Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 24 ~ Berusaha Memahami


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Aku dan Umar minta maaf atas kekacauan yang terjadi tadi padamu, Jeng Rita."


Setelah berbicara dengan pihak Polisi, Umar pun memilih untuk menenangkan diri di halaman samping. Sementara itu, Sonia datang menyusul Umar seraya menghubungi salah satu kerabat sekaligus rekan kerja sang suami yang sempat hadir di acara resepsi.


"Aku benar-benar minta maaf karena kalian harus pergi dengan cara seperti tadi. Besok aku dan Umar akan menemui kalian. Selamat malam Jeng Rita." ujar Sonia lagi lalu menutup panggilan.


Sonia pun menghela nafas panjang ketika melihat sang suami yang termenung duduk di tepi kolam renang. Seringai tipis juga tampak di wajahnya saat mengingat kejadian tadi. Semua terjadi sesuai dengan rencananya bersama Namira dan Shafia. Lalu Sonia berjalan mendekati Umar yang tengah termenung.


"Aku benar-benar tidak menyangka, Pa. Di saat para tamu undangan kita yang terhormat datang, acara kita malah kacau seperti ini. Kita sudah berusaha untuk memperbaiki semuanya, tapi kita malah dipermalukan di depan semua orang. Aku berharap sekali kalau kejadian ini tidak sampai terdengar di telinga wartawan. Kalau tidak, bisa kacau lagi semuanya." tutur Sonia yang sedang memprovokasi Umar.


Umar tetap bergeming, menatap cahaya yang memantulkan cahaya bulan yang sangat terang. Sementara Sonia tampak tersenyum licik tatkala niatnya untuk memprovokasi Umar agar pria paruh baya itu menyalahkan Aliyya, seperti Zein.


"Aku juga tidak habis pikir kalau ternyata Aliyya..."


"Zein suka mabuk seperti tadi? Apakah kamu tau itu?" potong Umar tanpa menoleh ke arah Sonia.


Sonia pun tertegun dan terdiam. Pasalnya ia memang tau kalau Zein suka mabuk jika pria itu sedang mendapatkan masalah yang rumit dalam hidupnya. Tapi Sonia maupun Zein, tidak pernah mengatakan hal ini pada Umar. Bahkan Zein saja tidak tau kalau Sonia mengetahui kebiasaan buruknya itu.


"Aku tidak tau tentang hal itu, Pa. Tapi apakah itu penting untuk saat ini? Papa tau sendiri bagaimana sifat anak di zaman sekarang. Mereka bisa memilih jalan hidupnya dan berbuat sesuka hatinya." jawab Sonia yang gugup.


"Jauh aku mengirim Zein ke London untuk belajar dan menerapkan kebiasaan yang baik, bukan kebiasaan buruk. Kamu dan Zein sering berkomunikasi 'kan?" ujar Umar yang masih enggan melihat mata sang istri.


"Ya aku memang sering berkomunikasi dengan Zein. Tapi dia tidak pernah mengatakan apa pun padaku dan aku juga tidak mempunyai alasan untuk bertanya 'kan"? jawab Sonia yang berjalan membalakangi Umar.


"Selama ini aku mengira telah mengenal putraku dengan sangat baik. Tapi aku salah!!! Aku tidak mengenal Zein sama sekali." ujar Umar yang masih menerawang jauh.


"Mungkin karena Zein terlalu banyak menyimpan beban masalah di dalam hidupnya, ditambah lagi dengan masalah pernikahan ini. Tapi ini bukan tentang Zein yang mabuk atau tidak, Pa. Melainkan masalah kenapa Zein bisa mabuk dan tertekan seperti itu? Mungkin semua ini karena Aliyya.


Aku saja masih tidak habis pikir kalau Aliyya tertangkap basah telah mencuri di supermarket. Kenapa Aliyya berani melakukan semua itu?" jawab Sonia yang berbalik badan.


"Aliyya tidak mencuri dan aku sangat mempercayai itu!" ujar Umar yang tetap kekeuh pada pendiriannya.


"Bukan aku yang mengatakan Aliyya mencuri, tapi Polisi. Pihak Polisi dan petugas keamanan di sana yang mengatakan hal itu karena mereka menangkap basah Aliyya bersama dengan bukti yang nyata. Tapi Papa tidak mempercayai orang lain, bahkan Polisi. Papa hanya percaya pada Aliyya. Ingatlah satu hal, Pa!!! Seseorang akan berkata jujur di saat dia sedang mabuk!!!" tutur Sonia yang kesal dan menangis mendengar pembelaan Umar.


