
...πΉπΉπΉ...
"Tunggu!!! Hentikan pernikahan ini."
Mendengar suara itu, semuanya pun menoleh ke arah sumber suara itu. Lalu...
"Apakah kau sudah tidak waras ingin menikah dengan wanita itu? Kepercayaan wanita itu jelas tidak sama dengan kita, Rizal."
Ternyata pria yang hendak menikah itu adalah Rizal. Pria tampan itu tampak mengeryitkan dahinya tatkala menyipitkan mata dan berusaha untuk melihat siapa yang berani menghentikan rencana pernikahannya itu.
"Zein..."
Ternyata pria bermotor itu adalah Zein yang datang dan berusaha menghentikan pernikahan sahabatnya yang bernama Rizal Syahputra.
"Ck!!! Kau ini selalu saja menghalangi rencanaku, Zein. Aku ingin menikah dengannya." tandas Rizal dengan kerasnya.
"Tidak, Zal. Kau tidak boleh menikah dengan wanita itu. Lalu bagaimana dengan hubungan kita?" ujar Zein seraya merangkul bahu Rizal.
Rizal yang tidak mengerti dengan maksud Zein pun mengeryitkan dahi. Sementara Zein hanya tersenyum licik pada sahabatnya itu.
"Maksudmu apa Zein?"
"Piwiiiittttt..."
Suara piwitan Zein yang terdengar sangat nyaring itu tampak memanggil seseorang. Tidak lama kemudian, datang sebuah delman yang membawa sebuah gambar raksasa.
"Buka gambar itu!!!" seru Zein pada orang yang membawa delman.
Orang itu pun membuka gambar dan semua orang yang melihatnya terkejut. Di gambar itu sangat jelas tampak gambar keduanya, Zein dan Rizal yang sedang pegangan tangan. Tidak hanya itu, mereka juga tampak mesra pada foto lainnya yang tertempel nyata di delman iti.
Plak!
Satu tamparan pun berhasil melayang mulus di pipi Rizal dari wanita bule yang tak lain adalah calon istri mendadak Rizal.
"Dasar pembohong!!!" pekik wanita itu lalu pergi.
"Sayang... itu bukan aku. Sayang tunggu..." sahut Rizal yang berusaha menghentikan wanita itu.
Zein yang melihat semua orang bubar dari acara itu pun hanya bisa tertawa lepas. Misi dan rencananya berhasil untuk membatalkan rencana pernikahan Rizal.
"Kau ini musuh atau sahabatku, haa!" tandas Rizal yang kesal pada Zein.
"Sudahlah, Zal. Masih banyak wanita cantik di luar sana. Wanita itu tidak pantas untukmu. Lebih baik kita pergi dari sini." jawab Zein yang santai seraya merangkul bahu Rizal.
Rizal yang masih kesal dan marah hanya diam dan wajahnya cemberut karena ulah Zein.
***
Jakarta
Umar pun berangkat ke kantor. Namun sebelum sampai, ia mampir sebentar di sebuah Masjid untuk menunaikan salat dhuha.
Berikan ketenangan dalam keluargaku, Ya Allah. Gumam Umar dalam hati.
Setelah selesai berdo'a, Umar pun kembali melanjutkan perjalanan menuju kantor. Saat mobil mulai berjalan, tiba-tiba ponselnya berbunyi.
"Sabrina..."
Umar pun segera mengangkat telepon sang adik yang jauh di sana. Lalu...
"Assalamualaikum, Kak." ujar Sabrina yang sedang duduk di rumah nya bersama Galuh.
"Wa'alaikumsalam, adikku. Apa kabarmu dan suamimu di sana?" jawab Umar yang senang.
"Alhamdulillah, Kak. Aku dan Mas Galuh sehat di sini. Kak Umar sendiri bagaimana?" tanya balik Sabrina.
"Syukurlah. Aku juga sama, sehat sepertimu." jawab Umar yang tertawa kecil.
"Syukurlah, Kak. Aku hanya ingin tau kabarmu dan memberitahumu kalau siang ini akan ada keluarga yang datang ke rumah. Mereka ingin melamar keponakanmu, Kak." tutur Sabrina.
