
...πΉπΉπΉ...
Aliyya pun kembali dari dapur lalu masuk ke dalam kamar Zein. Di saat bersamaan, alarm jam tidur Zein berbunyi dengan sangat keras dan membuat pria tampan itu terusik. Zein pun berusaha menjangkau jam itu dan mematikan alarm yang memekakkan telinga. Setelah mematikan alarm, Zein melanjutkan tidurnya. Melihat hal itu, membuat Aliyya memutar kedua bola matanya tanda jengah dengan sikap sang suami.
Perlahan, Aliyya pun berjalan mendekati nakas yang ada di sebelah tempat tidur sang suami dan menghidupkan alarm itu lagi. Zein kembali terusik lalu berusaha mematikan jam dengan mata yang masih tertutup rapat. Untuk kedua kali, setelah mematikan alarm, Zein memejamkan matanya lagi. Lalu Aliyya menghidupkan alarm itu lagi dan adegan itu berlangsung sebanyak tiga kali.
"Apa-apaan ini?" ujar Zein yang akhirnya terbangun seraya memegangi kepalanya.
"Tidurmu sudah cukup, Zein!" jawab Aliyya yang berdiri di sisi tempat tidur Zein seraya bertegak pinggang.
"Apa?" tanya Zein yang masih setengah sadar.
"Aku bilang waktu tidurmu sudah cukup, Zein Abdullah!" jawab Aliyya yang menatap tajam sang suami.
Zein yang merasakan pusing di kepalanya pun berusaha untuk bangkit dan bersandar pada heardboard tempat tidur. Sementara Aliyya duduk di kursi yang ada di sana.
"Apakah sejak insiden tadi malam otakmu belum pulih juga? Berani sekali kamu membentakku!" ujar Zein yang masih memegangi kepalanya dan melihat ke Aliyya.
"Kamu salah besar! Bahkan otakku rasanya lebih baik setelah insiden memalukan tadi malam dan aku sangat berterima kasih karena kamu sudah melakukan semua drama itu di hadapan semua orang." jawab Aliyya yang santainya dengan tatapan tajamnya.
"Itu bukan drama." timpal Zein yang memalingkan wajah.
"Tapi aku menganggapnya hanya sebuah drama. Drama yang sangat-sangat buruk!!! Kamu tau kenapa Zein Abdullah? Karena kamu sudah berusaha dengan keras untuk menghina dan mempermalukan diriku di depan semua orang!!! Apakah dengan melakukan semua itu, kamu ingin menunjukan kepada semua orang, betapa malang dan kasihannya dirimu karena telah menikahi aku? Tapi apa yang kamu dapatkan? Tidak ada! Bahkan kamu hanya mendapatkan malu yang sangat besar di hadapan orang karena telah mempermalukan Papa, rumah ini dan keluarga ini. Kamu hanya mempermalukan dirimu sendiri." tutur Aliyya dengan sorot mata yang penuh rasa benci.
Zein hanya terdiam, seraya memegangi kepalanya yang masih terasa pusing dan sakit karena alkohol. Sementara Aliyya terus menatap pria itu dengan benci, tidak ada rasa kasihan sedikit pun di mata Aliyya untuk Zein.
"Mungkin saat ini kamu belum menyadari, betapa malunya dirimu. Kalau kamu belum sadar juga, maka tenggelam lah di dalam rasa malumu itu, Zein Abdullah!!!" ujar Aliyya yang penuh penekanan seraya menatap tajam sang suami.
Zein masih tetap bungkam melihat sorot tajam mata sang istri yang menatapnya. Lalu Aliyya yang jengah pun berdiri dan pergi dari hadapan suaminya.
"Wah, sepertinya kucing ini mulai marah." ujar Zein yang mengejek Aliyya.
"Aku ini singa yang ganas, bukan kucing!!! Jadi waspada saja!!!" jawab Aliyya yang menoleh lagi melihat Zein.
"Apakah kamu sudah mabuk sepagi ini?" tanya Zein yang masih ingin mengejek Aliyya.
"Tidak butuh minuman beralkohol untuk menjadi seekor singa!!! Lagi pula aku tidak suka menyentuh barang haram sepertimu!!!" jawab Aliyya seraya memberi tatapan tajam.
"Lalu apakah mencuri tidak haram?" tanya Zein lagi yang semakin membuat istrinya itu kesal dan marah.
Aliyya pun menghela nafas kasar lalu membelakangi Zein. Sementara Zein beranjak dari kasurnya lalu duduk di tepi tempat tidurnya.
