Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 30 ~ Nobar Sepak Bola


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Teman-teman? Selarut malam ini Bi?"


Aliyya yang belum mengetahui kebiasaan Zein yang buruk satu itu pun tampak kebingungan. Lalu ia berusaha untuk mencari tau semuanya dari Bi Sumi.


"Zein memang sering membawa temannya ke rumah ini di waktu malam, Nak. Mereka suka sekali berkumpul di sini, terutama di kamar ini." jawab Bi Sumi yang mengetahui semuanya.


"Teman laki-laki atau perempuan?" tanya Aliyya lagi yang penasaran dengan teman-teman Zein.


"Ada yang laki-laki dan ada yang perempuan. Terkadang juga keduanya, Nak Tapi yang akan datang malam ini Bibi tidak tau, apakah hanya teman laki-laki atau perempuan." jawab Bi Sumi.


"Kalau begitu biar aku bantu Bibi memasak dan membuat sesuatu untuk mereka ya." ujar Aliyya.


"Eh tidak perlu, Nak. Kamu beristirahat saja di sini. Ini sudah larut malam dan kamu harus tidur." jawab Bi Sumi yang berusaha melarang.


"Tidak apa-apa, Bi. Teman-teman Zein akan datang dan aku harus menemui mereka. Aku juga ingin membuatkan sesuatu untuk mereka dengan bumbu masakan yang dikirim ibuku." timpal Aliyya yang tetap kekeuh ingin masak.


"Tapi Aliyya..."


"Sudah tidak apa-apa, Bi. Ayo!!!" potong Aliyya seraya menarik tangan Bi Sumi.


Bi Sumi yang ditarik tangannya pun hanya bisa mengikuti permintaan Aliyya. Wanita paruh itu terlihat pasrah saja saat berjalan ke dapur dan Aliyya terus menarik tangannya seraya tangan yang satunya lagi membawa dua buah wadah berukuran kecil.


"Masakan ini terlalu asin! Kau dipecat!!!"


Saat Aliyya dan Bi Sumi sampai di depan pintu dapur, tiba-tiba dari arah dalam terdengar suara Sonia yang sedang melakukan kegiatan masak bersama salah satu pelayan dan tampak sedang memarahi pelayan itu.


"Tapi Nyonya..."


"Aku tidak suka membuang banyak waktu dan membuang makanan! Ayo cepat buang hasil masakanmu itu dan segera pergi dari rumah ini!" tandas Sonia tanpa mengampuni pelayan itu.


Pelayan yang malang itu pun hanya tertunduk sedih seraya meraih wajan hasil masakannya lalu melakukan perintah Sonia untuk membuang masakan asin itu. Sementara Aliyya dan Bi Sumi yang masih di depan pintu dapur hanya saling melempar pandangan kasihan pada pelayan itu. Dengan guratan kecemasan yang tampak jelas di wajah, Bi Sumi terus berusaha untuk meminta Aliyya agar tidak masuk ke dalam sana karena ada Sonia. Namun Aliyya yang tidak kenal takut hanya mengangguk kecil seakan meminta ART paruh baya itu untuk tetap tenang dan berhenti mengkhawatirkan dirinya.


"Tunggu!!!"


Suara Aliyya sontak membuat Sonia dan pelayan itu menoleh ke arahnya. Sementara itu, tanpa rasa takut dan gentar pada sang mama mertua, Aliyya pun melangkah maju dan masuk ke dapur. Lalu Bi Sumi mengikuti Aliyya dari belakang.


Melihat gadis yang tidak pernah ia sukai untuk tetap berada di rumah ini, sungguh membuat wajah Sonia berubah masam seketika. Tidak ada senyum lebar bahkan tipis sekalipun di wajahnya yang tampak masih awet muda itu. Sementara Aliyya, dengan santai dan beraninya ia berjalan dan mendekati sang mama mertua yang tengah menatapnya dengan penuh kebencian dan kesal.


"Maaf kalau aku mengganggu Mama di sini. Tapi kalau masakan itu terlalu banyak garam, lebih baik diberikan tepung saja. Dengan begitu garam yang ada di dalam masakannya akan diserap oleh tepung itu." tutur Aliyya yang tersenyum.


"Benarkah?" tanya pelayan itu yang semangat.


"Iya, aku sering mencobanya di Jogja. Aku akan mengajarimu bagaimana caranya." jawab Aliyya.


Tanpa menghiraukan tatapan tajam yang Sonia berikan, Aliyya berlenggang pergi menuju lemari penyimpan bahan makanan dan mengambil sebuah wadah berukuran sedang berisi tepung yang sudah diolah menjadi adonan mentah. Jadi rasa dari tepung itu pun pastinya masih sangat ambar karena tidak memiliki rasa lezat apa pun. Setelah mengambil wadah, Aliyya pun kembali lagi ke meja masak lalu mengambilnya sedikit dan membulatkan tepung itu. Kemudian Aliyya memasukkan bulatan tepung itu ke dalam wajan masakan pelayan yang asin.


