Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 43 ~ Harus Tetap Kuat


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Walaupun aku tidak melakukannya, tapi aku juga tetap bersalah pada Aliyya. Padahal aku sudah memastikan dan menghapus foto itu. Photographer itu pun juga takut karena aku ancam. Tapi kenapa foto itu bisa tercetak?"


Zein yang panik di dalam kamar pun tampak gusar dan berjalan bolak balik mengitari sisi kamarnya sejak tadi. Namun dengan tindakan seperti itu tidak dapat menyelesaikan masalah Aliyya dan ia memilih untuk melakukan itu.


***


"Mamamu benar, Sayang. Ayo masuklah ke dalam kamarmu lalu bersiap. Para tamu kita sudah datang dan kita harus menyambut kedatangan mereka." potong Umar seraya beranjak dan meraih bahu sang menantu.


Aliyya benar-benar terpojok kali ini. Ia tidak bisa meminta sang paman untuk mendengarkan apa yang ingin ia katakan. Aliyya hanya mengangguk lalu pergi ke kamarnya karena tidak mempunyai pilihan lain. Ia harus mengikuti permintaan Umar. Sementara Sonia, Shafia dan Namira tampak sekali menyeringai puas melihat Aliyya yang harus mengikuti perkataan Umar.


Setelah Aliyya masuk ke dalam kamar, Sonia dan kedua menantunya itu pun tampak berjalan ingin menyambut para tamu yang berdatangan.


"Assalamualaikum..."


Para teman sosialita Sonia pun berdatangan. Mereka tampak sangat antusias sekali datang seraya membawa bungkusan hadiah di tangan mereka masing-masing. Melihat kedatangan mereka, Bi Sumi pun bergegas menghampiri.


"Wa'alaikumsalam... ayo silakan masuk!" ujar Bi Sumi yang ramah dan menyuruh tamu masuk.


"Terima kasih..." jawab teman-teman Sonia.


Teman-teman Sonia pun berlenggang masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Bi Sumi juga sudah menyiapkan makanan dan minuman ringan untuk para tamu yang sudah berdatangan.


***


"Paket..."


Suara bariton keras terdengar dari luar rumah Sabrina. Seketika wanita paruh baya itu berdiri lalu berjalan ke arah pintu rumahnya. Sabrina pun mengeryitkan dahi saat melihat seorang tukang POS sedang berdiri di depan halaman. Dengan rasa heran, Sabrina pun melangkah dan menghampiri tukang POS itu.


"Ada paket dari mana ya Pak?" tanya Sabrina.


"Paket dari Jakarta, Bu. Silakan diterima." jawab tukang POS seraya memberikan sebuah amplop.


Mendengar nama kota besar itu, membuat Sabrina menerima paket dengan antusias. Tanpa berpikiran macam-macam, ibu dua anak itu pun terlihat tidak sabar untuk segera membuka dan melihat isi dari amplop itu.


"Terima kasih, Pak..."


Tukang POS pun hanya mengangguk seraya mengulas senyum ramah pada Sabrina. Setelah tukang POS pergi, Sabrina bergegas masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu seraya membuka amplop paket itu. Sejurus kemudian, amplop paket pun terbuka dan tampak lah sebuah surat kabar yang hari ini sudah beredar luas bahkan bisa sampai ke Jogja. Mata wanita paruh baya itu terlihat memerah, menatap nanar sesuatu yang terpampang nyata di halaman depan surat kabar itu.


Ternyata paket dari Jakarta itu adalah surat kabar yang di halaman depannya terdapat berita viral sang putri. Berita yang menjadi topik utama dalam surat kabar hari ini benar-benar membuat Sabrina menjatuhkan bulir bening dari matanya. Foto Aliyya yang terpampang nyata di saat gaun belakangnya terbuka, kini telah sampai di tangan Sabrina. Untung saja hari ini Galuh sedang tidak ada di rumah, hanya ia dan Aldha. Sementara Aldha sibuk di kamarnya dan tidak tau apa yang sedang terjadi pada sang ibu di lantai bawah.


