Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 26 ~ Meluruskan Pikiran


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Kamu tidak perlu melihat dulu, Sabrina."


Ternyata sambungan telepon Sonia dengan Sabrina belum berakhir. Sonia terus memprovokasi Sabrina yang sudah sesegukan mendengar kabar buruk itu. Sementara Sonia merasa sangat puas dengan tangis Sabrina.


"Berpikirlah terlebih dahulu! Aku akan menunggu kabar darimu dan kita harus mengakhiri semua ini demi mereka. Jika kamu sudah siap, hubungi saja aku. Biar aku bisa mempersiapkan keberangkatan keluargamu dari Jogja ke sini untuk membicarakan masalah ini. Semakin cepat kamu dan Galuh datang ke sini, maka masalah Aliyya dan Zein akan cepat selesai. Assalamualaikum." tutur Sonia seraya menyeringai puas dan mengakhiri panggilan.


***


Tangis Sabrina semakin pecah tatkala pembicaraan dengan Sonia berakhir. Dengan tangan gemetar, Sabrina menatap layar ponsel dan berharap kalau yang dikatakan oleh Sonia semuanya salah. Tapi kekuatan kakinya seakan direnggut darinya hingga membuatnya terduduk lemas di tepi tempat tidur Aliyya.


"Sabrina..."


Tanpa sadar, Galuh pun datang dan melihatnya menangis di dalam kamar Aliyya seraya memegang ponsel. Karena cemas, Galuh pun menghampiri sang istri dan berusaha menenangkannya. Tangis Sabrina semakin pecah tatkala tangan sang suami merangkul bahunya. Sungguh, ia tidak bisa menahan kesedihannya di depan sang suami.


"Sabrina... ada apa Sayang? Kamu kenapa menangis seperti ini?" tanya Galuh seraya memeluk sang istri.


"Zein, Mas." jawab Sabrina yang masih sesegukan.


"Kenapa dengan Zein?" tanya Galuh yang bingung.


"Zein... Zein ingin menceraikan Aliyya, Mas!" jawab Sabrina yang semakin sesegukan.


Degh!


"Apa???" ujar Galuh yang terkejut.


Galuh pun terdiam. Seketika wajahnya berubah menjadi pias dan pucat. Dadanya terasa sangat sesak mendengar perkataan sang istri yang menyangkut pernikahan putri kesayangannya itu. Sementara Sabrina semakin menangis, kata-kata Sonia selalu terngiang di telinganya.


Melihat Sabrina yang menangis membuat sesak di dalam hati Galuh semakin memenuhi ruang dadanya. Jantungnya pun terasa sangat sakit dan sesak. Seketika wajah Galuh yang pias berubah menjadi sangat pucat seraya memegang dadanya. Sabrina pun panik tatkala ia memperhatikan sang suami yang tiba-tiba terdiam.


Bruk!


Rasa sesak yang tak tertahankan akhirnya membuat Galuh tumbang dan pingsan. Melihat itu Sabrina pun terkejut dan syok lalu ia mendekati sang suami, berusaha menyadarkan Galuh dari pingsan. Namun Galuh tak kunjung sadar dari pingsannya.


"Mas Galuh..."


Sabrina pun terhenyak dan tersadar dari lamunan. Ternyata semua kabar yang dikatakan Sonia membuat pikirannya tertuju pada sang suami. Jika ia mengatakan hal ini pada Galuh, maka resiko yang terjadi akan sama persis dengan bayangan di dalam pikirannya.


"Sabrina..."


Dengan cepat Sabrina menyeka air matanya saat Galuh datang dan menghampiri dirinya di kamar Aliyya. Lalu ia juga berusaha untuk mengatur nafasnya yang tersenggal karena menangis meratapi nasib pernikahan putrinya agar Galuh tidak curiga.


"Sabrina... kamu dari mana saja? Aku mencarimu sejak tadi." ujar Galuh yang masuk ke kamar Aliyya.


"Aku sedang merapihkan kamar putri kita, Mas. Aku juga baru selesai berbicara dengan Kak Sonia di Jakarta. Dia memberitahu aku kalau acara resepsi pernikahan Aliyya dan Zein berjalan dengan lancar. Aliyya sangat cantik dan dipuji banyak orang. Aku sangat senang mendengarnya." tutur Sabrina yang berusaha menutupi masalah besar ini.


"Oh jadi kamu baru bicara dengan Sonia? Tadi malam aku juga sempat bicara dengannya dan aku sudah tau semuanya." jawab Galuh yang terlihat tidak semangat.


Sabrina pun terhenyak sejenak, berusaha mencerna kata demi kata yang sang suami katakan.


