Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 15 ~ Mimpi Indah Berakhir


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Kamu kenapa Sonia?"


Umar yang baru saja keluar dari kamar mandi karena selesai mandi pun melihat Sonia yang tengah berjalan bolak-balik di dekat sofa.


"Aku masih tidak habis pikir denganmu, Pa. Kenapa Papa malah menjerumuskan Zein ke dalam pernikahan yang tidak dia inginkan itu?" tandas Sonia yang mulai emosi lagi.


Umar pun menghela nafas panjang lalu berjalan menghampiri istrinya itu. Sementara Sonia yang kesal malah membelakangi Umar.


"Aku sangat mengenal putraku, Sonia. Aku yakin, cepat atau lambat Zein pasti akan menerima keputusanku ini dan menerima Aliyya sebagai istrinya. Cepat atau lambat mereka pasti akan jatuh cinta karena hatiku sendiri yang mengatakannya." tutur Umar seraya meraih bahu sang istri.


"Tapi Papa tidak bicara denganku terlebih dahulu untuk mengambil keputusan ini!!! Aku benar-benar kecewa sama kamu, Pa. Bahkan untuk urusan putra kandungku sendiri, aku tidak dilibatkan sama sekali." tandas Sonia.


"Tapi Sonia..."


Belum sampai Umar melanjutkan perkataan, Sonia, sang istri beranjak pergi dari hadapan pria paruh baya yang masih tampak tampan itu. Umar hanya bisa menghela nafas panjang dan membiarkan sang istri menenangkan pikiran.


"Suatu saat kamu akan mengerti, Sonia. Entah kenapa aku merasa kalau Zein dan Aliyya memang ditakdirkan untuk bersama. Hal itulah yang membuat keputusanku kuat. Semoga saja apa yang aku rasakan ini benar."


Umar pun memilih untuk beristirahat karena hari pun juga sudah larut malam. Perjalanan dari Jogja memang tidak terlalu jauh. Namun karena situasi di Jakarta yang macet parah, membuat mereka semua terlambat sampai di rumah.


***


"Ayo kita berdansa..."


Lagi, Aliyya benar-benar dibuat terperangah lagi dengan sikap dan tingkah Zein yang berubah sangat drastis. Pria tampan itu tersenyum dan menawarkan tangannya pada Aliyya agar bisa segera berdansa. Dengan ragu, tangan Aliyya pun terangkat dan ia berikan pada Zein.


Mereka pun berdansa tanpa alunan musik. Entah apa yang terjadi pada Zein dan berhasil membuat Aliyya terperangah dan kebingungan.


"Mulai malam ini dan seterusnya, kamar ini akan menjadi kamarmu, kamarku dan kamar kita. Lihat itu, lemari itu juga milikmu. Lalu kamar mandi juga menjadi milikmu dan meja rias itu juga. Semuanya menjadi milik kamu, Aliyya." tutur Zein yang terus berdansa seraya memperkenalkan semua barang di kamarnya.


Namun Aliyya masih terdiam, tidak tau harus berbuat apa ketika mendapatkan perlakuan manis seperti ini dari Zein. Untuk sementara, Aliyya melupakan sakit hatinya pada pria itu. Lalu keduanya kembali berdansa, tanpa sadar saat ini Sonia sedang memperhatikan mereka dari luar kamar.


Design kamar Zein yang berdominasi dengan kaca, membuat sang mama dapat melihat dengan jelas apa yang sedang mereka lakukan. Awalnya Sonia hendak melihat keadaan Zein, setelah wanita paruh baya itu pergi dari kamar Umar. Namun langkahnya terhenti ketika mata kepalanya sendiri melihat sang putra tengah berdansa dengan Aliyya. Dengan penuh kekecewaan, Sonia pun bergegas pergi dari kamar Zein.


"Aku tidak menyangka kalau Zein menikmati keputusan Umar yang tidak menguntungkan untuk hidupku." tandas Sonia yang emosi.


Dengan langkah tergesah, Sonia pun berjalan menuju ruang baca. Tempat itulah yang menjadi tempat terbaik di saat seperti ini. Sementara Zein, masih berdansa ria dengan Aliyya yang kini sudah mulai tersenyum pada Zein.


Bruk!