Sonia masih dengan tatapan tajamnya, terus dan terus memperhatikan Aliyya tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. Sementara Bi Sumi yang takut dan cemas dengan tingkah Aliyya hanya tampak berkomat-kamit agar tidak terjadi pertengkaran di antara keduanya setelah ini.


Setelah memasukkan bulatan tepung ke dalam wajan masakan, Aliyya pun meraih sendok dan mencicipi masakan itu dengan teliti.


"Sempurna!" ucap Aliyya yang tersenyum lega.


Sonia yang sejak tadi menatapnya dengan tajam pun ikut mengambil sendok lalu turut mencicipi masakan asin dari pelayan itu. Seketika ekspresi Sonia pun berubah ketika mencicipi makanan yang tadinya terasa asin kini berubah menjadi makanan yang rasanya sangat pas di indera pengecap. Masakan pelayan itu akhirnya tidak asin lagi berkat Aliyya.


"Garam tidak lah penting dalam memasak! Tapi presentasi dalam memasak itulah yang penting. Dengan memberikan tepung ke dalam masakan, warna dari masakan itu juga ikut berubah pudar dan pucat! Ini tidak bagus! Jadi buang saja!!!" ujar Sonia dengan penuh penekanan menatap tajam menantunya itu.


Aliyya pun hanya bisa tersenyum kikuk melihat masakan yang pada akhirnya akan berakhir di tempat sampah. Sudah susah payah gadis itu berusaha untuk mencari jalan keluar tapi sifat Sonia yang terlalu membenci Aliyya membuat ibu dari dua anak itu selalu saja mencari-cari kesalahan gadis itu. Sementara Bi Sumi yang sejak tadi menyaksikan dan berdiri di samping Aliyya hanya bisa menghela nafas pelan saat mendengar titah sang atasan.


"Apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Sonia dengan ketusnya tanpa melihat ke Aliyya.


"Aku ingin membuat sesuatu, Ma. Tadi ibuku mengirimkan paket dan di dalam paket itu ada bumbu masakan khas Jogja. Jadi aku ingin sekali membuat sesuatu di sini." jawab Aliyya yang masih tersenyum manis.

__ADS_1


"Bi Sumi... kamu tau 'kan kalau di jam seperti ini saya sedang melakukan praktek memasak untuk buku masak? Apa kamu tidak memberitahunya? Tidak ada yang boleh menggunakan dapur saat saya sedang melakukan praktek!!! Dan tidak ada yang boleh memakai bumbu karena saya selalu memakai bumbu olahan sendiri!!!" tutur Sonia dengan tegasnya yang menoleh ke arah Bi Sumi.


"Ayo coba sekali saja, Ma. Kalau Mama mau, kita bisa melakukan praktek masak itu bersama. Aku ingin membuat sesuatu yang ada di dalam buku resep masakan Mama." ujar Aliyya yang semakin menantang Sonia dengan senyum dan beraninya.


"Buku resep Mama?" tanya Sonia yang melipat tangannya di dada seraya menoleh ke Aliyya.


"Iya, Ma. Lagi pula aku suka sekali memasak dan aku ingin memasak masakan dari buku resep itu di sini." jawab Aliyya yang tetap tenang.


Seringai tipis pun muncul seketika dari wajah cantik wanita paruh baya itu ketika mendengar permintaan Aliyya. Entah apa yang sedang ia pikirkan tentang itu dan sepertinya Sonia ingin menantang menantu kesayangan suaminya itu.


"Tidak!!! Kamu membuat masakanmu sendiri saja dengan waktu yang sesuai dengan buku resep masakan Mama!!! Hanya 20 menit saja! Apakah kamu bisa melakukannya?" ujar Sonia yang ingin menantang balik Aliyya.


"Baiklah, Ma. Tapi jika aku berhasil, aku ingin meminta hadiah pada Mama." jawab Aliyya seraya melirik Bi Sumi dan pelayan malang itu.


"Hadiah apa?" tanya Sonia yang dingin.


"Mama jangan memecat pelayan itu ya." jawab Aliyya yang tersenyum.


Bi Sumi dan Pelayan itu pun saling melempar pandangan tak percaya. Pelayan malang yang tadinya sangat bersedih karena terancam akan kehilangan pekerjaan kini tersenyum lega saat mendengar permintaan Aliyya. Sementara itu, Sonia yang wajahnya semakin masam hanya melirik tajam Pelayan itu.


"Ya sudah, kalau dalam waktu 20 menit kamu tidak bisa menyelesaikan masakanmu, maka Pelayan itu akan Mama pecat." tandas Sonia.


