Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 35 ~ Bukti Rekaman CCTV


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Hari ini adalah hari valentine. Apakah kamu dan Zein tidak mempunyai rencana?"


Umar dan Aliyya yang sedang menuruni tangga pun tampak asyik mengobrol membahas hari spesial ini. Hari di mana kasih sayang terucap dan tercurahkan pada seseorang yang sangat disayangi dalam hidupnya.


"Iya Pa, tadi malam teman-teman Zein juga sempat mengundang kami untuk datang ke pesta hari valentine malam ini. Kalau Papa tidak keberatan, apakah kami boleh pergi ke sana?" jawab Aliyya yang berjalan di samping Umar.


"Tentu saja, Sayang. Kalau kamu dan Zein ingin pergi ke sana, Papa akan mengizinkan kalian. Lalu di mana pasangan valentine kamu itu? Apa dia masih tertidur pulas juga di jam seperti ini?" ujar Umar seraya merangkul bahu Aliyya.


"Dia masih menikmati mimpi indahnya, Pa." jawab Aliyya yang terkekeh kecil.


"Papa sangat berharap agar hubungan kalian akan semakin baik di pesta valentine itu nanti. Hanya itu harapan Papa di hari ini, Nak." tutur Umar yang penuh kelembutan seraya menepuk bahu keponakan sekaligus menantunya itu.


Aliyya pun hanya bisa tersenyum kikuk dan terus tersenyum pada Umar tatkala mendapat harapan besar seperti itu. Umat tidak tau saja kalau Zein masih bersikap seenaknya pada dirinya. Namun Aliyya akan berusaha tegar demi Umar dan juga kedua orang tuanya yang ada di Jogja.


***


"Ini bagus sekali."


Di dalam kamar, Zein yang terbangun dari mimpi indahnya tampak sedang menempel sebuah kartu di headboard tempat tidurnya. Kartu itu yang tak lain dan tak bukan adalah kartu remi King. Entah apa tujuan hidup Zein menempel kartu remi King itu di sisi tempat tidurnya. Lalu pria itu pun berjalan ke sisi tempat tidur Aliyya dan menempelkan kartu remi Joker berwarna merah di headboard sisi tempat tidur Aliyya.


"Bahkan ini lebih bagus dan sangat cocok."


Dengan seringai lebar pria itu tampak puas saat menempelkan kartu remi itu di headboard. Satu di bagian sisinya tidur dan yang satu di bagian sisi Aliyya tidur. Seakan memberi arti kalau Zein adalah King di kamar itu, sedangkan Aliyya adalah seorang Joker yang selalu memberikan masalah dalam hidupnya.


Tanpa Zein sadari, Aliyya datang dan masuk ke dalam kamarnya. Gadis Jogja itu tampak heran seraya mengeryitkan dahi saat melihat tingkah suaminya yang aneh itu. Namun Aliyya cerdik tidak membutuhkan waktu yang lama untuk bisa memahami maksud dan tujuan Zein menempel kartu itu di headboard tempat tidur mereka.


Zein yang sejak tadi menyeringai puas menatapi kartu remi yang tertempel itu pun menoleh. Raut wajahnya seketika berubah menjadi pias melihat keberadaan sang istri yang menatapnya jengah. Lalu Zein pun melangkah mendekati sang istri.


"Kamu meminta izin pada Papa untuk pergi ke acara pesta hari valentine itu. Tapi kamu lupa satu hal, kalau aku berpikir sepuluh langkah di depanmu. Kamu itu suka sekali menyakiti diri sendiri bukan, maka pergilah ke pesta itu dan katakan pada mereka semua, kenapa seorang Zein Abdullah tidak bisa datang ke pesta itu! Kamu itu 'kan pembohong yang cerdas yang berpengalaman nomor satu di dunia." tutur Zein yang menyeringai licik mendekati wajah Aliyya.


"Aku juga tidak ingin pergi ke pesta itu, Zein. Tapi temanmu yang sudah mengundang kita ke sana. Hanya itu alasannya." jawab Aliyya yang meraih tangan Zein ketika pria itu hendak pergi.


Aliyya pun melepaskan tangannya pada tangan Zein dan hendak pergi dari hadapan pria itu.


"Kamu lupa ya? Pesta itu diadakan untuk hari valentine sedangkan kamu bukan valentine-ku dan tidak akan pernah menjadi valentine-ku!!!" tandas Zein seraya mencekam tangan Aliyya.


"Jangan menganggap dirimu sebagai orang penting, Zein Abdullah!" jawab Aliyya seraya menepis kasar tangan suaminya.


"Siapa yang merasa dirinya penting sudah jelas di sini! Di dalam kertas itu ada alamat pestanya." tandas Zein yang meraih tangan Aliyya lagi dan memberikan sebuah kertas.


