
...πΉπΉπΉ...
Aliyya pun langsung mengangkat telepon Zaki dan berjalan ke teras balkon kamarnya.
"Assalamualaikum, Aliyya." ucap Zaki dari seberang sana.
"Wa'alaikumsalam, Zaki." jawab Aliyya yang tersipu malu pada calon suaminya itu.
"Kamu sedang apa?" tanya Zaki yang masih bersikap biasa saja.
"Tidak sedang apa-apa. Aku sedang berdiri di balkon kamarku." jawab Aliyya yang senang.
"Aku ingin bertanya sesuatu padamu." ujar Zaki.
"Bertanya apa Zaki?" jawab Aliyya yang bertanya balik pada Zaki.
"Apa warna kesukaanmu?" tanya Zaki.
"Aku menyukai warna merah dan putih. Kenapa kamu bertanya seperti itu?" jawab Aliyya yang bertanya balik.
"Tidak apa-apa. Aku hanya ingin memberikan sesuatu di hari pernikahan kita nanti." jawab Zaki.
Aliyya yang mendengar itu pun tersenyum merona dibuatnya. Saat Aliyya sedang berbicara dengan Zaki via telepon, Aliyya melihat Zein yang tengah berdiri di teras dan sedang menelepon juga.
Kesalahpahaman terjadi lagi. Aliyya mengira kalau Zein adalah Zaki yang sedang bicara dengannya sekarang di telepon. Aliyya hanya tersenyum ke arah Zein, begitu juga Zein. Pria itu malah melambaikan tangannya ke arah Aliyya dan membuat Aliyya tersenyum malu.
"Kalau begitu aku tutup dulu ya, Al. Sampai jumpa di hari pernikahan kita." ujar Zaki yang mengakhiri pembicaraan.
"Iya, Zaki." jawab Aliyya yang tersenyum lepas dan kembali masuk ke kamar tanpa melihat Zein.
Sementara Zein masih berdiri di teras rumah sambil menghubungi seseorang.
"Mama dan Papa hati-hati ya. Besok aku akan menjemput kalian di bandara." ucap Zein yang sedang bicara dengan Sonia.
"Kamu yang harus hati-hati di sana. Mama tutup dulu ya. Assalamualaikum, Sayang." ujar Sonia yang menutup telepon.
"Wa'alaikumsalam, Ma." jawab Zein dan menutup telepon.
Zein pun kembali masuk ke dalam rumah dan memilih beristirahat ke dalam kamarnya bersama Rizal.
***
Tidak terasa hari pun semakin gelap. Kini Aliyya sedang berada di balkon kamarnya untuk menunggu Zein yang masih ia kira sebagai Zaki, calon suaminya.
Saat Aliyya sedang menikmati udara malam yang sejuk, tiba-tiba dari belakang ada seseorang yang menutup matanya.
"Zaki..."
Zein yang menutup mata Aliyya pun merasa heran karena Aliyya menyebut dirinya adalah Zaki.
Zaki? Siapa Zaki? Gumam Zein dalam hati.
Zein pun berusaha mengingat sesuatu yang pernah dikatakan oleh Umar. Kalau calon suami Aliyya bernama Zaki dan saat ini gadis yang berstatus sebagai calon pengantin dan sepupunya itu mengira kalau dirinya adalah Zaki.
Jadi Aliyya mengira kalau aku adalah Zaki. Ini kebetulan yang sangat menyenangkan. Gumam Zein dalam hati.
"Hai, Aliyya. Kamu sudah lama di sini?" tanya Zein yang melepaskan tangannya dari mata Aliyya.
"Tidak, baru saja." jawab Aliyya yang masih malu dengan Zein.
"Ini hadiah untuk pernikahan darimu dan dari Papa." ujar Zein seraya memberikan sebuah amplop besar pada Aliyya.
Aliyya tidak menyangka, kalau pria yang ada di depannya saat ini, yang Aliyya kira adalah Zaki, akan memberikan hadiah secepat ini. Padahal baru tadi siang mereka membahas tentang hadiah yang akan Zaki berikan pada Aliyya. Namun karena terlalu senang dan bahagia, Aliyya tidak ingat dengan ucapan Zaki tadi siang.
"Ini hadiah apa?" tanya Aliyya yang sangat penasaran.