Umar tetap bergeming dan tidak menanggapi perkataan Sonia. Sementara Sonia yang meneteskan air mata pun memilih pergi seraya mengusap air mata palsunya itu. Tentu saja, wanita paruh baya yang berstatus istri seorang Umar Abdullah itu hanya berpura-pura terpukul dengan semua pembelaan sang suami terhadap Aliyya. Dengan begitu, Umar akan berpikir ulang tentang Aliyya yang jelas sudah bersalah.


Sonia pun tersenyum licik dan berlenggang masuk ke dalam rumah, meninggalkan Umar yang masih termenung di tepi kolam.


***


"Sedang apa kamu ke sini?"


Shafia yang baru keluar dari kamar mandi setelah selesai membersihkan diri pun terkejut melihat kedatangan musuh dalam pernikahannya. Siapa lagi kalau bukan Namira. Shafia pun menghampiri Namira yang sedang mencari seseorang di dalam kamar Shafia dan pastinya membuat emosi Shafia naik ke ubun-ubun.


"Di mana Mas Farhan?" tanya Namira.


"Ada perlu apa kamu dengan Mas Farhan?" tanya Shafia.


"Tentu saja ingin membawanya ke kamarku, Shafia." jawab Namira yang sangat santai seraya mencari Farhan.


"Apa yang kamu katakan? Menurut jadwal minggu ini, Mas Farhan akan menghabiskan waktu malam bersamaku. Kenapa kamu ingin membawanya pergi? Dasar rakus!!!" tandas Shafia yang kesal dengan tingkah madunya itu.


"Shafia... apa pun yang aku inginkan, pasti akan aku dapatkan!!! Kita lihat saja nanti. Kamu sendiri yang akan meminta Mas Farhan untuk datang ke kamarku." ujar Namira yang masih kekeuh dan membuat Shafia marah.


"Untuk apa aku harus melakukan itu?" tandas Shafia.


"Terkadang kita melakukan sesuatu bukan untuk diri kita sendiri, melainkan untuk saudari kita." ujar Namira yang menantang Shafia.


"Apa maksudmu?" tandas Shafia yang makin geram.


Tanpa basa-basi, Namira pun memperlihatkan sebuah video yang ada di dalam ponselnya pada Shafia. Video itu merupakan video rekaman sosok gadis yang menabrak Aliyya di supermarket dan memasukan jam tangan mahal ke dalam tas Aliyya dengan sengaja.


"Sarah..."


Ternyata sosok gadis itu adalah adik perempuan Shafia yang bernama Sarah dan gadis itu sudah menyukai Zein dari sejak lama. Kini gadis itu bekerja sama dengan Sonia, Namira dan Shafia untuk menjatuhkan Aliyya di depan Umar dan Zein.


Melihat video sang adik, Shafia pun geram dan berusaha merebut ponsel Namira dari tangannya. Namun dengan cepat, Namira menyembunyikan ponselnya dari Shafia dan menggunakan video itu untuk mengancam madunya itu.

__ADS_1


"Jangan berusaha merebutnya dariku. Kamu tau sendiri 'kan bagaimana jadinya kalau video ini sampai di tangan Papa? Papa akan datang ke kantor polisi dan langsung membebaskan nama baik Aliyya lalu menangkap adikmu sebagai gantinya." tandas Namira yang mengancam Shafia.


Shafia yang geram dan kesal pun hanya mendengus kesal melihat ekspresi Namira. Saat keduanya tengah berdebat, Farhan yang baru kembali dari luar pun masuk ke kamar Shafia. Apa yang terjadi pada pria tampan itu? Tentu saja tercengang saat melihat kedua istrinya berada di dalam satu ruangan yang sama. Farhan yang tercengan pun heran dan kalang kabut karena takut kedua istrinya akan bertengkar lagi.


"Namira... kamu di sini? Semuanya baik-baik saja 'kan Sayang?" ujar Farhan yang gugup dan mendekati Namira.


Namira hanya tersenyum dan tidak menjawab pertanyaan Farhan. Lalu ia melirik ke arah Shafia yang juga meliriknya. Namira pun memberikan isyarat pada Shafia, seakan menyuruhnya untuk menjawab pertanyaan Farhan. Shafia yang mengerti dengan isyarat itu pun mendengus kesal.


"Aku yang memintanya ke sini. Sekarang kalian pergi saja. Malam ini aku ingin tidur sendiri dulu." jawab Shafia yang cemberut dan berdiri membelakangi Farhan.