***


Setelah berhias dan bersiap layaknya seperti seorang pengantin, dengan balutan gaun cantik dan membuat Aliyya semakin terlihat cantik. Gadis itu pun menoleh ke belakang saat melihat Zein yang tengah berdiri di balkon kamarnya. Pria tampan itu terlihat sedang termenung jauh. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.


Aliyya yang memperhatikan Zein dengan wajah datar dan kecewa pun berjalan mendekati sang suami. Namun tidak berdiri di sampingnya dan tetap berdiri jauh karena Aliyya merasa sangat jijik pada suaminya yang selalu berusaha untuk mempermalukan dirinya.


"Kenapa kamu termenung? Tenang saja! Kamu tidak perlu takut dan merasa khawatir dengan masalah kecil ini!!!" ujar Aliyya seraya menatap nanar Zein yang masih membelakangi dirinya.

__ADS_1


Mendengar Aliyya yang angkat suara, Zein pun berbalik dan menatap tajam istrinya itu.


"Kenapa kamu yang terlihat stress? Foto itu sudah tercetak, bahkan sudah tersebar ke seluruh kota ini. Jangan pernah kamu berpikir, kalau aku akan tertipu dengan aktingmu itu, Zein!!! Kamu itu tidak layak menjadi seorang aktor yang hebat karena aktingmu sangat lah buruk!!! Aku tau, kalau kamu menggunakan cara yang menjijikkan ini untuk menyingkirkan aku dari rumah, kamar bahkan dari hidupmu. Tapi sayangnya aku sudah terbiasa. Kamu selalu mempermalukan aku, Zein!!! Tapi sayangnya, semua itu tidak berjalan dengan lancar karena aku mampu melindungi diriku sendiri!!! Kamu tidak pernah peduli dengan harga diriku atau harga diri dari rumah ini!!! Tapi suka atau tidak, kamu harus bisa menerima kalau aku ini adalah menantu dari papamu!!!"


Aliyya pun berjalan mendekati Zein yang hanya terdiam seraya menatapnya dengan tajam. Pria itu tetap bungkam namun matanya yang sangat tajam terus menatapi sang istri.


"Yang harus kamu ingat adalah, aku sangat peduli dan menjaga kehormatan keluarga ini. Jadi apa pun yang terjadi, aku harus tetap kuat dan berdiri di depan semua orang. Karena aku tau kalau aku tidak bersalah dan tidak ada lagi yang berani menjatuhkan kehormatan diriku di rumah ini!!!"


Dengan tatapan penuh kebencian dan amarah, Aliyya pun beranjak dan meninggalkan Zein. Sementara pria itu masih tetap diam, bungkam tak berkutik. Entah karena merasa bersalah, takut atau memang kebenarannya yang seperti itu, bahwa Aliyya tidak bersalah. Aliyya tidak melakukan apa pun yang dapat membuat malu keluarga Umar. Hal itu bisa dilihat melalui bukti rekaman CCTV dan kecerobohan Zein sendiri.


***


"Selamat datang di rumahku, Jeng."


Dengan senyum yang ramah, Sonia bersama dua menantunya menyambut kedatangan para teman sosialita Sonia yang sudah duduk di sofa ruang tamu. Sonia menghampiri satu per satu teman sosialitanya itu. Sementara Namira dan Shafia juga melakukan hal demikian. Mereka terlihat sangat senang, bukan karena kedatangan tamu, melainkan karena sudah tidak sabar untuk memberikan kejutan pada Aliyya di depan para tamu.


"Kenapa kamu membuat acara ini Sonia? Setelah insiden memalukan di acara malam itu, kamu masih membuatkan acara seperti ini. Sungguh, hatimu sangat besar." tutur salah satu teman Sonia yang bernama Rosa.


"Ah tidak ada maksud apa-apa. Aku hanya ingin memperkenalkan Aliyya pada kalian semua. Di pesta resepsi malam itu yang terjadi semuanya bukan lah kesalahan Aliyya. Di mata kami, dia anak yang sangat baik dan penurut. Jadi tidak mungkin dia melakukan hal-hal yang buruk." jawab Sonia yang tersenyum tanpa beban.


