
...πΉπΉπΉ...
Kini semua mata tertuju pada Zein. Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, Zein berjalan menghampiri Aliyya yang sejak tadi menatapnya dengan tatapan nanar.
"Ayo ikut denganku sebentar!"
Aliyya yang masih bungkam pun ditarik langsung tangannya oleh Zein. Lalu Zein membawa gadis itu turun ke lantai bawah menuju ke halaman samping. Seketika suasana berubah menjadi hening. Rasa canggung pun tak dapat terelakkan oleh kedua insan saudara sepupuan itu. Keduanya bungkam namun tetap saling bertatapan tajam.
"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu, Al." ujar Zein yang membuka pembicaraan di sela keheningan.
"Aku tidak punya waktu banyak untuk mendengarkan apa yang akan kamu katakan itu, Zein!" jawab Aliyya yang dingin seraya menunjuk wajah Zein.
"Aku tau kesalahanku, Al. Tapi jujur, aku tidak bisa menikah denganmu. Jadi tolong, bicara lah dengan Papa dan Bibi kalau aku menolak keputusan ini." tutur Zein yang dengan santai tanpa merasa bersalah sedikit pun.
"Kamu pikir, aku mau menikah dengan pria seperti dirimu? Tidak, Zein!!! Aku sangat membencimu!!! Karena ulahmu, hidupku hancur berantakan seperti ini dan karena ulahmu aku harus mendengar keputusan Paman yang tidak pernah terpikirkan olehku sebelumnya!!! Andaikan saja kamu tidak datang ke sini Zein, maka semua ini tidak akan pernah terjadi!!!" tandas Aliyya yang mulai emosi lagi.
"Kamu benar, Al. Aku merasa sangat menyesal sekarang karena aku menuruti permintaan Papa untuk datang ke sini. Tapi kesalahan sepenuhnya tidak hanya padaku, Al. Kamu juga bersalah, karena kamu mengira kalau aku ini Zaki." jawab Zein yang masih bersikap santai.
Sungguh, Aliyya benar-benar geram melihat raut wajah Zein yang tidak merasa bersalah itu. Justru Zein malah menyalahkan dirinya karena telah salah mengira kalau Zein adalah Zaki. Kemarahan Aliyya semakin menyeruak hingga ke ubun-ubun, matanya memerah dan tangannya mengepal kuat. Namun Zein tidak bisa merasakan hal itu. Pria yang berstatus saudara sepupu Aliyya itu malah memasang raut wajah mengiba pada Aliyya, agar gadis itu membatalkan rencana perjodohan mendadak ini. Sangat menyebalkan.
"Jika tujuanmu membawaku ke sini hanya untuk menyalahkan diriku atas semua yang telah kamu lakukan, lebih baik kita tidak perlu bicara saja, Zein Abdullah!!!" tandas Aliyya yang berusaha menahan amarah di hatinya.
"Tunggu Al..."
Sejurus Aliyya hendak melangkahkan kaki masuk ke dalam rumahnya, Zein meraih cepat tangan gadis itu dan langkah Aliyya pun terhenti namun posisinya tetap membelakangi Zein yang masih memegang tangannya.
"Ayo kita batalkan bersama rencana Papa, Al. Dengan begitu, aku maupun kamu tidak perlu menikah dan terjebak di dalam pernikahan konyol yang tidak dilandasi dengan cinta."
Perlahan Aliyya yang emosi pun memutar posisi tubuhnya dan menoleh ke arah Zein, lalu menepis kasar tangan Zein yang masih memegangi tangannya.
"Bicara lah pada ayahmu, Al. Katakan padanya kalau kamu tidak ingin menikah denganku. Aku sangat yakin, kalau kamu menolak untuk menikah denganku, maka semua masalah kita akan terselesaikan dengan baik. Papa tidak akan memaksamu untuk menikah denganku." tutur Zein seraya meraih kedua bahu Aliyya.
"Apakah kamu yakin dengan rencana ini?" tanya Aliyya yang mulai tenang dan mengontrol emosinya.
"Aku sangat yakin, Al. Semua keputusan berada di tanganmu. Jika kamu menolak, maka Papa tidak akan memaksa kita berdua lagi." jawab Zein yang antusias.
__ADS_1
Aliyya pun terdiam, berusaha menimbang apa yang dikatakan oleh pria konyol itu. Memang banyak benarnya, namun Aliyya yang cerdas tidak ingin mengambil sebuah keputusan dengan tergesah-gesah. Sementara itu, dengan tampang melas, konyol dan bodohnya, Zein terus memperhatikan Aliyya seraya berharap kalau Aliyya akan menerima usulannya itu.
"Oke, aku akan bicarakan hal ini pada Ayah."
Seutas senyum lega pun terbit di wajah tampan Zein. Namun tidak dengan Aliyya yang masih memalingkan wajahnya dari pria menyebalkan itu.
"Apakah aku bisa mempercayaimu?" tanya Zein yang membuat Aliyya semakin kesal dan marah.
"Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mau menikah dengan kamu, Zein Abdullah!!! Jadi, mau kamu percaya atau tidak, itu terserah padamu dan aku tidak peduli!!!" tandas Aliyya seraya menunjuk wajah Zein.
"Janji?" tanya Zein yang sepertinya meragukan Aliyya.
"Tidak hanya janji, bahkan aku bersumpah akan mengatakan hal ini pada Ayah dan menolakmu, Zein Abdullah!!!" tandas Aliyya yang menatap tajam Zein lalu beranjak pergi.