"Sudah, kamu terima saja. Kalau begitu, aku pergi dulu ya." ujar Zein seraya memeluk sepupunya itu.
Aliyya terkesiap saat mendapatkan pelukan dari Zein yang masih ia kira kalau dia adalah Zaki dan perlakuan manis itu membuat pipi Aliyya merah.
Sementara di depan pagar, terlihat sepasang mata yang sedang melihat kemesraan kedua insan manusia yang masih salah paham itu.
Aliyya memeluk pria lain. Sementara besok lusa adalah hari pernikahannya dengan anakku. Gumam Ibu Zaki dalam hati.
Ibu Zaki berniat ingin berkunjung ke rumah Aliyya. Namun langkahnya terhenti saat melihat pemandangan yang buruk bagi putra semata wayangnya, Zaki. Ibu Zaki pun pergi dari depan rumah Aliyya.
Tidak lama kemudian, Ibu Zaki pun sampai di rumahnya. Raut wajahnya sangat kesal dan menahan amarah. Melihat sang ibu masuk ke dalam rumah dalam keadaan marah, Zaki pun menghampirinya.
"Mama kenapa sudah pulang? Bukannya Mama ingin ke rumah Aliyya." ujar Zaki yang mendekati sang ibu.
"Mama melihat Aliyya berpelukan dengan pria lain. Di atas balkon kamarnya. Lalu menurutmu apakah Mama tidak pantas untuk marah?" jawab Ibu Zaki yang emosi.
Zaki terdiam sesaat. Apa yang ia lihat tadi di taman kota, ternyata juga terjadi pada sang ibu. Bahkan sang ibu melihat Aliyya yang sedang berpelukan.
"Kenapa kamu diam?" tanya sang ibu pada Zaki.
"Tidak apa-apa, Ma. Mungkin itu saudara atau temannya Aliyya yang sedang berkunjung. Bisa saja bukan, Ma?" jawab Zaki yang berbohong.
"Kamu pasti mengetahui sesuatu 'kan Nak?" tanya sang ibu yang menatap tajam ke arah putranya.
"Memang aku tau apa Ma? Mama yang melihat kenapa aku yang diintrogasi." jawab Zaki yang membuat sang ibu terdiam.
"Ya sudah, Mama capek. Mama istirahat dulu ya. Besok kamu tanyakan pada Aliyya, siapa pria itu." ujar sang ibu yang berjalan ke arah kamarnya.
"Iya, Ma." jawab Zaki singkat dan memilih pergi ke kamarnya dan istirahat.
Ternyata orang yang melihat Aliyya dan Zein di taman kota tadi adalah Zaki.
Zaki ingin bertemu dengan Aliyya sesuai janji yang telah mereka buat malam kemarin. Namun karena kesalahpahaman, Aliyya mengira Zein adalah Zaki sehingga membuat Zaki dan Aliyya tidak jadi bertemu hingga kesalahpahaman terasa semakin sulit.
***
Malam pun berganti pagi. Aliyya terbangun dari tidurnya dengan senyum yang merekah.
Aliyya pun beranjak dari tempat tidurnya dan ingin mandi. Namun belum sempat kakinya masuk ke dalam kamar mandi, terdengar suara ketukan pintu kamar Aliyya.
"Iya, tunggu sebentar."
__ADS_1
Aliyya pun berjalan mendekati pintu. Lalu...
"Zaki... kenapa kamu ke sini?" tanya Aliyya yang heran dengan sikap Zein.
"Temani aku sebentar. Aku ingin pergi ke suatu tempat tapi aku tidak tau jalan ke sana." jawab Zein dengan tampang melas.
"Tapi aku belum mandi." ujar Aliyya yang malu.
"Aku akan menunggumu di bawah, oke." jawab Zein yang berlalu pergi.
Aliyya hanya menghela nafas panjang. Lalu ia bergegas masuk ke kamar mandi.
Tidak lama kemudian, Aliyya pun selesai mandi dan bergegas menyusul Zein ke teras bawah.
"Ayo kita pergi." ujar Aliyya yang baru datang.
"Ayo..." jawab Zein yang langsung menarik tangan Anita.
Jantung Aliyya pun berdetak sangat cepat, wajahnya memerah karena tersipu malu saat tangannya ditarik, bahkan digenggam oleh Zein. Ia masih salah paham dan mengira kalau Zein adalah Zaki. Lalu mereka pun pergi dengan menggunakan sepeda motor.