"Kamu bicara dengan siapa Mas?" tanya Sabrina gugup.


"Dengan Aliyya. Dia terlihat sangat bahagia sekali dan acara resepsi pernikahannya juga berjalan dengan lancar." jawab Galuh yang tersenyum dan merangkul bahu Sabrina.


Sabrina pun menghela nafas lega setelah melihat ekspresi Galuh yang tersenyum bahagia. Tenyata Aliyya sudah lebih dulu menghubungi ayahnya dan pastinya sudah berbohong karena gadis itu tidak mau sang ayah jatuh sakit lagi seperti di hari pernikahannya.

__ADS_1


Kedua paruh baya itu pun berpelukan. Galuh sangat bahagia mendengar kabar bohong dari putrinya, sementara Sabrina masih sangat mencemaskan hubungan Aliyya dan Zein. Ibu dua anak itu cemas kalau yang dikatakan Sonia benar dan Zein ingin menceraikan Aliyya. Tapi Sabrina juga tampak heran, kenapa Aliyya tidak berterus terang pada Galuh kalau acara resepsi tadi malam hancur dan tidak berjalan sesuai rencana. Walaupun Sabrina tau kalau sang putri tidak ingin membuat kedua orang tuanya sedih. Tapi untuk sekarang Sabrina lega karena Galuh tidak tau hal yang terjadi sebenarnya.


***


Justru kamu adalah pria yang sangat lemah, yang hanya bisa menghabiskan uang kedua orang tuamu saja untuk apa pun dan menurutku hal itu sangat lah tidak penting untuk dibanggakan! Selamat datang di neraka. Hanya itu yang bisa kamu katakan padaku setiap saat 'kan? Tapi kenyataannya adalah, kita berdua berada di dalam neraka ini karena ulahmu! Jadi tetap lah terkurung dan menikmati neraka ini!


Perkataan Aliyya yang sangat tegas itu terus terngiang di telinga seorang Zein Abdullah. Saat ini pria tampan yang sudah memiliki gelar sebagai seorang suami itu tengah melampiaskan amarah di dalam hatinya dengan berlari di atas Treadmill. Tatapan tajam yang menghadap ke depan terus terpancar dari sorot matanya. Mungkin pria tampan satu ini memang sedang kesal karena semua perkataan Aliyya yang terlalu banyak benarnya dibandingkan salah.


Zein yang semakin frustasi saat semua perkataan Aliyya terngiang di telinganya, semakin mempercepat ritme kecepatan larinya di atas Treadmill. Tanpa ia sadari, sang kakak sudah berdiri di samping Treadmill miliknya itu dan terus memperhatikannya.


"Kamu memang berani sekali, Zein. Jika aku menjadi dirimu, mungkin aku sudah kabur dari rumah ini dan tidak akan pulang selama satu bulan." ujar Farhan yang berdiri di samping Treadmill.


"Tapi aku bukan seorang pria yang suka kabur dan lari karena ketakutan, Kak." jawab Zein.


"Tapi yang terjadi tadi malam itu, aku benar-benar merasa sedih melihatnya. Begitu banyak hal yang terjadi dan kamu hanya diam saja, bahkan sepertinya kamu itu tidak ingin berbicara denganku walaupun hanya sedikit. Dengar Zein! Aku sudah menikah sebanyak dua kali dan dari hal itu aku mendapatkan sebuah pelajaran bahwa, tidak ada sebuah pernikahan yang berbeda. Semuanya sama dan anggap saja seperti rutinitas biasa. Sebuah pernikahan mempunyai argumen masing-masing. Banyak atau sedikit, itu semua sama saja. Aku ini sudah berpengalaman dalam hal ini dan kamu bisa bertanya apa pun padaku, Zein. Aku juga sudah mempunyai gelar Phd dalam hal pernikahan. Tapi apakah kamu pernah melihatku mabuk sepertimu tadi malam?" tutur Farhan yang berusaha meluruskan pikiran sang adik.


"Tidak, memang kenapa Kak?" tanya Zein penasaran.


"Aku mempunyai satu rahasia!!! Seorang pria yang tidak mendengarkan banyak hal, maka hidupnya akan menjadi lebih." jawab Farhan yang membuat Zein semakin heran.


Farhan pun meraih sesuatu yang ada di dalam sakunya dan memberikannya pada Zein.


"Gunakan ini, maka hidupmu akan aman. Walaupun ini hanya sebuah kapas, tapi manfaatnya sangat bagus dan besar untuk kita sebagai para suami. Ini untukmu." ujar Farhan seraya memberikan dua buah kapas kecil.


