Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 8 ~ Bangunan Tua


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Zein sangat senang karena Sonia menyuruh dirinya pergi untuk berlibur ke Singapore. Itu memang rencananya bersama Rizal sejak jauh hari. Zein pun berniat untuk istirahat agar besok pagi ia dan Rizal bisa pergi ke Singapore.


Saat Zein berjalan menuju kamarnya, tidak sengaja ia melihat Aliyya yang sedang bersiap di dalam kamarnya. Pintu kamar Aliyya yang sedikit terbuka membuat Zein bisa melihatnya dengan jelas.


Zein pun menghentikan langkahnya menuju kamar, melainkan ia pergi ke kamar Aliyya.


"Mau pergi ke mana kamu?" ujar Zein yang membuka pintu Aliyya.


"Astaga, Zein. Kamu membuatku kaget, tau!" sungut Aliyya yang terkejut melihat Zein.


"Calon pengantin itu tidak boleh keluar malam-malam seperti ini. Memang kamu mau pergi ke mana sih?" ujar Zein yang melangkah masuk ke dalam kamar Aliyya.


"Bukan urusanmu! Awas!" sungut Aliyya yang ingin pergi namun tangannya dicegah Zein.


"Aku akan mengantarmu, Al." ujar Zein yang memegangi tangan Aliyya.


"Aku bisa pergi sendiri! Lepas!" jawab Aliyya yang berusaha melepaskan tangannya dari Zein.


Zein pun semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Aliyya dan menarik tubuhnya hingga menempel pada dada bidang Zein, sehingga tatapan itu pun terjadi lagi sama seperti kejadian di bandara. Keduanya saling tatap dan makin dalam. Entah apa yang terjadi pada keduanya.


"Aku akan mengatakan pada Paman dan Bibi, kalau kamu pergi keluar sendirian malam-malam tanpa sepengatahuan yang lain." ujar Zein yang berbisik di telinga Aliyya.


Aliyya memutar kedua bola matanya jengah. Malam ini ia berencana untuk pergi menemui Zaki di sebuah toko baju yang sudah Zaki janjikan tadi siang. Namun karena Zein, sepertinya rencana malam ini akan berakhir kacau lagi.


"Oke, oke. Kamu boleh mengantarkan aku. Dengan satu syarat!" jawab Aliyya yang menatap tajam sepupunya itu.


"Apa?" tanya Zein yang menantang Aliyya.


"Jangan menggangguku!" jawab Aliyya seraya menunjuk wajah Zein.


Zein pun tersenyum simpul melihat tingkah Aliyya yang menurutnya konyol dan lucu.


"Oke. Aku tidak akan mengganggumu." ujar Zein yang mengikat telunjuknya dengan jari telunjuk Aliyya.


Aliyya yang kesal pun langsung menarik tangannya dan berjalan keluar dari kamar. Sementara Zein yang usil, terkekeh melihat tingkah Aliyya. Lalu Zein pun mengikuti Aliyya dari belakang. Aliyya berjalan diam-diam agar tidak ada yang melihatnya. Sementara Zein tetap bersikap santai tanpa khawatir.


"Huff... selamat." ucap Aliyya yang akhirnya bisa sampai di luar.


"Ayo, cepat! Kita tidak punya waktu banyak." ujar Zein yang melewati Aliyya dan berjalan menuju mobil.


Aliyya terlihat kesal dan mengerucutkan bibirnya. Dengan terpaksa ia harus menuruti keinginan Zein yang sangat menyebalkan itu.


"Kalau bukan karena Zaki, aku tidak akan pergi bersamamu, anak kesayangan Paman!"


Zein sudah masuk ke dalam mobil. Namun ia tidak melihat Aliyya. Lalu...


"Hei, keponakan kesayangan. Ayo, cepat!" sahut Zein dari dalam mobil pada Aliyya yang masih berdiri di teras rumah.


Aliyya berdecak kesal dengan sahutan Zein yang menyebalkan itu. Lalu Aliyya pun berjalan mendekati mobil dan masuk ke dalamnya.


