
...πΉπΉπΉ...
"Seharusnya Mama tidak memberitahu Bibi Sabrina tentang perceraian itu!"
Guratan kebencian pun semakin terukir jelas di wajah Sonia tatkala mendengar perkataan Zein. Tangannya juga tampak mengepal kuat hingga beberapa lembar kertas pun ikut remuk seperti wajahnya yang masam dan ditekuk itu.
"Oh jadi dia sudah menghubungimu? Pasti dia sudah menangis sesegukan dan berusaha untuk menghasut kamu agar tidak menceraikan Aliyya. Dasar picik!!! Dia pasti berusaha untuk memeras kamu, Zein! Seperti dia memeras papamu." jawab Sonia yang berjalan mendekati Zein.
"Ma... aku paham dan senang sekali karena Mama selalu berusaha untuk melindungi aku. Tapi ini masalahku dan Aliyya, Ma. Jadi aku sendiri yang akan menangani semua masalah dan menyelesaikan semuanya." ujar Zein seraya memegangi kedua bahu sang mama.
"Tapi Zein..."
"Tuan Zein... Tuan Umar memanggil anda, Tuan." potong seorang pelayan yang menghampiri Zein.
"Ya, aku akan ke sana." jawab Zein tanpa melihat ke pelayan itu dan menatap Sonia yang marah.
Sonia tetap bergeming dengan wajahnya yang sangat masam. Bagaimana tidak masam, Zein memintanya untuk tidak ikut campur dalam masalah pernikahannya dan Aliyya setelah semua yang telah terjadi karena kecerobohan. Hati Sonia semakin dilanda kecemasan yang tidak berujung. Sementara Zein memilih untuk pergi dari kamar sang mama, dan meninggalkan Sonia dalam keadaan marah dan tidak terima.
Drrrrttt!
Saat Zein baru saja keluar dari ruang kerja Umar seraya membawa sebuah peper bag, tiba-tiba ia merasakan getaran yang berasal dari celananya. Zein pun menghentikan langkahnya dan meraih ponselnya yang tak berhenti bergetar itu.
"Hallo, ada apa kau menghubungiku?" tandas Zein pada seseorang yang menghubunginya.
"Hei, ayolah Kawan! Jangan marah-marah lagi. Kau masih marah padaku karena aku selalu membela Aliyya dan Paman Umar? Ayolah, jangan marah terus. Kau itu sahabat dan juga saudaraku yang paling terbaik di dunia ini. Kalau kau masih marah padaku lalu siapa lagi yang bisa kuajak untuk acara rutin kita nanti malam." jawab Rizal yang berusaha membujuk Zein.
Zein pun terhenyak seketika saat berusaha memahami perkataan Rizal.
"Maksudmu apa, hah!?" tandas Zein yang masih kesal tapi penasaran juga.
"Kau tidak lupa bukan, kalau nanti malam ada tayangan pertandingan bola di salah satu stasiun televisi? Kau sudah berjanji, kalau kau akan mengajakku dan teman-teman yang lain untuk nonton bersama! Jadi kita nonton di luar saja agar lebih seru." ujar Rizal yang terdengar sangat antusias di sana.
"Oh, masalah itu. Ya, aku tidak akan lupa. Tapi kenapa harus nonton di luar? Biasanya kau dan teman-teman yang lain menonton di sini." jawab Zein yang masih jengah seraya bertanya balik.
"Kau lupa ya? Kalau pertandingan itu dimulai jam dua belas malam dan selesai jam satu lewat. Di saat itu istrimu pasti ada di kamar dan sedang beristirahat. Kami tidak mau mengganggunya." jawab Rizal yang paham dengan posisi Zein.
"Dia bukan istriku dan jangan pernah menyebut posisinya di rumah ini seperti itu lagi! Sampai kapan pun kamarku itu akan tetap terbuka dan menerima kedatangan kalian kapan saja. Kita tidak akan menonton di luar! Seperti biasa, kita akan menonton pertandingan itu di kamarku. Jika ada orang yang keberatan, maka dia yang harus pergi dari kamar itu!" tukas Zein.