Namira yang melihat ekspresi cemberut Shafia pun tertawa kecil dan puas. Sementara Farhan tampak bingung dengan sikap istri keduanya itu.


"Kenapa? Apakah aku tidak boleh tidur di sini denganmu? Semuanya baik-baik saja 'kan Sayang?" tanya Farhan yang masih bingung.


"Sudah pergi saja!!! Suasana hatiku sedang tidak enak dan aku butuh waktu sendiri!!!" tandas Shafia yang kesal tapi tidak bisa berbuat apa-apa.


Namira pun tersenyum puas dan langsung menarik Farhan keluar dari kamar Shafia. Sementara Shafia memilih untuk langsung tidur agar tidak kepikiran dengan video ancaman yang ada di dalam ponsel Namira.


***


"Pa... aku ingin bicara lagi tentang..."


Sonia yang sudah selesai membersihkan diri, keluar dari kamar mandi dan hendak menghampiri suaminya. Namun langkah Sonia terhenti ketika matanya melihat sang suami yang tengah memegang gelas berisi white wine dan botol white wine di hadapannya. Sonia pun mendekati Umar yang duduk seraya memegangi gelas itu. Entah apa yang sedang dilakukan oleh Umar dan membuat Sonia heran.


"Pa... kamu minum? Kenapa Pa? Ada apa ini?" ujar Sonia yang belum mengerti dengan maksud Umar.


"Sonia... cerai!!!" ucap Umar.


Sonia semakin dibuat tercengang dengan perkataan Umar. Tanpa menatap sang istri yang berdiri di depannya, Umar mengatakan kata itu dalam keadaan mabuk.


"Apa maksudmu Pa?" tanya Sonia yang bingung.


"Kamu pernah bilang padaku, kalau seseorang akan berkata jujur di saat dia dalam keadaan mabuk 'kan? Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama dan hari ini aku mengatakannya padamu karena alkohol." jawab Umar yang mengangkat kepalanya dan menatap Sonia.


"Kamu... kamu... kamu sedang mabuk, Pa. Ya Allah..." ujar Sonia yang panik lalu mengambil botol white wine itu.


Sonia yang panik karena Umar meminta cerai darinya pun langsung membawa botol minuman beralkohol itu ke kamar mandi untuk membuangnya. Sementara Umar hanya tersenyum melihat tingkah sang istri yang sangat panik dan ketakutan dengan perkataannya.


"Pa... ini bukan white wine? Ini hanya jus permentasi?" tanya Sonia yang semakin bingung dan heran.


Umar pun meletakkan gelas yang ada di tangannya ke atas meja dan berdiri.


"Apa pun yang dikatakan oleh seseorang dalam keadaan mabuk, tidak lah benar-benar dari hati. Artinya yang Zein katakan tadi saat dia mabuk berat tidak lah benar dan jujur. Aku yakin karena aku sangat mengenali putraku. Aku janji padamu, Sonia. Aku akan memberikan pencerahan pada Zein dan perceraian tidak akan pernah terjadi. Aku janji!!!" tutur Umar yang menatap sang istri lalu pergi.


Sonia pun mendengus kesal. Tingkah Umar seperti itu hanya ingin meluruskan pandangan Sonia terhadap masalah Zein. Tapi bukannya lurus, memang itulah yang Sonia inginkan. Sonia sengaja mengatakan hal itu karena ia ingin memprovokasi Umar. Namun Umar tidak mengetahui niat sang istri yang sebenarnya untuk hubungan Aliyya dan Zein.


"Aku tau semua itu tidak benar, Pa! Tapi aku juga akan berjanji kalau suatu hari nanti Zein akan mengatakannya dalam keadaan sadar lalu aku akan bertanya lagi padamu!"


***


Malam pun berganti pagi. Sinar matahari mulai masuk ke sela-sela jendela kamar pengantin baru yang baru menikah. Sejak kejadian acara resepsi itu, Aliyya yang tidak bisa memejamkan mata pun memilih untuk terus mengaji dan melaksanakan sholat malam. Hingga pagi datang pun ia masih terduduk di atas sejadah sholatnya. Aliyya yang taat dan rajin melaksanakan sholat tampak tengah berdo'a. Melangitkan sebuah permintaan untuk hidupnya ke depan, karena hanya Dia-lah yang mengetahui semua yang akan terjadi di masa yang akan datang.


Setelah melakukan sholat, Aliyya pun menoleh ke arah Zein yang masih terlelap dalam tidurnya.


"Aliyya..."


