Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman

Terpaksa Menikah Dengan Anak Paman
Episode 5 ~ Semakin Larut


__ADS_3

...🌹🌹🌹...


Matahari pun terbit dan mengeluarkan cahayanya yang sangat terang. Cahaya itu masuk ke sela jendela kamar Zein. Pria tampan itu pun langsung beranjak dari tidurnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


Setelah selesai mandi, Zein pun membawa tasnya yang besar dan keluar menuju meja makan.


"Selamat pagi, Pa, Ma." ujar Zein yang ikut bergabung sarapan pagi.


"Selamat pagi, Zein. Kamu sudah rapih saja pagi ini. Kamu mau pergi ke mana lagi?" tanya Sonia yang berpura-pura tidak tau.


"Aku harus pergi ke Jogja, Ma. Papa memintaku datang ke sana untuk mewakili keluarga kita di acara pernikahan putrinya Bibi Sabrina." jawab Zein yang melirik Umar.


"Apakah kamu yakin ingin pergi ke sana?" tanya Sonia yang tidak melihat keduanya.


"Yakin, Ma." jawab Zein.


Rasa kesal di dalam hati Sonia pun kembali menyeruak hebat. Tanpa basa-basi, Sonia beranjak lalu meraih tangan sang putra.


"Ikut Mama sebentar. Mama ingin bicara sama kamu." ujar Sonia yang beranjak lalu pergi dari ruang makan.


Zein pun menoleh ke arah Umar, seakan meminta jawaban dari sang ayah. Umar hanya tersenyum pada Zein. Setelah itu, ia mengikuti Sonia yang menarik tangannya.


"Ada apa Ma?" tanya Zein pada Sonia yang masih memegang tangannya.


"Kenapa kamu tidak memberitahu Mama terlebih dahulu jika kamu ingin pergi ke Jogja Zein?" tanya Sonia yang marah.


"Oh ayolah, Ma. Aku hanya sebentar saja di Jogja. Mama pasti sangat tau kalau aku ini tidak bisa menolak permintaan Papa." jawab Zein seraya meraih bahu Sonia.


Sonia hanya diam tanpa menjawab putranya. Ia merasa kalau dirinya tidak lagi mengenal sang putra karena Zein selalu dimanja oleh Umar.


"Ayolah, Ma. Aku tidak punya waktu lagi. Aku harus segera pergi sekarang. Aku pergi ya, Ma. Assalamualaikum." ujar Zein seraya menyalami dan mencium Sonia.


Zein pun pergi tanpa mendapatkan izin dari Sonia. Rencana Sonia untuk membatalkan kepergian putranya ke Jogja.


***


Zein pun menghampiri Umar, Farhan, Namira dan juga Shafia yang masih berada di meja makan.


"Papa, Kakak... aku berangkat sekarang ya. Nanti aku ketinggalan pesawat." ujar Zein yang menghampiri mereka satu per satu.


"Hati-hati, Nak. Lakukan apa yang Papa katakan padamu tadi malam." jawab Umar yang memeluk putra kesayangannya.


"Oke, Pa." jawab Zein yang menurut.


"Kamu hati-hati ya, Zein." ujar Farhan yang ikut memeluk adiknya.


"Pasti, Kak. Aku pergi ya. Assalamualaikum." ujar Zein seraya melambaikan tangan.


Umar benar-benar merasa lega karena Zein mau mengikuti permintaannya untuk datang ke pernikahan Aliyya di Yogyakarta. Dengan begitu, ia tidak akan merasa bersalah lagi pada Sabrina dan juga Aliyya.


Lalu Zein pun berangkat ke bandara bersama Rizal. Jarak Yogyakarta dengan Jakarta yang tidak terlalu jauh jika ditempuh dengan pesawat, membuat keduanya terlihat senang melakukan perjalanan ini.


***


Jam sudah menunjukan pukul setengah 10 dan itu artinya, Aliyya harus segera pergi ke taman kota untuk bertemu dengan Zaki.


Aliyya sedang bersiap. Ia menggunakan dress cantik dengan rambut yang terurai. Ia pun keluar kamar dan menuruni tangga.


