Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 19 ~ Selalu Salah


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Aliyya pun duduk termenung di dekat gerbang. Tanpa terasa bulir bening jatuh dari matanya, menemaninya di dalam keheningan. Memori otaknya pun terpaksa harus berputar sendiri tanpa disuruh dan mengingatkan kembali semua kata-kata keras yang keluar dari mulut suaminya.


Bulir bening itu terus mengalir di wajah cantik Aliyya. Sepertinya ia tengah meratapi nasib pernikahannya dengan Zein yang entah seperti apa ke depannya. Sementara sikap Zein yang semakin buruk padanya dan sering membuat air matanya terus mengalir. Tapi apa yang bisa ia lakukan selain berkorban untuk sang ayah.


"Aku harus tetap sabar dan kuat!!!"


***


"Aku akan bicara denganmu nanti, Zal."


Zein yang baru kembali dari luar setelah pergi bersama Rizal pun mengakhiri pembicaraan dari ponselnya. Seraya berjalan menuju lantai atas, Zein memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Bruk!


Saat hendak masuk ke dalam kamarnya, Zein berhasil dikejutkan dengan kondisi pintu kamarnya yang terkunci. Zein pun terdiam dan ingatannya kembali berputar pada perkataan Aliyya tadi malam.


"Ini pasti karena keponakan kesayangan. Dia sengaja mengunci pintu agar aku tidak bisa masuk dan mengganggu dirinya lagi. Dasar!"


Zein pun berlenggang pergi dan membiarkan pintu kamarnya yang masih terkunci.


***


"Sebenarnya apa yang sedang Mama rencanakan? Kalau Papa pulang dan melihat Aliyya duduk di luar bagaimana?"


Sonia yang tengah duduk di ruang tamu bersama kedua menantunya itu pun tampak menyeringai licik ketika mendengar pertanyaan Namira. Sementara Shafia malah tersenyum, seakan menyetujui apa pun rencana Sonia.


"Kamu tenang saja, Namira. Kita lihat saja nanti apa yang akan terjadi pada gadis itu." jawab Sonia yang berdiri membelakangi keduanya.


"Apa pun itu, rencana Mama pasti sangat bagus sampai Aliyya pergi keluar dan membawa tasnya." timpal Shafia yang terkekeh dan melirik ke arah Namira.


Namira yang melihat lirikan Shafia pun hanya mendengus kesal. Sementara Sonia hanya tersenyum licik saat mengingat kejadian tadi.


"Bi Sumi... tolong buatkan teh hangat untuk Aliyya yang saat ini sedang di kamar tamu dan jangan lupa berikan juga makanan untuknya." ujar Sonia yang melihat Bi Sumi melintas.


"Baiklah Nyonya..."


Bi Sumi pun pergi dan Sonia masih dengan seringai tajam di wajahnya. Sebenarnya apa rencana wanita paruh baya itu hingga Aliyya dibiarkan menunggu di luar sendirian. Kejam sekali!!!


***


"Terima kasih..."


Pelayan rumah pun berlenggang pergi setelah membukakan pintu kamar Zein yang terkunci. Sementara Zein langsung masuk dan duduk bersandar di atas sofa milik kamarnya itu.


"Akhirnya aku bisa menikmati kamarku yang dulu tanpa banyak bunga pengantin dan juga wanita itu pastinya."


Zein pun menghela nafas lega seraya duduk bersandar di atas sofa. Hembusan angin pun ikut masuk di sela-sela jendela kamarnya dan membuat Zein merasakan kenyamanan yang sangat luar biasa. Namun saat Zein tengah menikmati suasana damai dengan hembusan angin siang, tiba-tiba saja angin itu hilang dan menyadarkannya.


"Ck!!! Kenapa angin ini berhenti? Menyebalkan sekali."


Zein pun beranjak dan hendak keluar. Namun di saat kakinya hendak melangkah, tiba-tiba sudut matanya tertuju pada seseorang yang sedang duduk di luar, tepatnya di dekat gerbang rumah. Zein yang penasaran pun menoleh dan melihat ke jendela untuk melihat sosok itu.