Lamunan Aliyya seketika buyar ketika mendengar suara lembut yang memanggil namanya. Aliyya pun menoleh ke arah sumber suara dan mendapati Bi Sumi yang sedang berdiri di dekat pintu kamarnya. Lalu Aliyya beranjak dan menghampiri Bi Sumi yang berjalan masuk mendekatinya.


"Bibi sangat mengenal Zein, Nak. Tidak ada yang mengenal Zein lebih jauh selain Bibi. Dia mempunyai hati yang sangat luar biasa dan berkilau seperti permata. Saat ini, mungkin kamu belum percaya dengan perkataan Bibi. Tapi suatu hari nanti, Bibi sangat yakin, jika Zein bisa melihat betapa tulus dan baiknya dirimu, maka dia akan sangat mencintaimu, Nak. Dan Bibi sangat berani untuk menjamin semua itu." tutur Bi Sumi yang menenangkan.


Aliyya pun tertegun lagi mendengar perkataan Bi Sumi. Lalu matanya yang cantik pun menoleh ke arah Zein. Di saat Zein tertidur, wajahnya tampak sangat lugu dan polos, seakan tidak ada dosa di dalam hidupnya. Tenang, seperti itulah raut wajah pria yang bernama Zein Abdullah ketika sedang tertidur pulas. Aliyya pun tersenyum melihat wajah polos nan tampan itu lalu menoleh lagi ke arah Bi Sumi.


"Bibi sangat yakin, dia pasti akan mencintaimu, Aliyya." ujar Bi Sumi seraya menangkup sayang wajah gadis itu.


"Aku juga sudah memutuskan untuk bertahan dengan situasi ini, Bi. Walaupun banyak sekali rintangan, tapi aku selalu berharap agar Allah senantiasa menjagaku di mana pun dan kapan pun itu. Aku yakin, Allah akan memberikan jalan keluar untuk setiap masalahku dan membuktikan kalau semua tuduhan itu tidak lah benar. Aku yakin Allah sangat menyayangi diriku dan karena itulah Allah sedang menguji kesabaranku." tutur Aliyya yang tersenyum dan menerawang.


Bi Sumi pun tersenyum mendengar penuturan Aliyya yang semangat lagi.


"Bibi tau kalau sebenarnya kamu tidak bersalah, Aliyya. Tapi yang membuat Bibi heran dan bingung sampai saat ini adalah, kenapa kamu pergi membeli obat itu di sana?" ujar Bi Sumi seraya mengusap lengan Aliyya.

__ADS_1


"Kak Namira yang menyuruhku untuk membeli obat Mama di supermarket itu, Bi." jawab Aliyya yang tersenyum.


"Tapi yang Bibi tau, di dalam lemari obat Nyonya Sonia masih banyak obat itu dan Nyonya selalu membeli obat itu di luar negeri. Lalu kenapa tiba-tiba dia ingin membelinya lagi?" ujar Bi Sumi yang ingat betul dengan obat Sonia.


Aliyya yang mendengar perkataan Bi Sumi pun tersentak. Seketika ingatan kejadian demi kejadian yang telah ia lalui pun kembali berputar di memori otaknya. Mulai dari saat Sonia membawanya keluar dari rumah dengan membawa tas koper, membela Zein di depan Umar saat pintu kamar terkunci, tingkah Sonia yang seakan membuatnya salah dalam menyimak perkataan Sonia dan hal-hal mengganjal lainnya yang seakan dibuat sengaja untuk menjatuhkan dan menyingkirkan dirinya dari rumah Umar.


"Ada apa Aliyya? Kenapa kamu diam?" tanya Bi Sumi seraya meraih bahu Aliyya.


"Tidak apa-apa, Bi. Mungkin karena aku baru di rumah ini. Jadi aku belum bisa memahami situasi yang terjadi." jawab Aliyya yang terkejut dan sadar dari lamunan.


"Ya sudah, kalau begitu Bibi buatkan teh ya." ujar Bi Sumi yang tersenyum.


"Terima kasih Bi..."


Bi Sumi pun mengangguk lalu beranjak pergi keluar dari kamar Zein. Sementara Aliyya kembali terdiam, berusaha memikirkan situasi dan kondisi apa yang sedang ia hadapi saat ini.


***


Sonia yang tengah memasak di daput terlihat sedang termenung. Kata-kata Umar yang sempat membuatnya syok sementara kembali terngiang jelas di telinganya.


"Mama sedang memasak apa pagi-pagi seperti ini?"


Lamunan Sonia buyar ketika Shafia datang dan menyapa dirinya yang sedang memasak seraya melamun.