"Ibu... Aliyya pergi ke taman kota sebentar ya." sahut Aliyya pada Sabrina yang ada di dapur.


"Iya, Nak. Kamu hati-hati ya." jawab Sabrina yang sedang sibuk menyiapkan sarapan.


Aliyya pun langsung bergerak keluar rumah dan mengambil sepeda miliknya. Seperti biasa, Aliyya pergi menggunakan sepeda kesayangannya. Dengan senyum yang merekah di wajah, ia mengayuh sepeda dengan penuh semangat.


Aliyya tampak sudah tidak sabar ingin bertemu dengan calon suaminya yang tampan itu.


***


Zein dan Rizal kini sudah sampai di kota Yogyakarta. Kota sejarah yang penuh dengan nilai-nilai moral dan etika. Lalu Zein dan Rizal pun langsung berlari ke arah taksi. Setelah mereka naik, taksi pun meluncur.


Di dalam taksi, Rizal terlihat sibuk memainkan notepad miliknya. Sementara Zein, melihat keluar kaca mobil dan menikmati suasana baru Kota Jogja.


"Aku pinjam notepad milikmu sebentar ya, Zal." ujar Zein seraya merebut notepad dari tangan Rizal.


"Ck, kau ini. Aku sedang bermain game. Bisa-bisanya kau merebut permainanku." sungut Rizal seraya memukul bahu Zein.


"Ah, kau ini. Aku hanya ingin meminjamnya sebentar saja." ujar Zein yang sedang sibuk membuka sesuatu di dalam notepad Rizal.


"Kau sedang mencari apa sih Zein? Jangan bilang kau ingin mencari gadis lain di sini." sungut Rizal yang menunjuk sahabatnya itu.


"Kau lihat saja nanti." jawab Zein yang asyik dengan notepad Rizal.


Rizal hanya bisa pasrah dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya. Sementara Zein tampak sedang membuka media sosial. Lalu...


"Aliyya Galuh Ginanjar." ucapnya seraya mengetik nama itu dalam media sosial.


Ternyata Zein sedang mencari media sosial milik Aliyya, sepupunya. Tidak lama kemudian, keluar lah sebuah akun sosial dengan nama yang diketik lengkap oleh Zein dan ia langsung membukanya. Bola matanya membulat sempurna ketika melihat wajah cantik yang ada di dalam notepad itu. Senyum manisnya terukir saat melihat foto Aliyya yang sangat cantik.


"Hei, Zein. Kau kenapa?" sahut Rizal yang menyenggol tubuh sahabatnya.


"Ah, tidak ada. Ini notepad milikmu. Terima kasih." ujar Zein yang terkejut dan memberikan notepad pada Rizal.


Rizal hanya menggelengkan kepala saat mendapat tingkah aneh sahabatnya itu. Ia pun melanjutkan permainannya yang sempat tertunda karena Zein. Sedangkan Zein yang duduk dan melihat keluar jendela, mengeluarkan sedikit kepalanya dari jendela mobil untuk merasakan hembusan angin.


Tepat di lampu merah, mobil mereka pun berhenti. Saat mobil mereka berhenti, Zein yang mengeluarkan kepalanya di jendela mobil pun melihat seseorang. Senyum manis itu terukir lagi saat melihat wajah gadis yang sempat ia lihat di media sosial tadi.

__ADS_1


Ya... Zein melihat Aliyya dengan sepedanya yang sedang berhenti tepat di samping taksi yang ditumpangi dirinya dan Rizal.


Saat lampu merah berubah hijau, taksi Zein atau pun Aliyya dengan sepedanya pun ikut berjalan. Lalu...


"Pak... tolong berhenti di depan ya." ucap Zein seraya menepuk bahu supir taksi itu.


"Baik, Den." jawab supir taksi yang menepi.


Setelah itu, Zein bergegas langsung turun. Sementara Rizal yang merasa heran dengan tingkah Zein, terpaksa harus mengikutinya.


"Zein... kau mau ke mana lagi?" pekik Rizal yang berjalan di belakang Zein.