"Oh, jadi Aliyya akan segera menikah. Ini kabar yang sangat baik, Sabrina. Aku ikut senang. Semoga saja acaranya lancar ya." jawab Umar yang ikut senang.
"Terima kasih, Kak. Aku titip salam untuk Kak Sonia ya. Assalamualaikum." ucap Sabrina.
"Wa'alaikumsalam." jawab Umar yang menutup telepon.
Setelah menutup telepon, Umar pun berniat ingin menghubungi keponakan kesayangannya itu. Namun tiba-tiba saja ada seseorang dari luar negeri yang menghubunginya.
"Apa lagi yang terjadi pada putraku di sana sampai Mr. Wilson menghubungiku seperti ini?"
Umar pun mengangkat telepon dari Mr. Wilson dari luar negeri.
"Ada apa Tuan Wilson?" tanya Umar yang mengangkat telepon.
"Putra kesayanganmu tidak masuk lagi hari ini, Tuan Umar." jawab Mr. Wilson di sana.
Tidak terasa perjalanan menuju kantor sudah berakhir. Umar pun turun dari mobil. Namun ponselnya tetap tersambung dengan Mr. Wilson yang berada di London.
"Aku akan menghubunginya, Tuan." ujar Umar seraya berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Baiklah, Tuan Umar." jawab Mr. Wilson.
Setelah sampai di dalam ruangannya, Umar pun menghubungi putranya yang dimaksud oleh Mr. Wilson tadi.
"Hallo, Zein. Di mana kamu?" tanya Umar pada putranya yang bernama Zein itu.
Ya... Zein adalah putra kedua Umar dan Sonia. Adiknya Farhan dan putra kesayangan Umar. Ia juga salah satu pemegang saham terbesar setelah Farhan di perusahaan sang papa. Namun karena tingkah dan sifat Zein yang cenderung tidak disiplin, membuatnya tampak seperti pria yang petakilan, nakal dan playboy.
__ADS_1
"Hallo, Pa. Saat ini aku sedang di kampus, Pa." jawab Zein yang berbohong.
"Kalau benar kamu sedang di kampus. Ayo kita video call. Papa ingin melihat kalau kamu benar-benar sedang di kampus." ujar Umar pada Zein.
Zein yang sedang berada di acara pernikahan temannya pun panik. Lalu ia segera berlari ke arah sebuah gedung yang cukup tinggi dan berharap agar sang papa bisa dibohongi untuk kali ini.
"Hai, Pa. Apakah Papa sudah bisa percaya padaku? Aku sedang di kampus saat ini." jawab Zein yang masih kekeuh untuk berbohong.
"Jangan bohong. Itu bukan kampusmu. Lebih baik kamu pulang besok. Papa sudah siapkan tiket untukmu." ujar Umar.
Zein yang ketahuan berbohong pun hanya menggarut kepalanya seraya cengir kuda pada sang papa saat video call. Sementara Umar hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku sang putra yang tidak pernah berubah itu.
Mendengar perintah Umar yang meminta dirinya untuk segera pulang ke Indonesia, berhasil membuat sang putra kesayangan merasa heran dan bingung. Zein sangat tau sifat sang papa yang keras dan tegas, bahkan untuk melanjutkan study di London ini pun bukan keinginan dirinya, melainkan keinginan Umar. Namun kenapa Umar menyuruhnya untuk pulang, sungguh membuat Zein heran.
"Kenapa aku harus pulang Pa?" tanya Zein yang mengeryit heran.
"Jangan banyak bertanya, Zein. Dari pada kamu melakukan hal-hal aneh di sana, lebih baik kamu pulang karena Papa akan memintamu untuk pergi ke suatu tempat."
Masih dalam sambungan video call, Zein yang masih heran dengan keinginan sang papa pun menghela nafas kasar lalu tersenyum.
"Baiklah, Pa. Zein akan pulang besok." jawab Zein yang menuruti perkataan sang papa.
"Papa tunggu kamu di rumah." ujar Umar yang menutup telepon.
Setelah selesai menelepon putranya, Umar pun berniat untuk melanjutkan pekerjaan. Namun pandangan matanya tiba-tiba teralih saat melihat sebuah kotak kecil yang cantik di atas meja kerjanya.
"Kotak apa ini?"