Setelah lama mereka menikmati dansa yang sangat romantis, tiba-tiba saja tangan Zein melepaskan tangan Aliyya di saat gadis itu tengah berputar hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan terjatuh. Aliyya pun menoleh ke arah Zein yang masih tersenyum manis seraya membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan tingginya dengan Aliyya yang masih terduduk.


"Mimpi yang indah sudah berakhir, Aliyya!!!"


Seketika raut wajah Zein berubah lagi seperti semula. Senyum manis di wajahnya yang tadi merekah indah, kini hilang dan berubah menjadi wajah seram dan menakutkan. Zein pun meraih dagu Aliyya sehingga keduanya saling melempar tatapan tajam seperti awal kebencian itu datang.

__ADS_1


"Tidak ada yang menjadi milikmu di kamar ini! Memang apa yang kamu pikirkan? Kamu pikir seorang Zein sudah berubah menjadi seorang pria yang manis? Kamu pikir aku sudah lupa, dengan kebohongan yang telah kamu ciptakan itu? Kamu pikir aku sudah menerima semua ini dan memaafkan dirimu?"


Dengan tatapan yang penuh dengan amarah dan kebencian, Zein membuang wajah gadis cantik yang kini sudah resmi menjadi istrinya itu dari tangannya. Setelah itu, Aliyya menoleh lagi ke arah Zein dan menatapnya dengan tajam.


"Tidak, Aliyya!!! Karena aku tidak akan pernah memaafkanmu!!! Sampai kapan pun itu, kata maaf tidak akan pantas untuk wanita seperti dirimu!!! Dan aku akan selalu membuatmu mengingat akan hal itu!!! Kamu tau kenapa? Karena aku sudah berjanji pada diriku sendiri, kalau aku tidak akan pernah memaafkanmu!!!"


Mata Aliyya seketika menjadi merah tatkala mendengar semua penuturan Zein. Sementara Zein masih menatap Aliyya dengan penuh rasa kecewa, marah dan benci. Perlahan, Zein pun mendekatkan wajahnya ke wajah Aliyya dan terus menatapnya dengan penuh dendam.


"Selamat datang di neraka, Aliyya!!!"


Aliyya masih tetap bergeming. Gadis itu masih terperangah dan tidak percaya kalau Zein bisa berubah lagi menjadi dingin, bahkan sangat menakutkan seperti sekarang. Lalu, Zein yang muak pun menarik kembali tubuhnya, menjauh dari Aliyya dan berdiri tegap seraya berkacak pinggang.


"Kenapa? Kamu terkejut Aliyya? Terkejut karena dalam waktu yang singkat, aku bisa berubah!!! Bahkan aku lebih terkejut saat mengetahui dan mendengar jawabanmu yang setuju kalau kita menikah di depan ayahmu!!! Kenapa kamu melakukan semua itu? Bahkan di saat kamu tau, kalau kita tidak akan pernah bisa untuk tinggal dalam satu rumah. Lalu kenapa kamu ingin menikah denganku, hah?!"


Aliyya tetap bergeming, berusaha menahan air matanya yang hendak menetes karena semua perkataan Zein. Namun Zein tetap memberikan pertanyaan dan pernyataan yang menyakitkan.


"Tunggu, tunggu, tunggu... atau kamu merasa tidak akan pernah bisa mendapatkan pria yang lebih baik lagi selain diriku? Dan dengan begitu kamu menggunakan penyakit ayahmu untuk bisa mendapatkan aku? Sungguh, rencana yang sangat jenius, keponakan kesayangan!" tandas Zein seraya bertepuk tangan di depan Aliyya.


"Hentikan Zein!!!" serkas Aliyya yang berdiri.


"Kenapa? Kenapa harus berhenti? Memang seperti itu 'kan kenyataannya?" tandas Zein.


"Cukup Zein!!! Kenapa kamu berpikiran seperti itu? Kamu pikir aku bahagia dengan semua ini? Kamu pikir aku senang menikah denganmu? Jika aku tau, kalau kita saling membenci dan tidak akan pernah saling mencintai, kenapa aku mau memilih jalan ini? Lagi pula aku tidak ada pilihan lain, Zein. Aku mengaku salah karena telah membohongimu, tapi apa yang bisa aku lakukan di saat melihat kondisi ayahku seperti itu. Rasanya aku tidak mempunyai jalan lain untuk keluar dari jurang yang menjebak diriku dan keluargaku sampai ke dasarnya, dan hanya pernikahan inilah jalan satu-satunya agar aku bisa keluar dari jurang itu." tandas Aliyya yang mulai tenang dan mengontrol emosinya.


