Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 36 ~ Pergi Ke Pesta


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Mama ingin mengeluarkan Aliyya dari rumah ini 'kan? Serahkan saja semuanya padaku. Mama tinggal melihat saja apa yang akan aku lakukan."


Sonia yang tadinya terdiam pun menoleh cepat ke arah Shafia. Sementara Shafia tampak sangat berharap agar Sonia mau mendengarkan dirinya. Dengan begitu, Shafia tidak hanya terbebas dari ancaman Namira tapi Shafia juga bisa merebut simpati dan perhatian dari Sonia di rumah itu.


"Baiklah, Mama akan menyerahkan semuanya padamu. Memang apa rencanamu untuk Aliyya?" ujar Sonia yang menyeringai tipis pada Shafia.


"Hari ini adalah hari valentine dan Aliyya akan pergi ke pesta bersama Zein. Aku akan ikut ke pesta itu dan mengikuti mereka." jawab Shafia yang tersenyum penuh kemenangan.


"Oke..."


Senyum di wajah cantik Shafia tampak semakin lebar tatkala dirinya mendapatkan izin dan restu untuk pergi ke pesta itu dengan alasan mengikuti Aliyya. Namun sebenarnya bukan itulah yang menjadi tujuan istri kedua Farhan itu. Ada niat lain yang membuatnya ingin sekali datang dan menghadiri pesta hari valentine itu.


Namira... kamu harus tau kalau aku akan ikut dan menghabiskan hari valentine bersamamu. Kamu juga harus tau kalau aku juga akan ikut karena aku ingin merusak hari valentine-mu bersama Mas Farhan. Gumam Shafia dalam hati.


***


Zein yang terdiam pun menghela nafas panjang lalu melangkah pergi menuju lantai atas. Ketika dirinya sampai di depan kamar, ia melihat sang istri yang tengah menatap lekat foto Sabrina dan Galuh seraya tersenyum. Perlahan, Zein masuk dan ingin menghampiri Aliyya yang termenung.


Drrrrttt!


Suara getaran ponsel Zein yang sangat keras berhasil membuyarkan lamunan Aliyya. Lalu Zein yang terperanjat dengan getaran keras itu langsung meraih ponsel dan mengangkatnya.


"Ya hallo, Vian..." ujar Zein yang mengangkat telepon dari Vian di seberang sana.


"..."


"Oh, ya aku dan Aliyya akan datang tepat waktu untuk acara pestamu itu. Kau tenang saja, Vian." ujar Zein lagi seraya melirik ke arah Aliyya yang menoleh heran saat mendengar perkataannya.


"..."


"Kau tenang saja, Vian. Aku akan datang tepat pada waktunya. Tapi kau tau sendiri 'kan berapa lama seorang wanita itu harus berdandan." ujar Zein yang melihat ke arah Aliyya.


"..."


"Kau ingin bicara dengan Aliyya?" tanya Zein seraya menoleh dan melihat ke arah Aliyya.


"..."


"Baiklah, bicaralah dengannya." ujar Zein.


Dengan ragu, Zein pun menarik tangannya dari telinganya lalu menyerahkan ponselnya kepada Aliyya yang memperhatikan gerak-geriknya dan mengambil ponsel Zein.


"Vian ingin bicara denganmu!" seru Zein datar.


Aliyya yang mulai curiga pun tidak bisa menolak jika memang Vian ingin bicara dengannya. Lalu Aliyya mengambil ponsel Zein dan berbicara via telepon dengan Vian.


"Hai Vian..." ujar Aliyya yang mulai berbicara seraya melirik ke arah Zein.


"Hai Aliyya... aku hanya ingin mengatakan tentang yang dikatakan Zein tadi. Buktikan kalau yang dikatakan pria itu salah, Al. Datanglah tepat pada waktunya ya. Karena akan banyak acara di sini." ujar Vian yang terdengar senang di sana.


"Baiklah, aku akan bersiap dan tiba di sana tepat waktu. Sampai jumpa di pesta nanti ya." jawab Aliyya yang sepertinya mengakhiri percakapan.


Setelah bicara sebentar dengan Vian dan menutup telepon, Aliyya yang masih menatap jengah Zein pun memberikan ponselnya. Lalu Zein meraih ponselnya dari tangan Aliyya dan tampak tersenyum. Entah apa maksud senyum itu hingga Aliyya pun hanya menatapnya heran.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Al."


