Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 14 ~ Pulang Ke Jakarta


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Sunyi malam berganti dengan cerah mentari yang menyapa setiap insan manusia dalam kehidupan dunia. Kini semua orang tengah berkumpul di depan teras rumah Sabrina. Apa yang terjadi? Tentu saja untuk mengantarkan sang putri menuju mobil keluarga Umar yang hendak berangkat ke Jakarta.


Setelah sarapan usai, Umar memilih untuk segera kembali ke Jakarta. Selain teringat dengan pekerjaan, ia juga sudah tidak sabar untuk mengajak Aliyya dan memperkenalkan istri putra kesayangannya itu. Dengan raut wajah yang sangat berbinar, Umar berjalan seraya merangkul bahu Sonia. Sementara Aliyya dan Zein, keduanya hanya diam dan berjalan terpisah. Aliyya berjalan di tengah Galuh dan Sabrina, sementara Zein berjalan dengan Rizal.


Sejak ijab kabul selesai, Zein lebih banyak berdiam diri walaupun Rizal sudah berusaha untuk menghibur bahkan meyakinkan Zein. Namun Zein tetap diam dan memilih untuk tidur lebih cepat dari biasanya. Melihat itu, membuat Rizal merasa kehilangan seorang Zein yang sudah sejak lama ia kenal. Namun Rizal bisa apa, ia hanya seorang sahabat dan saudara ipar dari kakaknya, Farhan. Ya... Rizal bukan hanya sahabat, tapi adik ipar Farhan yang lebih tepatnya adik Namira.


Sampai saat ini Zein tetap bungkam. Namun sesekali mata tajamnya itu menoleh ke arah Aliyya. Terkadang kedua tatapan tajam itu saling bertemu, dan di saat itu pula Zein dan Aliyya rasanya ingin berperang hebat.


"Ayah, Ibu... Aliyya pamit dulu ya. Ayah dan Ibu jaga kesehatan di sini. Jangan terlalu banyak bekerja." ujar Aliyya seraya memeluk keduanya.


"Kamu juga harus hati-hati ya, Nak. Jaga nama baik suami dan mertuamu. Jangan melakukan hal-hal yang tidak baik di sana. Ibu akan selalu mendo'akan putri Ibu ini." jawab Sabrina seraya mengelus pucuk kepala Aliyya.


Aliyya yang tidak bisa menahan tangis pun melerai pelukannya dan menatap keduanya.


"Dengarkan Ayah, Nak! Mulai hari ini, apa pun yang kamu lakukan, apa pun yang akan kamu kerjakan, semua itu harus atas dasar izin dari suamimu. Jangan pernah membantah atau melawan pada suamimu. Patuh lah padanya, karena surgamu sekarang ada pada ridho suamimu dan tanggung jawab Ayah untuk menjagamu kini sudah selesai. Mulai hari ini, Zein lah yang akan menjagamu. Ayah akan selalu mendo'akan yang terbaik untukmu, Nak." tutur Galuh seraya menangkup wajah Aliyya.


Umar, Sabrina, Farhan, Rizal dan Namira tampak terenyuh dengan perkataan Galuh. Namun tidak dengan Sonia, Zein dan Shafia. Zein tampak menghela nafas kasar, seakan malas mendengar penuturan Galuh. Sementara Sonia dan Shafia yang jengah, tampak memutar bola matanya. Sesekali kedua wanita itu mendengus kesal dan bosan mendengarkan penuturan Galuh.


"Iya, Ayah. Aliyya akan selalu ingat dengan pesan Ayah. Terima kasih karena selama ini sudah menjaga Aliyya dengan baik sehingga gadis kecil ini tumbuh menjadi gadis bandel seperti sekarang." jawab Aliyya yang tengah berusaha memecahkan suasana.


"Kamu tidak bandel, Aliyya. Hanya saja kamu lebih keras kepala jika dibandingkan dengan Paman." timpal Umar yang terkekeh seraya mengelus kepala sang keponakan.


