real Madrid juga berhasil mencetak angka. Dengan seringai puas nan tajam, Zein melirik sang istri yang ikut meliriknya dengan cemberut. Gemas, mungkin jika Zein menyayangi Aliyya, ia akan mencubit mesra pipi istrinya. Namun Zein yang belum menerima statusnya itu masih acuh dan mengejek Aliyya dengan tatapan jahilnya itu.


Aliyya yang melihat tatapan jahil suaminya itu hanya mendengus kesal lalu memalingkan lagi wajahnya dan fokus ke televisi dibandingkan harus melihat wajah menjengkelkan Zein. Kali ini Zein yang sukses membuat Aliyya kesal. Namun matanya itu tak bisa berpaling dari martabak itu dan Zein ingin sekali memakannya. Tapi gengsi tetaplah gengsi yang sangat sulit diluluhkan.


Drrrrttt!


Saat Aliyya, Zein, Rizal dan semuanya tengah asyik menonton pertandingan, tiba-tiba saja ponsel Farhan bergetar. Karena tidak ingin mengganggu yang lain, Farhan pun beranjak untuk menerima telepon dari seseorang.


"Hallo, ada apa lagi? Aku sedang sibuk saat ini." ujar Farhan yang berbisik di ponselnya.


"..."


"Apa hubungannya dengan Namira dan Shafia?" tanya Farhan yang tidak terlalu menghiraukan.


"..."


"..."


"Nanti akan aku hubungi kembali." ujar Farhan yang menutup telepon dan kembali ke duduknya.


Farhan pun kembali duduk di samping Aliyya dan menyaksikan pertandingan sepak bola yang seru itu. Aliyya yang juga asyik menonton tanpa sadar Zein sejak tadi memperhatikannya dari samping. Rasa penasaran lidahnya pada martabak buatan Aliyya kini tak bisa ditahan lagi. Entah penasaran atau memang ia ingin sekali mencicipi masakan Aliyya, hingga membuatnya bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan menghampiri troli secara diam-diam dan mengambil satu martabak telur yang masih tersisa. Tinggal satu buah martabak telur yang tersisa dan Zein membawanya pergi.


Tanpa sepengatahuan yang lainnya, Zein keluar setelah berhasil mengambil satu martabak telur itu dan duduk di tepi koridor lantai dua.


"Akan lebih enak jika dimakan dengan sausnya!"


Di saat martabak telur spesial buatan Aliyya tepat berada di depan mulutnya dan hendak masuk ke dalam sarang mulut Zein, tiba-tiba terdengar suara yang membuat pria itu terkejut. Seketika Zein menghentikan tangannya untuk memasukkan martabak itu ke dalam mulutnya lalu menoleh ke arah sumber suara.


Zein benar-benar tertegun melihat keberadaan istrinya yang berdiri di ujung koridor seraya membawa satu mangkuk berisi saus sambal sebagai teman menikmati sebuah martabak telur. Aliyya yang tersenyum simpul melihat tingkah Zein pun berjalan mendekatinya. Lalu Aliyya menyodorkan mangkuk kecil berisi saus itu.


"Aku tidak akan memakan saus atau martabak ini!" ujar Zein yang jengah karena tepergok oleh Aliyya saat ingin mencicipi satu martabak itu.


"Lalu apa yang ada ditanganmu itu kalau bukan martabak?" tanya Aliyya yang menahan tawanya.


Tanpa menoleh ke arah Aliyya, Zein pun meraih tangannya dan meletakkan martabak itu tepat di atas telapak tangan istrinya itu. Gagal sudah rencana Zein untuk memanjakan lidahnya yang sejak tadi bergejolak ingin menikmati masakan Aliyya itu. Sementara Aliyya hanya menggeleng kepala melihat rasa gengsi suaminya yang tinggi hingga sanggup menahan selera seperti itu.

__ADS_1


"Yah... ada apa dengan televisi itu?" ujar Farhan yang beranjak karena terkejut melihat televisi itu.


Di saat Farhan, Rizal dan teman-temannya sibuk menonton pertandingan, tiba-tiba saja televisi di kamar Zein mati seketika. Suara keluhan semua orang yang ada di kamar Zein pun terdengar oleh Aliyya dan Zein yang berada di koridor.