Pandai sekali mengambil muka, itulah gelar tertinggi yang sangat pantas dan cocok jika dipasangkan selempang untuk Sonia. Wanita paruh baya itu seakan membela Aliyya hanya untuk membenarkan apa yang akan ia lakukan, agar semua orang berpikir kalau dirinya tidak mungkin akan berbuat jahat pada menantunya.


Namira dan Shafia yang mendengar perkataan sang mama mertua pun tampak menyeringai untuk mendukung apa pun yang dilakukan oleh Sonia.


"Aku sangat mengagumi kebesaran hatimu ini, Sonia. Aliyya sangat beruntung mempunyai seorang ibu mertua yang baik dan berhati besar seperti dirimu." ujar Rosa lagi yang terus memuji temannya itu.


"Hatiku tidak sebesar itu, Rosa. Tapi aku sangat berterima kasih atas semua pujianmu itu." jawab Sonia yang tetap menjaga senyum manisnya.


Melihat semua temannya tersenyum dan saling memuji Sonia, di saat itulah kesempatan wanita itu menoleh ke arah Shafia.


"Shafia..."


Yang dipanggil pun menoleh cepat. Hanya dengan satu anggukan dari Sonia, seakan memberikan sebuah kode isyarat pada sang menantu untuk melakukan tugas selanjutnya. Tidak perlu waktu lama, hanya dalam hitungan detik, Shafia mengerti dengan anggukan Sonia. Dan pastinya, gerak-gerik mereka tak luput dari perhatian Namira. Wanita yang tidak mau kalah dari madunya itu sedang memperhatikan dan melihat tindakan apa lagi yang akan dilakukan olehnya.


Shafia yang mengerti pun menggencarkan rencananya. Lalu berjalan seraya melewati tumpukan surat kabar yang terletak di atas meja. Tidak hanya melewatinya saja, tapi Shafia juga menyenggol surat kabar itu hingga terjatuh ke lantai. Tanpa menghiraukan surat kabar yang terjatuh itu, Shafia berlenggang pergi dan berdiri di samping Namira seraya melihat ke arah Sonia.


"Sonia... apa ini?"


Saat sedang duduk seraya mengobrol, salah satu teman sosialita Sonia pun meraih surat kabar yang sengaja dijatuhkan oleh Shafia. Wanita itu tampak terbelalak saat melihat berita yang ada di dalam surat kabar itu lalu memperlihatkan surat kabar itu pada Sonia.


"Astaga apa ini? Kenapa foto Aliyya bisa ada di dalam surat kabar?" ujar Sonia yang pastinya sedang berpura-pura tidak mengetahui semua.


"Ada apa Ma?" timpal Shafia.


"Sepertinya ini foto di saat pesta hari valentine." ujar Sonia seraya menoleh ke arah Shafia.


Sayup-sayup pembicaraan teman sosialita Sonia pun mulai bergema memenuhi sudut ruang tamu dan tidak hanya mereka, Bi Sumi yang berada di antara mereka pun ikut terkejut melihat foto itu. Namun seringai puas terbit seketika di wajah ibu dua anak itu. Lalu...


"Pa..."

__ADS_1


Sonia yang memasang wajah tercengang dan tidak menyangka pun berlari menghampiri sang suami. Umar baru saja keluar dari ruang kerja sebelum akhirnya ia keluar untuk menghampiri para tamu sang istri.


Mendengar suara sang istri yang memanggil, Umar pun menghentikan langkah dan menoleh.


"Lihat ini, Pa!!!" ujar Sonia seraya memberikan surat kabar pada suaminya.


Umar yang heran pun melihat surat kabar itu. Seketika matanya membulat sempurna dengan raut wajahnya yang berubah pias dan datar, menatap nanar gambar di dalam surat kabar.


"Apakah kamu sudah melihat berita di dalam surat kabar itu Pa? Kenapa kamu tidak hanya diam saja? Kalau kamu memberitahu aku, setidaknya aku bisa membatalkan acara. Dan kita tidak perlu dipermalukan seperti ini." ujar Sonia yang seakan menyalahkan suaminya.