Semuanya tampak ikut tertawa, kecuali Zein dan Sonia. Keceriaan seketika menghampiri keluarga itu. Namun tidak lama kemudian, keceriaan itu berubah lagi menjadi sendu di saat Sabrina berjalan mendekati Zein dan berdiri tepat di hadapan menantu sekaligus keponakannya itu. Sementara Zein, pria itu tampak tercengang saat menyadari sang bibi sudah berdiri di hadapannya dan menatapnya dengan tatapan penuh harap.


"Zein... Bibi titip Aliyya ya. Tolong jaga Aliyya untuk Bibi dan Paman. Karena dia adalah putri yang Bibi dan Paman besarkan dengan penuh cinta. Jangan biarkan orang lain menyakiti hatinya. Bibi minta kamu untuk menjaganya. Bibi mohon, Zein! Tolong jaga putri Bibi." tutur Sabrina yang pecah lagi tangisnya.


Melihat sang bibi yang menangis, membuat hati Zein tercubit. Lalu Zein pun merangkul bahu sang bibi dan memeluknya dengar erat. Tangis Sabrina pun pecah, bukan hanya karena Aliyya yang akan pergi, namun karena teringat dengan perkataan Sonia tadi malam. Adegan itu pun tak luput dari perhatian semuanya, termasuk Aliyya yang memperhatikan Zein sejak tadi. Saat Aliyya tengah tersenyum melihat sang ibu dalam pelukan Zein, di saat itu pula Zein menoleh ke arahnya hingga kedua mata pasutri baru itu bertemu.


Tatapan mereka pun terkunci. Namun bukan tatapan cinta, melainkan tatapan kebencian yang masih menyanak di dalam hati keduanya. Tidak ingin berlama-lama menatap Aliyya, dan begitu pun Aliyya yang tidak ingin menatap Zein. Keduanya pun saling memalingkan wajah. Sementara Sabrina yang sudah mulai tenang, tampak melerai pelukannya lalu mengusap wajah Zein.


"Tolong jaga Aliyya ya, Nak." ucap Sabrina lagi.


"Iya, Bi. Aku berjanji akan selalu menjaganya." jawab Zein yang tersenyum pada Sabrina dan menatap tajam ke arah Aliyya.


Sabrina pun menghela nafas lega, setidaknya Zein sudah berjanji untuk menjaga Aliyya dan menenangkan hatinya dari kegelisahan akibat perkataan Sonia tadi malam. Sementara Sonia yang melihat dan mendengar adegan itu hanya bisa mendengus kesal seraya memalingkan wajahnya.


"Aliyya akan aman bersama kami, Sabrina. Kamu tidak perlu khawatir karena aku, Zein serta semuanya akan menjaga Aliyya dengan baik di sana. Kamu percaya padaku 'kan?" timpal Umar seraya merangkul bahu Sabrina.


"Aku percaya padamu, Kak. Aku juga percaya pada kalian semua." jawab Sabrina seraya melihat semuanya, termasuk Sonia.


"Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu ya. Assalamualaikum." ujar Umar yang melerai pelukannya dengan sang adik.


"Wa'alaikumsalam..."


Umar, Sonia, Farhan, Namira, Shafia, Zein dan Aliyya pun pergi. Mereka menaiki mobil yang terpisah. Umar dengan Sonia, Zein dengan Aliyya, sementara Farhan bersama kedua istri cantiknya. Dan di masing-masing mobil, sudah mempunyai satu supir sehingga mereka hanya duduk manis di kursi belakang. Mobil mereka pun perlahan berjalan, meninggalkan halaman rumah Sabrina. Perjalanan pun dimulai!!!


***


Aliyya dan Zein yang duduk bersebelahan hanya sibuk menatap jendela mobil. Tidak seorang pun dari mereka yang berbicara. Namun sesekali keduanya tampak menoleh di saat satu di antara mereka sibuk dengan dunia luar.


Ciittttt!


Saat perjalanan lancar, tiba-tiba mobil yang ditumpangi oleh kedua pengantin baru itu berhenti mendadak dan membuat tangan kanan Aliyya yang memegangi kursi terhimpit oleh tangan kiri Zein yang ikut memegangi kursi di saat mobil terhenti.


