Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 34 ~ Hari Valentine


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


"Kamu pernah mengatakan kalau berbohong itu adalah hal yang buruk, bukan? Lalu kenapa sejak tadi kamu berbohong terus, hah!? Kebohongan apa lagi yang ingin kamu ciptakan di dalam sini? Apakah masih kurang cukup dengan semuanya? Semua kebohongan yang kamu ciptakan di Jogja sampai di sini? Mau sampai kapan Aliyya!?"


Zein yang murka seraya menanggalkan kain tirai jendela satu per satu dan merusak semua hiasan kamar pun hilang kendali. Sementara Aliyya yang melihat itu tampak tidak terkejut dan masih bisa bersikap biasa saja.


"Kebohongan yang mana Zein?" tanya Aliyya yang meraih tangan Zein di saat pria tampan itu melewatinya.


"Alas kasur ini! Alas sofa dan bantal-bantal itu! Lalu gambar ini! Semua ini hanya kebohongan! Memang apa yang ingin kamu tunjukkan di hari valentine, hah!?" jawab Zein yang marah seraya menepis tangan Aliyya dan menanggalkan lagi semua foto di dinding.


"Aku melakukan semua itu karena aku tidak ingin membuatmu malu, Zein. Memang salah ya?" tandas Aliyya lagi seraya mencegat tangan Zein.


"Benarkah? Oh, manis sekali. Aku pikir, kamu itu hanya ingin menunjukan kepada semua temanku kalau kamu adalah istriku. Tapi aku tidak akan terperangkap di dalam jebakanmu, keponakan kesayangan!" tandas Zein seraya menepis kasar tangan Aliyya.


Zein pun berjalan lagi menyusuri setiap sisi lain dari kamarnya dan menanggalkan semua hiasan demi hiasan yang sudah susah payah Aliyya buat agar kamarnya menjadi lebih terang dan hidup.


"Aku tidak pernah tertarik untuk menjebak dirimu, Zein!" tandas Aliyya yang mengikuti jalan Zein.


Zein tampak tidak menghiraukan perkataan sang istri. Tangannya terus menanggalkan semuanya, semua hiasan tanpa tersisa dan membuat kamar itu menjadi berantakan.


"Semua ini adalah kebohongan!!! Dan foto ini....."


Zein yang semakin aktif merusak semua hiasan itu pun meraih foto pernikahannya dengan Aliyya dan membawanya untuk dibuang. Sementara itu, Aliyya yang melihat Zein mengambil paksa foto pernikahannya pun tampak terkejut bukan main.


"Jangan Zein!!!"


Dengan cepat dan penuh tenaga, Aliyya berusaha merebut foto itu dari tangan Zein dan melindungi foto berharga baginya itu di belakang tubuhnya. Keduanya pun tampak terengah-engah, menahan gejolak emosi di dalam hati masing-masing yang membabi buta karena kebencian yang mendalam sehingga lupa kalau foto serta ikatan pernikahan yang dibuat adalah sesuatu hal yang sakral dan sangat kuat. Rasa benci yang bercampur emosi membuat Zein gelap mata dan hampir saja ingin menghancurkan foto pernikahannya.


Mata Aliyya yang terlihat berkaca-kaca karena menahan air matanya pun menatap nanar sang suami. Sementara Zein tak kalah tajam tatkala menantang manik cantik sang istri dengan rasa benci yang berkepanjangan dan mendalam. Lalu Aliyya bergegas meletakkan foto pernikahan itu di atas nakas, di sisi tempat tidurnya agar Zein tidak mengambilnya lagi dan berusaha untuk menghancurkan foto itu. Setelah itu, Aliyya pun berbalik badan dan mendekati suaminya dengan tatapan penuh kebencian.


"Kamu tidak mendengar perkataanku, hah!?" tandas Zein seraya mendekati Aliyya.


"Salah satu sisi di kamar ini adalah milikku, jadi aku berhak meletakkan benda apa pun sesuai dengan keinginanku! Dan kamu tidak berhak ikut campur dan menghalangiku!" jawab Aliyya yang bertegak pinggang dengan PD di hadapan Zein.


"Kalau begitu cepat pindahkan alas kasur itu ke sisimu!" seru Zein seraya menunjuk tempat tidur.


