Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 16 ~ Pagi Pertama


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Apa yang sedang kamu lakukan Farhan?"


Suasana pagi yang sangat cerah cocok sekali untuk berolahraga. Itulah yang kini tengah Umar dan Farhan lakukan di halaman samping rumah mereka. Kedua pria berbeda generasi itu tengah asyik menikmati cuaca cerah di pagi ini.


Umar yang telah mengakhiri aktifitas olahraga, sedang menikmati secangkir teh hangat seraya duduk membaca koran. Sementara Farhan, pria beristri dua itu tampak sedang duduk di sebuah alas dan menikmati udara segar.


"Aku sedang yoga, Pa. Papa mau ikut yoga denganku?" jawab Farhan yang masih asyik melakukan olahraga yoga menurutnya itu.


"Ah, tidak. Lanjutkan saja yogamu itu." ujar Umar seraya menyeruput secangkir teh hangat.


Farhan pun melanjutkan aktifitasnya olahraga yoga yang sesekali membuat Umar terkekeh ketika melihat aksi Farhan saat olahraga yoga.


"Apakah itu yang selalu kamu lakukan setiap pagi Farhan?" tanya Umar lagi yang sesekali terkekeh melihat putra sulungnya itu.


"Tentu saja, Pa. Dengan cara mengambil nafas dalam-dalam lalu dikeluarkan seperti ini, hidup kita rasanya lebih ringan dan sehat. Papa akan rugi kalau tidak mencobanya." jawab Farhan.


"Tapi kita bernafas setiap pagi, Nak." timpal Umar yang kembali terkekeh melihatnya.


Farhan hanya memutar bola matanya jengah ketika mendengar perkataan sang ayah lalu pria beristri dua itu kembali melanjutkan yoga yang menurutnya menyenangkan itu.


"Lebih baik kamu berenang saja, Farhan. Atau pergi lah ke tempat olahraga gym dari pada di sini dan melakukan aktifitas konyol itu." timpal Umar seraya menggelengkan kepalanya.


"Kalau olahraga itu urusan Papa dan Zein, karena kalian menyukai olahraga berat itu. Kalau aku tidak terlalu menyukai olahraga yang terlalu berat, karena aku tidak suka kerja keras." jawab Farhan dengan santainya.


Umar hanya bisa menggelengkan kepala saat mendengar perkataan Farhan. Di antara kedua putranya itu, Farhan memang tipe pria yang tidak menyukai pekerjaan yang terbilang berat dan hal itu yang menyebabkan pria tampan itu lebih cenderung patuh pada sang ibu.


"Papa lihat! Sepertinya putra kesayangan Papa itu belum bangun juga. Padahal dia memasang alarm jam enam pagi, tapi sampai saat ini anak itu tidak bangun juga." ujar Farhan seraya yoga.


"Biarkan saja adikmu itu. Dia pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh." jawab Umar yang tetap fokus membaca koran.


Farhan tetap melanjutkan aktifitasnya tanpa menghiraukan perkataan Umar.


***


Drrrrttt!


Drrrrttt!


Drrrrttt!


Suara getaran ponsel yang terletak di atas nakas tempat tidur, berhasil mengusik tidur Aliyya dan membuatnya terbangun. Aliyya pun menghela nafas kasar saat melihat ponsel Zein yang sejak tadi bergetar karena alarm. Namun si empunya ponsel sepertinya tidak terusik sedikit pun dengan suara itu. Dengan jengah, Aliyya berusaha meraih ponsel yang ada di atas nakas dan posisinya berada di seberang Zein.


Perlahan Aliyya berusaha menjangkau ponsel itu dengan tangannya tanpa mengusik Zein yang masih terlelap dan usahanya berhasil. Setelah alarm ponsel Zein mati, Aliyya menarik kembali tubuhnya dan hendak menjauhi dirinya dari tubuh Zein.


Grep!


Namun ketika Aliyya hendak menarik tangannya, tiba-tiba Zein yang masih terlelap tampak memangku tangan gadis itu dan membuatnya terkejut. Kini posisi tangan Aliyya berada di dalam pangkuan tangan Zein.


"Dasar anak manja!!! Lepaskan tanganku!!!" tandas Aliyya dengan suaranya yang kecil.


Aliyya terus berusaha melepaskan kungkungan tangan Zein yang kuat memangku tangannya, tapi tenaganya yang kecil membuat gadis itu kesulitan menghadapi kekuatan Zein walaupun pria itu masih tertidur pulas.


Drrrrttt!


Sejurus kemudian, Aliyya menoleh ke arah ponselnya yang tiba-tiba bergetar. Namun karena tangannya yang masih terjebak di dalam pangkuan Zein, membuatnya sulit menjangkau ponsel miliknya yang terletak di sisi bantal.