Zein masih dengan senyum leganya di saat Aliyya pergi dari hadapannya. Tanpa rasa bersalah lagi, pria itu tidak sepenuhnya meminta maaf bahkan semakin membuat Aliyya marah dan membencinya.
"Semoga saja Aliyya bisa menepati janjinya."
***
Tampak seorang dokter tengah memeriksa kondisi Galuh yang sejak tadi terbatuk keras. Di sana juga masih ada Sabrina, Aldha, Umar, Sonia, Farhan, Namira dan Shafia. Semuanya pun tampak menoleh ke arah Aliyya yang datang dan berdiri terpaku di dekat pintu. Tidak berselang lama, dokter pun pergi setelah memeriksa kondisi Galuh dan memberikan secarik kertas bertuliskan resep obat-obatan yang harus diminum rutin oleh pria paruh baya itu.
Setelah dokter pergi, Aliyya pun berjalan mendekati tempat tidur sang ayah. Bulir bening dari matanya yang indah juga tampak mengalir saat gadis itu duduk seraya meraih tangan Galuh yang terasa dingin dan pucat.
"Jangan menangis putriku. Ayah tidak apa-apa." ujar Galuh yang menyeka air mata di pipi putri kesayangannya itu.
"Benarkah? Ayah benar-benar tidak apa-apa?" tanya Aliyya yang berusaha menahan tangisnya.
"Ayahmu tidak apa-apa, Nak. Dia hanya kelelahan dan butuh istirahat yang cukup serta..."
Aliyya menoleh cepat ke arah sang paman yang tiba-tiba menghentikan ucapannya. Sementara Sonia yang sangat mengerti tujuan Umar pun tampak membuang muka efek jengah pada sang suami.
"Serta apa Paman?" tanya Aliyya yang heran.
"Ayahmu ingin mendengar jawaban darimu atas keputusan yang telah Paman putuskan untukmu dan Zein, Nak." ujar Umar dengan ekspresinya yang sulit terbaca.
__ADS_1
Aliyya pun terdiam, perlahan menoleh ke arah Galuh dan Sabrina yang memang tengah menunggu jawabannya.Tapi apa yang bisa gadis itu lakukan saat ini, melihat kondisi sang ayah yang tengah sakit akibat ulah Zein dan dirinya, membuat Aliyya tidak tega. Lalu bagaimana dengan janji, bahkan sumpah yang terlanjur diucapkan olehnya pada Zein?
"Bagaimana Nak? Apakah kamu menerima keputusan Umar untuk menikah dengan Zein hari ini?" tanya Galuh seraya mengelus lembut kepalanya.
Aliyya masih tetap bergeming. Guratan kecemasan terlihat sangat jelas di wajahnya, lalu ia menoleh ke arah Sonia, Farhan, Namira dan Shafia, seakan ingin melihat ekspresi mereka dengan keputusan Umar yang mendadak itu. Farhan dan Namira tampak tersenyum tipis pada Aliyya, entah karena menerima Aliyya atau pasrah dengan semua keputusan Umar. Namun tidak dengan Sonia dan Shafia, kedua wanita berbeda generasi itu tampak memasang raut wajah masam tak mengenakkan untuk dipandang. Seakan mengatakan ketidaksukaan mereka terhadap masalah ini.
Ya... Aliyya paham apa yang ada di dalam pikiran Sonia. Kebencian wanita paruh baya nan cantik itu terhadap keluarganya yang tidak berujung hingga saat ini, membuat Aliyya ragu untuk menerima keputusan Umar. Selain itu, ia juga terlanjur bersumpah pada Zein untuk menolak semua ini. Namun apalah daya seorang Aliyya yang sangat menyayangi keluarganya itu tanpa membedakan siapa pun. Aliyya sangat menyayangi Umar dan tidak ingin membuat sang paman kecewa.
"Aliyya... Paman yakin kalau kamu bisa memutuskan hal yang paling sulit dalam hidupmu sekalipun. Karena Paman sangat mengenalmu, Nak. Kamu anak yang sangat baik dan penurut, karena itulah Paman mengambil keputusan ini. Bukan hanya untukmu, tapi juga untuk Zein." tutur Umar yang kini sudah berada di samping Aliyya.
"Pa... kalau Aliyya tidak mau, untuk apa Papa berusaha memaksanya. Baik Aliyya atau pun Zein, mereka tidak akan bisa bahagia jika harus dipaksa seperti ini." timpal Sonia yang sebenarnya masih marah namun berusaha untuk mencari celah lain agar rencana Umar gagal.
"Aku sangat yakin kalau Aliyya pasti mau menerima keputusanku ini, Sonia. Jadi, kamu jangan memprovokasi Aliyya seperti itu!" ujar Umar seraya menoleh ke Sonia.
Sonia pun mendengus kesal. Rasanya ingin sekali ia meluapkan amarahnya saat ini juga di depan Sabrina, Galuh, Aldha, Aliyya, Farhan, Namira dan Shafia. Tapi demi menjaga image sebagai istri seorang Umar Abdullah yang terpandang, Sonia berusaha keras menahan semua itu.
"Aliyya..."
Aliyya masih larut dalam lamunan. Namun sentuhan tangan Umar di bahunya berhasil menyadarkan gadis itu.
"Aku...
.
.
.
.
.
Happy Reading All πππ
Akan kah Aliyya menerima keputusan Umar? Lalu di mana Zein? Kenapa dia tidak ada di kamar itu dan turut melihat dan mendengar jawaban Aliyya? Wkwkwk dasar Zein πππ
__ADS_1