"Waktu 20 menit itu terlalu lama, Ma. Aku akan menyelesaikan masakanku dalam waktu 15 menit saja." jawab Aliyya yang dengan santainya.


Sonia yang semakin kesal dan jengah pun hanya menyeringai tipis tanpa melihat Aliyya. Sementara Bi Sumi masih tampak khawatir dan takut kalau praktek memasak itu akan berakhir kacau yang disertai pertengkaran di antara ibu mertua dan menantu perempuannya.


"Tunggu apa lagi? Waktu memasak dimulai dari sekarang!" ujar Sonia dengan ketusnya.


Aliyya yang masih bersikap dengan tenang dan tersenyum pun hanya mengangguk. Praktek memasak di antara Sonia, si juru masak terkenal seibu kota dengan Aliyya, si gadis Jogja yang sangat menyukai dan hobi memasak makanan pun dimulai! Suasana di dapur pun ikut berubah menjadi sangat tegang. Bukan tegang untuk Sonia ataupun Aliyya, melainkan terasa tegang bagi yang menyaksikan pertunjukkan itu.


Dengan sangat telaten dan cekatan, baik Sonia maupun Aliyya terlihat asyik memulai praktek memasak itu. Mereka memang pandai sekali dalam meracik bumbu dan juga masakan. Tapi tentu saja terdapat perbedaan di antara kedua wanita yang berbeda generasi itu. Mulai dari cara memberikan takaran hingga rasa yang pastinya sangat berbeda. Karena lain tangan, maka lain pula rasa masakan yang akan dihasilkan nanti.


***


Setelah lama melakukan perjalanan, Zein dan teman-temannya pun sampai di depan rumah. Satu per satu dari temannya pun turun dan diikuti pula oleh Zein. Namun saat Zein baru turun dari mobilnya, tiba-tiba ia teringat Aliyya. Bukan teringat karena rindu atau yang lainnya. Melainkan teringat untuk memberitahu Aliyya kalau dirinya dan teman-temannya datang ke rumah. Lalu Zein meraih ponselnya sebelum menyusul masuk para temannya itu.


Isi pesan Zein :


Malam ini aku bersama teman-temanku akan menonton pertandingan sepak bola di televisi kamarku. Jadi kamu tidak perlu masuk ke dalam kamar untuk malam ini.


Setelah pesan terkirim ke ponsel Aliyya, Zein pun berjalan masuk dan membawa teman-temannya.


"Istrimu itu baik sekali ya, Zein. Dia memberikan izin pada kita untuk menonton pertandingan saat larut seperti ini. Kalau para istri yang lain mana mungkin memberikan izin itu untuk suaminya." tutur salah satu teman Zein yang merangkulnya.


"Bukan dia yang baik, tapi aku!!! Kau tau bukan kalau aku bisa mengatur hidupku, kamarku dan juga rumahku sesuai dengan keinginanku. Jadi tidak ada yang bisa mengatur dan mengekang hidupku, bahkan aku sendiri saja tidak mampu merubah gaya hidupku ini." jawab Zein seraya duduk di atas sofa.


Rizal dan teman-temannya pun hanya saling pandang seraya menganggukan kepalanya, seakan mengiyakan apa pun yang dikatakan Zein. Saat Zein, Rizal dan keempat temannya itu tengah duduk di sofa, Bi Sumi yang memilih keluar dari dapur pun menghampiri pria tampan itu.


"Bi Sumi..." ucap Zein seraya bangkit.


"Assalamualaikum Bi..." ucap teman-teman Zein.


"Wa'alaikumsalam..." jawab Bi Sumi.


"Bi... ada apa? Semuanya baik-baik saja 'kan?" tanya Zein yang melihat kepanikan di wajah Bi Sumi.


"Istrimu saat ini sedang berada di dapur, Zein." jawab Bi Sumi seraya menoleh ke arah dapur.


"Dia tidak berada di kamar saat inilah yang paling penting bagiku, Bi." ujar Zein senang.


"Tapi mamamu juga berada di sana. Saat ini mereka sedang membuat keributan di dapur." jawab Bi Sumi yang masih mengkhawatirkan.


"Biarkan saja, Bi. Keributan yang terjadi itu akan membuat Aliyya sadar atas apa yang telah ia lakukan selama ini." ujar Zein yang tetap santai.

__ADS_1


"Apa yang kamu katakan? Dia itu istrimu, Zein!" serkas Bi Sumi seraya menepuk kasar bahu Zein.


"Sudahlah, Bi. Jangan terlalu dipikirkan." jawab Zein yang berusaha menenangkan Bi Sumi.


"Dasar kamu ini!!! Ya sudah, kalau begitu Bibi akan memeriksa mereka lagi dan membawa makanan untuk kalian." ujar Bi Sumi seraya mencubit gemas lengan anak asuhnya itu.