Bukan Aliyya namanya jika ia harus menyerah dengan cepat. Tanpa melepaskan tangannya, gadis itu tampak meraih ponselnya dengan menggunakan kaki dan usahanya berhasil lagi.


"Assalamualaikum Ibu..." ucap Aliyya.


"Wa'alaikumsalam... bagaimana kabarmu di sana Nak? Semuanya baik-baik saja 'kan? Maaf kalau Ibu telah mengganggu waktu pagimu." ujar Sabrina dari seberang sana.


"Kenapa Ibu selalu mencemaskan aku? Tentu saja aku baik-baik di sini, Bu. Ibu jangan cemas lagi ya." ujar Aliyya yang menenangkan Sabrina.


"Ya, Ibu tau kalau kamu dan Zein pasti akan baik-baik saja. Lalu di mana suamimu Nak? Ibu ingin bicara dengannya." jawab Sabrina yang menanyakan Zein.


"Zein... Zein sedang..."


"Aku di sini, Bi." potong Zein yang terbangun dan langsung merebut ponsel Aliyya.


Tingkah Zein sontak membuat Aliyya terkejut. Pasalnya sejak tadi pria itu belum terbangun tapi setelah mendengar suara sang bibi dari ponsel Aliyya, berhasil mengusik ketenangan Zein dan bergegas merebut ponsel gadis itu.


Aliyya hanya mendengus kesal dengan tingkah Zein. Lalu Aliyya memilih untuk beranjak dari tempat tidur dan masuk ke pergi kamar mandi.


"Zein... bagaimana kabarmu Nak?" ujar Sabrina yang senang mendengar suara Zein.

__ADS_1


"Kabarku tentu saja baik, Bi. Bibi tidak perlu mencemaskan Aliyya karena aku yang akan selalu melindunginya." jawab Zein seraya melirik Aliyya yang masuk ke kamar mandi.


"Syukurlah kalau begitu. Bibi sangat senang mendengar perkataanmu, Zein." ujar Sabrina.


"Bibi tenang saja ya. Putrimu itu memang sedikit bandel dan pendiam tapi aku bisa mengatasi semuanya, Bi." jawab Zein yang tersenyum seraya duduk di tepi tempat tidur.


"Ya sudah, kalau begitu Bibi tutup dulu ya. Sampaikan salam Bibi pada Aliyya. Nanti kita bicara lagi. Assalamualaikum." ujar Sabrina.


"Wa'alaikumsalam..."


Sambungan telepon pun berakhir, Sabrina menghela nafas lega setelah berbicara dengan kedua anaknya itu. Ya, Zein bukan hanya keponakan baginya, tapi juga seorang putra di rumahnya. Bukan karena Zein anak dari Umar, melainkan karena Zein juga bagian dari hidup putrinya mulai sekarang.


"Setelah berbicara langsung dengan Zein, sepertinya aku tidak perlu mengkhawatirkan mereka lagi. Semua akan baik-baik saja karena Zein bukan anak yang jahat dan tidak akan pernah menjadi jahat."


***


"Papa..."


Setelah puas melakukan aktifitas yoganya, Farhan pun duduk di samping sang ayah yang tengah sibuk membaca koran berita hari ini.


"Ada apa Farhan?"


"Aku ingin mengatakan sesuatu, Pa."


"Ya, katakan saja."


Farhan pun menghela nafas panjang, entah apa yang akan pria tampan itu katakan pada Umar.


"Menurutku, Papa sudah sangat benar untuk menikahkan Zein dengan Aliyya karena hanya gadis seperti Aliyya yang bisa mengurus Zein. Tapi anak itu belum menyadari, bahwa Aliyya bisa mengurusnya dengan baik." tutur Farhan.


Umar yang tadinya fokus pada koran, menoleh ke arah Farhan dan menatapnya dengan heran.


"Aku tau kalau aku ini bukan putra yang bisa Papa banggakan karena aku telah membuat kesalahan. Aku putra yang sangat buruk dan tidak bisa menjadi contoh untuk Zein. Tapi berkat keputusan Papa itu, aku ikut senang karena akhirnya Zein bisa menikah dengan gadis yang sangat tepat untuk hidupnya." tutur Farhan lagi yang memalingkan wajahnya.


"Ya, kamu benar sekali Nak. Papa sangat yakin kalau Aliyya bisa mengurus Zein dengan baik, bahkan sangat baik nantinya. Tapi apa yang kamu katakan tadi? Kamu putra yang buruk?" jawab Umar yang melihat sembarangan arah lalu menoleh ke arah Farhan.


Farhan pun hanya menganggukan kepalanya, sepertinya pria tampan itu tengah menyesali sesuatu yang pernah ia lakukan di masa lalu. Tapi apa masalah itu? Entahlah, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.


