
...🌹🌹🌹...
“Hallo Zein, kau di mana?”
Saat Zein hendak menyusul Aliyya masuk ke dalam rumah, tiba-tiba saja ponsel pria itu bergetar dan tampak nama Rizal di layar ponselnya. Kini, Zein yang hendak menaiki tangga harus terhenti sebentar karena ulah Rizal.
“Aku masih di rumah Aliyya dan sepertinya aku akan terlambat, Zal.” jawab Zein seraya menggarut kepalanya yang tidak gatal.
“Ck! Kau memang sudah terlambat Zein Abdullah. Pesawat kita sudah take-off tiga puluh menit yang lalu. Rencana kita untuk berlibur di Singapura harus batal karena ulahmu.” serkas Rizal yang teramat kesal pada Zein.
“Ya, aku minta maaf dan sepertinya kita memang tidak bisa pergi ke Singapura karena aku sedang dalam masalah di sini.” jawab Zein yang memilih duduk di tangga bawah.
“Masalah? Masalah apa Zein?” tanya Rizal yang penasaran.
Zein pun tampak menghela nafas panjang sebelum akhirnya ia menceritakan semuanya pada Rizal. Pria yang tak kalah tampan dari Zein itu sangat terkejut mendengar semuanya.
“Baiklah, Zein. Kalau begitu aku akan menyusulmu ke sana.”
Pembicaraan Rizal dan Zein pun berakhir. Lalu Zein beranjak dari posisinya dan hendak menuju ke kamar Sabrina untuk melihat kondisi Galuh. Tidak hanya itu, Zein juga ingin memastikan keputusan Aliyya. Dengan langkah santainya, Zein pun tiba di depan kamar Galuh dan melihat semuanya ada di sana.
Sabrina dan Galuh saling pandang seraya tersenyum melihat kedatangan Zein, begitu juga dengan Umar. Namun tidak dengan Aliyya yang sejak tadi hanya tertunduk dan diam, lalu Sonia yang semakin menunjukan raut masam di wajahnya. Melihat hal itu, Zein pun ikut tersenyum pada sang bibi dan pamannya itu, lalu berjalan menghampiri keduanya.
“Bagaimana keadaan Paman? Paman baik-baik saja ‘kan?” tanya Zein yang meraih tangan Galuh lalu menoleh ke arah Sabrina dan Aliyya.
“Alhamdulillah, Paman baik-baik saja Nak. Semua ini berkat Aliyya, karena dia sudah mengambil keputusan yang sangat tepat dalam hidupnya dan karena itulah Paman merasa sangat sehat setelah mendengar jawaban dari putri Paman.” jawab Galuh yang berbinar seraya menoleh ke arah sang putri.
Seutas senyum terbit di wajah tampan Zein, lalu pria itu tampak menoleh ke arah Aliyya yang masih betah di posisinya saat ini. Tertunduk dan diam, entah apa yang terjadi pada gadis itu.
Aliyya memang sudah mengambil keputusan yang sangat benar, Paman. Karena Aliyya, aku bisa terlepas dari paksaan Papa yang ingin aku menikah dengan Aliyya. Gumam Zein dalam hati.
Zein yang merasa senang mendengar perkataan Galuh pun kembali menoleh. Tidak bisa dipungkiri kalau dirinya sangat penasaran dengan jawaban Aliyya, walaupun ia sudah tau kalau Aliyya pasti akan menolak keputusan Umar.
“Memang apa keputusan Aliyya, Paman?” tanya Zein yang berpura-pura belum tau.
“Aliyya mengatakan kalau dia setuju dan akan menikah denganmu hari ini, Nak.”