Zein pun menghela nafas panjang lalu berjalan mendekati Aliyya dan berdiri tepat di depannya dengan jarak yang sangat dekat. Sementara Aliyya yang bingung hanya terdiam dan terus memperhatikan gerak-gerik suaminya dengan guratan sendu karena rasa syukur di wajahnya. Lama Zein berdiri di depan istrinya dan saling melempar tatapan. Namun entah kenapa, tatapan kali ini sangat berbeda dari biasanya. Aliyya dan Zein tidak melempar tatapan tajam penuh kebencian, melainkan ada maksud lain dari tatapan mata Zein.


"Kamu memang sangat... bodoh!!!" ujar Zein.

__ADS_1


Ck!!! Sangat menyebalkan sekali pria itu. Raut wajah Zein yang tadinya tidak terbaca seakan berubah menjadi seorang monster yang sangat menakutkan tatkala seringai tipis bak teriplek terukir jelas di wajah tampannya. Aliyya yang mendengar itu pun tertegun dan terperangah. Gadis itu berharap kalau suaminya akan meminta maaf dan mengakui kesalahannya di acara resepsi malam itu. Namun harapan Aliyya bagaikan kapas yang terbawa angin, hilang dan musnah seketika bahkan tak akan kembali lagi.


"Saat kamu berada di supermarket dan sangat banyak orang yang berada di sana. Lalu ada seseorang yang dengan sengaja memasukkan jam tangan mahal ke dalam tasmu, tapi kamu malah tidak menyadarinya? Kamu tidak bisa seperti ini terus Aliyya!!!" ujar Zein yang terlihat sedang mengejek istrinya dengan seringai tipis.


"Kamu tidak perlu merasa khawatir dengan kondisiku karena aku tidak butuh itu!!!" ujar Aliyya yang menatap jengah dan tajam Zein.


"Tentu saja aku harus khawatir. Di kota besar ini siapa pun bisa menipumu dengan mudah, Aliyya. Dan kali ini kamu bisa selamat, tapi tidak untuk selamanya." jawab Zein dengan seringai tajam.


"Tidak!!! Tidak lagi!!! Aku sudah tau banyak hal tentang kota ini, bahkan jika ada orang yang berniat untuk menipuku lagi, aku tidak akan pernah tertipu. Kini aku sudah siap menghadapi semua tantangan yang ada di kota ini. Dan yang harus kamu ketahui satu hal, Zein! Aku bukan wanita lemah seperti yang kamu pikirkan!!!" ujar Aliyya yang menatap tajam Zein dengan seringai.


Karena kesal, Aliyya pun memilih pergi dan meninggalkan Zein yang menyeringai jahil. Suami Aliyya itu memang sangat keterlaluan, bukannya meminta maaf pada istrinya. Pria tampan yang tidak ada akhlak itu malah semakin mengejek Aliyya. Dasar menyebalkan sekali!!!


***


"Dia bilang akan tepat waktu dan aku sangat tau kalau itu bohong! Dasar wanita!!!"


Tanpa terasa, hari pun berlalu dengan cepat dan tugas sang raja siang telah digantikan oleh sang rembulan terang menyinari malam nan sunyi. Setelah bersiap untuk datang ke pesta valentine, kini Zein tampak berdiri di samping mobil seraya melihat jam tangannya terus-terusan. Dengan jas formal berwarna navy dan kemeja bagian dalam berwarna putih, Zein terlihat tampan sekali. Pria itu tampak gusar dan selalu melihat jam tangan.


"Kenapa semua wanita itu kalau berdandan lama sekali? Apakah dengan berdandan lama mereka berpikir akan terlihat cantik dan berbeda? Kalau seperti ini terus, aku bisa berlumut hanya karena menunggu seorang gadis berdandan."


Zein terus saja meracau seraya melihat jam. Ia tampak kesal karena menunggu Aliyya yang sepertinya masih bersiap di dalam sana. Sifat Zein yang tidak bisa sabar membuatnya gusar.


Tap!


Tap!


Tap!


Ketika Zein melihat jam tangannya lagi, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tengah berjalan dari arah dalam rumah. Zein pun menggiring matanya ke arah teras rumah dan terlihat Aliyya yang keluar dari dalam rumah. Seketika waktu pun berhenti tatkala mata Zein membulat lebar melihat penampilan sang istri yang berbeda. Dengan menggunakan gaun berwarna putih hingga semata kaki dan dihiasi pita merah di pinggang rampingnya, berhasil menghipnotis Zein yang berdiri sejak tadi menunggu Aliyya.