Zein terkekeh melihat tingkah sang kakak yang lucu itu. Dengan menggunakan dua buah kapas berukuran pas untuk lubang telinga, maka hidup para suami akan jauh lebih tenteram menutur Farhan. Keduanya pun saling tertawa tapi Zein tetap menghargai pemberian Farhan.


"Zein..."


Saat Farhan dan Zein sedang asyik di halaman samping, tiba-tiba saja terdengar suara bariton yang berasal dari dalam rumah. Keduanya pun saling pandang lalu Farhan tampak mengangguk pada Zein seraya meraih bahunya.


Zein hanya mengangguk dan tersenyum. Lalu melangkah pergi menuju rumah dan menghampiri sumber suara yang sejak tadi sedang mencari dirinya.


"Ada apa Pa?" tanya Zein.


Ternyata suara bariton itu milik Umar yang sedang mencari Zein. Kini kedua pria berbeda generasi itu sudah berdiri dan saling berhadapan. Sejenak Umar memperhatikan sang putra yang tadi malam sempat membuatnya malu, kecewa dan marah di depan banyak orang. Tapi semarah-marahnya seorang ayah pada putranya, bagi seorang ayah putranya tetap lah putra kesayangannya. Sementara Zein, ia hanya tertunduk dan tidak berani menantang mata sang papa.


"Ayo ikut dengan Papa!!!" ujar Umar.


Umar pun berlenggang pergi dan diikuti oleh Zein. Entah ke mana Umar akan membawa putranya itu. Tapi yang pasti, Umar akan menunaikan janjinya pada Sonia untuk meluruskan pikiran Zein tentang pernikahannya dan Aliyya.


***


"Iya Tuan Pengacara..."


Seperti rencana awal, setelah berhasil memprovokasi sang adik ipar yang berada di Jogja, kini Sonia tampak sedang sibuk sendiri menghubungi pengacara keluarga. Pengacara keluarga yang akan mengurus kasus perceraian Aliyya dan Zein.


"Keduanya sudah siap untuk melakukan perceraian. Jadi saya minta agar semua berkasnya diurus dengan cepat. Karena saya ingin pernikahan mereka segera berakhir, itu saja." ujar Sonia yang pastinya dengan nada mengiba.


"Baiklah Nyonya." jawab Tuan Pengacara.


"Kalau begitu terima kasih banyak. Assalamualaikum."


Pembicaraan Sonia dengan pengacara pun berakhir dan tanpa sadar kalau Aliyya sudah berdiri di depan kamarnya yang terbuka lebar itu sejak tadi. Seringai licik pun terukir indah di wajah seorang Sonia saat melihat keberadaan Aliyya. Sementara Aliyya yang mungkin sudah mendengar semua pembicaraan Sonia, hanya bisa diam dengan sorot mata tajam yang menatap ibu mertunya itu.


Sonia pun beranjak dari duduknya dan berjalan mendekati Aliyya. Sementara Aliyya juga melangkah masuk ke dalam kamar Sonia.


"Aliyya... Mama sudah membicarakan masalah perceraian dirimu dan Zein. Kamu tidak perlu khawatir dengan dirimu sendiri, Zein atau teman-teman kalian." ujar Sonia dengan senyum tipis penuh kebencian untuk Aliyya.

__ADS_1


"Memang kapan aku membicarakan masalah perceraian pada Mama? Lagi pula akan menjadi kesalahan yang sangat fatal jika melanjutkan perceraian. Aku dan Zein tidak akan pernah bercerai, Ma." jawab Aliyya dengan santai dan tersenyum penuh arti pada Sonia.


"Apa yang kamu katakan Aliyya? Di saat dua orang dalam hubungan pernikahan tidak ingin hidup bersama, lalu apa yang harus kita lakukan selain perceraian? Di dalam agama kita dianjurkan untuk tidak saling memaksakan kehendak dan keputusan yang paling baik untuk masalah kalian itu adalah dengan bercerai." timpal Sonia yang masih kekeuh.


"Tapi di dalam agama kita juga mengajarkan, kalau tahap perceraian itu adalah langkah yang paling akhir. Dalam sebuah hubungan rumah tangga, suami dan istri harus bisa memperbaiki hubungan pernikahannya dan meluruskan kesalahpahaman di anrata mereka sebelum mengambil langkah perceraian. Seharusnya Mama lebih mengerti akan hal sebesar ini dan mengatakannya pada Zein. Karena kalau Mama hanya diam saja, maka itu akan menjadi kesalahan Mama sendiri yang sudah memutuskan sepihak hubungan putra Mama dengan istrinya!!!" ujar Aliyya yang semakin berani menantang dan menjawab perkataan Sonia.