Tercengang, bak dihimpit batu raksasa yang memiliki berat yang teramat sangat, dada Zein terasa sesak saat mendengar perkataan Galuh. Seutas senyum yang tadinya merekah indah di wajah tampannya, seketika direnggut paksa dan sangat menyakitkan. Zein tidak menyangka kalau Aliyya telah melanggar janji, bahkan sumpah padanya untuk tidak menerima perjodohan konyol yang mendadak ini. Perlahan, Zein menoleh ke arah Aliyya yang masih enggan mengangkat kepalanya. Tatapan yang tadinya penuh kasih sayang sebagai seorang saudara, kini berubah menjadi tatapan penuh kebencian. Mata Zein tampak sangat merah, menatap nanar Aliyya yang masih tertunduk. Entah apa arti tatapan dari seorang Zein Abdullah untuk Aliyya Galuh Ginanjar.
Sementara itu, Sonia yang sejak tadi memperhatikan sang putra, hanya bisa mendengus kesal, marah, kecewa dan dendam bercampur menjadi satu. Kebencian Sonia pada Aliyya kini semakin dalam dan itu dapat terlihat jelas dari tatapan matanya yang tajam saat menatap Aliyya, Sabrina, Galuh dan Aldha secara bersamaan.
Kenapa Aliyya? Kenapa kamu mengingkari janji bahkan sumpahmu sendiri? Dan mengatakan kalau kita menerima keputusan konyol yang ditetapkan oleh Papa secara sepihak ini? Gumam Zein dalam hati.
Aku tidak tau harus bagaimana lagi, Zein. Semua ini terjadi karena ulahmu, tapi kenapa aku yang harus masuk ke dalam jurang kegelapan ini bersamamu. Aku tidak mampu untuk menolak keputusan Paman dan harapan Ayah. Semua ini sangat sulit untukku dan ini karena ulahmu Zein Abdullah. Gumam Aliyya dalam hati.
Keduanya saling melempar pandangan dengan tatapan yang penuh dengan kebencian. Bak berperang di dalam bathin, kedua mata insan manusia itu tampak nanar menatap satu sama lain, seakan menyalurkan dan mengungkapkan rasa benci yang mendalam itu.
Lain Zein dan Aliyya, lain pula dengan Umar, Sabrina, Galuh, Aldha, dan Farhan. Mereka semua tampak tersenyum lega dengan keputusan Aliyya. Dan tanpa menunggu basa-basi lagi, Umar langsung menghubungi penghulu agar bisa segera datang kembali ke rumah Sabrina.
“Bagaimana ini Ma? Sebentar lagi Zein dan Aliyya akan menikah, itu artinya Aliyya akan menjadi menantu Mama dan tinggal di rumah kita.” ujar Shafia yang berbisik di belakang Sonia.
“Diam lah, Shafia! Jangan membuat kepala Mama semakin pusing karena mendengar celotehanmu yang tidak berguna itu!” tandas Sonia yang berbisik pada menantunya itu.
Namira pun terkekeh geli saat melihat Shafia, musuh dalam pernikahannya bersama Farhan itu dimarahi oleh sang mama mertua. Sementara Shafia yang menyadari tingkah Namira hanya bisa mendengus kesal seraya melirik tajam saingannya itu.
***
__ADS_1
Tidak berselang lama, penghulu pun sudah datang dan sudah duduk di tempat tempat ijab kabul yang telah disediakan. Di sana juga sudah tampak Aliyya, Zein, Galuh, Sabrina, Aldha, Sonia, Farhan, Umar, Namira, Rizal dan Shafia yang sudah bersiap untuk memulai acara hari ini. Tanpa terasa, waktu terus berjalan dan warna jingga telah terlukis indah di hamparan luasnya samudera langit hingga menimbulkan efek yang sangat memanjakan mata bagi setiap orang yang melihatnya. Acara ijab kabul pun akan segera dimulai dan memang tidak sesuai dengan rencana yang telah direncanakan. Acara yang tadinya akan digelar meriah, terpaksa harus bertukar menjadi sangat sederhana, hanya ada keluarga inti yang menyaksikan acara ini, dan Bapak Penghulu sebagai perantara pernikahan ini.