Penampilan Aliyya tampak semakin memukau dengan rambut hitam legamnya yang panjang terurai indah ke depan, sehingga membiarkan punggungnya yang full tertutup gaun terekspost secara nyata. Ditambah tas mini berwarna silver dan sandal heels berhak tahu yang tidak terlalu tinggi. Membuat mata Zein tak berkedip melihat sang istri yang begitu cantik malam ini.


Aliyya pun berjalan mendekati Zein yang masih berdiri terperangah melihatnya. Bahkan di saat Aliyya sudah berada tepat di hadapan Zein, ia masih tetap bergeming dan melongo efek takjub.


Tanpa meminta Zein untuk beranjak, Aliyya yang memperhatikan tingkah suaminya itu langsung menarik gagang pintu mobil lalu membukanya. Zein yang terdiam dan melongo entah takjub atau ada hal lain pun tersentak sehingga sadar dari lamunannya.


"Sudah hampir jam delapan, ayo kita pergi!" seru Aliyya yang melirik jahil ke arah Zein lalu masuk.


Zein yang tersadar pun mengusap kasar wajah dan kepalanya lalu ikut masuk ke dalam mobil. Perjalanan menuju ke pesta hari valentine pun dimulai. Selama di perjalanan, mereka tidak ada yang berbicara atau bertengkar seperti biasa. Suasana hening dan kikuk seketika, membawa mereka menyusuri jalan yang cukup sepi.


"Hentikan mobilnya, Zein!!!" seru Aliyya yang sukses membuat si pengemudi mobil terkejut.


"Ada apa? Kamu ingin membuat kita celaka ya? Seenaknya saja menyuruhku berhenti seperti ini." tandas Zein yang kesal seraya melirik Aliyya.


"Aku ingin membeli bunga. Tidak enak jika kita datang dengan tangan kosong saja." ujar Aliyya.


"Tidak perlu bersikap formal seperti itu pada temanku. Mereka itu orangnya santai dan tidak terlalu memikirkan hal-hal seperti itu." ujar Zein.


"Tapi aku datang untuk pertama kalinya, Zein. Aku tidak enak jika tidak membawa apa-apa. Tunggulah sebentar! Aku ingin membeli bunga itu." jawab Aliyya seraya membuka seatbelt.


Tanpa menunggu jawaban Zein, gadis Jogja itu pun turun dari mobil dan menghampiri sebuah gerobak penjual bunga hias di pinggiran jalan. Sementara Zein juga ikut turun dan hendak mengikuti Aliyya yang sudah berjalan lebih dulu.


"Permisi Tuan... sebaiknya mobil anda dipindahkan dulu ke tempat parkir. Jangan meletakkan mobilnya di sini karena akan menyebabkan kemacetan nanti." ujar petugas yang bekerja mengatur posisi kendaraan.


"Tapi saya hanya sebentar di sini. Saya sedang menunggu seseorang dan dia sedang pergi ke sana." jawab Zein yang berusaha mengelak.


"Tidak bisa, Tuan! Anda harus memarkirkan mobil anda terlebih dahulu. Ayo cepat, Tuan!" seru petugas itu yang menyuruh Zein.


Posisi mobil Zein yang berhenti mendadak karena permintaan Aliyya memang tidak sesuai dengan tempatnya. Mobil Zein berhenti tepat di persimpangan jalan yang dapat menyebabkan kemacetan jika mobilnya terus berlama-lama di sana. Merasa tidak punya pilihan lain, Zein pun masuk lagi ke dalam mobil dan membawanya ke tempat parkir terdekat tanpa memberitahu Aliyya terlebih dahulu.


Setelah sampai di tempat parkir, Zein meraih ponselnya untuk menghubungi Aliyya dan memberitahu gadis itu kalau dirinya sedang menunggu di tempat parkir.

__ADS_1


Drrrrttt!


Saat Zein berusaha menghubungi Aliyya, Zein mendengar suara getaran ponsel yang terletak pada dashboard mobilnya. Melihat ponsel itu, Zein pun menghela nafas kasar dan jengah.


"Percuma saja kamu mempunyai ponsel, jika tidak membawanya ke mana pun kamu pergi. Dasar keponakan kesayangan menyebalkan!"


Zein yang kesal pun meracau karena ternyata Aliyya meninggalkan ponselnya di dashboard mobil Zein. Lalu Zein pun beranjak dan berniat untuk menyusul sang istri. Sementara Aliyya yang baru saja selesai membeli bucket bunga tampak panik tatkala matanya tidak melihat keberadaan mobil sang suami. Lalu Aliyya pun berjalan menyusuri jalan nan sepi untuk mencari mobil Zein yang tadinya berhenti tidak jauh dari posisinya membeli bunga.


Tiiiiiinnnnnnn!