"Ayo, cepat!" ujar Aliyya yang sudah duduk di dalam mobil tanpa melihat Zein.


Zein sejenak melirik Aliyya yang masih kesal pada dirinya. Namun pria itu hanya menggelengkan kepala dan langsung melajukan mobil Jeep kuno itu dengan kecepatan tinggi.


Drrrrttt!


Saat dalam perjalanan, tiba-tiba ponsel Aliyya bergetar. Aliyya pun langsung mengambilnya dalam tas. Senyum manis terukir di wajahnya saat melihat orang yang menghubunginya itu.


"Assalamualaikum, Zaki." ucap Aliyya yang mengangkat telepon Zaki.


"Wa'alaikumsalam, Al. Kamu di mana? Apakah kamu sudah sampai di toko itu?" jawab Zaki yang bertanya pada Aliyya.


"Belum, aku masih di jalan. Sebentar lagi aku akan segera sampai." jawab Aliyya yang masih canggung dengan Zaki.


"Kamu pergi dengan siapa? Ini sudah malam loh, Al." tanya Zaki yang sedang mencari tau.


"Aku... aku pergi bersama Aldha dengan taksi." jawab Aliyya yang berbohong pada Zaki.


Saat mendengar itu, Zein menoleh ke Aliyya dan begitu juga sebaliknya. Aliyya tidak ingin Zaki tau kalau saat ini ia pergi bersama Zein.


Zaki merasa curiga saat mendengar jawaban Aliyya yang gugup. Tapi Zaki berusaha tidak menghiraukan hal itu karena besok pagi, ia sudah menyiapkan kejutan untuk Aliyya.


"Kalau begitu kamu dan Aldha hati-hati ya. Assalamualaikum." ujar Zaki yang mengakhiri pembicaraan.


"Wa'alaikumsalam..."


Aliyya pun menutup telepon dan melirik ke arah Zein.


"Kenapa kamu harus berbohong pada calon suamimu itu?" tanya Zein yang melirik kesal pada Aliyya karena dianggap supir taksi.


"Suka-suka aku dong, mau menjawab apa! Jangan ikut campur dengan urusanku!" sungut Aliyya tanpa melihat ke arah Zein.


Zein pun berdecak kesal karena tingkah Aliyya. Tiba-tiba ia mempunyai sebuah ide untuk mengerjai sepupunya itu. Zein yang punya ide gila pun mengemudi dengan kecepatan tinggi dan belok ke arah jalan yang salah.


"Kenapa kamu belok Zein?" tanya Aliyya yang terlihat kesal dengan sikap Zein.

__ADS_1


"Suka-suka aku dong, mau belok ke mana! Jangan berisik, ikuti saja aku!" sungut Zein yang tidak melihat Aliyya.


"Tapi kita salah jalan, Zein." ujar Aliyya yang masih kesal dan menunjuk ke arah jalan.


"Sudahlah, Aliyya. Ikuti saja aku." jawab Zein yang usil dan keras kepala.


Aliyya pun mengalah dan menghempaskan tubuhnya ke kursi mobil seraya memangku tangan. Melihat wajah Aliyya yang kesal membuat Zein terkekeh geli senang dan ingin terus mengerjai sepupunya itu.


Tidak lama kemudian, Aliyya dan Zein sampai di depan sebuah bangunan tua yang ada di Kota Jogja. Suasana di bangunan tua itu cukup ramai dengan para pengunjung dari manca negara. Entah kenapa Zein mengajak Aliyya ke tempat ini.


"Kenapa kita ke sini, hah! Aku ingin pergi ke suatu tempat. Kenapa kamu membawaku ke tempat ini." ujar Aliyya yang kesal pada Zein.


"Sebentar saja, Al. Hanya 10 menit. Aku janji." jawab Zein yang meraih kedua telinganya.


Aliyya benar-benar dibuat kesal dengan sikap Zein. Selalu saja ada ide usil yang Zein lakukan pada dirinya. Mereka hanya duduk di atas mobil Jeep kuno itu seraya menikmati suasana malam di Kota Jogja.


