Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 17 ~ Masalah Resepsi


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Terima kasih Bi Sumi..."


Bi Sumi hanya mengangguk dan tersenyum pada Aliyya. Sementara itu, Aliyya langsung bergegas mengambil salah satu pakaiannya yang basah untuk ia setrika sampai kering. Setelah membantu Aliyya dan meletakkan nampan berisi dua cangkir teh hangat di atas nakas, Bi Sumi pun keluar dari kamar Zein.


Sebenarnya Bi Sumi ingin sekali membantu Aliyya agar gadis itu bisa bersiap-siap untuk sarapan bersama yang akan dilaksanakan kurang dari lima belas menit lagi. Namun Aliyya menolaknya karena ia tidak ingin merepotkan Bi Sumi dan akhirnya gadis itu terburu-buru melakukan semuanya sendiri.


"Aku harus cepat! Kalau tidak Paman akan marah padaku dan menganggapku pemalas."


Aliyya terus menyetrika pakaiannya yang basah kuyup itu. Sementara Zein yang sudah selesai mandi dan rapih dengan balutan baju kaos dan jaket santainya, keluar dari kamar mandi. Lalu menghampiri Aliyya yang tengah sibuk.


"Apa yang sedang kamu lakukan? Menyetrika pakaian?" tanya Zein yang meledek Aliyya.


"Memang kenapa? Masalah juga untukmu. Apakah semua yang aku lakukan di dalam kamar ini salah?" tanya balik Aliyya tanpa menoleh ke arah Zein.


"Dengar keponakan kesayangan Papa! Seperti yang telah aku katakan tadi malam, kamu tidak mempunyai hak apa pun di kamar ini! Jadi aku bebas untuk berteriak, berlari bahkan membuat masalah denganmu di sini! Dan kamu, tidak berhak mengaturku!!!" ujar Zein yang menatap tajam Aliyya.


"Dengar Tuan Zein Abdullah yang terhormat! Aku juga mempunyai hak yang sama di dalam kamar ini. Aku juga sudah mengatakan hal itu padamu 'kan? Kalau bukan karena ayahku, aku tidak akan mau menikah denganmu." jawab Aliyya yang menoleh ke arah Zein.


"Aku tidak peduli dengan semua perkataanmu! Waktumu tinggal lima menit lagi. Sebentar lagi Papa akan berangkat ke kantor. Jadi bergegas lah wahai keponakan kesayangan." ujar Zein.


Aliyya yang marah, emosi dan jengah dengan tingkah Zein semakin menatapnya. Tatapan kebencian itu kembali terlihat di mata kedua insan manusia yang terpaut usia satu tahun itu. Usia Zein yang lebih tua satu tahun dari Aliyya, ternyata tidak bisa mengalahkan sikap dewasa gadis cantik itu, dan hal itu terlihat dari cara Zein memperlakukan Aliyya bukan sebagai istri, melainkan seperti anak kecil yang tidak mau kalah.


Keduanya pun saling melempar tatapan tajam hingga tanpa sadar Aliyya sudah membiarkan setrika pakaian tetap hidup. Di saat keduanya larut dalam kebencian, tiba-tiba tercium bau gosong yang tidak jauh dari posisi Aliyya saat ini. Zein yang sudah menyadari bau itu hanya menyeringai pada Aliyya. Sementara itu, mata Aliyya membulat sempurna tatkala teringat dengan sesuatu yang tengah ia kerjakan lalu ia tinggalkan begitu saja untuk melawan Zein.


"Ya ampun..."


Aliyya terpekik saat melihat pakaiannya yang hangus karena setrika, dan itu membuat Zein tertawa lepas seraya berjalan keluar dari kamar.


"Selamat menikmati neraka, keponakan Papa!"


Aliyya terdiam seketika, berusaha mencari cara untuk menangulangi masalah ini.


***


"Selamat pagi semua..."


Zein yang keluar lebih dulu dari kamar, kini telah duduk di kursi meja makan dan ikut berkumpul dengan yang lainnya untuk sarapan.