"Aku ada urusan sebentar. Kau tunggu saja di sini. Nanti aku akan kembali lagi." jawab Zein yang langsung berlari entah kemana.


"Zein..."


Rizal benar-benar pasrah. Ia terpaksa menuruti apa yang dikatakan Zein karena ia tidak cukup kenal dengan Kota Yogyakarta. Rizal pun duduk di kursi yang tersedia di sana seraya bermain game.


***


Sementara Zein, berlari mengikuti sepeda Aliyya. Sejak melihat Aliyya tepat di samping taksi yang ditumpangi dirinya tadi, Zein terus mengikuti ke mana arah gadis itu pergi.


Setelah jauh berlari, akhirnya sepeda Aliyya berhenti tepat di tengah taman kota. Melihat itu, Zein pun tersenyum lagi.


"Kali ini kamu tidak akan bisa menolak lagi, Aliyya."


Aliyya pun duduk di salah satu kursi yang ada di taman. Ia melihat ke sana ke mari, mencari seseorang yang ingin ia temui.


Saat Aliyya berusaha mencari seseorang, tiba-tiba ia merasakan ada orang yang berdiri tepat di belakang kursinya. Perlahan Aliyya beranjak dan menolehkan pandangan ke arah orang itu.


Mata Aliyya berbinar saat melihat orang yang ada di hadapannya sekarang. Senyum mereka pun terukir jelas.


Ternyata Zaki lebih tampan saat dilihat secara langsung. Gumam Aliyya dalam hati.


Sepupuku satu ini memang semakin cantik, tapi sifat keras kepalanya pasti masih ada. Gumam Zein dalam hati.


Aliyya masih salah paham. Zaki yang ia kira itu bukan Zaki yang sebenarnya, tapi Zein, anak pamannya, sepupunya sendiri.


"Apakah kamu mau menerimanya?" ucap Zein yang bertanya pada Aliyya.


Aliyya benar-benar terperangah dibuatnya. Pertanyaan Zein seakan menghipnotis hati dan pikiran Aliyya. Namun tetap saja, Aliyya masih salah paham pada Zein dan mengira kalau Zein adalah Zaki.


"Apa?" tanya Aliyya yang gugup dan membuat pipinya merah.


"Apakah aku harus mengulangi pertanyaanku?" ucap Zein yang semakin menatap Aliyya dengan instens.


Aliyya semakin gugup. Ia mengira kalau Zaki yang ada di hadapannya saat ini, sedang menanyakan tentang perjodohan keduanya. Sementara Zein, yang dikira Zaki oleh Aliyya, sedang berusaha membujuk Aliyya agar mau menerima hadiah yang diberikan Umar.


"Kenapa diam? Kamu hanya tinggal jawab iya atau tidak." ujar Zein yang mendekati Aliyya.


Zein yang semakin dekat dengan Aliyya, membuatnya semakin gugup dan pipinya berubah menjadi merah merona.


"Iya, aku terima." jawab Aliyya yang gugup dan tersenyum pada Zein.


Wajah Aliyya menjadi sangat merah, sementara Zein tersenyum puas saat mendengar jawaban sepupunya yang mau menerima hadiah dari Umar. Namun bukan itu yang dimaksud Aliyya. Sungguh, mereka sama-sama salah paham saat ini.


Aliyya yang mengira Zein adalah Zaki, menjawab seperti itu karena untuk memastikan kalau dirinya sudah menerima perjodohan mereka. Namun di sisi lain, Zein yang bermaksud ingin memberi hadiah dari sang ayah untuk Aliyya, mengira kalau Aliyya setuju untuk menerima hadiah itu.


Tanpa keduanya sadari, sejak tadi sudah ada sepasang mata yang melihat mereka.


"Aliyya sedang bersama siapa itu?"


Setelah menjawab pertanyaan Zein, Aliyya pun langsung pergi karena ia masih malu. Sedangkan Zein, langsung meraih ponsel yang ada di dalam sakunya. Lalu...


"Assalamualaikum, Nak. Apakah kamu berhasil?" ucap seseorang dari telepon Zein.