"Aku ingin naik kendaraan lain saja!" ucap Aliyya yang ingin pergi dan meninggalkan Zein.


"Jangan, Al." jawab Zein yang meraih tangan Aliyya dan membuat Aliyya duduk lagi.


Tatapan mereka kembali bertemu. Zein pun mendekati wajah Aliyya dan berniat ingin memasangkan seatbelt lagi pada Aliyya, sehingga wajah mereka terlihat makin dekat dan jarak hidung antara keduanya hanya menyisihkan jarak satu cm saja.


Mata keduanya saling terkunci. Sementara Zein semakin mendekat ke wajah Aliyya dan membuat Aliyya beringsut mundur untuk menghindari Zein.


"Bisakah kalian tidak pacaran di sini?"


Aliyya dan Zein terperanjat seketika lalu menoleh ke arah sumber suara, dalam keadaan wajah keduanya yang masih berdekatan. Zein pun langsung beranjak dari posisi itu. Lalu...


"Maaf, Pak." jawab Zein yang menjawab orang itu.


"Kami sedang bertugas malam. Jadi jangan sesekali melakukan hal yang tidak baik di sini." ujar Polisi yang sedang berjaga itu.


Zein pun turun dari mobil Jeep dan berjalan mendekati Polisi itu.


"Bapak bertugas untuk pasangan yang belum sah, bukan? Jadi untuk apa Bapak mencegah kami yang sebentar lagi akan halal." ujar Zein yang berbisik pada Polisi itu.


"Oh, jadi kalian ini calon suami istri?" tanya Polisi itu yang penasaran.


"Iya, Pak. Gadis cantik itu tunangan saya. Jadi apakah salah jika saya memanjakan calon istri saya itu?" jawab Zein yang bertanya balik ka Polisi itu.


"Saya minta maaf. Kalau begitu lanjutkan saja acaramu dengan calon istrimu itu. Kami izin undur diri. Permisi." jawab Polisi itu lalu pergi.


Zein pun tersenyum puas melihat ekspresi Polisi itu saat ia mengatakan kalau dirinya adalah calon suami Aliyya, dan Aliyya calon istrinya.


Melihat Zein yang tersenyum sendiri, Aliyya pun merasa heran. Lalu ia pun turun ikut dari Jeep itu.


"Kenapa kamu tersenyum seperti itu? Apa yang sudah kamu katakan pada Polisi itu?" tanya Aliyya yang melihat ke arah Polisi itu.


"Dasar pria aneh!" ucap Aliyya yang berdecak kesal melihat sikap Zein.


Aliyya pun kembali masuk ke dalam Jeep. Lalu Zein langsung mengemudi Jeep dan menuju ke tempat tujuan Aliyya.


***


"Aku tidak ingin menikah dengan gadis itu, Ma."


Di tempat lain, Zaki yang sudah pulang ke rumah setelah bertemu dengan Aliyya di toko baju pun tampak emosi. Pasalnya, saat Aliyya datang dan menemuinya di toko baju itu, Zaki sempat melihat Zein yang sedang menunggu Aliyya di luar toko.


Awalnya Zaki mengira kalau Zein datang sendiri, dan Aliyya benar-benar datang dengan Aldha. Namun saat Aliyya datang sendirian dan mengatakan kalau Aldha menunggu di luar, berhasil membuat rasa curiga Zaki memuncak. Setelah mereka selesai membeli baju, Zaki pun berniat untuk mengikuti Aliyya dan ternyata Aliyya sudah berbohong. Aliyya tidak datang bersama Aldha, melainkan bersama Zein.


Untuk yang ke sekian kalinya, Aliyya pergi bersama dengan Zein. Hati calon suami mana yang tidak merasa panas dan cemburu saat melihat calon istrinya berjalan dengan pria lain. Apalagi Aliyya yang belum sempat memberitahu Zaki tentang hubungannya dengan Zein, yang hanya sekedar saudara sepupuan dan tidak ada yang spesial di antara keduanya.