"Selamat pagi Zein... di mana Aliyya? Kenapa kamu keluar sendirian?" jawab Umar seraya menoleh ke arah tangga dan mencari Aliyya.


"Aliyya... Aliyya masih tidur, Pa." jawab Zein yang jelas sekali berbohong pada semuanya.


Umar hanya menghela nafas panjang saat mendengar perkataan Zein. Sementara itu, Sonia dan Shafia tampak menyeringai puas karena mereka yakin, kalau Aliyya belum dan tidak akan terbiasa dengan hidup di kota besar. Lalu Farhan dan Namira, mereka tampak saling melempar pandangan heran mendengar itu.


"Wah kamu sudah berani membohongi Papa ya, Zein. Lihat itu! Itu Aliyya 'kan?" ujar Umar yang menoleh ke arah tangga lagi dan melihat Aliyya.


Zein dan Sonia pun menoleh ke arah tangga. Keduanya tampak tercengang saat melihat keberadaan Aliyya yang sudah cantik dengan balutan pakaiannya. Sementara Umar, Farhan dan Bi Sumi tampak tersenyum melihat Aliyya datang menghampiri mereka semua.


"Assalamualaikum semuanya..." ucap Aliyya.


"Wa'alaikumsalam..." jawab semuanya dengan ekspresi yang berbeda tentunya.


Entah bagaimana Aliyya bisa menyelesaikan masalah pakaiannya yang basah dan bahkan gosong karena setrika. Dan kini gadis cantik itu sudah berdiri di hadapan semua keluarga Zein dengan percaya dirinya.


"Duduklah Nak! Duduklah di sisi suamimu." ujar Umar yang tersenyum pada Aliyya.


"Baiklah Paman..."


Aliyya pun duduk di samping kursi Zein dan hal itu tidak luput dari perhatian Zein, Sonia, Shafia, Namira dan Farhan. Tatapan tajam berselimut benci terus mendarat untuk Aliyya dari Sonia. Sementara Zein, terus memperhatikan tingkah sang istri yang duduk di sampingnya.


"Paman... apakah aku datang terlambat?" tanya Aliyya yang menoleh dan melihat ke arah Umar.

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Nak. Kamu datang tepat pada waktunya dan tidak terlambat sedikit pun." ujar Umar yang sangat bersemangat dan berbinar.


Aliyya pun tersenyum lega dan puas seraya melirik ke arah Zein. Sementara Zein hanya mendengus kesal melihat sang ayah yang terus membela keponakan kesayangannya itu.


"Oh iya satu hal lagi, Aliyya. Jangan panggil Paman seperti itu lagi karena kamu bukan hanya keponakan, tapi juga menantu di sini. Jadi panggil Papa saja ya." ujar Umar yang tersenyum pada Aliyya dan Zein.


"Tapi Pa, bukan karena Aliyya sudah menikah lalu hubungan kalian akan berbeda. Dengan cara memanggil kamu paman saja itu sudah sangat bagus." timpal Sonia yang sepertinya keberatan dengan usulan Umar.


Umar hanya tersenyum membalas perkataan sang istri. Sementara Sonia langsung melihat ke arah Aliyya dan menatapnya dengan tajam.


"Selebihnya itu terserah padamu, Aliyya." ujar Sonia yang tersenyum namun tatapan tajam matanya mengandung banyak arti.


Aliyya yang melihat sorot tajam mata Sonia pun hanya bisa tersenyum kikuk.


"Sekarang apa yang ingin kalian lakukan untuk mempersiapkan acara resepsi?"


Sontak semua mata pun tertuju pada Umar. Semuanya tampak terkejut dengan rencana baru pria paruh baya dua anak itu. Apalagi Sonia yang sejak awal tidak menginginkan putranya menikah dengan Aliyya.


"Resepsi? Resepsi untuk apa Pa?" tanya Zein yang belum mengerti dengan hal ini.


"Sepertinya kamu harus menjelaskan tentang apa resepsi pernikahan pada suamimu itu, Aliyya. Sepertinya Zein belum paham betul dengan ritual pernikahan yang spesial satu itu." ujar Umar yang melihat ke arah Aliyya.