Umar pun membuka kotak itu dan menemukan sebuah monument ka'bah kecil yang lengkap dengan al-qur'an di sampingnya. Monument yang berukuran sangat kecil dan cantik jika diletakkan di atas meja itu, mampu membuat hati dan pikiran sang empunya mata tersenyum manis.
"Indah sekali. Siapa yang mengirimkan ini?"
Umar pun memeriksa kotak kecil itu lagi dan ada sebuah surat kecil di dalamnya. Lalu...
"Aliyya..."
Ternyata hadiah itu dari Aliyya, keponakannya yang ada di Yogyakarta. Umar membuka surat itu dan membacanya.
Isi surat Aliyya :
Assalamualaikum, Paman. Semoga Paman menyukai hadiah kecil ini. Aliyya sengaja memberi hadiah kecil dan cantik ini untuk Paman, agar Paman selalu berada di dalam lindungan-Nya. Sehat selalu ya Paman.
"Kamu sudah semakin dewasa saja, Nak."
Umar sangat menyayangi Aliyya sebagai anak dari adik perempuannya. Dengan hadiah kecil itu saja sudah membuat Umar merasa tenang karena menurutnya, hanya Aliyya lah yang bisa membuatnya tenang seperti itu.
***
"Ya ampun, Mas. Anak gadismu itu pergi ke mana sih? Keluarga Zaki sudah datang dan Aliyya belum pulang juga." ujar Sabrina yang sedang menyiapkan minuman.
Zaki Mahendra Putra... seorang pria tampan, tinggi dan seorang pengusaha muda. Dia adalah pria yang akan dijodohkan dengan Aliyya. Kini keluarga Zaki sudah berada di ruang tamu. Sementara Sabrina sedang menyiapkan minuman untuk mereka bersama Galuh.
"Ya sudah, ayo kita ke sana." ujar Sabrina yang membawa minuman.
Sabrina dan Galuh pun berjalan ke arah ruang tamu. Sabrina langsung memberikan minum dan makanan ringan untuk tamu.
"Silakan di minum, Mbak, Mas." ucap Sabrina yang menghidangkan minuman.
"Di mana putrimu, Sabrina?" tanya wanita paruh baya yang tak lain adalah ibunya Zaki.
"Dia sedang di luar, Mbak. Mungkin sebentar lagi dia akan pulang." jawab Sabrina yang gugup dan tampak ragu-ragu.
Ibu Zaki hanya mengangguk, sementara Zaki sendiri asyik melihat foto Aliyya yang sempat Sabrina berikan padanya.
***
Tanpa sadar, hari pun sudah semakin sore. Setelah selesai mengurus urusannya, Aliyya pun berniat ingin kembali pulang. Namun ia tetap bersikap sangat santai, sepertinya gadis itu sudah lupa dengan pesan ibunya tadi.
Saat sedang mengendarai sepeda, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Aliyya pun berhenti di tepi jalan dan mengambil ponselnya.
"Ya Allah... Aldha menghubungiku. Pasti Ayah dan Ibu sedang mencariku. Kenapa aku bisa lupa seperti ini?"
Aliyya pun mengangkat telepon Aldha, adik perempuan satu-satunya. Dengan ekspresi yang tampak ragu, Aliyya pun mendaratkan ponselnya ke telinga kanannya.
"Hallo, Kak. Kakak di mana? Keluarga Kak Zaki sudah datang ke rumah kita sejak tadi." tandas Aldha yang terlihat panik.
"Iya, Al. Kakak akan segera pulang. Katakan pada Ayah dan Ibu kalau Kakak sedang di perjalanan pulang." jawab Aliyya.
"Cepat, Kak. Sepertinya Kak Zaki sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu." ujar Aldha yang malah menggoda sang kakak.
"Kamu apaan sih. Seperti apa pria itu? Apakah dia tampan, tinggi dan sesuai dengan tipeku?" ujar Aliyya yang sangat penasaran.
"Kakak lihat saja sendiri. Dah." jawab Aldha lalu menutup telepon.
Aliyya pun merasa kesal saat pertanyaannya tidak dijawab oleh sang adik. Lalu Aliyya pun langsung melanjutkan perjalanan pulang.
