Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 41 ~ Batas Kesabaran


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Menikmati cahaya matahari seraya meminum segelas teh hangat, sudah menjadi rutinitas seorang gadis Jogja yang tak lain adalah Aliyya. Setelah mandi pagi, gadis cantik itu tampak asyik menyeruput teh hangat di tangannya dan membaca koran. Lalu siapa yang menyangka, ternyata koran yang sedang dibaca oleh Aliyya sama persis dengan surat kabar di ruang tamu. Namun sepertinya Aliyya belum menyadari hal itu karena ia masih membaca halaman lainnya.


Aliyya pun mendaratkan tubuhnya di atas sofa kamar Zein. Sejurus kemudian, mata yang semula fokus kepada surat kabar kini tertuju pada seseorang yang sedang asyik berenang di halaman samping. Aliyya dapat melihat sosok itu karena jendela kamarnya yang tidak hanya dapat melihat gerbang di luar, melainkan juga halaman samping rumah Umar. Melihat sosok itu membuat Aliyya beranjak dari duduknya dengan cangkir teh dan surat kabar yang masih berada di dalam genggamannya. Lalu ia beralih ke jendela kamar.


Seseorang yang sedang asyik berenang di pagi hari seperti ini adalah Zein, suaminya. Tatapan menjengkelkan pun terpancar dari mata Aliyya saat memperhatikan Zein. Tidak lama kemudian, Zein pun keluar dari kolam dan mengenakan handuknya. Aliyya tetap bergeming, berdiri di dekat jendela seraya memperhatikan suaminya. Sementara Zein yang sedang memakai handuk, seketika menoleh ke arah jendela kamarnya.


Kedua mata mereka pun kembali bertemu dan tentu saja dengan tatapan yang masih sama seperti sebelumnya. Aliyya jengah dan Zein kesal. Rasa kesal Zein semakin bertambah saat memori otaknya kembali berputar pada acara pesta tadi malam. Tepatnya pada perkataan Aliyya saat menerima piala kompetisi dansa. Sejurus kemudian Zein mendengus kasar dan tatapannya masih kepada Aliyya di jendela itu.


"Saat kamu tau kalau aku ini bukanlah pria idaman untukmu, tapi kenapa kamu malah mendatangi aku dan mau menikah denganku? Jangan kamu pikir kalau aku ini sudah mulai luluh terhadapmu, Aliyya!!! Tidak akan!!! Tidak akan pernah terjadi!!! Hari ini aku tidak akan bertarung melawan dirimu, tapi besok aku akan memulainya kembali."


Zein yang melempar tatapan kesal pada Aliyya pun meracau di bawah sana. Sementara Aliyya masih berdiri di dekat jendela seraya memegang cangkir teh dan surat kabar. Kedua bola matanya tampak berotasi efek jengah melihat bibir sang suami yang sedang berkomat-kamit di bawah sana seraya melihat ke arahnya. Namun Aliyya masih belum sadar juga dengan isi dari surat kabar yang dipegangnya itu.


Tidak ingin berlama-lama di luar, Zein yang sudah kedinginan pun beranjak dari tempat, hendak menuju ke kamarnya. Sementara itu, Aliyya bergegas pindah lagi ke sofa agar Zein tidak mencurigai dirinya saat melihatnya tadi. Dan tidak berselang lama, Zein pun masuk ke dalam kamar tanpa menyapa istrinya. Melihat sang suami yang masuk, Aliyya pun memutar bola matanya jengah lalu ia beranjak dari sofa.


Saat Zein hendak mengganti pakaian basah dan hendak berjalan menuju kamar mandi, tiba-tiba ide jahil muncul di pikirannya ketika melihat sang istri yang tengah melipat pakaiannya. Lalu Zein membuka baju handuknya di depan sang istri dengan seringai jahil tentunya. Zein membuka satu per satu pakaiannya seraya melihat ke arah Aliyya.


Aliyya yang merasa diperhatikan pun sadar lalu mengangkat kepalanya. Seketika wajahnya syok saat melihat sang suami membuka baju handuk yang melekat di tubuhnya. Dengan cepat Aliyya pun berbalik dan membelakangi Zein.