Bucket bunga yang ada di tangan Aliyya terjatuh seketika saat dirinya hampir saja tertabrak oleh mobil. Aliyya pun semakin ketakutan karena tidak melihat keberadaan Zein dan kakinya terus melangkah entah ke mana untuk mencari Zein.


Saat Aliyya sedang mencari keberadaan Zein, ia melihat sekelompok orang yang sedang duduk. Tanpa rasa curiga pada orang-orang itu, Aliyya pun berjalan mendekati mereka dan berharap kalau mereka melihat Zein atau pun mobilnya.


"Permisi Tuan... apakah kalian melihat ada mobil sedan berwarna putih yang melewati jalan ini?" tanya Aliyya yang berdiri di depan keempat pria berotot besar dan tampak menyeramkan itu.


Keempat pria yang tadinya tengah mengobrol seketika menoleh ke arah sumber suara. Mata keempatnya tampak nanar menatap Aliyya dengan tatapan mesum penuh nafsu. Ternyata keempat pria berotot besar dan menyeramkan itu adalah preman jalanan yang sedang nongkri. Dengan tatapan mesum, mereka pun beranjak dan melangkah perlahan mendekati Aliyya.


"Kamu tersesat ya Neng?" tanya preman yang memakai jaket serta sapu tangan di lehernya seraya melangkah dengan tatapan mesumnya.


"Kamu cantik sekali, Neng." timpal preman yang hanya memakai singlet hingga memperlihatkan tato besar di lengannya.


Perasaan tidak enak pun menyelimuti hati Aliyya. Seketika rasa penyesalan pun menghampiri pikirannya karena bertanya pada orang yang sangat salah. Bukannya mendapatkan petunjuk, malah akan mendapatkan masalah. Aliyya yang semakin takut pun beringsut mundur menjauhi keempat preman jalanan itu. Sementara keempat preman itu semakin melangkah lebar, mendekati Aliyya.


"Mau apa kalian? Jangan mendekatiku!!!" seru Aliyya yang semakin beringsut mundur.


"Tenang, Neng cantik. Kami akan memberikan petunjuk jalan untuk Neng. Tapi sebelum itu, kamu harus membayar pajak terlebih dahulu." ujar preman berkepala pelontos alias botak.


Aliyya yang mengerti dengan maksud preman itu pun berusaha untuk lari. Namun belum lari saja, ternyata keempat preman itu sudah mengepung Aliyya dengan sangat cepat.


"Ayo temani kami semua dulu, Neng. Kami jamin, kamu tidak akan menyesal bermain seru dengan kami." ujar preman berambut panjang dan seperti genderuwo yang sangat menyeramkan.


"Lepaskan aku!!! Aku bilang lepaskan!!!" serkas Aliyya yang tangannya di cengkraman preman berkepala pelontos berjenggot pendek itu.


"Kamu tidak akan bisa lepas dariku, Neng." ujar preman berkepala pelontos dengan seringai mesumnya menatap Aliyya dari ujung kaki sampai ujung rambut panjangnya yang hitam.


Tangan Aliyya yang sudah terjebak di dalam cengkraman tangan kekar preman botak pun berusaha untuk melepaskan diri. Namun tenaga Aliyya sebagai seorang wanita tidak cukup kuat untuk melawan preman-preman itu.


Tin!


Tin!


Tin!


Ketika keempat preman itu hendak membawa Aliyya pergi dari tempat itu, tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari ujung sana. Seketika semua mata pun menoleh ke asal suara keras yang berasal dari sebuah mobil sedan putih. Kedua sudut bibir Aliyya terangkat bersamaan ketika melihat mobil yang sangat ia kenal itu. Mobil sedan putih yang sejak tadi ia cari-cari hingga berakhir seperti ini.


Mobil sedan putih yang tak lain dan tak bukan milik Zein itu pun berhenti di depan preman itu. Zein pun turun dari mobil dan menatap tajam setajam pisau belati ke arah preman-preman itu. Melihat kedatangan Zein, mata Aliyya yang sejak tadi sudah tertumpuk bulir bening pun menatap sang suami dengan tatapan penuh harap. Aliyya berharap Zein akan menyelamatkan dirinya dari preman-preman itu.


"Lepaskan gadis itu!!!" seru Zein.


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


Haduh, Zein selamatkan istrimu dari preman itu πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚ awas aja kalau sampai kabur sebelum menolong Aliyya karena takut ya 😌


Ikutin terus kisah pernikahan Aliyya dan Zein yang InsyaAllah akan semakin seru πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


__ADS_2