Keduanya pun saling pandang dan masih dengan tatapan dingin yang penuh kebencian. Sejurus kemudian, Aliyya yang tersadar lebih dulu pun langsung menepis tangan Zein dan menarik tangannya. Zein tampak mendengus kesal melihat tingkah istri barunya itu. Setelah itu, keduanya kembali ke posisi awal, menatap keluar melalui jendela mobil.


***

__ADS_1


Kini Aliyya sudah resmi menjadi istri Zein. Itu artinya, posisiku sebagai menantu kesayangan Papa akan terancam dan terganggu. Gumam Namira dalam hati.


Sama dengan halnya di dalam mobil Zein dan Aliyya. Di dalam mobil Farhan, Namira dan Shafia pun juga demikian. Kedua istri cantik seorang Farhan itu tampak tengah hanyut di dalam lamunan masing-masing. Keduanya sibuk bergumam dengan dirinya sendiri karena takut, kalau posisi mereka akan terganti oleh Aliyya.


Aliyya dan Namira, mereka sama-sama parasit di dalam hidupku. Bagaimana ya caranya agar posisiku di rumah Umar Abdullah tetap tenang dan aman. Gumam Shafia dalam hati.


Aku harus bisa mengambil hati Papa. Dengan begitu, posisiku akan semakin kuat sebagai menantu dan istri Mas Farhan. Gumam Namira dalam hati.


Aku harus membicarakan hal ini pada Mama, karena hanya wanita tua itu yang membuat posisiku kuat di rumah besar itu. Dan aku juga harus bisa menyingkirkan Namira dan Aliyya dari rumah itu. Gumam Shafia dalam hati.


Aku juga harus berhati-hati dengan pelakor satu itu. Dia sangat licik dan bisa saja saat ini gadis itu tengah merencanakan sesuatu untuk menyingkirkan aku, bahkan Aliyya dari rumah. Aku memang tidak sepenuhnya menyukai Aliyya, tapi dengan kehadiran gadis itu di rumah akan membuatku lebih mudah untuk menepis pelakor itu dari hidup Mas Farhan. Gumam Namira dalam hati.


Kita lihat saja, Namira. Siapa yang akan tetap bertahan menjadi menantu di rumah Abdullah. Gumam Shafia dalam hati.


Bagaikan sedang melakukan perang bathin, kedua istri Farhan tampak asyik bergumam sendiri. Sesekali keduanya juga saling menoleh dan memperhatikan satu sama lain, sehingga tak jarang tatapan mereka saling bersiborok. Namun dengan kekuatan secepat angin dan badai, keduanya pun kembali membuang muka karena muak melihat wajah satu sama lain.


Lalu apa yang terjadi pada Farhan? Pria yang duduk di antara istrinya itu sudah tertidur pulas seraya bersandar di sandaran kursi mobil. Sesekali tubuh Farhan tampak terhuyung ke kanan dan ke kiri, hingga kedua istrinya pun tampak saling memperebutkan sang suami yang sedang mencari posisi nyaman. Namun karena rasa cemburu, Namira dan Shafia terus menarik tangan Farhan hingga pria itu kesal lalu memilih pindah ke kursi depan dan tidur.


***


Hening tanpa suara di mobil Zein, hening yang serupa namun terdapat sedikit keributan di mobil Farhan, dan hening yang serupa seperti di mobil Zein terjadi juga di dalam mobil Umar dan Sonia. Kedua paruh baya itu hanya diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing.


Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mencari cara untuk melepaskan putraku dari gadis pembawa sial itu. Karena sampai kapan pun, aku tidak akan menerima Aliyya sebagai menantu di rumahku. Gumam Sonia dalam hati.


Kebencian yang tertanam dalam hati Sonia, yang seharusnya tidak dirasakan oleh Aliyya, kini malah semakin dalam. Entah karena apa kebencian itu terjadi dan tertanam dalam di lubuk hati seorang Sonia Abdullah. Namun sampai detik ini, wanita paruh baya nan tetap elegan dengan penampilan itu tampak masih enggan membuka cerita. Apakah ada kisah masa lalu yang menyakitkan bagi Sonia dan berhubungan dengan Sabrina, Galuh dan juga Aliyya? Entahlah, hanya Sonia Abdullah yang tau.