"Aliyya... kenapa dia duduk di luar? Setelah mengunci pintu kenapa dia duduk di sana? Sedang merencanakan misi apa lagi dia?"


Zein yang penasaran pun heran saat melihat sang istri tengah duduk di atas koper seraya termenung di dekat gerbang.


Drrrrttt!


Ketika mata Zein tengah memperhatikan sang istri yang duduk di luar, tiba-tiba saja ponselnya bergetar lagi dan berhasil membuyarkan Zein. Lalu Zein pun langsung meraih ponselnya yang ada di dalam saku celananya dan melihat siapa nama orang di layar ponselnya itu.


"Bibi Sabrina..."


Seketika raut wajah Zein langsung panik saat melihat nama itu. Pastinya Sabrina akan menanyakan keberadaan Aliyya, sedangkan saat ini gadis itu sedang duduk termenung di luar sendirian. Zein pun menghela nafas kasar lalu mengangkat telepon dari sang bibi di sana.


"Assalamualaikum Bi..."


"Wa'alaikumsalam, Zein. Bagaimana kabarmu dan Aliyya? Kalian baik-baik saja?" jawab sang bibi di seberang sana.


"Tentu saja, Bi. Aku dan Aliyya sangat baik." jawab Zein yang berjalan mendekati jendela dan melihat Aliyya di bawah.


"Syukurlah, Bibi senang mendengarnya. Oh iya Zein, Bibi ingin bicara dengan Aliyya. Apakah Bibi boleh bicara sebentar dengan istrimu? ujar Sabrina di balik telepon.


"Tentu saja boleh, Bi. Tapi saat ini Aliyya sedang pergi keluar dan tidak ada di kamar. Nanti biar aku sampaikan pesan Bibi padanya." jawab Zein yang gugup dan berusaha tenang.

__ADS_1


"Ya sudah, tolong katakan pada Aliyya kalau Bibi menghubungimu ya." ujar Sabrina yang untung saja tidak menaruh curiga pada Zein.


"Baiklah Bi..."


Sambungan telepon pun terputus. Lalu Zein pun bergegas keluar dari kamar dan hendak menyusul Aliyya di luar untuk memberitahu gadis itu kalau ibunya menelponnya baru saja. Namun saat Zein sedang berjalan dan melewati ruang tamu, ia bertemu dengan Sonia, Namira dan juga Shafia.


"Zein... kamu mau ke mana Sayang?" tanya Sonia yang beranjak dari duduknya.


"Aku ingin memberikan ponselku pada Aliyya, Ma. Tadi Bibi sempat menghubungiku dan menanyakan Aliyya. Oh iya Ma, kenapa Aliyya bisa duduk di luar?" tanya Zein yang berjalan mendekati sang mama.


"Aliyya di luar? Maksudmu apa Zein? Gadis dari kota kecil itu memang sangat picik dan aneh. Kita tidak bisa menebak apa yang ada di dalam pikirannya. Ya sudah, biar pelayan saja yang akan memberikan ponselmu pada gadis itu." tutur Sonia yang pastinya berpura-pura tidak mengetahui semuanya.


"Tidak apa-apa, Ma. Biar aku saja yang memberikan ponsel ini padanya." jawab Zein.


Zein yang merasa aneh dengan sikap Sonia pun memilih untuk memberikan ponselnya langsung pada Aliyya. Sementara itu, Sonia tampak mendengus kesal mendengar jawaban sang putra.


"Apa kamu tidak tahan jauh dari gadis itu?"


Langkah Zein seketika terhenti saat mendengar perkataan Sonia. Namun Zein tidak terlalu menghiraukan perkataan itu dan malah diam. Lalu Zein hendak melanjutkan langkahnya dan menemui Aliyya. Tapi di saat bersamaan, Umar yang baru pulang bekerja pun masuk bersama Aliyya.


"Zein... kenapa kamu mengunci pintu kamar?" tanya Umar yang menatap tajam putranya itu.