"Aku tidak membutuhkan alamat ini karena aku tau ke mana arah dan tujuan langkah kakiku akan pergi! Dan aku tidak mau pergi ke pesta itu. Untuk apa aku pergi ke pesta itu jika kamu tidak ikut! Aku tidak mempunyai alasan untuk ikut ke pesta hari valentine itu, Zein Abdullah!" tandas Aliyya seraya memberikan lagi kertas itu.


Zein pun mendengus kesal seraya mengepal kuat tangannya hingga kertas itu pun hancur seketika di dalam genggamannya. Sementara Aliyya hanya menyeringai tipis melihat wajah Zein yang tidak berdaya menjawab perkataan itu. Keduanya pun tersulut api amarah dan saling menatap tajam. Tiada detik, menit, jam dan hari tanpa tatapan tajam serta penuh kebencian dari mata keduanya jika saling bertatapan.

__ADS_1


"Permisi Tuan, Nyonya... kalian berdua dipanggil Tuan Umar untuk segera turun ke bawah."


Suara bariton yang berasal dari seorang pelayan paruh baya pun membuyarkan tatapan mereka. Aliyya dan Zein yang tadinya melempar tatapan penuh rasa kesal kini berubah menjadi heran di saat mendengar perkataan pelayan paruh baya tadi. Sementara pelayan itu sudah pergi lagi dan melanjutkan pekerjaannya.


***


"Tuan Umar... kami telah menemukan rekaman kamera CCTV yang merekam insiden sore itu."


Komandan Polisi yang waktu itu datang seraya menyeret Aliyya masuk ke dalam rumah di saat acara resepsi akan dimulai, kini datang lagi ke rumah Umar bersama salah satu bawahannya. Awalnya Umar tampak terkejut ketika melihat kedatangan Komandan Polisi ke rumahnya itu. Sementara Sonia, Namira dan Shafia yang ada di balik semua kejadian ini tampak tersenyum puas karena mengira pada Polisi itu akan membawa Aliyya setelah beberapa hari mereka melakukan penyelidikan sesuai dengan permintaan Umar. Namun senyum puas di wajah ketiga wanita itu berubah seketika tatkala Komandan Polisi yang datang memberikan kabar baik untuk Umar dan Aliyya dengan rekaman kamera CCTV yang ada di supermarket itu.


Ketiganya pun saling melempar pandangan dan tampak mulai panik, gelisah, takut kalau Polisi itu ternyata mendapatkan wajah Sarah, adiknya Shafia yang sengaja memasukkan jam tangan mahal ke dalam tas Aliyya untuk menjebaknya. Di saat bersamaan, Aliyya dan Zein pun datang lalu ikut berkumpul di ruang tamu rumah Umar.


"Setelah melihat video rekaman kamera CCTV itu, Aliyya dinyatakan tidak bersalah karena dia tidak melakukan pencurian di supermarket itu. Aliyya sudah dinyatakan bebas dari tuduhan pencurian, Tuan Umar." tutur Komandan Polisi.


"Tapi bagaimana bisa jam tangan mahal itu ada di dalam tas Aliyya?" tanya Umar yang semakin penasaran dan pastinya ingin tau siapa dalang dibalik semua insiden memalukan itu.


"Setelah kami melihat rekaman CCTV, ternyata ada tangan seorang gadis yang secara disengaja memasukkan jam tangan mahal itu ke dalam tas Aliyya di saat Aliyya terjatuh, Tuan Umar." jawab Komandan Polisi.


Detak jantung Sonia, Namira dan Shafia seakan berpacu dengan kecepatan angin. Ketiganya pun saling melempar pandangan karena terperanjat dengan penuturan Komandan Polisi. Sementara Zein yang ikut mendengar itu tampak menoleh ke arah sang istri. Raut wajahnya pias dan tidak terbaca, apakah ia menyesal karena menuduh Aliyya mencuri atau malah tidak menyesal sama sekali. Lalu bagaimana dengan Aliyya sendiri?


Pastinya gadis Jogja itu tampak bernafas lega karena kebenaran sudah terungkap kalau dirinya tidak bersalah. Beban yang Aliyya pikul selama dua hari ini rasanya menguap begitu saja tanpa bekas setelah Polisi menyatakan langsung kalau dirinya tidak bersalah. Namun ingatan Aliyya seakan dipaksa untuk berputar kembali pada kejadian beberapa hari yang lalu. Di saat dirinya hendak keluar dari toko obat lalu menabrak seseorang hingga semua isi tasnya berserakan. Sementara orang yang menabraknya itu ikut membantu Aliyya untuk membereskan barang isi tas miliknya.