***


Tanpa terasa, perjalanan jauh dari Jogja pun akhirnya selesai. Setelah melewati perjalanan darat dengan mobil, lalu disusul dengan perjalanan udara dan melewati perjalanan darat kembali hingga tiba di depan sebuah rumah mewah bak istana raja ini membuat semuanya lelah. Satu per satu dari mereka pun keluar dari mobil dan mulai berjalan memasuki rumah.


"Aliyya... ayo silakan masuk, Sayang. Ini rumah Paman, rumah Zein dan juga rumahmu." tutur Umar seraya merangkul bahu Aliyya.


Aliyya tampak takjub dengan rumah Umar yang sangat besar dan mewah. Matanya mengedar ke seluruh penjuru rumah dan tingkah Aliyya itu tidak luput dari perhatian mata Zein yang masih memendam amarah padanya.


"Ayo kita masuk..." ujar Umar.


Semuanya pun beranjak dan mengikuti Umar dan Aliyya. Saat sampai tepat di depan pintu yang sudah terbuka, tampak Bi Sumi berdiri di sana dan tersenyum menyambut kedatangan Aliyya.


"Jadi ini istri Tuan Zein? Kamu cantik sekali, Nak." ujar Bi Sumi seraya mengelus lembut wajah Aliyya.


"Terima kasih..."


"Panggil saja Bi Sumi." potong Bi Sumi yang tersenyum pada Aliyya.


Aliyya pun tersenyum kikuk membalas senyum Bi Sumi yang sangat ramah padanya.


"Apa pun yang kamu butuhkan, kamu bisa meminta bantuan Bi Sumi, Nak. Jadi jangan merasa sungkan untuk meminta bantuannya." timpal Umar yang masih merangkul Aliyya.


"Iya Paman..."


Melihat senyum di wajah Aliyya, membuat Zein yang sejak tadi berjalan di sampingnya jengah. Sedikit langkah, ketika ia hendak masuk lebih dulu ke dalam rumah. Namun di saat itu pula Umar dan Aliyya menyadarinya. Lalu...


"Zein... mau ke mana kamu?" ujar Umar.


"Aku ingin masuk ke kamar, Pa. Aku sangat lelah dan ingin beristirahat sebentar." jawab Zein seraya melirik jengah ke arah Aliyya.


"Kamu tidak lupa 'kan dengan kebiasaan di rumah kita?" tanya Umar lagi.


Zein yang tidak mengerti pun menoleh ke arah Sonia. Namun Sonia yang memang mengerti maksud sang suami hanya bisa memasang ekspresi kesal dan tidak bersahabat. Lalu pria itu menoleh lagi ke arah Umar dengan tatapan heran.

__ADS_1


"Kamu tidak mengingat bagaimana caranya setelah Farhan menikah dengan Namira?" ujar Umar seraya melirik Farhan dan Namira.


Farhan dan Namira pun hanya saling melempar senyum, sementara Shafia ekspresi keduanya sangat merasa kesal. Karena pada saat Farhan menikah dengan dirinya, Farhan enggan untuk melakukan kebiasaan itu. Lalu apa kebiasaan yang dimaksud oleh Umar?


"Kebiasaan apa Pa? Aku tidak mengerti." ujar Zein yang benar-benar tampak bingung.


"Gendong tubuh istrimu masuk ke dalam kamarmu, Zein! Karena itu sudah menjadi kebiasaan di rumah kita bagi siapa pun yang sudah menikah." jawab Umar seraya melirik Aliyya.


Aliyya sangat terperangah saat mendengar perkataan Umar, begitu pula dengan Zein. Keduanya pun saling melempar pandangan dengan tatapan jengah, seakan tidak ingin melakukan hal bodoh itu.


"Tapi Pa..."


"Tidak ada tapi, Zein! Ayo cepat, gendong dan bawa istrimu masuk ke dalam kamar kalian!!!" potong Umar dengan raut wajah yang tegas.


Kekesalan pun sangat terlihat jelas di wajah Zein. Sementara Aliyya, ia hanya bisa pasrah ketika sang paman sudah bertitah seperti itu dan tidak ada yang boleh menentang titahnya.