“Bagaimana dengan saudara Zein? Apakah anda sudah siap?”
Sejurus kemudian, setelah mendengar pertanyaan itu Zein tampak menoleh ke arah Aliyya yang masih tertunduk. Tatapan kebencian itu terlihat sangat jelas dan nyata. Namun hanya bisa dilihat oleh orang yang mengerti dengan situasi saat ini, tanpa terkecuali Sonia. Melihat tatapan dari mata sang putra menimbulkan seulas seringai tipis di wajah cantiknya. Entah apa maksud dari seringai tipis itu, hanya Sonia dan Tuhan yang tau.
“Bagaimana saudara Zein?” tanya Pak Penghulu yang mengulangi.
“Baiklah, saya sudah siap!”
Dengan tatapan yang masih tertolehkan pada Aliyya, pria tampan itu terpaksa menjawab pertanyaan Pak Penghulu.
“Lalu suadari Aliyya, apakah anda sudah siap?”
Kini pertanyaan tertuju pada Aliyya yang masih betah tertunduk. Perlahan gadis cantik itu mendongakkan kepalanya dan menoleh ke arah Zein. Kini tampak sudah tatapan benci di mata pria itu dan Aliyya bisa merasakannya, karena dirinya pun juga sangat membenci Zein.
“In syaa Allah, saya siap!”
Dengan tegas, Aliyya yang sebenarnya menolak untuk menikah dengan Zein, berusaha untuk mengontrol emosi yang bergejolak di dadanya. Kedua tatapan tajam, bak hendak menikam mangsa itu akhirnya terputus tatkala keduanya sama-sama menoleh dan menatap lurus ke depan. Pikiran keduanya pun menerawang, wajah keduanya tampak memerah bukan karena tersipu malu, melainkan karena rasa sakit yang sangat perih di dalam hati keduanya.
“Baiklah, kalau begitu silahkan saudara Zein berjabat tangan dengan Pak Galuh!”
Titah Pak Penghulu pun dilaksanakan oleh Zein dan Galuh. Kini kedua pria berbeda generasi itu sudah berjabat tangan dan berhasil mengundang haru di mata Sabrina dan Aldha. Sementara Umar yang melihat kebahagiaan di mata sang adik, juga ikut merasakan bahagia karena sebentar lagi, Aliyya bukan hanya sekedar keponakan baginya namun juga menantu di rumahnya.
“Bismillahirrahmanirrahim, saya nikahkan engkau Zein Abdullah bin Umar Abdullah dengan putri kandung saya, Aliyya Ginanjar binti Galuh Ginanjar Permana dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar tunai!” ucap Galuh dengan lantang dan tegasnya.
“Saya terima nikahnya Aliyya Ginanjar binti Galuh Ginanjar Permana dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” ucap Zein dengan lantang namun penuh amarah.
“Bagaimana saksi?”
Semuanya pun mengucap syukur setelah acara ijab kabul selesai. Kini Aliyya dan Zein sudah resmi menjadi sepasang suami istri. Setelah ijab kabul selesai, doa-doa pun turut dilangitkan untuk kedua pengantin baru itu. Semuanya tampak mengangkat kedua tangan dan berdo'a. Tapi, apakah setiap mereka mempunyai doa yang baik untuk keduanya? Tentu saja tidak karena pernikahan ini terjadi atas dasar paksaan, bukan cinta.
Baiklah, Aliyya. Aku akan mengikuti semua permainanmu. Kamu yang membuatku terjebak di dalam pernikahan konyol ini dan akan aku pastikan, kalau kamu tidak akan kuat menjadi istri dari seorang Zein Abdullah. Aku akan membuatmu menderita, Aliyya Galuh Ginanjar. Gumam Zein dalam hati.
“Permisi, aku ingin pergi ke toilet sebentar.” ucap Zein seraya beranjak dari kursinya.