"Tapi kenapa harus diadakan resepsi Pa? Itu sangat tidak penting dan membuang waktu saja." timpal Zein yang tidak menerima usulan sang papa.


"Resepsi itu bukan hanya penting, Zein. Lebih baik kamu tanyakan saja tentang hal ini pada istrimu karena dia mengetahui banyak hal, termasuk tentang resepsi." ujar Umar yang tetap kekeuh ingin mengadakan resepsi.


Aliyya hanya menganggukan kepala seraya tersenyum pada sang paman. Sementara Zein semakin dibuat kesal, bahkan nafsu makannya hilang karena pembicaraan Umar.


"Oke, sepertinya Papa harus berangkat ke kantor dan singgah di panti asuhan untuk membayar nazar Papa." ujar Umar seraya hendak beranjak dan menoleh ke Sonia.


"Nazar apa Pa?" tanya Sonia yang heran.


"Papa pernah bernazar, kalau suatu hari nanti Zein bisa mendapatkan wanita yang terbaik di dunia dan menjadikan wanita itu sebagai istri, maka Papa akan memberikan santunan pada anak yatim sebagai rasa syukur Papa. Semua itu sudah terkabul sekarang dan Papa harus membayar nazar itu." tutur Umar yang melihat semuanya dan tersenyum.


Berbunga-bunga, itulah yang dirasakan oleh Aliyya saat ini. Perkataan sang paman seakan menjadi kekuatan dan semangat untuk dirinya. Sementara Sonia dan Zein, hanya terdiam dan saling pandang tidak suka dengan usulan itu.


"Tapi Pa, kami baru saja menikah dan apakah memang harus dibuat resepsi sehingga semua orang tau kalau kami sudah menikah?" timpal Zein yang masih keberatan dengan resepsi.


"Memang harus bahkan wajib, Zein. Iya 'kan Aliyya?" jawab Umar yang melihat ke Aliyya.


Aliyya hanya mengangguk dan tersenyum pada Umar. Sesekali ia melirik ke arah Zein. Matanya seketika memanas tatkala mendengar semua penolakan Zein, bahkan untuk mengadakan resepsi saja ia menolak dan mengatakan kalau resepsi tidak penting. Bagi seorang gadis yang sudah menikah, acara resepsi merupakan satu acara puncak yang sangat spesial bagi mereka. Namun apa yang terjadi jika suami dari wanita itu menolak untuk mengadakan resepsi? Pasti sangat sedih dan sakit hati. Walaupun Aliyya belum menerima Zein sepenuhnya sebagai suami, begitu juga sebaliknya, tapi bagi Aliyya acara resepsi adalah acara yang sakral. Tidak hanya sakral di depan keluarga besar, tapi juga sebagai wadah berbagi kebahagiaan yang kita miliki atas pernikahan itu sendiri.


"Tapi Pa, maksudku..."


"Yang Paman katakan itu sangat benar. Karena dengan adanya acara resepsi, pernikahan ini akan diketahui oleh banyak orang dan dengan resepsi juga pernikahan ini dapat dibenarkan." potong Aliyya yang tersenyum pada Umar.


Kini semua mata tertuju pada Aliyya.Gagasan yang baru saja ia katakan itu menarik semua perhatian orang, termasuk Sonia. Sementara Umar dan Farhan tampak tersenyum tatkala mendengar perkataan Aliyya. Lalu yang lainnya, termasuk Zein, hanya memandang jengah pada gadis yang duduk di sampingnya itu.


"Kamu benar sekali, Sayang."


Aliyya pun tersenyum lega karena setiap ide dan usulan darinya selalu saja mendapatkan dukungan penuh dari Umar. Sesekali Aliyya tampak melirik ke arah Zein yang juga ikut meliriknya.


Berani sekali gadis ini melawanku. Saat aku mengatakan resepsi tidak penting, dia malah mengatakan yang sebaliknya. Dan yang lebih parahnya lagi, Papa selalu mendukungnya. Gumam Zein dalam hati.