"Sana!!! Kamu lanjutkan saja menonton sepak bola bersama teman-temanmu itu!" seru Aliyya yang hendak pergi namun dicegah oleh Zein.


"Kamu 'kan yang sudah merusak kabel televisi di kamarku?" tandas Zein seraya mencekam lengan Aliyya dan menatapnya tajam.


"Oh, jadi segala sesuatu yang buruk terjadi di rumah, kamar, bahkan di dunia pada hari ini semuanya karena salahku ya?" tandas Aliyya balik seraya menepis kasar tangan suaminya.


"Aku tidak tau tentang dunia! Yang aku tau saat ini adalah semua masalah yang terjadi di dalam hidupku terjadi karena dirimu! Aku ingin menonton pertandingan sepak bola bersama teman-temanku dan kamu tidak menyukai itu juga! Apakah kamu sudah merasa bahagia?" tandas Zein yang tidak membentak tapi penuh penekanan.


"Kamu pikir aku bahagia? Kebahagiaan yang aku dapatkan di saat video call itu sudah hilang dan itu semua karena sikapmu!" tandas Aliyya balik tanpa menatap Zein yang menatapnya tajam.


Zein yang kesal pun masih menatap tajam dan benci istrinya itu. Sementara Aliyya yang kesal hanya memalingkan wajah dan enggan untuk melihat wajah Zein.


"Zein... ada apa dengan televisimu?" ujar Rizal yang datang tergesah-gesah menghampiri Zein.


"Pertandingan sedang seru, tapi televisimu mati tiba-tiba seperti itu." timpal Karim yang ikut dan menyusul Rizal.


"Zein... ayo lakukan sesuatu!" timpal Vian yang tidak sabar karena pertandingan sepak bola.


"Lebih baik kita cari restoran terdekat saja agar kita bisa menyaksikan pertandingan lagi." timpal Karim lagi yang sangat antusias.


"Biar aku hubungi dulu teknisinya." jawab Zein yang bangkit dari duduk di tepi balkon koridor.


"Tapi siapa yang akan datang selarut ini Zein?" tanya Rizal yang tidak bersemangat lagi.


Zein pun terdiam sejenak dan memang benar, di larut malam seperti mana ada teknisi yang kerja dan membuka pelayanan. Tidak hanya Zein yang diam dan bingung, tapi semuanya juga. Di larut malam seperti ini semua orang pasti sudah larut dalam dunia mimpi dan tidak ada orang yang melakukan aktifitas.


"Biar aku saja! Kalian jangan khawatir. Dalam waktu sepuluh menit pasti akan kembali lagi." ujar Aliyya yang angkat bicara dengan santai.


Zein yang terdiam terperangah seketika saat mendengar perkataan sang istri. Sementara Aliyya yang melihat Zein terperangah hanya melempar seringai tipis penuh kemenangan karena sejak tadi, ia selalu menunjukan bakat yang ada di dalam dirinya pada semua orang. Bukan bermaksud sombong pastinya tapi untuk membuat Zein sadar betapa berharga dan berartinya seorang wanita yang bernama Aliyya. Namun bukan itulah yang menjadi tujuan Aliyya, melainkan hanya sekedar membantu di situasi genting seperti ini.


"Tidak!!! Biar aku panggil teknisi! Mereka pasti bisa datang ke sini." timpal Zein yang pastinya tidak setuju jika sang istri jadi pahlawan lagi.


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Duh Zein kekeuh banget sih, udah kasih Aliyya kesempatan buat memperbaiki kabel antenna televisimu 😌 siapa tau aja berhasil dan kamu bisa hemat uang buat bayar teknisi πŸ˜‚

__ADS_1


Kira-kira Zein bakal kasih izin ngak ya? Kalau dikasih, Aliyya bisa ngak ya memperbaikinya terus mereka bisa nonton bola lagi deh πŸ˜…πŸ˜…


Maaf ya kalau author ngak paham banget sama ilmu persepakbolaan wkwkwk karena author aja ngak terlalu suka sama sepak bola, kecuali sama bolanya suka main waktu kecil πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2