"Pengaruh alkohol yang ada di dalam tubuh Zein akan berkurang dengan masakan ini." jawab Sonia yang melanjutkan aktifitas masaknya.


"Benarkah? Bagus sekali kalau begitu, Ma." ujar Shafia yang hendak mengambil sesuatu di dapur.


Sonia pun tidak menjawab perkataan Shafia dan terus memasak. Namun asap dari wadah pun keluar ketika ia memasukan sayur-sayuran ke dalam wadah itu sehingga membuat Sonia terbatuk. Satu kelemahan Sonia, jika ia terserang batuk, walaupun itu sakit atau karena masalah ringan seperti terpapar asap, polusi dan hal lainnya, ia harus meminum obat yang ia beli dari luar negeri karena itu adalah elergi yang dideritanya. Sonia tidak bisa terkena asap apa pun itu dan jika terpapar hingga membuatnya batuk, maka dia harus minum obat, kalau tidak dia akan batuk selamanya.


"Obat Mama di mana?" tanya Shafia.


Sonia yang batuk tidak mampu menjawab pertanyaan Shafia. Ia hanya memberi isyarat pada Shafia untuk membantunya mencari obat elergi itu di dapur.


"Obatnya ada di sini, Ma!"


Sonia dan Shafia pun sontak terkejut saat melihat Aliyya yang datang ke dapur. Gadis itu berdiri di samping lemari obat Sonia yang dikatakan oleh Bi Sumi dan kedatangan Aliyya berhasil membuat Sonia maupun Shafia bungkam.


Aliyya yang tersenyum pada Sonia pun mengambil obat yang ada di dalam lemari itu, dan benar saja dengan yang dikatakan oleh Bi Sumi kalau obat itu masih banyak dan bahkan memenuhi satu lemari. Lalu Aliyya membawa obat itu ke hadapan Sonia dan ingin menyuapi obat itu. Namun dengan cepat, Sonia mencegah tangan Aliyya yang ingin menyuapi obat itu untuknya dan meminumnya sendiri.


"Aku minta maaf, Ma. Karena aku tidak jadi membelikan obat itu untuk Mama. Aku terpaksa meninggalkan obat itu di supermarket karena insiden tuduhan. Sebenarnya aku merasa sangat tidak enak pada Mama karena aku tidak bisa memegang amanah. Tapi setelah aku melihat banyak persediaan obat di lemari itu, rasanya aku lega dan ternyata Mama mempunyai banyak persediaan obat itu."


Sonia yang mendengar itu pun menoleh dan menatap Aliyya dengan sangat tajamnya. Sementara Aliyya hanya tersenyum dan bersikap tenang, seakan sudah mengerti dengan semuanya.


"Aku rasa dalam waktu satu tahun pun Mama tidak perlu membeli obat itu. Jadi Mama tidak perlu khawatir kalau obat itu akan habis."


Sonia hanya diam, ia sangat tau maksud Aliyya. Namun ia berusaha untuk tenang menghadapi Aliyya.


"Aku memang masih baru di rumah ini, Ma. Aku belum mengerti dengan peraturan yang ada di sini. Tapi Mama jangan khawatir. Secara perlahan, aku akan mempelajari semuanya dan aku juga akan memastikan kalau Mama tidak akan mengeluh lagi karena sikapku. Mulai hari ini, aku akan merubah diriku dan aku tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya. Aku berjanji akan merubah diriku sepenuhnya, menjadi Aliyya yang berbeda dari yang sebelumnya. Mama jangan khawatir dan akan kupastikan, kalau Mama tidak menyesal mempunyai menantu seperti diriku."


Dengan sangat santai dan senyumnya yang penuh arti itu, Aliyya berani menantang mata Sonia. Mata yang menatap dirinya dengan sangat tajam sejam tadi, mata yang sangat membenci dirinya dan berniat untuk menyingkirkan dirinya dari hidup Zein. Aliyya pun beranjak dari hadapan Sonia yang masih menatapnya dengan benci.


"Wah Ma, ini sangat menakjubkan." ucap Shafia yang mendekati Sonia.


Sonia yang mendengar itu pun menoleh dan menatap tajam Shafia sahingga membuatnya takut.


"Maksudku, Aliyya berhasil membuat Mama bungkam lalu pergi begitu saja seperti itu. Saat ini hanya Allah yang tau apa yang akan dia lakukan pada Zein." ujar Shafia lagi dan mendapat sorot mata tajam dari sang mama mertua.


Shafia yang ketakutan dengan sorot mata itu pun memilih untuk pergi dan meninggalkan Sonia dalam keadaan kesal.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2