"Tapi kau tidak boleh seperti itu pada istrimu, Zein." ujar Rizal yang berusaha mengingatkan.
"Kau ingin menonton atau membela gadis itu?" tanya Zein dengan nada bicara yang tinggi.
"Ck!!! Kau ini tetap saja marah. Ayo, kita keluar! Teman-teman kita sudah menunggu di Cafe dan kau harus ikut! Biar pikiranmu itu bisa tenang!!!" ujar Rizal yang berusaha membujuk Zein.
"Baiklah, aku one the way ke sana." jawab Zein.
Zein yang masih kesal dengan sahabatnya itu pun mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan perjalanan menuju lantai atas. Ternyata pria itu masuk ke dalam kamarnya dan tampak Aliyya yang sedang membersihkan kamar itu dengan sangat telaten.
Aliyya menghentikan aktifitasnya merapihkan kamar Zein saat melihat pria yang berstatus sebagai suaminya itu tiba-tiba datang. Aliyya yang tentunya masih marah, kesal, kecewa dan membenci suaminya itu pun memilih untuk duduk di atas kasur lalu meraih sebuah buku majalah yang terletak di atas meja rias Zein. Sementara Zein yang melihat Aliyya tampak mendengus kasar lalu membanting tubuhnya ke atas sofa, duduk seraya menyilangkan kaki dan menatap tajam istrinya.
Bruk!
Saat Aliyya tengah asyik membaca majalah, tiba-tiba saja dari arah sofa Zein melempar sesuatu ke arahnya. Sesuatu yang berasal dari dalam peper bag dan berbentuk persegi panjang berwarna coklat. Sekilas, Aliyya pun melirik Zein yang sejak tadi menatapnya dengan tajam dari arah sofa, lalu memperhatikan benda persegi panjang berwarna coklat itu.
"Makanlah coklat itu! Dengan begitu rasa pedas yang ada di dalam mulutmu akibat makan tadi akan hilang secepatnya." ujar Zein yang sedang membuka coklat di tangannya.
Raut wajah Aliyya seketika terperangah ketika mendengar perkataan Zein. Bagaimana pria itu bisa tau kalau ia juga ikut merasa kepedasan karena makanan itu? Sungguh menyebalkan!!!
"Tidak perlu merasa heran begitu! Aku sempat melihatmu ikut mencicipi makanan yang kamu buatkan itu! Dasar gadis ceroboh!" tukas Zein tanpa melirik Aliyya sedikit pun dan menikmati coklatnya.
"Ck!!! Rasa pedas itu terkadang diperlukan untuk menghadapi pria seperti dirimu dan aku sungguh tidak memerlukan coklat ini!" tandas Aliyya yang melempar balik coklat itu pada Zein.
"Ya sudah kalau kamu tidak mau, pakai ini saja. Itu pakaian pemberian Papa dan Papa ingin kamu memakainya." ujar Zein seraya melempar sebuah gaun cantik pada Aliyya.
"Kamu pikir aku percaya! Kalau pakaian ini dari Papa? Kamu ingin balas dendam 'kan karena aku berhasil mengerjaimu dengan makanan pedas? Dan kamu ingin membalasnya dengan cara yang sama dengan menyuruhku seperti ini?" tandas Aliyya seraya melempar balik pakaian itu.
"Apa yang kamu pikirkan, hah!? Pakaian itu benar-benar dari Papa. Tadi Papa sendiri yang memanggilku untuk memberikan semua ini pada keponakan kesayangannya!" tandas Zein seraya melempar lagi pakaian serta coklat untuk Aliyya.
__ADS_1
"Oh ya!!! Kamu pikir aku akan percaya dengan sangat mudah!!! Aku tidak ingin memakai baju apa pun yang kamu berikan, Zein Abdullah! Gaun ini sangat jelek dan aku tidak mau memakainya!" tandas Aliyya seraya melempar lagi pada Zein.