Zein pun terhenyak saat mendengar pertanyaan sang ayah yang baru datang. Sementara dirinya pun juga tidak tau siapa yang telah mengunci pintu kamar itu. Mata Zein pun tertuju kepada Aliyya dengan sorot mata tajamnya. Sementara itu, Aliyya juga ikut menatapnya dengan tatapan penuh rasa kesal dan kecewa.


"Tapi aku tidak mengunci pintu kamar itu, Pa." jawab Zein yang melihat ke arah Umar lagi.


"Cukup Zein!!! Ini tidak lucu, ini penghinaan!!! Kenapa pintu kamar itu harus kamu kunci? Bukan kah kamar itu juga kamar Aliyya?" ujar Umar yang menatap tajam sang putra.


"Tapi aku benar-benar tidak menguncinya, Pa. Kenapa tidak Papa tanyakan saja pada orang yang menggunakan kamar itu setelah diriku?" jawab Zein yang membela diri lalu melirik ke arah Aliyya.


"Tapi aku tidak mengunci kamar itu, Zein. Bahkan aku tidak mempunyai kunci kamar." jawab Aliyya dengan suaranya yang tertahan.


"Zein..."


"Saat itu Zein sedang bersamaku, Pa." potong Sonia yang sejak tadi berdiri di belakang Zein.


Sonia yang mendengar dan melihat semua adegan itu hanya menyeringai puas sejak tadi. Inilah yang ia inginkan, menciptakan sebuah kesalahpahaman di antara putranya dan Aliyya dengan melibatkan Umar. Dengan begitu, Zein akan tersudut dan pria itu akan semakin benci pada Aliyya.


"Zein tidak mengunci kamar dan aku saksinya. Aliyya... coba jelaskan, bagaimana kamu bisa berada di luar Nak?" ujar Sonia yang melihat ke arah Umar lalu menoleh ke arah Aliyya.


"Tapi Mama yang memintaku untuk keluar dan...."


"Oh maksud Mama keluar adalah ke rumah tamu, Aliyya. Bukan keluar rumah. Bahkan Mama juga sudah meminta Bi Sumi untuk mengantarkan makanan untukmu di sana." potong Sonia seraya meraih bahu Aliyya.


Bi Sumi yang membawa makanan serta gelas minuman pun datang. Raut wajahnya tampak panik karena tidak menemukan Aliyya.


"Kamu dari mana saja Sayang?" tanya Bi Sumi yang terlihat lega setelah bertemu Aliyya.


"Aku..."


"Sepertinya kamu salah paham, Aliyya. Mama minta maaf ya. Mungkin saat itu Mama kurang memberikan penjelasan padamu. Sekarang ini, kunci kamarmu sudah terbuka. Pergilah, masuk ke kamarmu dan beristirahat karena kamu pasti lelah." potong Sonia seraya meraih bahu Aliyya.


Aliyya benar-benar dibuat heran dengan sikap Sonia. Heran, bingung dan aneh. Kenapa sang mama mertua berbicara seperti itu di hadapan Umar dan Zein, seakan dirinya lah yang telah bertindak ceroboh dan bodoh di rumah besar ini. Aliyya hanya mematung seketika, bahkan untuk memberikan penjelasan saja ia selalu dipotong oleh Sonia. Sementara Umar yang ikut merasa heran, hanya berusaha menenangkan Aliyya.


"Masuklah ke kamarmu, Nak. Karena nanti malam, kita akan membicarakan acara resepsi pernikahanmu dan Zein yang akan diadakan besok sore." ujar Umar yang masih merangkul bahu Aliyya.


"Baiklah Pa..."


Aliyya pun pergi dan diantar oleh Bi Sumi menuju kamarnya. Sementara Zein, Sonia, Namira dan Shafia, mereka tampak sangat terkejut dengan yang baru saja Umar katakan.


"Jadi Papa tetap mengadakan resepsi itu?" tanya Zein yang sangat terkejut dan kecewa.


"Zein... kenapa kamu bertingkah seperti anak kecil seperti ini? Aliyya itu istrimu dan dia itu tanggung jawabmu sekarang. Papa ingin kamu bertanggung jawab, Zein! Dan masalah resepsi, kamu tidak boleh menolaknya lagi karena Papa sudah mempersiapkan semuanya untuk itu!!!" tutur Umar yang menegaskan sang putra.