Zein hanya terdiam, namun tatapan tajam penuh kebencian masih tersorot jelas dari matanya. Sementara Aliyya, wajah gadis itu sudah basah karena air matanya yang terus mengalir karena teringat dengan kenyataan pahit pernikahannya yang gagal.


"Aku tau semua ini sangat berat, Zein. Aku tau pernikahan ini neraka bagi kita dan aku tau kalau ini sangat menyakitkan. Tapi jika semua ini menyangkut dengan kesehatan ayahku, maka aku akan melakukan apa pun untuknya. Dan aku tidak akan mau menikah dengan pria sepertimu, kalau bukan karena itu!!!" tandas Aliyya yang menatap nanar pria di hadapannya.


"Lalu apa yang kamu lakukan? Kamu sendiri saja tidak bisa menolak keputusan ayahmu, lalu kenapa kamu ingin menikah denganku?" tandas Aliyya yang ikut tersulut emosi.


"Wah Aliyya, kata-katamu itu seakan memberi arti kalau aku benar-benar ingin menikahimu. Lalu apa tujuanku bicara denganmu sebelum itu? Dengar Aliyya!!! Aku tidak mempercayai gadis seperti dirimu, yang hanya baik di saat ada maunya saja dan setelah semua selesai, mereka akan pergi seenaknya saja. Aku hanya ingin mengingatkanmu, Aliyya. Kalau aku akan membuat hidupmu menderita dan sulit, hingga dirimu sendiri lah yang akan memilih pergi dari rumah ini!!!" tandas Zein yang menatap tajam istrinya itu.


Aliyya pun bungkam dibuatnya. Gadis itu seperti kehilangan senjata untuk melawan perkataan Zein. Sementara Zein yang emosi memilih untuk pergi dari hadapan Aliyya dan meninggalkan gadis itu dalam keadaan yang masih terpaku.


***


"Mama... kenapa Mama belum tidur?"


Lamunan Sonia buyar seketika saat terdengar suara lembut dari menantu pertamanya, yaitu Namira. Wanita cantik dan tinggi itu baru saja kembali dari dapur. Namun di saat dirinya hendak menaiki tangga, mata tajam Namira tertuju ke arah ruang baca sang ibu mertua yang masih terlihat terang dengan cahaya lampu. Lalu Namira hendak memeriksa situasi di ruang baca itu karena takut ada orang lain yang masuk ke sana di tengah malam seperti ini. Tapi yang ia temukan bukan lah orang lain, melainkan ibu mertuanya sendiri yang tengah asyik melamun sendirian.


"Bagaimana Mama bisa tidur Namira? Setelah semua pengkhianatan yang dilakukan oleh Zein dengan menikahi gadis itu. Mama tidak pernah bermimpi kalau Zein akan menikah dengannya. Dan yang lebih parahnya lagi, sepertinya Zein sangat menikmati pernikahan ini seakan tidak pernah terjadi sesuatu di antara mereka." tutur Sonia seraya mengusap kasar kepalanya.


"Aku berpikir juga seperti itu, Ma. Sepertinya Zein dan Aliyya menerima keputusan Papa dengan senang hati. Mereka tampak sangat bahagia dengan pernikahan ini, Ma." jawab Namira yang berdiri di belakang kursi Sonia.


"Gadis itu akan selalu berada di sekitar Zein. Mama yakin kalau gadis itu akan berusaha meracuni pikiran Zein dan hal itu tidak akan pernah Mama biarkan! Mama akan membuat gadis itu tidak betah tinggal di rumah ini!!!" tutur Sonia seraya beranjak dari kursinya.


"Jangan, Ma. Jangan lakukan itu karena Mama pasti tau, kalau Aliyya adalah menantu pilihan Papa untuk Zein dan Mama tidak akan pernah bisa mengusir Aliyya, jika masih ada Papa." jawab Namira yang entah apa tujuan hidupnya.

__ADS_1


"Kamu tenang saja, Namira. Mama tidak akan mengotori tangan Mama untuk mengusir gadis itu dari rumah ini. Karena Umar sendiri lah yang akan mengusir keponakan kesayangannya itu dari rumah ini." ujar Sonia yang berdiri seraya melipat tangannya di dada dan membelakangi Namira.