Saat mereka keluar dari halaman rumah, Zaki yang ingin mengunjungi Aliyya, melihat Aliyya lagi yang pergi dengan pria lain. Mata tajam Zaki pun menatap tajam ke arah mereka, tangannya mengepal kuat berusaha untuk mengontrol emosinya.
"Aliyya pergi bersama pria itu lagi. Aku harus mengikuti mereka."
Zaki pun mengikuti keduanya dari belakang. Sementara Aliyya dan Zein yang berada di depan tidak menyadari ada yang mengikuti mereka.
Tidak lama kemudian, Aliyya dan Zein sampai di sebuah restoran. Aliyya merasa heran saat Zein mengajaknya ke restoran itu.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Aliyya yang heran.
"Kamu tunggu sebentar ya. Aku ingin membeli makanan itu." jawab Zein seraya menunjuk ke arah gerobak makanan ringan.
"Baiklah." ujar Aliyya yang mengangguk.
Zein pun langsung berlari ke arah gerobak makanan ringan yang ada di seberang jalan. Sedangkan Aliyya memilih untuk menunggu Zein dan duduk di atas motornya.
Drrrrttt!
Saat Aliyya sedang menunggu Zein, tiba-tiba ponselnya bergetar. Dengan cepat, Aliyya meraih ponselnya itu dan melihatnya. Mata Aliyya membulat sempurna tatkala melihat nama orang yang menghubungi dirinya.
"Zaki..."
Aliyya pun mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah Zein yang ia kira adalah Zaki. Sementara Zein, saat ini sedang membeli makanan dan tidak memegang ponsel sama sekali. Aliyya pun bingung dan heran. Lalu...
"Hallo..." ucapnya.
"Al, kamu di mana?" tanya Zaki yang melihat Aliyya dari kejauhan dan di dalam mobilnya.
Aliyya masih menatap ke arah Zein dan memastikan kalau Zein yang sedang menghubungi dirinya di seberang jalan. Namun tidak dan itu membuat Aliyya semakin kebingungan dan heran.
"Al, kamu baik-baik saja?" tanya Zaki.
"Iya, aku baik-baik saja. Nanti aku telepon lagi ya. Saat ini aku sedang di luar." jawab Aliyya yang menjadi gugup dan gemetar.
"Tapi Al..." ujar Zaki namun telepon langsung ditutup oleh Anita.
Sementara Aliyya masih menatap lekat ke arah Zein di seberang sana.
"Jika yang menghubungiku tadi adalah Zaki, lalu yang saat ini sedang bersamaku siapa?"
Tidak lama kemudian, telepon Aliyya pun berbunyi lagi. Kali ini panggilan dari Sabrina yang mungkin saja sedang mencari dirinya.
"Hallo, Bu..." ucap Aliyya yang mengangkat telepon.
"Kamu di mana Nak? Lalu Zein juga di mana? Apakah dia bersamamu?" tanya Sabrina yang berada di rumah.
Aliyya terdiam sejenak. Ia berusaha keras untuk memahami maksud sang ibu. Lalu...
"Zein? Siapa Zein?" tanya Aliyya balik tanpa menjawab pertanyaan sang ibu.
"Apa maksudmu Nak? Apa kamu sudah lupa dengan sepupumu sendiri? Zein... dia anak Paman Umar di Jakarta." jawab Sabrina yang berusaha mengingatkan Aliyya.
"Zein? Anak Paman Umar di Jakarta?" ujar Aliyya yang bertanya seakan tidak percaya.
"Iya, Nak. Apakah dia bersamamu? Kalian pergi ke mana?" tanya Sabrina balik.
Aliyya terperangah, benar-benar syok dan tidak tau harus mengatakan apa. Pasalnya, selama bertemu dengan Zein, pria itu tidak pernah memberitahu, kalau dirinya adalah Zein, putra Umar Abdullah, sang paman yang tinggal di Jakarta. Dan saat ini, yang sedang bersama dengannya bukan lah Zaki, melainkan Zein. Itu artinya, Zein sedang mempermainkan Aliyya.
"Aliyya..." panggil Sabrina dari telepon.
"Iya, Bu. Kami sedang berada di luar. Nanti kami akan segera pulang." jawab Aliyya lalu menutup telepon.