Aliyya mengayuh sepedanya dengan sangat kencang. Tidak lama kemudian, Aliyya pun sampai di halaman rumahnya. Lalu Aliyya langsung berlari masuk. Namun saat masuk, semua orang menatap tajam ke arahnya.
"Kenapa lama sekali? Ini sudah sore Aliyya." tandas Sabrina yang beranjak dan mendekati sang putri.
"Aliyya minta maaf, Bu." jawab Aliyya yang tidak berani menatap sang ibu.
"Acara lamaran hampir gagal karena sikapmu ini, Aliyya. Lain kali jangan seperti ini lagi ya Nak." ujar Sabrina seraya mengelus wajah Aliyya.
Aliyya pun terkejut mendengar itu. Ia berusaha untuk mencerna perkataan ibunya.
"Maksud Ibu?" tanya Aliyya yang penasaran.
__ADS_1
"Keluarga Zaki setuju dengan lamaran itu dan anak Ibu akan segera menikah. Pernikahan kalian akan dilaksanakan dalam minggu ini." jawab Sabrina yang berkaca-kaca.
Aliyya tersenyum bahagia. Walaupun dirinya harus dijodohkan, tapi menurutnya, pilihan orang tuanya adalah pilihan terbaik untuknya. Itulah alasan Aliyya mau dijodohkan.
"Selamat ya Kakak. Sebentar lagi Kakak akan jadi seorang istri." ucap Aldha yang memeluk Aliyya.
"Selamat ya Sayang. Putri Ayah akan segera menikah dengan pria tampan." timpal Galuh yang ikut bahagia dan memeluk sang putri.
"Terima kasih, Ayah, Ibu, Al." jawab Aliyya yang memeluk ketiganya.
Suasana haru pun menyelimuti keluarga kecil itu. Sabrina dan Galuh merasa lega karena lamaran untuk sang putri sulung mereka itu berjalan dengan lancar, walaupun sempat terkendala karena ulah Aliyya yang ceroboh.
***
"Kakak..."
Tidak terasa, hari pun sudah larut malam. Aliyya yang sedang duduk santai di kursi taman pun terkejut saat Aldha yang tiba-tiba datang.
"Aldha... kamu itu ya. Selalu saja membuat Kakak terkejut." tandas Aliyya yang jengah.
"Kakak jangan marah dong. Aku ke sini ingin bertanya sesuatu." ujar Aldha seraya menggoda sang kakak.
"Ingin bertanya apa?" tanya Aliyya yang cukup penasaran.
"Apakah Kakak tau wajah Kak Zaki seperti apa?" jawab Aldha yang melempar pertanyaan balik.
Aliyya pun terdiam. Ia baru sadar kalau dirinya belum mengenal bahkan belum melihat Zaki, yang akan menjadi calon suaminya itu.
"Belum. Apakah kamu menyimpan foto pria itu?" jawab Aliyya yang bertanya balik.
"Untuk apa aku menyimpan foto calon suami Kakak. Fotomu sudah ada di tangannya dan dia sangat menyukai fotomu." jelas Aldha.
"Tidak adil sekali sih. Fotoku ada padanya, lalu aku, tidak punya fotonya sama sekali." sungut Aliyya seraya menepuk keningnya.
Aldha hanya tertawa geli melihat tingkah sang kakak yang lucu. Saat mereka sedang asyik tertawa, tiba-tiba Sabrina datang.
"Kamu ini, Al. Tidak pernah berubah sejak dulu. Keras kepala dan nekat. Untung saja mereka mau mengerti dan melanjutkan acara lamaran, walaupun tanpa kehadiran kamu." ujar Sabrina seraya duduk di samping Aliyya.
"Kenapa Ibu hanya sibuk memikirkan mereka? Lalu bagaimana dengan Aliyya? Apa Ibu sudah bertanya pendapat Aliyya?" jawab Aliyya yang cemberut.
"Untuk apa Ibu bertanya padamu. Bukannya kamu sudah menerima lamaran Zaki?" tanya Sabrina pada Aliyya.
"Iya, Bu. Tapi aku belum pernah bertemu dengan pria itu. Bagaimana dia, bagaimana sifatnya. Aku belum tau semuanya, Bu." jawab Aliyya yang beranjak dari duduknya.