Zein yang marah pun mendengus kesal lalu berlenggang pergi, begitu juga dengan Umar. Sementara Sonia memilih untuk menyusul putranya yang tengah meredamkan emosi di halaman samping.


"Tenangkan dirimu, Zein. Mama tau kamu sedang kesal tapi jangan membuatmu benci pada papamu sendiri, Nak." ujar Sonia yang berusaha menenangkan Zein.


"Aku benar-benar sudah muak dengan semua ini, Ma. Gadis itu yang telah mengunci pintu lalu dengan seenaknya dia pergi keluar rumah dan menunggu Papa pulang. Dengan begitu aku yang selalu salah di mata Papa. Ini sangat tidak adil dan menyebalkan sekali, Ma. Aku sangat membencinya dan aku sudah tidak tahan dengan semua drama ini!!!" tutur Zein seraya mengacak kasar wajahnya.


Sonia tampak menyeringai puas lagi setelah mendengar perkataan sang putra. Zein tidak tau saja kalau pintu itu memang sengaja ia kunci untuk menciptakan kebencian di hati Zein pada Aliyya dan rencananya berhasil.


"Mama mengerti dengan perasaanmu, Nak. Kamu pikir Mama tahan melihat sikapnya? Apalagi gadis itu sudah menciptakan dinding yang teramat tinggi di antaramu dan papamu. Mama bisa memaafkan apa pun kesalahan Aliyya, kecuali yang satu ini, Zein. Mama sangat mengenal papamu dan Mama yakin, hari ini atau pun besok, papamu akan sadar seperti apa keponakan kesayangannya itu. Mama akan membantumu dengan cara Mama sendiri, Zein. Kamu jangan khawatir." tutur Sonia yang meraih bahu sang putra.


Zein pun hanya terdiam. Entah ia setuju dengan perkataan Sonia, entah tidak. Tapi dari raut wajahnya yang masih memerah, sepertinya pria itu sudah pasrah dengan tindakan Sonia untuk mengakhiri pernikahannya dengan Aliyya.

__ADS_1


"Pergilah ke kamarmu dan beristirahat. Nanti malam kita akan bicarakan masalah resepsi." ujar Sonia seraya mengusap bahu Zein.


"Tapi aku tidak menginginkan resepsi itu, Ma." jawab Zein yang menatap tajam Sonia.


"Tidak baik bersikap seperti itu pada papamu, Zein. Dia sudah menyiapkan semuanya hanya untukmu." ujar Sonia yang tentunya tidak tulus.


"Tapi aku tetap tidak mau, Ma! Titik!" tandas Zein lalu pergi meninggalkan Sonia.


Sonia pun tersenyum puas melihat respon Zein yang memang itulah tujuan rencananya. Sangat licik dan kejam!!! Ibu mertua macam apa yang sedang Aliyya hadapi saat ini dan entah kenapa Sonia sangat membenci Aliyya. Itu yang masih menjadi misteri sampai detik ini.


***


"Dari mana saja kamu, Zein?"


Aliyya yang baru saja selesai sholat ashar pun melihat Zein masuk tanpa mengucap salam. Namun Zein tampak tidak menghiraukan sang istri yang bertanya padanya dan ia terus saja berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Aliyya hanya menghela nafas panjang seraya mengurut dadanya agar tetap sabar dalam menghadapi sikap Zein. Tidak berselang lama, Zein pun keluar dari kamar mandi dan bajunya sudah bertukar lagi.


"Zein... kamu mau ke mana? Nanti malam Papa ingin membicarakan masalah acara resepsi itu dan kita harus mengikutinya." ujar Aliyya seraya meraih lengan Zein saat ia hendak pergi keluar.


Zein pun menoleh tajam ke arah Aliyya dan tatapan kebencian itu semakin tampak jelas dari matanya. Sementara tangan Aliyya masih memegangi lengan Zein dan ikut menatapnya.