"Wa'alaikumsalam, Pa. Akhirnya keponakan kesayanganmu yang keras kepala itu mau menerima hadiah darimu, Pa." jawab Zein yang ternyata menghubungi Umar.


"Bagaimana bisa kamu membujuk gadis keras kepala itu Nak?" tanya Umar yang tertawa dan penasaran dengan cara Zein.


"Bukan Zein Umar Abdullah namaku, jika aku tidak bisa menaklukkan keponakan kesayangan Papa itu." jawab Zein yang percaya diri.


"Papa percaya padamu, Nak." ujar Umar yang merasa senang.


"Baiklah, Pa. Kalau begitu aku harus melanjutkan perjalanan ke rumah Bibi. Aku tutup dulu ya, Pa. Assalamualaikum." ucap Zein yang menutup telepon.


"Wa'alaikumsalam." jawab Umar dari seberang sana.


Setelah menutup telepon dari sang ayah, Zein pun mencari keberadaan Rizal. Sementara Rizal, masih setia menunggu Zein di kursi tepi jalan.


"Zal... ayo kita pergi." ujar Zein seraya menepuk bahu Rizal yang sedang asyik.


"Ah, kau ini. Tidak pernah senang saat aku sedang senang." sungut Rizal yang beranjak dan mengikuti Zein.


***


Umar merasa lega setelah mendengar kabar dari putranya yang kini sedang berada di Jogja. Saat ini Umar sedang berada di rumah. Tanpa ia sadari, sejak tadi Sonia sudah berdiri di dekat pintu kamar mereka.


"Siapa yang kamu hubungi Pa?" tanya Sonia yang berjalan masuk dan mendekati Umar.


"Oh, ini Zein, dia sudah sampai di sana." jawab Umar yang melihat ke arah sang istri.


"Lalu kenapa wajahmu senang seperti itu?" tanya Sonia lagi tanpa melihat Umar.


"Aku senang karena akhirnya Aliyya mau menerima hadiah yang aku siapkan untuk pernikahannya." jawab Umar dengan santai.

__ADS_1


Sonia terdiam dan terlihat marah. Kebencian Sonia pada Sabrina dan Galuh kini menjalar kepada Aliyya. Setiap Umar membicarakan mereka, pasti raut wajah Sonia selalu berubah menjadi pias dan tidak bersahabat.


Aku tidak akan membiarkan putraku terkena masalah saat berada di sana. Gumam Sonia dalam hati.


"Aku ingin kita menyusul Zein ke Jogja, Pa." ucap Sonia yang membuat Umar terkejut.


Umar yang terperanjat pun mengeryitkan dahinya saat mendengar perkataan Sonia.


"Apa maksudmu?" tanya Umar yang ingin memastikan pertanyaan istrinya itu benar.


"Kita juga harus hadir di acara pernikahan Aliyya. Bukannya itu yang kamu inginkan?" jawab Sonia yang berbohong.


"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku?" ujar Umar yang bertanya pada Sonia.


"Bukannya kamu akan meninggalkan semua pekerjaanmu, jika mendengar berita tentang keponakan kesayanganmu itu." jawab Sonia yang melirik tajam suaminya.


"Lalu apa yang kamu inginkan Ma?" tanya Umar lagi.


"Aku ingin kita menyusul putraku, Pa." jawab Sonia yang menekan setiap katanya.


Umar pun menghela nafas panjang. Ia sangat tau apa yang menjadi tujuan sang istri untuk pergi menyusul Zein ke Jogja.


"Baiklah istriku, aku akan mengurus keberangkatan kita ke sana. Kita akan berangkat besok pagi dan jangan lupa Mama ajak Farhan dan kedua istrinya." jawab Umar.


Sonia hanya mengangguk dan tersenyum puas setelah mendapat persetujuan dari Umar. Sementara Umar yang tidak merasa aneh dengan sikap istrinya, hanya bisa diam dan menuruti permintaan Sonia.


***


Akhirnya Zein dan Rizal sampai di rumah Sabrina. Setelah turun dari taksi, Zein pun langsung menarik tangan Rizal masuk ke dalam rumah itu.