Sabrina pun menghela nafas panjang dan ikut beranjak.
"Memang tipe calon suamimu seperti apa Sayang? Ibu rasa Zaki sudah memenuhi tipe calon suami idamanmu." ujar Sabrina seraya memegang bahu putrinya.
Aliyya yang mendapat pertanyaan itu pun terdiam, pikirannya menerawang entah ke mana. Senyum manis pun ikut terukir indah di kedua sudut bibirnya yang merah muda itu. Lalu gadis itu pun beranjak, berjalan menyusuri taman dengan pikirannya yang masih saja menerawang itu.
"Ada wajah seorang pria yang selalu hadir di dalam mimpi Aliyya, Bu. Namun Aliyya tidak melihat jelas wajah itu. Tipe suami idaman Aliyya itu harus, bergaya, lucu, pintar, tidak membosankan, baik, ada senyum manis di wajahnya, bisa menyelesaikan masalah dengan mudah, bersikap baik pada orang tua, bisa membuat orang lain tersenyum." jawab Aliyya yang masih menerawang.
Sabrina dan Aldha yang mendengarkan itu hanya tertawa geli dan berusaha mencerna yang dikatakan oleh Aliyya yang sedang halu.
"Ada senyum di wajahnya, bisa memecahkan masalah dengan mudah, lucu dan bisa membuat orang lain tersenyum. Itu dirimu sendiri, Aliyya." ujar Sabrina seraya menepuk bahu putrinya.
Aliyya pun tersenyum pias. Entah kenapa ia malah mengatakan hal seperti itu tanpa sadar.
"Seperti Aliyya ya. Tidak masalah kok, Bu. Asalkan dia mempunyai semua kualitas itu, maka Aliyya akan menerimanya sebagai suami Aliyya." jawab Aliyya yang tersenyum bahagia.
Sabrina, Aliyya dan Aldha pun tertawa bersama setelah mendengar perkataan Aliyya.
"Katakan, Bu. Apakah Zaki mempunyai semua kualitas itu?" tanya Aliyya seraya meraih tangan ibunya.
Sabrina pun terdiam. Ia berusaha mengingat bagaimana sifat dan tingkah laku Zaki saat pertemuan tadi siang. Dengan ragu-ragu, Sabrina pun hanya menganggukan kepalanya.
"Iya, Nak. Tentu saja. Zaki mempunyai semua kualitas itu." jawab Sabrina yang cukup ragu.
"Aku juga akan menerima Zaki, jika aku sudah melihat fotonya terlebih dahulu." ujar Aliyya.
"Kamu tenang saja, Nak. Kamu akan melihat foto Zaki besok." timpal Galuh yang baru saja datang.
Aliyya hanya tersenyum lalu ia memeluk ibu, ayah dan adik perempuannya bersama. Malam penuh bintang pun menjadi saksi bisu kebahagiaan keluarga cemara itu. Dalam dekapan sang ayah dan ibu, Aliyya tampak mengulas senyum indah seraya menatap langit. Entah apa yang gadis itu lakukan, sepertinya ia sedang melangitkan sebuah do'a untuk dirinya.
***
Malam di Indonesia, namun pagi di London. Saat ini Zein dan Rizal sedang berada di bandara. Mereka ingin segera pulang ke Indonesia. Zein yang sudah tidak sabar pun mempercepat rencana kepulangannya.
"Maaf Tuan. Anda harus membayar lebih untuk bagasi karena barang yang anda bawa sudah melebihi kapasitas normal."
Saat pria tampan bergaya itu masuk ke dalam tahap pemeriksaan barang, petugas pun tampak kewalahan ketika menimbang berat koper yang Zein bawa dari apartment, tempat tinggalnya selama berada di London.
"Bersiap lah, Zein. Kau harus mengeluarkan uang lagi untuk membayar barangmu yang banyak dan tidak berguna ini." ujar Rizal yang berbisik di belakang Zein.
Zein pun terdiam dan tampak berpikir sejenak. Tidak butuh waktu lama, Zein pun membuka kopernya dan memulai aksi konyolnya lagi.
"Apa yang ingin kau lakukan Tuan?"
.
.
.
.
.
__ADS_1
Happy Reading All πππ