"Hubungan yang didasari dengan kebohongan dan kepalsuan, tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang sejati." ujar Zein yang masih menatap tajam Aliyya seraya melepas tangan gadis itu dari lengannya.


"Lalu bagaimana jika kebohongan itu adalah takdir dalam hidup seseorang?" tanya Aliyya yang menatap nanar sang suami.


"Itu bukan takdir dan hal itu tidak akan pernah terjadi. Kalau kamu tetap ingin mengadakan acara resepsi itu, silakan saja. Duduk di atas pelaminan dan tebar kebahagiaanmu sendiri!" tandas Zein yang berlalu pergi meninggalkan Aliyya.


Zein pun pergi entah ke mana dan membiarkan Aliyya termenung setelah mendengar kata demi kata yang terucap dari mulutnya. Sementara itu, Aliyya hanya bisa menghela nafas panjang dan berusaha untuk tetap sabar menghadapi sikap Zein yang semakin tidak membencinya.


***


Malam pun datang dan kini semua orang terlihat sedang berkumpul di ruang tamu.


Aku yakin, Zein tidak akan ikut membicarakan masalah acara resepsi pernikahan yang Umar rencanakan itu. Gumam Sonia dalam hati.


Umar tampak sedang sibuk dengan ponselnya. Sementara Farhan, Namira dan Shafia tampak duduk bersebelahan. Lalu Sonia sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Nah, itu Aliyya." ujar Umar yang melihat Aliyya.


"Maaf Pa, kalau aku terlambat." ujar Aliyya yang berdiri di samping Umar.


"Tidak, Aliyya. Kamu datang tepat waktu. Ayo, duduklah. Oh iya, di mana Zein?" jawab Umar yang malah bertanya keberadaan putranya.


"Zein... Zein tidak mau ikut membahas masalah resepsi ini, Pa." jawab Aliyya yang cukup gugup.


Raut wajah Umar seketika berubah menjadi pias dan tidak percaya kalau putranya itu benar-benar tidak menginginkan resepsi di pernikahannya bersama Aliyya. Sementara Sonia yang mendengar itu tampak tersenyum puas karena ia berhasil mempengaruhi Zein.


"Jangan mengatakan apa pun yang tidak kamu ketahui!!!"


Suara bariton itu tiba-tiba datang dan mencuri perhatian semua orang. Kini raut wajah Sonia yang berubah menjadi pias saat melihat Zein datang. Itu artinya, sang putra akan ikut untuk membahas masalah resepsi pernikahannya. Sementara Umar tampak tersenyum dan tentu saja senang karena putra kesayangannya itu tidak membuatnya kecewa untuk kedua kalinya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan Al? Itu akan menimbulkan kesalahpahaman lagi nanti." ujar Zein yang datang dan berdiri di samping Aliyya.


Aliyya hanya diam, berusaha mencari sesuatu di mata Zein dan benar saja, Aliyya bisa melihat kalau suaminya itu sedang bersandiwara saat ini agar Umar tidak marah lagi padanya.


"Baiklah kalau begitu. Mari kita berkumpul." timpal Umar yang kembali bersemangat.


Aliyya pun mengangguk dan hendak duduk. Namun saat Aliyya akan melangkah, tangan Zein lebih dulu mencekam tangannya lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Aliyya.


"Jangan senang dulu! Memang apa yang kamu pikirkan tentang ini? Kamu yang telah memulai permainan ini dan aku akan mengikuti semua permainanmu. Tapi khusus malam ini, kamu lah yang harus mengikuti permainanku karena aku akan memenangkan permainan ini!" tandas Zein yang berbisik di telinga Aliyya.


Zein pun melepaskan cengkraman tangannya di tangan Aliyya dan memilih duduk. Lalu Aliyya juga mengikuti Zein dan pembahasan mereka pun dimulai. Selama pembahasan berlangsung, Sonia tampak tidak bersemangat. Itu semua karena Zein yang seharusnya tidak datang dan meninggalkan Aliyya, tapi dia malah datang.


Aku tidak boleh membiarkan Zein berdekatan terus dengan gadis kampung tidak tau diri itu. Gumam Sonia dalam hati.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2