"Sayangnya tempat tidur itu berukuran ganda dan aku tidak bisa memindahkan alas kasur itu hanya untuk bagianku! Seperti ini saja, ayo kita buat sebuah kesepakatan! Selama tiga hari, kita akan memakai alas kasurmu yang berwarna gelap dan menakutkan itu. Lalu tiga hari, kita akan memakai alas kasurku yang berwarna terang, cantik dan pastinya hidup. Tidak seperti alas kasurmu yang suram!!!" tutur Aliyya seraya bertegak pinggang dan bersikap agak sombong untuk menghadapi sikap Zein yang keras kepala.


"Di saat seperti ini, kamu masih saja menghina gaya hidupku yang modern itu! Dasar gadis gila! Lalu bagaimana dengan hari minggu? Kamu lupa kalau dalam satu minggu itu ada tujuh hari?" ujar Zein yang berusaha menahan emosi agar tidak mencekik Aliyya.


"Baiklah!!! Khusus hari minggu aku akan berikan untukmu! Kita lihat saja siapa yang berhati besar, alas kasur warna gelap atau alas kasur terang!!!" jawab Aliyya yang menyeringai jahil pada Zein.


Aliyya yang sudah lelah menghadapi sikap Zein pun memilih pergi dan membereskan semuanya.


"Dengarkan aku baik-baik, Aliyya!!! Simpan saja hatimu itu karena aku tidak membutuhkannya!" ujar Zein yang masih di posisinya.


"Sepertinya kamu sudah salah dengar, Zein! Aku hanya memberikan hari minggu, bukan hatiku!!!" jawab Aliyya dengan seringai tanpa melihat Zein.


Zein pun terdiam dan tidak bisa menjawab apa pun lagi perkataan istrinya itu. Sementara Aliyya tampak sangat puas setelah berhasil mengecoh suaminya yang memang pantas untuk diberikan sedikit pelajaran. Lalu Zein menarik kursinya dan duduk seraya menatap kalender kecil yang ada di atas meja membacanya itu.


Hari ini aku sudah mengambil langkah pertama di dalam kehidupanmu, Zein Abdullah. Anggap saja bahwa semua ini adalah bagian awal dari kisah pernikahan kita. Gumam Aliyya dalam hati.


Hari ini kamu benar-benar membuatku kesal, Aliyya. Kamu tidak tau betapa besarnya rasa benciku pada dirimu. Aku sangat membencimu, keponakan kesayangan. Bahkan aku belum pernah membenci orang sebesar ini di dalam hidupku. Kamu sudah berhasil mengeluarkan semua hal yang terburuk dalam diriku. Baiklah, tinggal 28 hari lagi. Aku akan mengikuti semua permainan kisah pernikahan kita yang tertulis di dalam takdir hidupmu. Setelah 28 hari lagi, aku pastikan kalau kamu tidak mempunyai hak lagi di dalam kamarku bahkan di rumahku ini. Apabila hari itu telah tiba, maka aku akan merasa lega. Gumam Zein dalam hati.

__ADS_1


Bak berperang dalam bathin, tanpa keduanya sadari kalau mereka tengah berperang bathin. Aliyya sibuk membereskan kamar yang sudah berserakan karena ulah Zein. Sementara Zein sibuk memandangi kalender kecil lalu terlihat menyilangkan salah satu tanggal yang bertepat pada hari ini. Ternyata Zein sedang menghitung hari lamanya Aliyya berada di dalam kamarnya. Sudah terlihat dua buah silang dengan spidol berwarna merah. Namun Aliyya tidak mencegah Zein untuk melakukan hal itu dan memilih untuk membiarkannya saja.


***


Malam yang larut pun berganti pagi. Suasana di pagi yang cerah berhasil menambah semangat seorang pria tampan. Siapa lagi kalau bukan si Farhan, pria tampan yang tak kalah tampan dari sang adik dan memiliki dua orang istri yang juga sangat cantik.


"Selamat hari valentine, Sayang. Aku sangat mencintaimu melebihi apa pun di dunia ini!!!"


Dengan berpakaian jas kantor yang sudah rapih melekat di tubuhnya, Farhan tampak sedang mempraktekkan cara untuk mengucapkan hari valentine pada kedua istrinya.