Zein pun mendengus kesal melihat tingkah sang istri yang sangat tidak berbeda jauh dari dirinya, yaitu keras kepala dan ceroboh. Lalu Zein berdiri dan berjalan mendekati Aliyya.
"Ambil dan pakailah!!! Papa yang menyuruhmu memakai gaun itu dan turun sepuluh menit lagi." ujar Zein yang penuh dengan penegasan seraya memberikan gaun itu pada istrinya lagi.
"Tuan Zein Abdullah! Aku tidak akan memakai pakaian ini, maka ambil saja!" tandas Aliyya.
Dengan sekuat tenaga, Aliyya yang merasa akan dijahili balik oleh Zein melempar gaun cantik itu ke arah jendela kamar. Namun saat bersamaan, Umar yang ingin menghampiri keduanya datang dan melewati jendela kamar mereka. Umar pun terkejut saat mendapati gaun yang ia belikan itu terbang dari dalam kamar sang putra. Dengan sangat lincah, tangan kekar pria paruh baya itu menangkap gaun terbang itu. Aksi Umar berhasil membuat Aliyya terperanjat dan seketika terdiam seraya melirik tajam ke arah Zein. Sementara yang dilirik, tampak terkikik geli dan memegangi perutnya yang sakit karena menahan tawa.
"Aliyya... kenapa kamu membuang gaun ini Nak? Apakah kamu tidak menyukainya?" tanya Umar yang memegang gaun itu seraya melihat ke Zein.
"A-aku menyukai gaun itu, Pa. Sungguh, aku sangat menyukainya." jawab Aliyya yang gugup seraya merebut gaun itu dari tangan Umar.
"Bohong, Pa! Dia bilang gaun itu sangat jelek dan dia tidak mau memakai gaun pemberian Papa." timpal Zein yang memprovokasi sang papa.
"Tidak, Pa. Itu sangat tidak benar. Papa jangan mendengarkan perkataan Zein. Aku sangat menyukai gaun ini dan aku akan memakainya." timpal Aliyya yang berusaha meyakinkan Umar.
"Kalau kamu tidak suka, Papa bisa menyuruh mamamu untuk mengganti pakaian ini dengan pakaian yang lain." ujar Umar seraya melihat keduanya.
"Jangan, Pa. Aku akan memakai gaun ini." jawab Aliyya yang gugup seraya melirik tajam Zein.
"Ya sudah, kalau begitu Papa mau berangkat ke kantor dulu ya." ujar Umar yang tersenyum.
Aliyya dan Zein pun hanya tersenyum seraya menganggukan kepalanya. Sementara Umar berlenggang pergi meninggalkan keduanya. Setelah Umar pergi, tawa Zein seketika pecah dan memenuhi semua sudut ruang kamarnya. Zein tertawa lepas saat mengingat ekspresi Aliyya yang ketakutan dan panik karena Umar datang mendadak menghampiri. Melihat tawa sang suami yang pecah, Aliyya pun mendengus kesal dan memilih untuk beranjak dari hadapan Zein.
"Ternyata kamu itu tidak sepintar yang aku kira dan aku tidak sebodoh yang kamu kira, Aliyya!!!" ujar Zein yang masih terkekeh melihat istrinya.
Langkah Aliyya seketika berhenti mendengar itu, lalu ia memutar tubuhnya dan menatap tajam ke arah suaminya yang menyebalkan itu. Zein pun berjalan mendekati Aliyya yang menatapnya dengan sinis.
"Aku berpikir sepuluh langkah lebih jauh darimu, keponakan kesayangan!" ujar Zein yang tampak menyeringai puas melihat ekspresi Aliyya.
"Orang yang berpikir jauh ke depan sering kali tersandung karena tidak berhati-hati!" tandas Aliyya yang ikut menyeringai licik.
"Ck!!! Aku akan memberitahu Papa, berapa banyak kamu membuang gaun cantik ini." ujar Zein seraya merebut gaun itu dari Aliyya.
Zein yang menarik gaun itu pun terhenti karena Aliyya menahannya di sisi lain.