Umar hanya terdiam, bungkam dan berusaha memahami apa yang sedang terjadi. Namun gambar yang ada di dalam surat kabar itu sudah sangat jelas dan pastinya semua ini sudah tersebar luas ke penjuru ibu kota.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan cara Tuan Umar melihat diri gadis seperti Aliyya itu. Kalian bayangkan saja, Tuan Umar membawa gadis yang tinggal di kota kecil ke kota besar. Lalu menjadikan gadis itu sebagai menantu di rumah sebesar ini. Pasti dia tidak terbiasa..."


"Iya, kamu benar sekali! Sama di saat malam resepsi dan hari ini dia mengulangi kesalahan yang ada di dalam dirinya lagi dengan cara mempermalukan keluarga Tuan Umar. Apakah gadis itu tidak berpikir, kalau reputasi keluarga Tuan Umar akan terganggu karena dirinya? Aku benar-benar tidak menyangka..."


"Aku juga tidak tau apa yang dipikirkan oleh gadis dari kota kecil itu...."


Seperti itulah hujatan demi hujatan kejam yang keluar dari mulut teman-teman sosialita Sonia. Mereka terlihat sangat tidak menyukai Aliyya hanya karena kesalahpahaman yang terjadi di acara resepsi dan surat kabar murahan itu.


Shafia dan Namira pun saling pandang seraya melempar tatapan seringai puas karena berhasil membuat kekacauan sesuai dengan permintaan Sonia.


"Yang terlihat di dalam foto itu tidak benar!!!"


Suara lembut nan lantang itu sontak mencuri perhatian semua mata yang sejak tadi tengah membicarakan dirinya. Aliyya yang datang pun dengan tegasnya berdiri seraya menatapi para tamu yang jumlahnya tak banyak itu. Sementara Sonia, Namira dan Shafia tersenyum puas saat melihat Aliyya datang di waktu yang tepat.


"Gambar itu memang terlihat seperti sebuah skandal yang terjadi tanpa disengaja. Namun tidak ada seorang pun yang merasa senang saat dirinya berada di posisi itu. Kejadian itu memang terlihat sangat memalukan, tapi aku yakin bahwa saat ini ada orang yang sengaja mengambil foto itu lalu mencetaknya. Orang itu sedang berusaha mengambil keuntungan dari masalah ini untuk mencari sensasi dengan mencetak foto itu." tutur Aliyya yang berkaca-kaca dan berusaha tegar.


"Ya ampun lidahnya tajam sekali. Kalau dia putriku, pasti dia tidak akan mau keluar dari rumah karena merasa sangat malu." timpal teman sosialita Sonia yang bernama Ratni.


Sonia pun melirik Umar yang masih tetap diam melihat ke arah keponakan kesayangannya itu. Seringai tajam pun terbit lagi di sudut bibirnya saat menyaksikan Aliyya yang sedang tersudut. Sementara Shafia terlihat jengah mendengar perkataan Aliyya, bahwa ada orang yang ingin mengambil keuntungan dari masalah ini.


"Tuan Umar... apakah anda yakin dengan gadis yang berasal dari kota kecil ini? Apakah anda yakin kalau gadis ini bisa beradaptasi di kota besar seperti di Jakarta?" tutur Rosa seraya melirik tajam tak suka pada Aliyya.


"Maafkan kami, Tuan Umar. Kalau kami semua berbicara apa adanya seperti ini di rumah anda. Tapi apa yang kami katakan ini benar. Gadis itu sepertinya tidak bisa beradaptasi di kota besar." timpal Ratni yang semakin menyudutkan Aliyya.


Sungguh, hari ini akan menjadi hari yang sangat menyenangkan bagi Sonia. Wanita paruh baya itu terlihat sangat puas tanpa berekspresi sama sekali. Wajahnya seakan sendu melihat Aliyya yang sedang dipermalukan tapi tidak dengan hatinya yang saat ini sedang bersorak gembira.


"Semua ini bukan kesalahan Aliyya!!!"


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Wuhuhu, kira-kira siapa tuh yang membela Aliyya selain Umar dan Bi Sumi? Apa mungkin Zein? Wkwkwk entahlah, author ngak bisa membaca jalan pikiran manusia seperti Zein πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2