Apa mungkin gadis yang menabrak tubuhku waktu itu yang telah melakukannya, tapi apa yang dia inginkan dan siapa dia. Bahkan, aku tidak mengenal gadis berambut panjang itu. Gumam Aliyya dalam hati.


"Apakah saya boleh melihat rekaman itu?" tanya Umar yang sangat penasaran dan ingin tau.


Dengan cepat, Komandan Polisi pun meraih laptop yang diberikan oleh bawahannya lalu duduk di sofa bersama Umar dan memutar video rekaman itu. Sonia, Namira, dan Shafia semakin dirundung kecemasan saat Komandan Polisi tengah mencari video bukti ketidakbersalahan Aliyya dalam insiden pencurian sore itu. Sementara Aliyya dan Zein juga ikut mendekat agar bisa menyaksikan video bukti pencurian.


Shafia yang geram dan semakin khawatir pun berjalan menghampiri Namira.


"Aku tau kalau kamu sempat mengambil video rekaman itu sebelum pulang 'kan? Tapi kalau wajah Sarah sampai terlihat di dalam rekaman itu, bukan hanya Sarah dan aku yang terseret ke dalam masalah ini tapi kamu dan Mama juga!!!" serkas Shafia yang panik seraya berbisik di sisi Namira dan mencekam tangannya dengan kuat.


Namira pun hanya bisa diam dan tidak tau harus melakukan apa jika sudah tersudut seperti ini, bahkan untuk mencari jalan keluar untuk kabur saja sudah sulit. Sementara Sonia juga tampak gusar saat sekilas mendengar perkataan Shafia.


Video rekaman pun berputar dan semua mata kini tertuju pada layar laptop Komandan Polisi. Benar saja, bahwa ada tangan seorang gadis yang dengan sengaja memasukkan jam tangan mahal ke dalam tas Aliyya tanpa disadari oleh sang empunya tas. Namun sangat disayangkan karena wajah dari pemilik tangan mulus itu tidak terlihat di dalam rekaman CCTV sehingga Umar, Aliyya, Zein dan Komandan Polisi tidak mampu menemukan siapa sosok dari gadis itu. Aliyya memang tau wajah gadis itu, tapi karena ia tidak mengenal gadis itu, Aliyya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Paling tidak kebenaran tentang tuduhan sudah terbukti dan itu cukup membuatnya lega.


"Tapi kami dari pihak kepolisian meminta maaf karena kami tidak bisa menemukan siapa gadis yang ada di balik video itu. Rekaman ini sangat singkat dan hanya merekam separuh tubuhnya saja. Jadi akan sangat sulit untuk melacaknya." tutur Komandan Polisi yang merasa bersalah.


"Tidak masalah, Pak Polisi. Yang paling penting saat ini adalah bukti kebenaran bahwa menantu saya tidak bersalah dan nama baiknya bisa kita bersihkan dari tuduhan pencurian itu." ujar Umar seraya menganggukan kepalanya mengerti.


"Baiklah kalau begitu kami permisi dulu, Tuan." ujar Komandan Polisi seraya beranjak dari sofa dan pergi bersama bawahannya.


Umar pun menghela nafas panjang dan lega setelah melihat langsung rekaman bukti itu. Sementara Sonia, Namira dan Shafia tampak menghela nafas lega karena wajah dari sang dalang tidak terlihat di dalam video itu. Jadi mereka masih aman. Apalagi setelah Polisi memutuskan untuk menyelesaikan kasus ini dengan membersihkan nama baik Aliyya dan menutup kasus tuduhan itu yang pastinya juga atas kebesaran hati Umar.


Kini masalah tuduhan pencurian terhadap Aliyya sudah selesai dan membuat Umar sangat lega. Umar yang duduk pun beranjak lalu mendekati Aliyya.

__ADS_1


"Papa sangat yakin kalau kamu tidak bersalah, Nak. Dan keyakinan Papa terjawab hari ini dan Papa sangat bersyukur. Walaupun orang yang memasukkan jam tangan ke dalam tasmu itu sulit untuk ditemukan dan mungkin tidak akan bisa ditemukan, tapi Papa sangat lega karena nama baikmu tidak akan tercemar lagi. Polisi akan membersihkan nama baikmu dan terima kasih karena kamu berhasil memegang semua kepercayaan Papa terhadap dirimu." tutur Umar yang memegangi kedua bahu Aliyya.


Mata Aliyya pun berkaca-kaca dan tersenyum saat mendengar penuturan Umar yang sangat mempercayai dirinya selama ini. Aliyya tidak mampu untuk mengatakan apa pun dan hanya bisa menganggukan kepalanya dan tersenyum.


"Terima kasih Pa..."