Ya ampun... pria ini memang tidak punya sopan santun dan rasa malu. Kenapa dia tidak pergi ke kamar mandi saja untuk mengganti pakaian atau dia bisa memberitahuku agar aku bisa keluar. Dasar menyebalkan. Gumam Aliyya dalam hati.


Merasa jengah, Aliyya pun tetap berada di posisi membelakangi sang suami yang sedang jahil itu. Seperti itulah Zein, selalu mencari masalah lebih dulu dengan Aliyya dan akan terus seperti itu. Setelah mengenakan semua pakaiannya, Zein pun beranjak dan duduk di atas sofa.


Drrrrttt!


Saat Zein hendak meraih surat kabar yang ada di sampingnya, tiba-tiba ponsel pria itu bergetar.


"Ada apa kau menghubungiku pagi-pagi begini?" tandas Zein yang super jutek dan dingin.


"Santai dulu dong, Kawan. Aku hanya ingin mengatakan sesuatu yang belum sempat aku katakan padamu tadi malam." ujar Rizal yang menghubungi Zein, sahabatnya.


"Apa?" tanya Zein seraya meraih surat kabar.


"Pesta tadi malam sangat menyenangkan, bukan?" tanya Rizal balik di seberang sana.


"Iya, memang menyenangkan." jawab Zein.


"Kau dan Aliyya sangat mengagumkan, Kawan." ujar Rizal yang memuji penampilan mereka.


"Apa yang kau katakan? Tidak seperti itu juga." jawab Zein yang matanya sibuk ke surat kabar.


"Memang seperti itu adanya, Zein. Kau saja yang tidak merasakannya. Kau tau apa yang lebih luar biasa dari hal itu, sebelumnya hanya Karim, Vian, Syakir dan Adi yang menyukai Aliyya. Tapi para kekasih mereka pun juga menyukai istrimu itu dan kau juga akan segera menyukainya." tutur Rizal dari seberang sana yang semangat.


"Diam kau!!!" tandas Zein yang kesal mendengar pujian Rizal untuk Aliyya seraya melirik istrinya.


"Hei dengarkan aku, Zein!!! Berhentilah untuk mencari kelemahan istrimu dan berhentilah untuk memberikannya pelajaran karena rasa kesal yang ada di hatimu. Sebelumnya aku sudah mengatakannya bukan, kalau Aliyya adalah jodoh yang dikirim Tuhan untukmu. Sejak awal aku tidak keberatan kalau kau menikahinya. Karena kau tidak akan menemukan wanita yang melebihi kebaikan istrimu itu." tutur Rizal yang lagi-lagi berusaha menyadarkan sahabatnya itu.

__ADS_1


Zein yang semakin jengah mendengar ceramah Rizal pun mendengus kesal seraya melirik sang istri. Sementara Aliyya yang merasakan lirikan tajam dari suaminya hanya tetap diam dan tidak ikut campur dengan masalahnya.


"Kalau niatmu menghubungiku pagi-pagi seperti ini hanya untuk menceramahi aku, lebih baik kau matikan saja!!! Kau tidak perlu menceramahi aku karena aku bisa mengatur hidupku sendiri!" ujar Zein yang kesal dan menutup telepon.


Karena kesal dan jengah, Zein pun melempar ponselnya di atas sofa dan memilih membaca surat kabar yang masih setia berada di depan matanya. Sementara Aliyya hanya menggeleng kepala saat mendengar jawaban ketus suami menyebalkannya itu terhadap Rizal. Aliyya pun melanjutkan aktifitasnya melipat pakaian dan merapihkan baju handuk Zein yang terkapar di atas kursi.


Setelah melipat semua pakaian dan memasukkan pakaian ke dalam lemari, sejurus kemudian Aliyya menoleh ke arah Zein seraya tangannya meraih baju handuk suaminya. Saat Aliyya hendak melangkah dan meletakkan baju handuk itu, ia menoleh lagi ke arah Zein ketika melihat sesuatu yang tidak sengaja tertangkap oleh matanya.


Degh!


Mata Aliyya membulat sempurna ketika melihat sesuatu di halaman depan surat kabar itu. Foto yang tidak asing baginya ada di halaman depan surat kabar. Dengan gemuruh amarah di dalam dada yang menyelimuti hatinya, Aliyya pun berlari mendekati Zein. Ia langsung merampas kasar surat kabar itu dari tangan Zein sehingga rasa kesal Zein meningkat sampai ke ubun-ubun dan menatapnya tajam tanpa Aliyya sadari.