"Ah kalimat itu terdengar sangat lebay. Lebih baik yang singkat dan jelas saja. Selamat hari valentine." ujar Farhan lagi yang masih berdiri di depan cermin kamar Shafia.


"Selamat hari valentine, Mas Farhan." ujar Shafia yang tiba-tiba muncul di belakang Farhan seraya memegangi bucket bunga berbentuk love.


Farhan yang terkejut pun berbalik badan seraya memasang senyum manisnya pada Shafia dan mengambil bucket bunga itu lalu meletakkannya.


"Selamat hari valentine juga untukmu, Sayang." jawab Farhan yang tersenyum manis.


Shafia pun tersenyum lebar dan merentangkan tangannya hendak memeluk Farhan, begitu pula dengan pria itu. Farhan tampak ingin memeluk sang istri kedua, tapi rencana itu harus ia tunda dan urungkan ketika matanya tertuju pada sosok wanita yang berdiri di dekat pintu. Tidak hanya Farhan, Shafia pun juga melihat sosok itu dalam cermin lalu keduanya serentak menoleh ke arah pintu.


"Selamat hari valentine, Sayang." ujar Farhan yang kikuk dan cengir kuda saat melihat Namira.


"Selamat hari valentine juga, suamiku sayang." jawab Namira seraya berlenggang masuk.


"Sedang apa kamu di sini?" sungut Shafia yang jengah dengan kedatangan Namira.


"Oh, aku hanya ingin mengingatkan Mas Farhan untuk tidak telat pulang bekerja karena jam 8 nanti kami akan menghadiri pesta hari valentine bersama. Iya 'kan Mas?" jawab Namira santai.


Farhan yang melihat kedua istrinya mulai debat pun tampak panik dan terengah-engah. Guratan ketampanan yang tadinya terlihat jelas kini telah bertukar menjadi guratan penuh kecemasan. Ia takut kalau masalah pesta nanti malam itu akan berujung perkelahian di antara kedua istrinya.


"Kamu ini bagaimana sih Shafia? Kamu sendiri yang mengatakan padaku kalau kamu tidak bisa pergi bersama Mas Farhan malam ini. Kenapa kamu jadi pelupa seperti ini Shafia?" ujar Namira.


"Benarkah seperti itu Sayang?" timpal Farhan yang menoleh ke arah Namira dan Shafia.


"Tidak!!! Sejak kapan aku mengatakan seperti itu padamu?" sungut Shafia yang semakin jengkel.


"Shafia... apakah kamu melupakan sesuatu yang ada di dalam ponselku ini?" tanya Namira seraya menunjukan ponselnya pada Shafia.


Shafia pun terhenyak seketika saat ingatannya kembali berputar pada malam acara resepsi itu. Di mana Namira memperlihatkan sebuah video yang menunjukan jelas wajah Sarah, sang adik saat memasukkan jam tangan milik toko ke tas Aliyya secara disengaja untuk menjebak Aliyya.


"Ah iya, maksudku Namira benar, Mas. Malam ini aku tidak ingin pergi ke mana pun. Jadi pergilah bersama Namira ke pesta itu." ujar Shafia yang gugup dan takut Farhan akan tau video itu.


"Kamu yakin?" tanya Farhan yang memastikan.


"Tentu saja, aku sangat yakin." jawab Shafia yang masih gugup dan terlihat ragu.


Namira yang mendengar perkataan Shafia pun tersenyum puas. Ia merasa menang karena sukses mengancam dan mengambil kesempatan dengan video itu lalu memilih untuk pergi. Shafia yang kesal pun mendengus kasar lalu menoleh ke arah Farhan dengan wajah melasnya itu. Tapi Farhan bisa apa. Ia tidak bisa berkata apa-apa di saat situasinya saling bertabrakan seperti ini.


Drrrrttt!


Bagaikan penolong bagi Farhan, tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Sementara Shafia yang melihat gerak-gerik mencurigakan dari sang suami pun tampak mengeryitkan dahi seraya melempar tatapan penuh selidik.


"Aku harus pergi ke kantor. Ada telepon dari orang kantor dan sepertinya sangat penting." ujar Farhan yang mengerti dengan tatapan Shafia.