"Mama juga tidak sudi, Nak. Jika tau kalau Aliyya seperti itu, maka sejak awal Mama dan Papa tidak akan melanjutkan lamaran ini." balas sang ibu yang ikut kecewa dengan Aliyya.


"Mama tenang saja. Aku sudah membuat rencana untuk besok. Aku pastikan kalau Aliyya dan keluarganya akan malu di depan semua orang." ucap Zaki yang tersenyum sinis.


Ibu Zaki pun ikut tersenyum sinis mengingat kejadian beberapa hari yang lalu di balkon malam itu. Saat mereka sedang asyik membahas untuk rencana besok, tiba-tiba ponsel Ibu Zaki berbunyi. Dengan cepat ia mengangkatnya.


"Assalamualaikum, Mas." ucap Ibu Zaki pada sang kakak di seberang sana.


"Wa'alaikumsalam, Dek. Sepertinya aku tidak bisa menginap di rumahmu malam ini. Tapi aku akan menjemput kalian besok pagi. Kita berangkat ke rumah calon besanmu sama-sama ya." jawab Kakak Ibu Zaki.


"Iya, Mas. Aku, Zaki dan suamiku akan menunggu Mas di rumah." ujar Ibu Zaki.


"Oke, baiklah. Malam ini aku sedang berjaga di bangunan tua karena ada acara di sini. Aku tutup dulu ya. Assalamualaikum." ujar Kakak Ibu Zaki.


"Wa'alaikumsalam, Mas." jawab Ibu Zaki yang menutup telepon.


Setelah menutup telepon, Ibu Zaki mendekati putra tunggalnya itu.


"Lebih baik kita istirahat, Nak. Besok pagi akan menjadi hari bersejarah untuk keluarga Aliyya." ucap sang ibu yang meraih bahunya.


"Iya, Ma." jawab Zaki yang balik badan dan menatap sang ibu.


***


Aliyya dan Zein akhirnya sampai di rumah. Sementara semua lampu di rumah sudah mati, itu artinya semua orang sudah tertidur.

__ADS_1


"Ayo, kita masuk." ujar Zein yang mengajak Aliyya masuk.


Zein yang baru melangkah menuju ke arah pintu depan pun ditarik cepat oleh Aliyya, sehingga keduanya saling berdekatan lagi. Lagi, lagi dan lagi kedua mata Aliyya dan Zein bertemu pandang. Entah magnet apa yang membuat mata keduanya itu selalu ingin bertemu, bahkan saling mengunci satu sama lain.


"Maaf..." ucap Aliyya yang tersadar.


"Kenapa kamu menarik tanganku?" tanya Zein yang penasaran.


"Jangan lewat sana. Kita lewat tangga itu." jawab Aliyya yang menunjuk ke arah tangga darurat di bawah balkon kamarnya.


"Sejak kapan kamu punya tangga darurat di sana keponakan kesayangan?" ujar Zein yang mengejek Aliyya.


"Sudah, diam saja! Ayo ikuti aku." sungut Aliyya seraya menampar kecil pipi Zein.


Zein hanya menggelengkan kepalanya dan tertawa kecil melihat tingkah Aliyya. Tanpa sadar, Aliyya masih menggenggam tangan Zein dan menariknya menuju tangga darurat itu.


"Aku akan naik duluan. Setelah itu kamu naik juga!" ujar Aliyya seraya melihat ke atas.


"Oke, sip." jawab Zein yang mengacungkan jempol tangannya pada Aliyya.


Aliyya tersenyum kala melihat tingkah Zein yang lucu. Lalu Aliyya pun bergegas menaiki tangga itu dan tidak butuh waktu lama, akhirnya gadis itu sampai di lantai atas. Setelah itu, Zein menyusul Aliyya naik.


"Sekarang bagaimana?" tanya Zein yang baru sampai di atas.


"Keluar dari kamarku! Dan pergi ke kamar kamu." jawab Aliyya yang dingin pada Zein.