Aku minta maaf, Zein. Bukan maksudku untuk melawan dan menentang pendapatmu. Tapi yang dikatakan Paman sangat benar dan aku harus menyetujuinya. Karena hanya dengan cara inilah pernikahan kita akan diketahui oleh banyak orang, bahkan dunia. Dan dengan cara inilah, bukan hanya sebagai pengumuman tapi juga kesempatan untuk melengkapi pernikahan dan hubungan kita. Gumam Aliyya dalam hati.


Sarapan pagi pun terus berlanjut dan Umar yang tadinya hendak berangkat lebih dulu ke kantor ternyata harus ditunda karena Farhan. Sementara semuanya asyik menikmati sarapan yang dibuat langsung oleh Sonia.


Suasana sarapan pagi ini memang tampak sangat hikmat dan harmonis jika dilihat dari sisi luarnya saja, tapi tidak dengan di dalam. Ketika suasana sarapan pagi tengah hikmat, sejurus kemudian, Shafia yang duduk tepat berseberangan dengan Aliyya dan hendak mengambil sesuatu di depannya, tampak terbelalak saat melihat secara dekat baju yang digunakan oleh Aliyya.


Shafia yang tidak menyangka pun tersedak lalu beranjak dan berjalan mendekati Sonia.


"Permisi Ma, aku ingin mengambil air itu." ujar Shafia seraya mengambil sebuah teko cantik.

__ADS_1


Sonia hanya mengangguk tanpa melihat gerak gerik menantunya itu. Lalu...


"Sepertinya Aliyya memakai kaos Zein, Ma!"


Sonia langsung menoleh ke arah Aliyya saat mendengar perkataan Shafia yang berbisik di telinganya. Sementara Shafia kembali duduk ke tempatnya semula. Mata Sonia menatap lekat pakaian yang digunakan oleh Aliyya dan benar kalau gadis itu memakai baju kaos Zein yang sengaja ia tutupi dengan sweater rajut miliknya.


Zein yang duduk di samping sang ibu pun ikut dibuat heran. Lalu perlahan Zein menoleh ke arah Aliyya yang sedang menikmati sarapan dan sesekali tampak membenarkan sweater tatkala sweater itu menampakan baju kaos di dalamnya. Seketika mata Zein membulat lebar ketika melihat baju yang tak asing baginya.


Oh, jadi gadis ini memakai bajuku dan menutupinya dengan sweater agar semua orang tidak bisa melihatnya. Sangat cerdik. Gumam Zein dalam hati.


***


Hari pun semakin siang. Sang raja siang tampak menyinari bumi dengan cahayanya. Kini Aliyya tengah berada di dalam kamar dan tampak sedang menyetrika baju kaos Zein yang sempat ia gunakan di saat sarapan tadi pagi.


Ceklek!


Suara pintu terbuka berhasil mengejutkan Aliyya yang tengah menyetrika baju. Saat gadis itu menoleh ke belakang, ternyata Zein lah yang masuk tanpa mengucapkan salam.


"Apakah kamu sudah lupa bagaimana caranya untuk mengucapkan salam sebelum masuk?" tanya Aliyya yang menatap jengah Zein.


"Siapa yang menyuruhmu berbicara, hah!?" tandas Zein seraya mencekam tangan Aliyya.


"Lepaskan tanganku, Zein! Kamu menyakitiku." ujar Aliyya yang berusaha melepas tangannya.


"Dengar!!! Aku tau semuanya dan kamu terus saja berusaha untuk melawanku di setiap ada kesempatan. Dan masalah resepsi itu, kenapa kamu menerima keputusan bodoh itu lagi!?" tandas Zein seraya mencekam tangan Aliyya.


"Dengarkan aku dulu, Zein. Aku menerima rencana Paman karena......"


"Karena kamu ingin semua orang tau kalau seorang Aliyya yang baik adalah istriku dan menantu di rumah ini? Kenapa tidak sekalian saja dipasang papan pengumuman untuk di seluruh penjuru kota!!!" tandas Zein yang memotong seraya mendorong Aliyya sehingga tubuh gadis itu terhuyung ke belakang.