Hanya dua kata itu yang mampu keluar dari bibir gadis Jogja yang cantik seperti Aliyya, dan Umar hanya tersenyum seraya mengelus lembut pucuk kepala keponakan kesayangannya itu. Aliyya pun beranjak pergi dari hadapan Umar dan melewati Zein yang berdiri di sampingnya sejak tadi. Mata Zein pun terus mengiring kepalanya untuk terus memperhatikan Aliyya. Apa yang dirasakan oleh pria tampan itu? Entahlah. Jika Zein seorang pria yang mempunyai hati, maka ia akan menyesali semua tuduhan yang terucap untuk Aliyya. Tapi sepertinya pria itu tampak biasa saja dengan raut wajahnya yang pias dan tidak berekspresi.


"Kamu dengar semuanya 'kan Zein? Istrimu itu tidak bersalah dan dia tidak pernah melakukan pencurian di supermarket. Jadi Papa berharap agar kamu segera meminta maaf pada istrimu." ujar Umar tanpa melihat Zein seraya menepuk kecil bahunya dan berlenggang pergi.


Zein pun terdiam di posisinya. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh pria tampan berstatus sebagai suami dari seorang Aliyya Ginanjar itu. Sementara Sonia, Namira dan Shafia pun ikut beranjak dari posisinya lalu pergi ke kamarnya.


"Kali ini kita selamat dari maut, Ma. Aku tidak bisa membayangkan jika wajah Sarah terlihat di rekaman CCTV itu. Kita bisa ikut terseret masuk ke dalam penjara." ujar Shafia yang berada di kamar Sonia.


Sonia hanya menghela nafas panjang. Usahanya untuk menjatuhkan nama Aliyya di depan Umar gagal total karena video rekaman itu.


"Jika Polisi sampai menangkap Sarah, aku tidak tau apa yang akan dilakukan oleh Polisi agar Sarah mengakui kesalahannya, Ma. Mama tidak tau saja adikku itu bagaimana. Dia sangat takut pada Polisi, padaku dan juga Abah. Orang baik memang seperti itu 'kan Ma? Sehingga dia lupa bagaimana caranya berbohong dan langsung saja mengaku." tutur Shafia panjang lebar yang mengakui dirinya baik.


Sonia yang mendengar racauan menantunya itu pun menoleh tajam ke arah Shafia dan menatap matanya dengan jengah. Jengah karena di saat seperti ini Shafia masih saja membanggakan diri kalau dirinya baik, padahal sama jahat seperti Sonia. Sementara Shafia yang melihat tatapan sang mama mertua hanya bisa cengir kuda dan menggarut kepalanya yang tidak gatal.


"Hmmm, kalau Mama tidak keberatan aku ingin memberitahu sesuatu yang penting. Tapi kalau Mama keberatan, ya sudah." ujar Shafia lagi yang takut melihat ekspresi Sonia seperti itu.


"Memang apa yang ingin kamu beritahu?" tanya Sonia yang sebenarnya masih jengkel.


"Video rekaman yang ada pada Polisi, itu juga ada pada Namira, Ma. Di dalam video Namira wajah Sarah terlihat jelas di sana. Namira sengaja menggunakan video itu untuk dekat dengan Mas Farhan dan mengancam aku." ujar Shafia yang tentu saja mengambil kesempatan dengan memprovokasi Sonia.


Sonia pun terdiam dan tampak cemas lagi. Ia baru tau kalau Namira juga mempunyai video rekaman itu. Sementara Shafia terlihat mengukir seringai tajam tatkala menceritakan semuanya pada Sonia dan berharap agar ibu mertuanya itu akan membantunya dengan menghapus video rekaman di supermarket di ponsel Namira.


"Aku sudah menikah dengan Mas Farhan selama empat tahun dan Namira masih saja berpikir untuk menyingkirkan aku dari rumah ini, Mama tau itu 'kan? Mama juga tau kalau aku tidak akan pernah keluar dari rumah ini. Tapi bagaimana jika Mama terkena masalah hanya karena Namira? Lalu bagaimana jika video itu sampai dilihat oleh orang lain di luar sana? Ini akan menjadi masalah yang besar untuk Mama." tutur Shafia lagi yang masih memprovokasi Sonia.


Sonia pun terdiam, berusaha memikirkan apa yang tengah dikatakan oleh menantunya itu. Sementara Shafia tampak tersenyum licik di balik raut wajahnya yang cantik itu.


"Mama ingin mengeluarkan Aliyya dari rumah ini 'kan?" tanya Shafia yang masih memprovokasi.


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


Benar-benar deh nih menantu πŸ˜‘ suka sekali memprovokasi mama mertuanya demi untuk melawan madunya sendiri melalui Sonia πŸ˜… memang ngak ada yang baik ya guys 🀭


Ikutin terus kisah pernikahan Aliyya dan Zein yang InsyaAllah akan semakin seru πŸ”₯πŸ”₯πŸ”₯


__ADS_2