Zein pun berdecak kesal mendengar jawaban Aliyya. Lalu tanpa basa-basi lagi, Zein pun beranjak dan keluar dari kamar Aliyya menuju ke kamarnya bersama Rizal.


"Hoi, dari mana saja kau?" sahut Rizal yang masih asyik main game dan melihat Zein.


"Kau ini mengagetkan aku saja. Aku tadi keluar sebentar." jawab Zein yang terkejut namun berusaha tenang.


"Dengan Aliyya?" ucap Rizal yang berusaha memancing Zein.


Zein terdiam sejenak saat mendengar kata Rizal. Pasalnya tidak ada seorang pun yang mengetahui kalau dirinya sempat pergi bersama Aliyya di saat larut malam semakin kentara di langit Jogja.


"Kenapa kau diam saja?" tanya Rizal yang makin yakin kalau Zein pergi dengan Aliyya.


"Tidak, aku pergi sendirian. Kau ini kepo sekali sih dengan urusanku." sungut Zein yang tetap santai.


Rizal yang semakin yakin kalau Zein pergi dengan Aliyya pun beranjak dari duduk dan mendekati Zein.


"Jangan berbohong, Zein. Aku sempat melihatmu pergi bersama Aliyya secara diam-diam dan naik mobil Jeep kuno itu." ujar Rizal seraya merangkul bahu sahabatnya.


Zein pun tersentak dengan perkataan Rizal, dan seketika langsung menoleh tajam ke arah Rizal.


"Kau mengintipku ya?" tanya Zein yang menunjuk wajah Rizal.


"Kenapa kau jadi tegang seperti itu Zein? Aku tidak sengaja melihat kalian pergi berdua saat aku sedang ke dapur." tanya Rizal balik seraya menjawab pertanyaan Zein.


"Dasar kepo!!!" sungut Zein yang kesal dengan Rizal.


Zein pun memilih pergi ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian. Sedangkan Rizal hanya menggelengkan kepala lalu duduk lagi di sofa kamar itu.


"Aku lihat, kau semakin dekat saja dengan Aliyya. Jangan-jangan kau menyukai gadis itu, Zein." ujar Rizal yang fokus pada ponselnya.


"Ada-ada saja kau ini, Zal. Jelas saja aku dan Aliyya dekat. Kami itu saudara sepupuan. Sejak kecil, kami memang sudah dekat, ya walaupun kami juga sering bertengkar." jawab Zein yang duduk di tepi tempat tidurnya.


"Kenapa kau jadi membahas masa kecilmu dengan Aliyya?" ujar Ridwan yang semakin membuat Zein terpojok.


"Ah, sudahlah. Malas sekali aku menjawab semua pertanyaanmu yang tidak berguna itu. Lebih baik sekarang kita tidur, besok pagi kita harus berangkat ke Singapore." sungut Zein.


"Iya, iya. Sebentar lagi. Permainanku masih tanggung jika harus ditinggalkan." jawab Rizal yang masih asyik dengan ponsel.


Zein hanya menggelengkan kepalanya dan memilih berbaring di atas tempat tidurnya. Tidak butuh waktu lama, akhirnya pria usil itu tertidur dan meninggalkan Rizal sendirian.


"Dasar ***** kau, Zein!" ucap Rizal seraya melirik ke arah sahabatnya itu.


***


Aliyya terlihat senang malam ini. Sejak pulang dari toko itu, senyumnya selalu terukir indah di wajah Aliyya. Malam pun semakin larut, namun mata gadis cantik itu ta masih terbuka lebar dan belum bisa terpejam karena masih asyik mencoba beberapa pakaian yang Zaki belikan untuknya.


"Semua baju ini sangat cantik."


Aliyya terlihat bahagia saat mencoba semua pakaian itu didepan cermin.


"Semoga pernikahanku besok berjalan dengan lancar."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading AllπŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Jangan lupa like, komen, rate dan vote cerita baru author ini yaπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


__ADS_2