"Kamu itu putra sulung Papa! Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu. Kamu memang pernah membuat kesalahan, tapi tidak apa-apa. Papa tetap menyayangimu seperti Papa menyayangi Zein. Kamu harus ingat itu!" ujar Umar seraya meraih bahu sang putra sulung.


"Maafkan aku Pa..." ucap Farhan.


"Baiklah Pa..."


Farhan pun beranjak dari sisi sang papa dan melanjutkan aktifitas yoganya yang memang belum selesai. Sementara Umar, pria paruh baya itu tampak tersenyum simpul melihat putra sulungnya itu.


"Sebentar lagi jusmu akan segera datang!" sahut Umar seraya memainkan alis matanya.


Farhan hanya menghela nafas kasar seraya memutar kedua bola matanya efek jengah dengan candaan sang papa yang mengejek dirinya.


***


"Selamat Pagi Ma..."


Sonia yang baru saja turun dari tangga semakin dibuat tidak bersemangat ketika berpapasan dengan kedua menantunya itu. Namira dan Shafia yang menyapa seraya membawa gelas berisi jus buah di tangan masing-masing.


Namira yang baru menyadari gelas jus di tangan Shafia tampak mendengus kesal. Sementara Shafia pun juga demikian. Keduanya saling melempar tatapan tajam tak mau kalah untuk memberikan perhatian pada sang suami.


Sonia pun menghela nafas kasar ketika mengetahui maksud dari tatapan kedua menantunya itu. Lalu di saat bersamaan, Bi Sumi yang baru keluar dari dapur seraya membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat pun berjalan hendak menaiki tangga.


"Bi Sumi..."


"Iya Nyonya... ada yang bisa saya bantu?"


"Tolong berikan kedua jus ini pada Farhan di halaman samping." ujar Sonia seraya meraih kedua gelas di tangan Namira dan Shafia.


"Tapi saya ingin memberikan teh hangat ini untuk Nona Aliyya terlebih dahulu, Nyonya. Karena pagi ini adalah pagi pertamanya di rumah ini, jadi saya..."


"Kerjakan saja apa yang disuruh dan jangan membantah!!!" potong Sonia yang menatap tajam Bi Sumi.


"Baiklah Nyonya..."


Bi Sumi yang cukup mengenal Sonia pun terpaksa harus mengikuti keinginan majikannya itu terlebih dahulu. Bukan karena takut dipecat, melainkan karena tidak enak kalau di pagi hari seperti ini harus bertengkar. Lalu Bi Sumi pun berjalan menuju ke halaman samping untuk memberikan jus pada Farhan.


"Semua orang sudah bangun, tapi pasangan pengantin baru itu sepertinya belum bangun juga. Saat di Jogja Zein datang dan membuat keributan. Lalu hari ini dia bersikap tenang dan menerima pernikahan itu, seakan tidak pernah terjadi apa pun. Dengan begitu kita bisa..."


"Diamlah Shafia!!!" tandas Sonia yang langsung memotong perkataan Shafia.

__ADS_1


Namira pun tersenyum tipis melihat raut wajah Shafia seperti itu. Istri pertama Farhan tampak puas ketika melihat adegan demi adegan yang berhubungan dengan istri kedua suaminya itu. Senang dan puas pastinya melihat Shafia yang selalu dimarahi karena perkataannya yang tidak berguna.


"Selamat pagi Sonia..."


"Ah iya, selamat pagi juga Pa..."


Setelah selesai berolahraga pagi, Farhan dan Umar memilih untuk masuk ke dalam rumah. Bersiap hendak berangkat ke kantor dan melaksanakan aktifitas rutin setiap pagi di rumah, yaitu sarapan bersama. Melihat Sonia yang tengah berdiri di dekat tangga bersama Namira dan Shafia, membuat kedua pria itu menghampiri mereka.


"Ada apa Sonia? Sepertinya kamu lesu sekali." ujar Umar yang memperhatikan istrinya itu.


"Ah, aku tidak apa-apa, Pa. Hanya saja, aku ingin mengatakan sesuatu padamu." jawab Sonia yang memang tidak bersemangat.


"Apa itu?" tanya Umar yang penasaran.


"Pagi ini adalah pagi pertama Aliyya berada di rumah kita. Tapi sampai saat ini, dia belum bangun juga, Pa." jawab Sonia yang dinginnya.


"Oh, kalau masalah itu biarkan saja. Nanti kita juga akan bertemu dengannya saat sarapan bersama. Farhan... ayo cepat ganti pakaianmu." ujar Umar yang melihat Sonia lalu menoleh ke arah Farhan.


"Baiklah Pa..."