"Sepertinya kamu adalah orang terakhir yang harus aku beri penjelasan. Apa pun yang terjadi di supermarket itu hanya Allah yang tau dan aku tidak pernah mencuri!" jawab Aliyya yang menoleh lagi dan menatap Zein.
"Itu artinya Allah juga tau kenapa aku sampai mabuk?" timpal Zein yang masih tidak mau kalah dengan Aliyya.
"Tentu saja. Tapi masalahnya adalah bahkan dirimu sendiri saja tidak tau kenapa kamu bisa sampai mabuk berat. Oleh karena itu, aku bilang bangunlah Zein Abdullah!!!" tandas Aliyya yang menatap tajam Zein.
__ADS_1
Zein yang melihat tatapan itu hanya mendengus kesal lalu beranjak dan berdiri di hadapan Aliyya.
"Kamu adalah gadis terakhir yang belas kasihnya sangat aku perlukan. Tapi sayang, aku tidak membutuhkan itu!" ujar Zein yang menatap tak kalah tajam dari Aliyya.
"Setidaknya aku lah yang menjadi gadis terakhir dan setidaknya secara tidak langsung kamu telah mengakui, kalau dirimu itu membutuhkan belas kasihku. Sekarang kamu harus bisa memahaminya, Zein! Kalau aku mau menikah denganmu karena orang tuaku. Jadi kamu jangan pernah menganggap dirimu sebagai pria yang hebat! Justru kamu adalah pria yang sangat lemah, yang hanya bisa menghabiskan uang kedua orang tuamu saja untuk apa pun dan menurutku hal itu sangat lah tidak penting untuk dibanggakan!" jawab Aliyya dengan jengahnya pada Zein.
Zein hanya diam. Ingin menjawab tapi sepertinya ia kalah kata dengan sang istri yang sepertinya semakin berani dan menantang dirinya.
"Selamat datang di neraka. Hanya itu yang bisa kamu katakan padaku setiap saat 'kan? Tapi kenyataannya adalah, kita berdua berada di dalam neraka ini karena ulahmu! Jadi tetap lah terkurung dan menikmati neraka ini! Karena aku tidak akan pernah melepaskan dirimu begitu saja, Zein Abdullah!!! Kamu bukan lah seorang pangeran yang menawan, dan aku juga tidak pernah ingin menikah denganmu!!! Tapi ini sudah terjadi dan aku akan tetap menjalaninya. Aku tidak peduli sebanyak apa rintang yang akan menghalangi jalanku dan aku juga tidak peduli, kamu suka atau tidak dengan ini!!! Karena aku bukan hanya istri dari seorang Zein Abdullah di rumah ini, tapi juga seorang menantu. Dan tentang sikapmu padaku, jika kamu melakukan sesuatu yang benar, maka aku akan berusaha untuk mendengarkanmu. Tapi jika kamu melakukan sesuatu yang salah, maka kamu yang harus mendengarkan aku!!! Dan dengarkan baik-baik!!!" tutur Aliyya yang penuh dengan penegasan.
Zein hanya diam dan diam, tidak tau harus menjawab apa. Mungkin senjatanya untuk melawan keganasan sang istri untuk saat ini sudah habis dan belum sempat ia isi penuh. Sementara Aliyya hanya tersenyum puas karena berhasil membuat Zein kalah telak dan tidak mampu melawannya.
***
"Mengenai perceraian yang dikatakan oleh Zein tadi malam, Mama akan mengakhiri pernikahan mereka sekarang juga!!!"
Shafia yang berada di dalam kamar sang mama mertua tampak terkejut dengan rencana itu. Sementara Sonia hanya tersenyum licik dengan rencana kali ini. Ia sangat yakin kalau rencana ini akan berhasil lagi.
"Hubungi besan kita! Mama ingin bicara dengannya!!!"
Sonia yang membelakangi Shafia pun beranjak dan memilih untuk duduk di kursi kebesarannya. Lalu Shafia langsung meraih ponsel Sonia yang ada di atas meja dan menghubungi Sabrina.
"Assalamualaikum Sabrina..."
"Wa'alaikumsalam Kakak. Bagaimana dengan acara resepsi tadi malam Kak? Apakah semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Sabrina yang terdengar senang.
Sabrina pun terdiam, heran dan bingung pastinya saat mendengar perkataan Sonia. Sementara Sonia hanya tersenyum dan melihat ke arah Shafia yang ikut tersenyum.
"Jika seorang gadis masih memiliki harga diri lalu mendengar hal-hal seperti itu, maka dia tidak akan melanjutkan hubungan pernikahannya. Apalagi hal itu sudah didengar langsung oleh Aliyya." tutur Sonia yang tentunya ingin memprovokasi Sabrina.