Lama Aliyya memandangi surat kabar itu dan membacanya. Seketika ingatan perkataan Zein saat di pesta valentine pun kembali terngiang. Mulai dari perkataan Zein yang belum beraksi untuk mempermalukan dirinya, Zein membuka kasar gaun belakang Aliyya hingga mendatangi seorang photographer yang entah disengaja atau tidak telah mengambil gambar foto Aliyya. Kini gadis Jogja itu sudah mengerti dengan semua yang dikatakan oleh suaminya di pesta itu.


"Bagus, Zein!!! Sangat bagus!!! Hari ini aku sudah melihat semua yang ingin kamu lakukan. Apakah seperti ini kelakuanmu untuk mempermalukan orang lain, hah!?" tandas Aliyya seraya menatap tajam Zein dan melempar kasar surat kabar.


"Apa yang kamu katakan? Ada apa denganmu pagi-pagi seperti ini?" tanya Zein yang beranjak dan tidak mengerti dengan kekesalan Aliyya.


"Cukup Zein!!!" pekik Aliyya.


Habis sudah kesabaran Aliyya pada Zein di pagi yang cerah ini. Aliyya benar-benar sudah bosan dan muak dengan semua tingkah suaminya itu. Sementara Zein terdiam saat mendengar suara Aliyya yang terdengar sangat lantang. Baru kali ini, gadis itu membentak suaminya karena habis dan kehilangan rasa sabar di dalam harinya.


"Kesabaran yang aku miliki mempunyai batas. Tapi kamu selalu saja menguji kesabaranku dengan melakukan hal-hal yang menjijikkan. Semuanya ada batasnya, Zein!!! Apakah kamu belum puas untuk memberikan aku pelajaran?" tandas Aliyya yang semakin geram dan kesal.


"Apa maksudmu Al? Memang apa yang telah aku lakukan?" tanya Zein yang memang tidak paham.


Aliyya yang tersulut emosi pun mengambil surat kabar itu lagi di atas sofa lalu memberikannya pada Zein. Karena bingung dengan sikap Aliyya, Zein pun mengambil koran itu dan melihat apa yang ada di dalamnya.


Degh!


***


"Wah Ma... apakah Papa sudah melihat surat kabar pagi ini?"


Shafia yang menyimpan foto memalukan Aliyya tadi malam, kini berada di ruang tamu bersama Sonia. Shafia juga sudah melihat foto di dalam surat kabar itu dan pastinya ia sangat puas. Tidak hanya puas, tapi juga merasa menang karena berhasil membuat Sonia bangga dengan usahanya dan Namira bukan apa-apa baginya.


"Dia belum melihatnya tapi sebentar lagi." ujar Sonia yang menyeringai puas melihat ke Shafia.


Apa bedanya Shafia dan Sonia, tentu saja tidak karena mereka berdua lah yang menyebabkan foto memalukan itu berada di halaman paling depan surat kabar pagi ini. Seperti yang pernah dikatakan oleh istri kedua Farhan itu. Ia akan mengikuti Aliyya dan Zein ke pesta, lalu ia akan membuat Zein malu dan akhirnya menceraikan Aliyya. Shafia berpikir kalau kejadian seperti ini akan membuat Zein dan Aliyya malu. Jika Shafia berhasil, maka ia akan mendapat nama di depan mama mertuanya itu.


"Selamat pagi Ma..."


Sonia dan Shafia pun menoleh serentak ke arah sumber suara. Karena merasa bahagia, Sonia tampak tersenyum pada seseorang itu.


"Namira... apakah kamu sudah melihat apa yang sudah Shafia lakukan?" tanya Sonia yang melihat ke arah menantu pertamanya itu.


"Sudah, Ma. Aku sudah melihat surat kabar pagi ini." jawab Namira yang terdengar tidak suka.

__ADS_1


"Aku mengambil foto itu di pesta tadi malam." timpal Shafia dengan senyum kemenangan.


"Sepertinya Shafia yang akan berhasil memisahkan Zein dan Aliyya, Namira." ujar Sonia yang menatap bangga menantu keduanya itu.