"Assalamualaikum..."


Suara salam itu berhasil membuat Sabrina terperanjat seketika. Dengan langkah yang sangat cepat, ibu dari dua anak itu pun bergegas mendekati pintu masuk rumahnya.


"Wa'alaikumsalam..."


Saat Sabrina hampir sampai di dekat pintu, ia melihat dua orang pemuda asing yang tidak ia kenal sedang berdiri di depan pintu.


"Siapa kalian?" tanya Sabrina yang merasa heran melihat dua orang pemuda itu.


Zein yang mendengar suara itu pun langsung membalikkan tubuhnya dan melihat ke arah wanita yang menyapanya itu.


"Bibi... apakah Bibi lupa sama aku?" tanya Zein yang mendekati sang bibi.


Sejenak raut wajah Sabrina berubah menjadi pias, berusaha mencerna perkataan pemuda yang berdiri di depannya saat ini. Namun tidak lama kemudian, raut pias itu seketika berubah menjadi sangat berbinar.


"Zein... ini sungguh kamu, Nak. MasyaAllah, kamu sudah semakin dewasa, Sayang. Kamu juga tambah ganteng saja ya." ujar Sabrina dan langsung memeluk erat Zein.


"Bibi bisa saja. Aku memang sudah ganteng sejak lahir, Bi." jawab Zein yang menggoda sang bibi.


"Kamu ini ya, Zein. Tidak pernah berubah sejak dulu. Ayo, masuk. Jangan lupa ajak juga temanmu itu." ujar Sabrina seraya menarik tangan keponakannya.


"Ayo, Zal..."


Zein dan Rizal pun masuk ke dalam rumah. Saat mereka masuk, Aliyya yang sejak tadi sudah sampai di rumah, terkejut tatkala matanya melihat Zein ada di rumahnya.


"Zaki? Sedang apa dia di sini?"


Sabrina pun langsung membawa Zein dan Rizal ke meja makan untuk makan siang bersama. Sementara Aliyya yang sedang berada di dapur, keluar dan membawakan makanan ke meja makan.


Zein yang melihat Aliyya hanya tersenyum seraya mengedipkan matanya pada Aliyya. Sementara Aliyya yang mendapat perlakuan itu, tidak bisa berkutik sama sekali dan memilih untuk pergi ke dapur.


"Ayo silakan makan. Kalian pasti belum makan siang." ujar Sabrina.


"Oke, Bi." jawab Zein yang mengangguk.


***


Setelah selesai makan, Zein pun pergi ke dapur dan di sana masih ada Aliyya. Melihat gadis itu di sana, Zein pun mendekati Aliyya.


"Nanti malam temui aku di balkon." ucap Zein yang berbisik di belakang Aliyya.


Aliyya yang mendengar suara itu langsung terkejut dan membalikkan tubuhnya sehingga mata keduanya saling bertatapan. Tatapan keduanya terkunci, seakan tidak mau melepas pandangan satu sama lain.


Lama Aliyya menatap mata Zein yang masih berpikir kalau Zein itu adalah Zaki, calon suaminya yang akan menikah dengannya. Sementara Zein, yang suka bermain mata dengan banyak wanita, menikmati adegan itu bersama Aliyya.


Setelah lama saling tatapan, Zein pun pergi dan kembali ke meja makan. Sedangkan pipi Aliyya semakin merah karena perbuatan Zein yang masih mengira kalau Zein adalah Zaki. Kesalahpahaman pun semakin larut.


Aliyya pun memilih masuk ke dalam kamarnya dan meraih foto Zein yang masih ia simpan rapih di dalam laci meja riasnya.


"Kenapa rasanya sangat aneh?"


Saat asyik bergumam, tiba-tiba ponsel Aliyya berbunyi. Aliyya pun langsung mengambilnya dan melihat layar ponsel. Aliyya sangat terkejut saat melihat nama itu.


"Zaki..."


.


.


.


.


.

__ADS_1


Happy Reading All πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡


Jangan lupa Like, Komen, Vote dan Rating cerita baru author ya πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2