"Memang Aliyya sudah mendengar apa Kak? Bukannya kemarin itu hari resepsi pernikahan mereka?" tanya Sabrina yang mulai merasa cemas akan pernikahan putrinya.
"Acara resepsi memang sudah dipersiapkan. Tapi aku tidak pernah melihat acara resepsi yang seperti tadi malam. Zein, putra kesayanganku, pulang dalam keadaan mabuk berat di hadapan semua orang. Lalu putrimu yang aku kirim ke salon termahal. Kamu tau apa yang telah Aliyya lakukan di sana? Dia pergi meninggalkan salon dan masuk ke dalam Mall hingga tertangkap sedang mencuri di sana!" tutur Sonia yang antusias sekali memprovokasi Sabrina.
"Apa???"
Sabrina terdengar sangat terkejut mendengar kabar itu. Sementara Sonia tampak tersenyum puas setelah membuat adik ipar sekaligus besannya itu terkejut.
"Menantu Umar Abdullah tertangkap mencuri! Kamu tau apa artinya itu Sabrina? Aliyya yang awalnya hidup cukup mampu dan sekarang dia tinggal di sini, tapi dia tetap saja mencuri. Menurutmu kenapa dia melakukan semua ini? Lalu Zein berbicara di saat dia mabuk dan mengatakan kenapa gadis seperti Aliyya bisa menjadi istrinya sekarang. Zein mengatakan semua itu dari hatinya dan di hadapan semua orang, kalau dia sangat membenci Aliyya!!! Kamu tau apa yang akan Zein lakukan pada Aliyya? Zein akan mengusir Aliyya dari rumah ini dan dari kamarnya, bahkan Zein akan menceraikan Aliyya!!!" tutur Sonia yang tampak menyeringai puas mendengar suara tangis Sabrina.
Sabrina terperanjat mendengar perkataan Sonia. Air mata pun tak mampu terbendung lagi ketika mengingat bahwa pernikahan sang putri akan berakhir dengan perceraian.
"Aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu, Sabrina. Kalau terjadi sesuatu pada hubungan keduanya, jangan meminta aku untuk bertanggung jawab. Karena mereka yang akan menjalani pernikahan itu." ujar Sonia seraya beranjak lagi dari kursinya.
Tangis Sabrina pun pecah. Hati seorang ibu mana yang bisa menerima saat mendengar kehancuran pernikahan putrinya. Hati Sabrina benar-benar sedih dan ia tidak bisa menutupi kesedihannya itu dari Sonia.
"Jangan menangis, Sabrina! Aku hanya ingin memberitahu jalan praktis yang bisa kita tempuh untuk mereka. Kita bisa membicarakan hal ini secara baik-baik dan kekeluargaan tanpa ada masalah sedikit pun. Kita juga bisa memperbaiki hubungan persaudaraan mereka yang hancur karena hal ini. Mereka itu masih sangat muda. Setelah bercerai nanti, mereka pasti akan mampu mencari jalan hidup sendiri. Lagi pula kita tidak bisa memaksa keduanya untuk terus berada dalam pernikahan paksa ini. Kamu mengerti 'kan dengan semua yang aku katakan ini?" tutur Sonia yang masih memprovokasi Sabrina.
__ADS_1
Sabrina hanya diam dan terus menangis di dalam kamar sang putri yang tadinya sedang ia rapihkan. Sementara Sonia tetap dengan seringai puasnya setelah memberitahu semua yang terjadi dan berusaha untuk memprovokasi Sabrina.
***
"Ternyata kamu sudah berani memaksaku?"
Aliyya yang sedang merapihkan kamarnya tetap bekerja tanpa menghiraukan perkataan Zein.
"Kamu memaksaku untuk mendengarkan perkataanmu. Di rumahku dan di kamarku, kamu sudah berani memaksaku. Sudah berapa kali aku katakan padamu, kalau kamu tidak mempunyai hak apa pun di kamar maupun di rumah ini. Sebenarnya kamu ini mempunyai harga diri atau tidak???" tandas Zein yang mengekori Aliyya dari belakang.
"Terserah kamu mau mengatakan apa pun, aku tidak peduli. Silakan saja lakukan apa yang ingin kamu lakukan. Aku tidak mempunyai urusan untuk hal itu. Jika kamu bertanya tentang harga diriku, aku akan tinggal di rumah dan di kamar ini dengan harga diri. Kamu mau tau kenapa? Karena kita sudah menikah dan kamu sudah menjabat tangan ayahku saat ijab kabul. Itu artinya aku memiliki hak di kamar ini. Kamu mengerti dengan kata-kataku?" tandas Aliyya yang berusaha tenang menghadapi sikap Zein.