Aliyya masih tidak menyangka kalau yang saat ini bersamanya adalah Zein, sepupunya dan bukan Zaki. Selama beberapa hari ini, Aliyya telah salah paham dan mengira kalau yang sedang bersamanya selama ini adalah Zaki.
"Kenapa dia tidak mengatakan kalau dirinya adalah Zein?"
Aliyya dan Zein memang dekat di masa kecil. Namun sikap keduanya sama-sama keras kepala dan menjengkelkan untuk satu sama lain. Setelah mengetahui kalau pria yang bersama dengannya adalah Zein, Aliyya pun merasa sangat kesal, marah dan semakin tidak menyukai sikap Zein yang tidak lucu ini. Lalu...
"Jangan panggil aku Aliyya, kalau aku tidak bisa membalas lelucon konyolmu itu, Zein."
Zein yang sudah kembali setelah membeli makanan ringan pun menghampiri Aliyya.
"Ayo, kita masuk. Aku akan mengajakmu makan siang." ujar Zein yang berjalan di depan.
Aliyya menyeringai licik melihat Zein dan mengikuti ke mana pun ia pergi. Seraya berjalan, tangannya tampak lincah mengetik sesuatu di ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Entah siapa yang gadis itu hubungi.
Saat sampai di dalam restoran, Zein pun menarik kursi untuk Aliyya.
"Silakan duduk Nona cantik." ujar Zein dengan sangat manis.
Aliyya hanya diam dan tersenyum. Lalu Zein pun duduk di depan Aliyya.
"Kamu ingin makan apa Al?" tanya Zein seraya memberikan buku menu pada Aliyya.
"Terserah kamu saja." jawab Aliyya dengan senyum simpul di bibirnya.
Zein pun mengikuti permintaan Aliyya dan memesan makanan untuk keduanya, tanpa mencurigai ekspresi sepupunya itu. Saat mereka sedang menunggu pesanan, tiba-tiba sekelompok petugas kepolisian tampak berjalan dan menghampiri mereka.
__ADS_1
"Permisi." ucap petugas kepolisian itu.
"Iya, ada apa ya Pak?" tanya Zein yang heran melihat mereka dihadapannya.
"Kami mendapat laporan, kalau saudara yang bernama Zaki telah melakukan tindakan yang tidak baik pada seorang wanita." jawab Polisi itu.
Zein pun terperanjat dan melihat ke arah Aliyya. Sementara Aliyya hanya bersikap biasa saja dan tampak memasang raut ekspresi panik lalu beranjak.
Bagaimana ini? Aku bukan Zaki, tapi aku Zein. Ah sial, kenapa bisa jadi seperti ini. Gumam Zein dalam hati.
"Tapi maaf, Pak. Di sini tidak ada Zaki. Saya bukan Zaki, tapi saya Zein." ujar Zein yang mulai panik dan tanpa sadar mengaku.
Zein tidak sadar dengan yang apa yang ia katakan itu akan membongkar kebohongan dirinya pada Aliyya.
"Tapi kami mendapat laporan kalau Zaki ada di sini." tandas Polisi itu yang mulai marah.
"Di sini tidak ada yang bernama Zaki, Pak. Iya kan Aliyya?" ujar Zein pada Polisi dan melihat ke arah Aliyya.
"Apa maksudmu, Zaki? Kamu itu Zaki. Apa kamu sudah lupa dengan namamu sendiri." jawab Aliyya yang melirik keduanya.
Bagaimana ini? Yang Aliyya tau, aku adalah Zaki. Dasar bodoh kau, Zein. Kenapa kau bisa terjebak dalam permainan konyolmu sendiri. Gumam Zein dalam hati.
"Percayalah, Al. Aku ini Zein, sepupumu." ujar Zein yang berusaha meyakinkan Aliyya.
Aliyya pun tersenyum puas melihat ekspresi Zein yang panik. Lalu...
"Maafkan dia, Pak. Ternyata tidak ada yang bernama Zaki di sini. Dia bukan Zaki, tapi dia sepupu saya, Zein Abdullah." ujar Aliyya pada Polisi itu.
"Anda serius Nona?" tanya Polisi yang ingin memastikan.
"Iya, Pak." jawab Aliyya yang mengangguk dan meyakinkan Polisi itu.