Sonia yang sejak tadi sudah dibuat kesal oleh Shafia harus menahan rasa kesalnya berkali-kali lipat karena jawaban Umar. Lalu Umar dan Farhan pun hendak beranjak dan berjalan menaiki tangga.


"Tapi Ma... bukannya pengantin baru yang seharusnya bangun lebih dulu dan lebih pagi dari kita lalu menyapa kita semua di sini?"


Seketika langkah kaki Umar dan Farhan terhenti saat mendengar pertanyaan Shafia. Sementara Sonia dan Namira yang mendengar itu, mereka semakin dibuat kesal dengan tingkah Shafia.


"Shafia... apakah saat Papa dan Farhan datang ke sini, kamu menyapa kami? Papa rasa kamu tidak melakukannya. Jadi kamu tidak perlu lagi bicara seperti itu karena sebentar lagi kita akan berkumpul untuk sarapan bersama." ujar Umar.


Tersinggung, mungkin itulah yang sempat dirasakan oleh Umar ketika mendapatkan pertanyaan dari istri kedua putra sulungnya. Setelah menjawab pertanyaan sang menantu, Umar pun berlenggang pergi dan diikuti oleh Farhan. Sementara Namira yang menyaksikan, semakin tersenyum puas penuh kemenangan.


"Lain kali berpikir lah lebih dulu sebelum mengatakan sesuatu di hadapan Umar!!!"


Sonia pun beranjak pergi, begitu pula dengan Namira. Sementara Shafia masih terdiam dan malu karena sejak tadi selalu salah di depan Sonia, bahkan Namira dan juga suaminya. Sungguh, memalukan sekali perbuatannya itu.


***


"Apa yang telah kamu lakukan Zein?"


Aliyya benar-benar dibuat syok oleh Zein ketika mendapati kopernya ada di dalam kamar mandi dan terletak di bawah shower yang tetap hidup. Bukan hanya koper saja yang basah, tapi baju Aliyya juga sudah basah semua karena ulah pria menyebalkan yang bernama Zein Abdullah.


"Memang apa lagi menurutmu? Kamu tidak lupa 'kan dengan perkataanku tadi malam, kalau aku akan membuat hidupmu sulit dan menderita di sini. Jadi, yang baru saja kamu saksikan itu adalah awal. Ini baru permulaan, keponakan kesayangan!!!" jawab Zein seraya bersandar dan berdiri di dekat pintu.


"Kamu benar-benar tidak punya hati, Zein!" tandas Aliyya yang berusaha menarik tas kopernya menjauhi shower.


Zein hanya menyeringai puas melihat Aliyya kesulitan seperti itu. Lalu pria itu langsung masuk ke kamar mandi setelah Aliyya berhasil membawa masuk kopernya yang sudah basah.


"Ya Allah... bagaimana ini? Semua pakaianku sudah basah karena ulah pria menyebalkan itu. Lalu bagaimana caranya aku keluar jika semua pakaianku basah?"


Aliyya pun membuka kopernya. Lalu membuka satu per satu pakaiannya dan berharap kalau masih ada pakaian yang terselip sehingga tidak basah terkena air. Namun usaha gadis itu tidak berhasil karena semua pakaiannya basah tanpa sisa.


Ceklek!


Aliyya terperanjat ketika mendengar suara pegangan pintu yang berbunyi dan terbuka.


"Astagfirullahalazim, ada apa ini Non? Kenapa semua pakaianmu basah seperti ini?" tanya Bi Sumi yang masuk ke dalam kamar Zein seraya membawa nampan berisi dua cangkir teh.


Aliyya pun terlihat panik ketika Bi Sumi masuk dan melihat kondisi kopernya yang basah.


"Tidak apa-apa kok, Bi. Pakaianku tidak basah semua. Bibi jangan khawatir ya." jawab Aliyya yang berusaha tenang dan menenangkan Bi Sumi.


"Lalu apa yang bisa Bibi bantu, Non?" tanya Bi Sumi yang sepertinya kasihan melihat Aliyya.


"Apakah Bibi mempunyai setrika? Boleh kah aku meminjamnya sebentar Bi?" tanya Aliyya seraya menggenggam tangan Bi Sumi dan menatapnya penuh harap.


"Ada Non, tunggu sebentar ya. Bibi ambilkan dulu di kamar Bibi." jawab Bi Sumi lalu pergi.


Aliyya pun menghela nafas lega dan terduduk lemas di tepi tempat tidur. Mata gadis itu juga tampak memerah karena menahan air matanya. Sikap Zein yang kejam seperti ini selalu saja mengundang air mata Aliyya untuk segera jatuh dan berurai.


"Aku harus kuat!!! Aku harus bisa menghadapi sikap Zein yang seperti anak-anak itu!!!"


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2