"Apakah itu hukum pernikahan yang kamu buat sendiri?" tandas Zein yang semakin menatap tajam Aliyya.
"Haruskah aku bacakan kembali hukum pernikahan di hadapanmu sekarang? Kalau hukum pernikahan saja tidak melarangku dan memberikan hak, maka tidak ada yang bisa mengambil hak itu dariku! Aku tidak akan pernah pergi, baik dari rumah ini maupun dari kamarmu. Bahkan aku juga tidak akan pergi dari hidupmu!!! Jika kamu berani, maka singkirkan saja aku kalau kamu bisa melakukan itu!" tandas Aliyya yang semakin menantang Zein.
Zein yang mendengarkan penuturan Aliyya hanya terdiam dan sesekali mendengus kesal seraya memalingkan wajah. Sementara itu, Aliyya dengan tangguh dan sabar berusaha meluruskan pikiran sang suami dengan kata-kata manis itu.
"Sepertinya kamu belum mengerti juga, Zein! Aku sudah memaafkan dirimu karena itu adalah kebodohanmu sendiri. Tapi kamu malah menganggap maaf dariku itu sebagai kelemahanku yang bisa kamu patahkan begitu saja kapan pun kamu mau!!! Aku sangat tulus memaafkan semua tingkah bodohmu selama ini, tapi sejak kejadian tadi malam, aku memutuskan untuk mengakhiri semua rasa tulusku padamu!!! Jika kamu melakukan hal bodoh lagi dan aku tetap diam, mulai sekarang jangan pernah menganggap kalau aku akan diam!!! Anggap saja diamku itu sebagai badai dahsyat yang akan datang dan bersiap untuk menghancurkan dirimu!!! Dan tentang aku, aku sudah menikah denganmu dan menjadi istrimu. Aku akan menganggap semua ini adalah perintah dari Allah dan sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan pernikahan ini gagal, karena aku sudah berjanji pada ibuku. Kalau aku akan menulis kisah pernikahanku sendiri!" tutur Aliyya.
Dengan mata tajamnya itu ia terus menatap Zein. Lalu Aliyya pun hendak pergi karena sudah merasa bosan menceramahi suaminya itu. Sementara Zein hanya bersikap bodoh seakan tidak mendengar apa pun yang Aliyya katakan. Namun saat Aliyya hendak melangkah, gadis itu kembali mundur dan tersenyum licik pada Zein.
"Kamu masih ingat dengan yang pernah aku katakan saat kita masih kecil? Setiap aku memotong rambutku, maka kamu akan kehilangan celanamu, Zein Abdullah!!!" tandas Aliyya yang mengejek Zein.
"Ini sudah sangat salah!!! Kamu telah memaksakan kehendak sendiri di dalam pernikahan ini. Lalu masalah kisah pernikahan itu sendiri, tulis saja sendiri!!! Tulis apa yang ada di dalam pikiranmu dan kisahmu itu akan berakhir bahagia. Tapi kenyataannya adalah akan sangat berbeda dari kisahmu itu karena aku yang akan menulisnya. Dan kamu tau apa akhir dari kisahku itu? Kamu akan pergi meninggalkan diriku dan rumah ini, Aliyya Ginanjar!!!" tandas Zein dengan penuh penegasan.
"Kisah yang sangat indah, Zein!!! Dan aku tidak peduli dengan akhir kisahmu yang konyol itu." jawab Aliyya.
Aliyya yang jengah pun berjalan meninggalkan Zein. Tapi tangan Zein tak kalah cepat mencekam tangan Aliyya dan membuatnya berhenti lagi.
"Satu bulan saja!!! Dalam waktu satu bulan, aku akan membuat kisah itu menjadi nyata di depan mata dan hidupmu! Kamu memang benar, kalau aku ini salah. Aku salah karena telah membuat keributan saat itu dan telah mempermalukan diriku sendiri di saat aku ingin mempermalukan dirimu. Tapi satu hal yang pasti!!! Aku lah yang akan menang dalam kisah ini dan kamu akan kalah, Aliyya!!!" tandas Zein seraya mencekam kuat tangan Aliyya.
Aliyya pun berusaha melepaskan tangannya dari cengkaman kuat tangan Zein. Setelah lepas, keduanya pun saling melempar tatapan tajam penuh kebencian dan amarah yang mendalam.
"Kita lihat saja nanti, Zein Abdullah!!!"
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
__ADS_1