Namira hanya menghela nafas panjang di belakang sang ibu mertua. Sementara itu, Sonia tampak menyeringai licik setelah mengatakan hal itu di depan Namira. Lalu apa yang akan dilakukan Namira?


Apa yang ingin Mama rencanakan untuk Aliyya agar gadis itu pergi dari rumah ini. Aku harus tetap memantau situasi yang ada. Saat ini semua orang tengah berpihak pada Mama. Sementara Aliyya, dia bisa kujadikan alat yang sangat berguna jika aku butuhkan. Gumam Namira dalam hati.


Memang tidak ada yang baik di antara kedua menantu Sonia dari anak pertamanya itu. Baik Namira atau pun Shafia, keduanya sama-sama gila posisi dan harta di rumah itu.


***


"Pergi ke mana gadis itu? Ck, sepertinya gadis itu tidak betah berada di kamarku."


Zein yang sudah selesai membersihkan diri pun memilih untuk segera tidur karena hari yang semakin larut malam. Tapi saat pria itu keluar dari kamar mandi, ia tidak mendapati keberadaan Aliyya di kamarnya dan hal itu membuatnya senang. Sebelum tidur, Zein pun mematikan lampu di kamarnya terlebih dahulu lalu bergegas merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Klek!


Saat Zein baru saja memejamkan mata, lampu kamar yang tadinya sudah mati, kini hidup lagi.


"Hei, apa yang kamu lakukan?" tandas Zein pada seseorang yang menghidupkan lampu.


"Kenapa Zein Abdullah? Ada masalah, hah!? Kamu harus ingat kalau aku datang ke sini karena Paman. Jadi aku juga mempunyai hak yang sama di dalam kamar ini." jawab Aliyya seraya mengangkat salah satu kakinya ke tepi tempat tidur Zein.


Zein hanya terdiam, menatap Aliyya dengan tatapan jengah dan kesal. Sementara itu, Aliyya hanya menyeringai tipis melihat ekspresi Zein.


"Kamu pikir aku takut dengan semua ancaman bodohmu itu? Dan apa yang kamu katakan tadi, bahwa aku tidak akan pernah menemukan pria yang lebih baik darimu? Kamu salah besar, Zein Abdullah!!! Justru kamu lah yang tidak akan bisa menemukan gadis yang baik seperti aku!!! Jadi jangan berpikir kalau aku akan takut. Aku akan hidup sesuai dengan keinginanku karena ini adalah hidupku!!!" tandas Aliyya yang tidak kalah tajam menatap mata Zein.


Zein terdiam dan bungkam dengan gertakan Aliyya. Kini pria itu yang kehilangan senjata untuk menjawab semua perkataan Aliyya. Sementara gadis cantik itu, ia mematikan lampu kamar terlebih dahulu dan langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur Zein dengan posisi yang berlawanan dengan posisi pria itu.


Aliyya pun terpejam. Sementara Zein yang masih merasa kesal pada Aliyya juga ikut merebahkan tubuhnya dan membelakangi gadis itu.


Waktu pun semakin bergulir. Baik Aliyya maupun Zein, keduanya sudah larut di dalam dunia mimpi masing-masing. Namun di saat keduanya tengah terlelap, salah satu kaki Aliyya mendarat mulus tepat di wajah Zein sehingga pria itu pun terkejut dan terbangun.


"Apa-apaan ini? Bahkan pada saat tidur saja gadis ini terlihat sangat menyebalkan! Ck!!!"


Zein pun menggeser bantal Aliyya agar menjauh dari tubuhnya dan kepalanya tidak menjadi sasaran kaki gadis itu lagi. Setelah berhasil menggeser bantal Aliyya, Zein pun kembali tidur dan terlelap. Namun tidak berselang lama setelah pria itu terlelap, kini kaki Zein yang mendarat di wajah Aliyya dan membuat gadis itu terbangun.


Aliyya pun terdiam sejenak, memori otaknya seakan kembali berputar pada pembicaraan dirinya dan Zein setelah berdansa. Semua perkataan pria tampan itu kembali terngiang dan memenuhi isi kepala Aliyya.


Aku tau ini neraka, tapi aku sudah siap Tuan Zein Abdullah. Gumam Aliyya dalam hati.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2