"Kamu pikir aku mau mengadakan resepsi ini! Aku menerima keputusan Paman karena acara ini bukan hanya sekedar pengumuman, tapi ini wajib dilakukan bagi setiap orang yang sudah menikah!" tandas Aliyya seraya menatap nanar Zein dengan matanya yang mulai memanas.


"Tapi aku tidak ingin ada resepsi!!!" tandas Zein yang menatap tajam Aliyya.


"Memang apa yang kamu tau tentang resepsi? Bahkan kamu saja tidak tau, apakah acara itu dilakukan dengan tangan kanan atau tangan kiri 'kan?" jawab Aliyya yang suaranya tertahan.


"Aku memang tidak tau dan kamu lah yang akan menjadi pengajarku untuk hal itu 'kan?" tandas Zein yang semakin tajam menatapi Aliyya.


"Bukan, Zein!!! Aku bukan pengajar untukmu, tapi aku adalah istrimu!!!" jawab Aliyya yang mulai menurunkan nada bicaranya.


Wajah Zein semakin memerah karena menahan amarah yang bergemuruh di dalam dadanya terhadap Aliyya. Sorot tatapan penuh kebencian pun tak luput hadir di tengah-tengah keduanya. Perlahan, Zein pun melangkah mendekati sang istri dan mencekam kuat tangannya lagi. Aliyya yang mendapati perlakuan Zein hanya menatap suaminya itu dengan tatapan nanar tak percaya kalau Zein bisa bersikap kasar seperti ini.


"Dengar keponakan Papa!!! Saat ini aku sangat tau apa yang sedang kamu pikirkan!!! Baiklah, kalau begitu ikuti saja permintaan pamanmu itu dan duduk bersamaku di pelaminan. Tapi satu hal yang harus kamu ingat, Al!!! Sampai kapan pun kamu tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari hidupku!!! Ingat itu!!!" tandas Zein seraya mendorong Aliyya lagi ke belakang.


Runtuh sudah pertahanan air mata Aliyya. Bulir bening yang seharusnya tetap ia tahan, kini sudah jatuh tanpa izin darinya. Sakit, rasanya sangat sakit mendengar perkataan Zein kali ini. Rasa sakit seakan mendominasi sehingga rasa benci pun kembali menyeruak memenuhi hati gadis cantik seperti Aliyya.


"Kamu pikir aku mau menjadi bagian dari hidupmu? Sampai kapan pun, kamu juga tidak akan pernah bisa menjadi bagian dari hidupku, Zein Abdullah!!! Dan ini, ambil bajumu!!! Karena aku tidak membutuhkan baju itu lagi!" tandas Aliyya yang tak kalah keras seraya melempar baju kaos itu tepat di wajah Zein.


Zein terdiam dan wajahnya sudah pasti semakin memerah melihat perlakuan Aliyya yang sangat berani melawannya dengan keras seperti itu. Sementara Aliyya masih menatap pria itu dengan matanya yang basah. Lalu Zein pun beranjak dari hadapan gadis cantik itu.


Tubuh Aliyya seakan kehabisan kekuatan setelah berusaha sekuat tenaga untuk menghadapi sikap Zein yang semakin buruk terhadapnya. Aliyya pun termenung dan diam. Tiba-tiba pikirannya teringat pada Sabrina dan Galuh di Jogja. Namun di saat gadis cantik itu tengah melamun, tiba-tiba saja ia mencium bau benda terbakar yang sangat pekat di kamarnya.


Aliyya pun memutar tubuhnya dan menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Aliyya ketika mendapati Zein sedang membakar baju kaos yang sempat ia gunakan tadi, tepat di depan matanya sendiri saat ini.


"Jangan pernah menyentuh barang apa pun di dalam kamar ini! Karena kalau itu kamu lakukan lagi, maka aku akan langsung membakarnya di saat itu juga! Kamu mengerti!?" tandas Zein.


.


.


.


.

__ADS_1


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


__ADS_2