"Lepaskan gaun ini! Gaun ini milikku!" ujar Aliyya yang berusaha merebut kembali gaun itu.
"Lima menit yang lalu kamu tidak menginginkan gaun ini. Jadi gaun ini menjadi milikku!" jawab Zein yang semakin menggenggam kuat gaun itu.
"Lepaskan Zein! Kamu pikir kamu itu siapa, hah?" tandas Aliyya yang ikut menggenggam gaun itu.
"Aku adalah pahlawan dan monster dalam kisah hidupmu! Dan di sinilah akhir dari kisahmu yang malang itu!" jawab Zein yang menyeringai jahil.
"Kisah itu baru saja akan dimulai dengan air matamu, Zein Abdullah!!!" tandas Aliyya yang masih kekeuh merebut gaun itu dari tangan Zein.
"Dan akan berakhir dengan air matamu, Aliyya!" ujar Zein yang semakin kekeuh dari Aliyya.
"Kita lihat saja nanti!!!" jawab Aliyya lagi yang semakin menguatkan pegangan pada gaun itu.
Aksi merebutkan gaun pun terjadi. Semakin kuat dan semakin kekeuh. Keduanya tidak ada yang mengalah dan tetap keras kepala. Bahkan wajah keduanya pun semakin dekat karena berusaha untuk merebut gaun itu dari tangan satu sama lain. Tatapan tajam keduanya pun ikut terkunci dan tangan mereka tetap aktif merebut gaun itu.
Bruk!
Saat keduanya saling tarik menarik gaun yang sedang diperebutkan, Aliyya dan Zein pun tidak bisa menyeimbangi diri masing-masing hingga keduanya jatuh ke atas kasur. Tubuh Zein yang kekar pun menghimpit tubuh mungil Aliyya dan tatapan keduanya pun semakin lekat dan dalam.
Degh!
Zein pun berusaha untuk bangkit. Namun di saat ia hendak beranjak dari Aliyya, tangan Zein yang menopang dan memberi jarak di antara tubuhnya dengan tubuh Aliyya, seketika terasa lemah dan membuat tubuh kekarnya semakin menghimpit Aliyya. Mata keduanya pun saling bertemu lagi. Sesekali Aliyya memalingkan wajahnya sehingga hidung mancung Zein berhasil menyentuh pipi mulus istrinya.
"Bisa kah kamu menyingkirkan tubuhmu yang besar ini dari tubuhku?" tandas Aliyya seraya mendorong kasar tubuh Zein.
Zein yang didorong pun terhempas ke samping. Sementara Aliyya bergegas bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi.
"Ck!!! Dasar gadis aneh!"
__ADS_1
Karena merasa kesal, Zein pun memilih pergi bersama Rizal yang menghubunginya.
***
Setelah Zein pergi, tidak berselang lama setelah mencoba gaun pemberian Umar, Aliyya keluar dari kamar mandi lalu meletakkan gaun itu ke dalam lemari. Setelah itu, Aliyya pun duduk lagi di tepi tempat tidur dan meraih foto kedua orang tuanya yang berada di Jogja.
Dengan sepenuh hati, Aliyya mengusap lembut foto itu seakan tengah mengusap wajah mereka. Rasa rindu pun tak dapat dibohongi. Kini Aliyya sangat merasakan hal itu, rindu yang teramat besar. Kerinduan di dalam hati membuatnya termenung seraya menatapi wajah keduanya.
"Ternyata kamu sedang merindukan mereka."
Suara lembut yang tak asing itu seketika saja membuyarkan lamunan Aliyya. Gadis itu pun meletakkan kembali foto itu dan menoleh ke arah pintu.
"Bi Sumi..."
"Lihatlah! Kedua orang tuamu juga merindukan dirimu hingga mengirimkan paket ini untukmu, Sayang." ujar Bi Sumi yang antusias lalu masuk.
"Ini paket untukku dari Jogja Bi?" tanya Aliyya yang tidak percaya.
"Iya Sayang..."