Zein pun pergi dan meninggalkan Aliyya yang masih terdiam di kursinya. Sementara yang lain tampak bercengkrama dan berbincang bahagia dengan pernikahan ini. Lalu bagaimana dengan Sonia? Wanita paruh baya itu masih berada di sana, namun ekspresinya tampak datar walaupun Sabrina sesekali mengajaknya berbicara. Namun respon Sonia tetap dingin dan memilih bungkam seribu bahasa.
Semua ini telah terjadi dan aku yang memilih jalan ini. Baiklah Aliyya, kamu pasti kuat dan bisa menghadapi semua masalah dengan sangat baik. Ini baru permulaan, kamu tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan kelak dan aku akan tetap berdiri tegak pada pendirianku sendiri. Gumam Aliyya dalam hati.
***
Hari pun semakin larut, menyisakan ribuan kilauan bintang yang bertaburan di langit malam nan indah. Setelah makan malam bersama dengan keluarga besar yang berlangsung hikmat, Aliyya memilih untuk masuk ke kamarnya dan kini gadis cantik itu tengah berdiri di balkon kamar seraya menatap langit yang terang.
Ceklek!
Suara pegangan pintu yang terbuka pun berhasil membuyarkan lamunan Aliyya. Gadis itu tampak menoleh ke arah pintu dan tampak seorang gadis kecil yang sangat ia sayangi.
“Aldha… kamu belum tidur?” tanya Aliyya yang berjalan mendekati sang adik.
“Belum, Kak. Aku masih ingin mengobrol banyak dengan Kakak sebelum besok Kakak sudah akan pergi bersama Paman ke Jakarta.” jawab Aldha yang mendadak sendu.
“Hei, apa yang kamu katakan ini? Bukannya jarak antara Jakarta dan Jogja itu tidak terlalu jauh, lalu kenapa kamu mendadak sedih seperti ini?” ujar Aliyya yang berusaha menghibur sang adik.
“Ya memang tidak terlalu jauh, tapi aku pasti akan merindukan Kakak.” jawab Aldha yang menghambur ke dalam pelukan Aliyya.
__ADS_1
“Sudahlah, Dek. Kalau pu kamu merindukan Kakak nantinya, kamu bisa langsung bilang pada Ayah dan Ibu. Setelah itu, mereka pasti akan membelikan tiket pesawat untukmu.” ujar Aliyya yang berusaha menghibur sang adik lagi walaupun hatinya sendiri merasakan hal yang sama.
“Tapi Kak, kenapa Kakak menerima keputusan Paman? Aku sangat tahu bagaimana Kakak dan juga Kak Zein. Kalian itu memang saling menyayangi sebagai saudara, tapi aku merasa kalau Kak Zein tidak menerima keputusan ini dengan lapang dada.” tutur Aldha seraya melerai pelukannya dan menatap Aliyya.
Aliyya terhenyak saat mendengar perkataan Aldha yang memang sangat benar adanya. Zein memang tidak menerima keputusan ini, bahkan dirinya pun sebenarnya juga sangat menolak keputusan sang paman. Melihat Aliyya yang terdiam, membuat Aldha semakin yakin kalau ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh sang kakak.
“Kak… semuanya baik-baik saja ‘kan?” tanya Aldha seraya meraih bahu Aliyya.
“Zein memang menolak keputusan Paman, Dek. Bahkan Kakak pun juga demikian. Tapi Kakak tidak berdaya di saat melihat kondisi Ayah yang sakit karena pernikahan Kakak dengan Zaki hancur berantakan. Kakak juga tidak bisa menghancurkan kepercayaan Paman. Kakak tidak bisa, Dek.” tutur Aliyya yang menangis sesegukan lalu memeluk Aldha.