"Baiklah, kalau begitu kami permisi." ujarnya lalu pergi dari restoran itu.
Petugas kepolisian itu pun berlenggang pergi dan Aliyya tertawa lepas saat melihat ekspresi Zein yang masih panik. Melihat Aliyya yang tertawa, membuat Zein merasa heran. Lalu...
"Kenapa kamu tertawa? sungut Zein yang melirik tajam sepupunya itu.
"Aku sangat puas melihat ekspresimu itu, Zein." jawab Aliyya yang masih tertawa geli.
"Jangan-jangan kamu yang sudah memanggil Polisi itu ke sini. Iya, hah!" ujar Zein yang jengah pada Aliyya.
"Kalau iya kenapa?" ujar Aliyya yang masih tertawa karena merasa geli dengan ekspresi Zein.
Ternyata Aliyya mengirim pesan darurat pada Polisi untuk membalas tingkah konyol Zein. Sungguh, guratan penyesalan sangat tampak di wajah pria tampan seperti Zein.
"Dasar wanita gila!" sungut Zein yang kesal.
"Kamu pikir aku bodoh, hah! Kamu datang dan tidak memberitahuku, kalau kamu itu Zein dan berpura-pura menjadi Zaki." ujar Aliyya yang sejak tadi menahan marah.
"Siapa yang berpikir kalau aku ini Zaki? Apa aku yang mengatakannya duluan?" tanya Zein yang tidak kalah marah dan jengah.
"Lalu kenapa saat aku memanggilmu dengan nama Zaki, kamu hanya diam saja? Kamu itu ingin mengerjaiku ya?" tanya Anita lagi.
Aliyya dan Zein yang emosi pun saling melempar pertanyaan satu sama lain tanpa menjawab pertanyaan itu. Saat mereka sedang asyik bertengkar, tiba-tiba ponsel Zein berbunyi.
"Papa..."
Zein pun langsung mengangkat telepon yang ternyata dari sang ayah. Lalu...
"Assalamualaikum, Zein. Kamu di mana Nak?" tanya Umar yang sudah berada di bandara.
"Wa'alaikumsalam, Pa. Aku sedang di luar. Ada apa Pa?" jawab Zein yang bertanya balik.
"Papa dan Mama sudah sampai di bandara. Apakah kamu bisa menjemput Papa dan Mama?" jawab Umar yang bertanya balik.
Zein pun terdiam karena bingung. Ia tidak tau harus menjemput Umar dan Sonia dengan apa. Melihat kepanikan di wajah Zein, Aliyya pun mencolek Zein, seakan memberi tanda kalau dirinya sedang bertanya apa yang terjadi.
"Kenapa kamu mencolek tanganku?" sungut Zein yang menutup bagian bawah ponselnya agar Umar tidak mendengar pembicaraannya dengan Aliyya.
"Ada apa?" tanya Aliyya yang penasaran.
"Papa sudah sampai di Jogja. Saat ini mereka di bandara dan minta di jemput." jawab Zein dengan ketus dan dinginnya.
"Katakan saja iya." ujar Aliyya dengan santai.
"Kamu gila ya? Dengan apa aku menjemput Papa ke sana?" sungut Zein yang jengah.
"Jawab saja atau aku akan tinggalkan kamu di sini." tandas Anita seraya menunjuk Zein.
Zein pun menghela nafas berat. Ia terpaksa harus mengikuti keinginan Aliyya karena kalau gadis itu meninggalkan dirinya di restoran, maka ia bisa tersesat karena tidak tau jalan pulang. Lalu...
"Baiklah, Pa. Aku akan jemput kalian di sana." ujar Zein pada Umar yang masih terhubung.
"Papa akan menunggumu, Nak." jawab Umar dan menutup telepon.
Setelah menutup telepon, Zein pun menoleh ke Aliyya yang tampak tersenyum licik pada dirinya yang masih merasa kesal.
"Sekarang bagaimana?" tanya Zein dengan dinginnya.
Zein yang masih kesal dan jengah pada Aliyya pun memasukan ponselnya ke dalam saku celananya. Sementara Aliyya tampak menyeringai puas saat melihat ekspresi Zein. Lalu gadis cantik itu pun menoleh ke seberang jalan.
"Kita naik itu." jawab Aliyya seraya menunjuk ke arah seberang jalan.
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Rating cerita baru author ya πππ
__ADS_1