Melihat senyum madunya itu seakan kiamat bagi seorang Namira. Bukan hanya kiamat, tapi juga ancaman besar jika usaha Shafia ini berhasil memisahkan Aliyya dan Zein. Posisi Shafia akan semakin kuat di Berlian Villa dan di hati Sonia. Namun Namira tidak bisa berbuat apa-apa untuk sekarang selain melihat bagaimana usaha istri kedua suaminya itu akan berhasil.


***


"Kamu pikir aku yang melakukannya?"


Zein terlihat masih syok dengan foto di dalam surat kabar itu. Pasalnya ia tidak mengirimkan foto apa pun pada orang lain dan foto yang ada di dalam kamera photographer itu juga sudah dibersihkan dari kameranya.


"Memang siapa lagi orang jahat yang bisa melakukan hal menjijikkan seperti ini Zein? Tadi malam di pesta, kamu datang menghampiri photographer itu dan aku melihatmu!!!" tandas Aliyya yang semakin geram dengan tingkah Zein.


"Apa yang kamu lihat itu belum tentu benar dan sesuai dengan pikiranmu saat ini! Aku memang mendatangi photographer itu dan aku langsung mengambil kameranya lalu menghapus foto itu. Aku sudah menghapus fotomu yang diambilnya saat bajumu terbuka!!!" jawab Zein yang sedang berusaha menjelaskan dan meyakinkan Aliyya.


"Jangan berbohong lagi, Zein!!! Kalau iya kamu telah menghapus foto itu dari kameranya, lalu kenapa foto itu ada di dalam surat kabar ini?" tandas Aliyya yang menunjukan foto itu lagi.


"Aku benar-benar tidak tau, Al. Aku tidak tau kenapa foto itu ada di dalam surat kabar ini." jawab Zein yang melambatkan nada bicaranya.


"Lalu siapa lagi yang tau Zein? Karena tidak ada satu orang pun yang tau tentang masalah kecil ini kecuali dirimu!!!" tandas Aliyya yang semakin emosi seraya melempar surat kabar itu ke dada bidang Zein.


Zein pun menghela nafas panjang dan berusaha untuk mengontrol emosinya. Zein memang salah dan ia mengakui hal itu. Tapi kenapa foto itu ada di dalam surat kabar, bukanlah karena ulahnya. Karena itulah Zein tidak ikut tersulut emosi dan berniat untuk memberikan Aliyya penjelasan. Namun dinding kesabaran Zein yang masih tipis seketika hancur melihat emosi sang istri.


"Aku sudah membantumu di pesta itu, tapi kenapa kamu malah memarahiku seperti ini? Baiklah, mulai sekarang aku tidak akan pernah membantumu lagi." ujar Zein yang masih tetap tenang menghadapi murka Aliyya.


"Jangan berbohong terus padaku, Zein! Kamu tidak pernah membantuku sama sekali. Aku sangat tau kalau kamu yang sudah melakukan semua ini. Kamu sangat menjijikkan, Zein!!! Benar-benar menjijikkan!!!" tandas Aliyya yang menatap nanar penuh amarah pada suaminya.


"Terus saja kamu berpikir kalau aku yang sudah melakukan semua ini untukmu!!! Dari pada kamu marah-marah tidak jelas di sini, lebih baik kamu pergi dari kamarku!!!" tukas Zein yang santainya.


"Kamu saja yang pergi!!! Kamu pikir dengan melakukan semua ini padaku, aku akan takut dan melarikan diri dari hidupmu? Menangis sesegukan karena dipermalukan oleh dirimu? Tidak akan, Zein Abdullah!!! Aku tidak takut dan aku tidak akan pernah pergi dari mana pun!!! Aku akan menunjukan surat kabar ini pada Papa!!!"


Aliyya yang semakin emosi dan geram pun mengambil surat kabar itu lagi dan berjalan menuju pintu.


"Tunjukkan saja sana! Aku tidak salah!"


Langkah Aliyya yang sudah geram pun terhenti. Dengan marah dan kesalnya ia menoleh tajam pada Zein lalu bergegas keluar kamar tanpa menghiraukan suaminya itu.


"Hei Aliyya, tunggu!!! Aku tidak salah!!! Aku benar-benar berkata jujur!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2