Aliyya terus tersenyum menanggapi semua perkataan ibu mertuanya itu. Dengan santai dan percaya dirinya, Aliyya pun melangkah pergi meninggalkan Sonia yang mendengus kesal. Wajah Sonia yang tadinya berbinar kerena menjalani rencana, kini berubah menjadi sangat masam, bahkan lebih masam dari jeruk nipis karena benci pada Aliyya.


***


"Aku minta maaf, Pa. Seharusnya aku tidak melakukan hal itu tadi malam."


Suasana pagi nan cerah membuat dua pria yang tak lain ayah dan anak itu memilih untuk berjalan-jalan di sekitar taman di dekat rumah mereka. Seraya berjalan, Umar dan Zein tampak membuka alas kaki mereka sehingga jalan santai di pagi ini terasa lebih nikmat.


"Setidaknya kamu sudah menyadari kesalahanmu, Zein. Papa merasa sedih karena kamu telah menghina dan menganggap buruk sebuah hubungan yang sakral seperti pernikahan. Kamu juga sudah menghina Aliyya di depan banyak orang dan membuatnya malu." jawab Umar yang berjalan beriringan di samping putranya.


"Aku minta maaf, Pa. Tapi aku benar-benar tidak bahagia dengan pernikahan ini. Pernikahan ini terjadi di luar kehendak dan keinginan diriku." ujar Zein yang berbicara jujur pada sang papa dan mengungkapkan isi hatinya.


"Kamu ingat, Nak!!! Saat Papa memintamu untuk sekolah di sebuah asrama dan tanpa persetujuan darimu Papa langsung mengirim kamu ke sana. Awalanya kamu sangat marah, tapi setelah bertahun-tahun kamu di sana, menuntut ilmu dan beradaptasi, lalu kamu pulang dalam keadaan yang sangat bahagia, bahkan kamu sangat percaya diri." tutur Umar yang memilih duduk di kursi taman.


"Iya, Pa. Keputusan Papa itu sangat tepat." jawab Zein yang merasa tenang dan tersenyum.


"Tapi ada satu keputusan Papa yang salah besar untukmu, Zein." ujar Umar yang menerawang.


"Apa Pa?" tanya Zein yang penasaran.


"Keputusan Papa mengirim dirimu ke London. Padahal kamu tidak mengingkan hal itu." jawab Umar.


"Tidak, Pa. Justru keputusan Papa yang satu itu yang membuat hidupku sempurna. Sejak kecil aku memang ingin sekali pergi ke London dan keputusan itu sangat tepat bagiku." ujar Zein yang meyakinkan sang papa.


"Jadi keputusan Papa mengirim kamu ke London itu benar menurutmu?" tanya Umar yang memastikan.


"Iya Pa, itu sangat tepat." jawab Zein yang tersenyum.


Umar pun menghela nafas panjang dan beranjak dari kursi, berjalan membelakangi Zein yang masih duduk di kursi taman.


"Lalu kenapa kamu tidak bisa menerima keputusan ini? Aliyya itu gadis yang sangat baik. Sabrina dan Galuh membesarkannya dengan penuh kasih sayang dan cinta. Zaman sekarang sangat sulit menemukan gadis seperti itu." tutur Umar yang masih membelakangi Zein.


Zein pun menghela nafas kasar lalu beranjak dan berjalan mendekati sang papa. Sementara Umar memutar tubuhnya dan meraih bahu Zein yang sudah berdiri di sampingnya.


"Papa hanya meminta satu hal darimu, Nak. Berikan satu kesempatan untuk hubunganmu dan Aliyya. Rangkai awal yang baru bersamanya dan Papa jamin, kalau suatu saat nanti kamu tidak akan pernah menyesal." tutur Umar yang tersenyum seraya mengusap bahu sang putra.


Zein hanya diam, tidak menjawab perkataan sang papa. Sementara Umar memilih untuk duduk di kursi taman dan membiarkan putranya itu merenung sehingga Zein bisa berpikir kalau hubungan ini akan menjadi hubungan yang sangat indah nantinya.


Kita lihat saja, Pa. Aku dan keponakan Papa itu sudah memberikan satu kesempatan untuk hubungan ini, dan kesempatan itu hanya berlaku selama satu bulan. Setelah satu bulan aku sangat yakin, kalau keponakan Papa itu akan meninggalkan aku dan pergi dari rumah. Papa salah menilai gadis itu untukku karena dia bukanlah gadis yang terbaik. Gumam Zein dalam hati.


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

__ADS_1


__ADS_2