“Jadi Kakak dan Kak Zein melakukan semua ini dengan terpaksa? Tapi kenapa Kak? Seharusnya Kakak menolak saja keputusan Paman dan bicarakan semuanya dengan baik. Dengan begitu, Kakak dan Kak Zein tidak harus menanggung sakit seperti ini.” tutur Aldha yang berusaha menenangkan Aliyya.
“Kakak mohon sama kamu, jangan katakan ini pada Ayah, Ibu dan Paman. Biarlah Kakak yang menanggung semua masalah ini. Kakak ikhlas asalkan mereka bahagia, Dek. Kamu harus bisa menjaga rahasia. Biarkan waktu yang menjawab semuanya.” jawab Aliyya yang memegang kedua bahu Aldha.
“Baiklah Kak… Tapi Kakak harus bahagia terus ya. Jangan menangis lagi.” ujar Aldha seraya menyeka air mata Aliyya.
Aliyya hanya mengangguk dan tersenyum, setidaknya beban di hatinya saat ini sudah tertumpahkan dengan bercerita dengan sang adik.
***
“Sabrina…”
Di malam yang semakin larut, Sonia yang tadinya sudah masuk ke dalam kamar setelah makan malam, tampak menghampiri adik ipar sekaligus besannya itu. Sementara Umar, Galuh dan Farhan masih tampak asyik duduk di halaman samping seraya menikmati malam nan terang dengan secangkir kopi hangat. Lalu di mana Zein? Pastinya ia tidak ada di sana karena setelah acara makan malam berakhir, Zein memilih untuk langsung masuk ke kamar Rizal dan pastinya tidak ada yang mengetahui hal itu.
“Kak Sonia… silahkan masuk, Kak.”
Sonia pun berjalan masuk ke dalam kamar Sabrina. Sementara Sabrina langsung menghentikan aktivitasnya yang sedang sibuk menyiapkan perlengkapan Aliyya untuk berangkat besok pagi.
“Apakah kamu sudah senang karena saat ini hubungan kita tidak hanya sebagai saudara ipar, melainkan juga sebagai besan?” ujar Sonia tanpa basa-basi pada Sabrina.
“Maksud Kakak apa? Kenapa Kakak bicara seperti itu?” tanya Sabrina yang tidak mengerti.
“Kamu pasti tahu apa maksudku, Sabrina.” jawab Sonia yang membelakangi Sabrina.
Sabrina yang benar-benar tidak mengerti dengan maksud Sonia pun berjalan menghampiri sang kakak ipar.
“Kak… coba jelaskan apa yang sedang Kakak bicarakan?” tanya Sabrina seraya meraih tangan Sonia yang bersilang.
“Saat ini Aliyya dan Zein sudah menikah. Besok putrimu akan ikut dengan kami ke Jakarta dan tinggal di rumahku. Aku hanya ingin mengingatkan kamu, adik iparku. Kalau dalam pernikahan ini, baik Aliyya maupun Zein, mereka sama-sama menjalaninya dengan terpaksa. Aku tidak yakin kalau Zein akan bersikap baik pada putrimu dan aku tidak akan bertanggung jawab, jika sesuatu terjadi pada putrimu di sana.” tutur Sonia yang memegangi bahu Sabrina.
Sabrina terdiam, sementara Sonia beranjak pergi dari kamar sang adik ipar setelah mengatakan semua itu. Kini Sabrina mengerti apa yang dimaksud oleh Sonia, bahwa kakak iparnya itu masih dendam padanya, bahkan sudah menjalar pada Aliyya. Dendam apa itu? Entahlah, sepertinya baik Sabrina, Umar, Galuh dan Sonia masih enggan untuk bercerita.
Setelah Sonia pergi, Sabrina seperti kehilangan kekuatan untuk berdiri. Tubuhnya terhuyung lemas ke belakang dan terduduk di tepi tempat tidur.
“Semoga pernikahan Aliyya dan Zein baik-baik saja, Ya Allah.”
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All 😇😇😇