Dengan sangat antusias dan bahagia, Aliyya pun mengambil paket itu dari tangan Bi Sumi. Melihat senyum di wajah gadis itu membuat hati Bi Sumi lega dan ikut merasakan kerinduan yang tengah dirasakan oleh Aliyya. Bi Sumi pun ingin pergi dari kamar itu karena tidak ingin membuat Aliyya terganggu.
"Bibi mau pergi ke mana? Ayo temani aku untuk membuka paket ini, Bi." ujar Aliyya yang melihat Bi Sumi berjalan mendekati pintu.
"Baiklah..."
Aliyya pun mulai membuka paket kiriman dari sang ibu yang berada di Jogja dan dibantu juga oleh Bi Sumi dengan penuh semangat. Kedua wanita berbeda generasi itu saling melempar senyuman tatkala membuka paket bersama.
"Wah, makanan ringan dan cemilan kesukaanku, Bi. Ibu mengirimkan ini untukku." ujar Aliyya yang sangat senang mendapat kiriman.
"Iya, ibumu pasti juga sangat merindukanmu di sana. Dengan mengirimkan semua ini padamu, bisa membantu memulihkan rasa rindunya itu." jawab Bi Sumi yang tersenyum melihat Aliyya.
Aliyya pun hanya mengangguk dan tersenyum. Tanpa terasa, bulir bening jatuh dari matanya. Ternyata kiriman sang ibu tidak membuahkan hasil untuk mengikis sedikit rasa rindunya. Justru malah semakin besar sehingga air mata pun tak mampu dibendung lagi. Namun dengan cepat tangan Aliyya menyeka air matanya agar Bi Sumi tidak melihatnya menangis.
"Wah ada amplop besar. Kira-kira apa ya isinya." ujar Bi Sumi seraya mengambil sebuah amplop.
Bi Sumi pun memberikan amplop putih besar itu pada Aliyya. Sementara Aliyya yang mengambil amplop besar itu dari tangan Bi Sumi langsung membukanya dengan sangat antusias. Seketika wajah Aliyya mendadak pias tatkala melihat isi dari amplop putih besar itu. Matanya yang sudah basah pun kembali memanas, melihat pantulan dirinya di dalam sebuah foto bersama Zein saat pernikahan.
"Wah, itu foto pernikahan ya. Boleh Bibi melihat foto itu sebentar?" ujar Bi Sumi yang melihat itu.
"Tentu saja, Bi." jawab Aliyya seraya memberikan foto itu pada Bi Sumi.
"MasyaAllah... Zein tampan sekali di foto ini dan kamu juga sangat cantik, Sayang. Kalian itu memang berjodoh. Bibi do'akan agar kamu dan Zein hidup bahagia selamanya." tutur Bi Sumi.
Aliyya hanya tersenyum kikuk mendengar do'a Bi Sumi. Sangat banyak orang yang menginginkan hubungannya dengan Zein hancur. Namun tidak sedikit pula orang yang menginginkan keduanya agar tetap bersama. Tapi apakah do'a dari orang yang tidak sedikit itu akan terkabul? Entahlah. Aliyya hanya bisa tersenyum tatkala mengingat semua itu. Hubungan yang dibuat secara paksa ini membuatnya frustasi dan takut. Frustasi saat menghadapi sikap Zein yang sering berubah itu. Takut jika ia tidak mampu menjaga kepercayaan Umar dan kedua orang tuanya.
"Aliyya... kenapa kamu melamun?" ujar Bi Sumi.
"Ah iya maaf, Bi. Aku terlalu merindukan kedua orang tuaku di Jogja." jawab Aliyya yang kaget.
"Kenapa tidak kamu hubungi saja mereka? Saat ini mereka pasti sedang menantikan kabar dari paket ini. Ayo, hubungi saja mereka dan beritahu kalau paketnya sudah sampai dengan selamat." ujar Bi Sumi seraya mengelus kepala Aliyya.
Aliyya pun mengangguk lalu meraih ponselnya yang terletak di atas nakas dan menghubungi Sabrina di Jogja.
"Assalamualaikum Ibu..."
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
__ADS_1