Perlahan, Zein pun melangkah dan mendekati Aliyya lalu menggendong tubuh ramping gadis cantik itu ala bridal style. Tatapan keduanya pun bertemu kembali, di depan semua orang, Zein dengan tampannya menggendong tubuh Aliyya. Sementara Aliyya ikut mengalungkan tangannya di leher Zein. Sungguh, pasangan yang sangat romantis jika disaksikan dari luar. Namun sangat berbeda dengan hati keduanya.


"Ayo Zein, bawa istrimu masuk. Kami semua juga ingin beristirahat." ujar Umar.


Zein yang kesal pun menghela nafas kasar seraya terus menatap tajam istrinya itu. Lalu perlahan, kaki Zein pun melangkah masuk menuju ke arah kamarnya yang ada di lantai atas. Sementara Umar, Sonia, Farhan, Namira dan Shafia juga memilih untuk beristirahat di kamar mereka masing-masing.


***


"Cepat buka pintu kamar itu!"


Tanpa melirik Aliyya, Zein dengan dinginnya menyuruh gadis itu untuk membuka pintu kamarnya. Dengan keterpaksaan hati, gadis cantik itu pun mendengus kesal lalu meraih gagang pintu dan membukanya.


"Turunkan aku sekarang!" tandas Aliyya yang menatap tajam Zein.


"Kenapa buru-buru, keponakan kesayangan? Bahkan aku sangat menikmati posisi kita ini." jawab Zein seraya menyeringai pada Aliyya.


"Turunkan aku, Zein!" tandas Aliyya lagi.


Zein masih tetap kekeuh di posisinya sekarang. Seringai tipis pun terlihat jelas di wajah tampan pria itu dan membuat hati Aliyya menjadi tidak tenang.


"Lebih baik kamu hubungi kedua orang tuamu terlebih dahulu, karena aku yakin kalau mereka sedang menunggu kabar darimu saat ini." ujar Zein yang menurunkan Aliyya lalu memberikan ponselnya pada gadis itu.


Dahi Aliyya tampak mengeryit saat melihat ekspresi Zein yang berubah seperti itu. Dengan manisnya, pria tampan itu memberikan ponsel miliknya pada Aliyya dan meminta gadis itu untuk menghubungi Sabrina. Heran, namun Aliyya juga tidak bisa membohongi hatinya, kalau ia memang ingin menghubungi Sabrina.


Tanpa keraguan, Aliyya pun mengambil ponsel yang Zein berikan lalu menghubungi Sabrina. Pembicaraan keduanya terdengar hangat dan Sabrina merasa lega karena sang putri sudah sampai di tujuan dengan selamat. Karena tidak ingin terlalu lama memakai ponsel Zein, Aliyya pun mengakhiri pembicaraannya dengan sang ibu dan mengembalikan ponsel Zein.


Aneh sekali, bahkan sejak acara ijab kabul kemarin selesai, Zein tidak pernah mengulas senyumnya pada Aliyya sedikit pun. Namun sekarang, pria konyol itu tampak tersenyum lebar pada Aliyya seraya mengambil kembali ponsel miliknya. Ekspresi Zein yang seperti itu berhasil membuat Aliyya heran dan bingung.


"Kamu cantik sekali, Aliyya."


Mata Aliyya nan cantik terbelalak seketika di saat mendengar perkataan Zein baru saja. Sementara itu, tanpa basa-basi lagi, Zein tampak meraih kedua tangan Aliyya lalu mengalungkan tangan putih mulus itu di lehernya. Setelah itu, Zein pun ikut melingkari tangannya pada pinggang Aliyya.


Apa yang terjadi pada Aliyya? Gadis itu masih terdiam karena terperangah. Kebencian di dalam hatinya seakan menguap sementara karena perlakuan Zein seperti ini. Bukan terperangah, lebih tepatnya terpesona. Aliyya benar-benar terpesona dengan perlakuan Zein. Tapi akan kah hal itu bertahan lama? Entahlah.


"Ayo kita berdansa..."


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2