__ADS_1


"Ya sudah, kamu berangkat saja sana!" seru Shafia yang sudah bad mood karena Namira.


Farhan pun menghela nafas panjang lalu pergi meninggalkan istri keduanya itu. Saat berada di lantai bawah, Farhan pun mengangkat telepon dari seseorang yang ada di seberang sana dan orang itu adalah orang yang sama dan sempat menghubunginya tadi malam. Siapakah orang itu? Entahlah, hanya Farhan dan Tuhan yang tau.


"Hallo... sudah berapa kali aku katakan padamu jangan menghubungiku ketika aku masih di rumah. Tadi aku sedang bersama Shafia." ujar Farhan yang tampak panik seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling rumah.


"..."


"Bagaimana aku bisa mengangkat teleponmu jika Shafia masih di depanku? Aku pasti akan ketahuan!" ujar Farhan lagi yang mencurigakan.


"..."


"Tidak, Papa tidak tau tentang hal ini. Kalau Papa sampai tau, aku bisa habis dimarahi olehnya." ujar Farhan lagi seraya berjalan keluar rumah.


Pembicaraan di ponsel pun berakhir karena Farhan mematikan ponselnya. Ia tidak ingin ada penghuni rumah yang mendengar pembicaraan dirinya dengan seseorang di seberang sana. Setelah merasa aman dan tidak ada satu pun orang yang melihat, Farhan pun bergegas masuk ke dalam mobil dan ingin berangkat ke kantor.


"Assalamualaikum, menantuku..."


Farhan pun terkejut mendengar suara bariton itu dan langsung menoleh ke arah belakang.


"Abah..."


Pria paruh baya yang dipanggil oleh Farhan pun tampak tersenyum lebar penuh arti pada Farhan. Sementara Farhan tampak mengedar pandangan dan melihat situasi di sekitar rumahnya.


"Kenapa Abah bisa masuk ke dalam mobilku? Aku sudah bilang berapa kali pada Abah, jangan menghubungiku saat aku sedang di rumah dan jangan menemuiku seperti ini. Aku meminta Abah untuk bersabar dan berhati-hati. Kalau Shafia melihat Abah di sini bersamaku, aku bisa terkena masalah besar, Bah." tutur Farhan yang tampak sangat panik.


"Lalu bagaimana dengan Shafia?" tanya pria paruh baya itu yang ikut mengedar pandangan.


"Putrimu itu tidak mengetahui apa pun, Abah. Jadi aku mohon jangan menghubungiku lagi. Biarkan aku yang menghubungimu." jawab Farhan yang masih gugup dan tampak gelisah.


Ternyata pria paruh baya yang dipanggil Abah oleh Farhan itu adalah ayah dari istri keduanya yaitu Shafia dan sekaligus merupakan ayah mertuanya yang bernama Jamal. Tidak hanya itu, ternyata Jamal yang sejak tadi malam terus berusaha menghubungi Farhan sehingga pria itu tampak panik saat menerima telepon darinya.


"Kamu ini bagaimana sih Farhan? Abah tidak akan menghubungimu kalau situasinya tidak genting seperti ini. Sekarang ayo kita pergi dan biar Abah jelaskan padamu saat di jalan." ujar Jamal yang duduk di kursi belakang.


Farhan yang tampak panik dan gusar pun hanya bisa menghela nafas kasar. Ia tidak bisa berlari lagi jika sudah berpapasan langsung dengan pria paruh baya yang tak lain adalah ayah dari Shafia, istri keduanya dan ayah mertuanya. Entah apa yang tengah terjadi di antara Farhan dan Jamal.


"Abah akan membuatku terkena masalah yang sangat besar." ujar Farhan lalu menginjak pedal gas mobilnya dan pergi dari halaman rumahnya.


.


.


.


.


.


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Kira-kira masalah apa yang lagi dihadapi oleh Farhan sampai bersembunyi seperti itu ya πŸ€” Ada yang penasaran? wkwkwk semoga ada ya.


Kalau kalian penasaran, ikutin terus kisah Aliyya dan Zein yang penuh lika-liku kehidupan mereka ya πŸ€— Salam sukses untuk kita semuanya 🧑🧑

__ADS_1


__ADS_2