Zein dan teman-temannya pun mengangguk lalu Bi Sumi berlalu pergi menuju dapur.


"Hari ini adalah hari keberuntunganku dan malam ini Real Madrid akan mengalahkan Barcelona." ujar Zein seraya duduk di sofa.


"Tidak!!!"


Saat Zein dan teman-temannya sedang asyik duduk bersama, tiba-tiba saja suara bariton seseorang terdengar sangat lantang membantah perkataan Zein dari arah tangga. Seketika semua mata pun tertuju pada pria itu yang tak lain dan tak bukan adalah Farhan Abdullah. Mata Zein semakin terbuka lebar saat melihat baju bola khas Barcelona yang sedang digunakan Farhan seraya memegang sebuah bola.


"Malam ini Barcelona yang akan menang, bukan Real Madrid! Satu kosong untuk Barcelona! Satu kosong untuk Barcelona!!! Satu kosong untuk Barcelona!!!" pekik Farhan yang bertubi-tubi dan sangat kegirangan seraya menghampiri Zein.


Rizal dan teman-teman Zein yang melihat sikap Farhan hanya bisa melongo kebingungan, heran dengan tingkah Farhan yang masih merasakan kalau dirinya itu masih sama seperti sang adik. Zein pun beranjak dari duduknya dan mendekati Farhan yang terlihat sangat kegirangan karena pertandingan sepak bola malam ini.


"Kak... apa yang Kakak lakukan di sini?" tanya Zein yang berbisik di telinga Farhan.


"Tentu saja aku ingin mendukung Barcelona. Malam ini Barcelona lah yang akan menjadi pemenangnya!" jawab Farhan yang bersemangat.


Zein pun menggarut kepalanya yang tidak gatal mendengar perkataan Farhan. Ternyata Farhan juga ingin menonton pertandingan bola dengan Zein dan teman-temannya. Tapi sepertinya, baik Rizal maupun keempat teman Zein itu tampak keberatan jika pria beristri dua itu ikut menonton.


"Hei semuanya! Malam ini kita akan mendukung Barcelona! Aku mendukung Barcelona! Aku akan mendukung Barcelona! Oh Barcelona! Kau harus menang dan aku akan mendukungmu! Semoga kau menang malam ini! Oh Barcelona nan hebat." tutur Farhan yang bernyanyi kegirangan seraya mengelilingi teman-teman Zein.


Zein yang melihat tingkah sang kakak pun dibuat kebingungan. Sementara teman-teman Zein yang melihat itu hanya bisa mendengus geli dan tidak menyukai gaya pria yang tidak muda lagi itu.


"Zein... aku tidak akan menonton pertandingan jika ada dia!" ujar Rizal yang berbisik di telinga Zein dari belakang tanpa sepengatahuan Farhan.


"Kau tenang saja. Aku akan mengurusnya." jawab Zein yang ikut berbisik.


Rizal memang tidak menyukai Farhan sejak pria tampan itu menikah dengan Shafia dan membuat hubungan keduanya jadi renggang, karena Rizal menganggap bahwa Farhan telah mengkhianati kakaknya, Namira dan menikah dengan Shafia.


"Kak... lebih baik Kakak tidur sekarang." ujar Zein yang berusaha membujuk Farhan.


"Kenapa aku harus tidur Zein? Namira bilang kalau kalian akan menyaksikan langsung pertandingan antara Real Madrid dan Barcelona. Jadi aku ingin ikut menontonnya dengan kalian dan aku berpikir kalau kita sesama laki-laki akan menyaksikan pertandingan itu bersama-sama. Benar 'kan Dik?" jawab Farhan yang memang fanbase sepak bola seraya menunjuk ke Rizal.


"Dik???" tanya Rizal yang terkejut.


"Iya, Dik. Kamu itu adik iparku!!!" pekik Farhan yang masih saja antusias dan bersemangat.


"Aku memang adiknya Namira, tapi aku bukan siapa-siapa bagimu!" tukas Rizal yang jengah.


Raut wajah Farhan berubah pias seketika saat mendengar perkataan Rizal yang mungkin tidak lagi menganggap dirinya sebagai kakak ipar. Namun Farhan tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena semua itu telah berlalu dan tidak terlalu menghiraukan perkataan Rizal. Sementara Rizal hanya bersikap acuh dan biasa saja tanpa ingin mengetahui apa yang dirasakan oleh Farhan.


"Kak... malam ini aku ingin menonton bersama teman-temanku saja. Jadi aku mohon padamu untuk...."


Saat Zein tengah berusaha membujuk Farhan untuk tidak ikut dengannya, tiba-tiba terdengar suara cempreng bocah perempuan dari arah tangga. Seketika semua mata pun tertuju pada sumber suara itu.


"Papa... Papa..."


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2